Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.46 - Goblin.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 46 : Goblin.


+++


“Jadi, apa kau punya tujuan tertentu untuk pergi ke selatan?” tanya Arini.


“Ya, aku mau lihat goblin.” Jawab Erra.


“Kenapa kau mau lihat goblin?” sekarang Lunariaa yang bertanya.


“Hm... aku hanya penasaran saja. Aku bukan penggemar RPG, tapi yang kutahu goblin itu monster hampir wajib ada di RPG bertema magis seperti dunia ini. Lalu goblin itu mudah ditemukan juga sering menjadi monster lemah, bahkan paling lemah. Sedangkan di sini, mereka sulit ditemukan. Aku juga dengar mereka makhluk yang hebat di sini.”


Erra, Lunariaa, dan Arini. Ketiganya akhirnya mengobrolkan tentang apa saja yang mereka tahu tentang goblin di dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini.


Seperti yang Erra katakan, bahwa goblin itu seakan hampir wajib ada di dunia RPG yang bertemakan fantasi sihir seperti di sini. Dan kebanyakan mereka menduduki tempat sebagai monster yang lemah, bahkan paling lemah. Tapi beda dengan goblin di dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini.


Pertama, goblin jarang ditemukan meski sebenarnya mereka tersebar di seluruh dunia. Itu karena mereka biasanya tinggal di tempat yang memang sulit dijangkau para pemain atau pun NPC manusia dunia ini. Sebagai salah satu contohnya adalah kelompok goblin yang tinggal di sisi selatan Great Southern Jungle ini.


Dikatakan di dalam kisah latar dunia ini, bahwa pada masa lalu ada masa di mana goblin menyebar luas dengan bebas. Lalu mereka memiliki kemampuan yang setara dengan manusia pada zaman perunggu atau besi. Mereka juga memiliki kemampuan sihir. Dan pada saat itu, manusia di dunia ini masih lah lemah dan sering dijadikan budak goblin. Terutama pada gadis manusia yang berparas menawan.


Kejayaan goblin atas manusia menurun sedikit demi sedikit karena peningkatan kemampuan manusia lebih cepat daripada goblin. Yang lama kelamaan memicu perang, dan akhirnya goblin pun terdorong mundur ke tempat yang sulit terjangkau oleh manusia.


Meski pun di dunia ini goblin memiliki kemampuan yang hebat, jika dibandingkan dengan goblin di dunia permainan lainnya. Mereka memiliki penampilan yang sangat pasaran. Yakni bertubuh kecil dengan tinggi sekitar seratus sampai seratus tiga puluh sentimeter, dan berkulit hijau.


.


.


.


Dalam beberapa hari ini, Ezzza berhasil menstabilkan kondisi anggota kelompoknya. Pasca perang tempo hari, banyak dari mereka yang selamat dan bertahan hidup memutuskan untuk keluar dari kelompok Ezzza.


Meski sebenarnya ia merasa sangat kesal, Ezzza berusaha menahan diri dan membiarkan yang mau keluar. Lagipula memaksa mereka tetap di dalam kelompok Ezzza nilai bisa merusak kerja ke depannya.


Kini, kelompok Ezzza hanya beranggotakan belasan orang. Dan hari ini, akhirnya mereka memutuskan untuk memulai operasi lagi.


Yang menjadi target kelompok Ezzza sekarang adalah sebuah desa kecil. Desa ini mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan kayu. Yang kemudian mereka bawa ke Desa Green Hut.


Sebelumnya desa ini hanya mengirim ke Desa Gezar. Tapi kemudian mereka mencoba juga mengirim ke Desa Green Hut. Setelah beberapa waktu, Desa Gezar karena gengsinya memberi pilihan pada desa ini. Agar hanya mengirim ke Desa Gezar saja, atau Desa Green Hut saja. Dan akhirnya desa ini memilih Desa Green Hut.


Ezzza memilih desa ini sebagai target karena di desa ini hanya ada sedikit penduduknya. Dan di antara lelaki dan perempuan, desa ini lebih banyak penduduk perempuannya. Jadi Ezzza pikir akan mudah merampok desa ini.Kalau pun tidak mudah, setidaknya tak akan terlalu sulit.

__ADS_1


Ezzza memperhatikan posisi setiap anak buahnya. Dan ketika semuanya sudah di tempat yang seharusnya. Ia pun memulai rencananya...


.


.


.


“Lupakan Desa Gezar. Kita kejar bedebah itu secepatnya!” perintah Fitz.


Mendengar perintah Fitz, para anak buahnya tak ada yang langsung bergerak.


“Kenapa kalian diam saja? Tidak dengar perintahku?!”


Akhirnya, dengan tingkah yang sangat menunjukkan rasa enggan mereka. Para anak buah Fitz itu mulai bersiap.


Fitz mulai dijauhi anak buahnya, terutama para avatar alias pemain. Itu karena mereka menilai kalau obsesinya mengejar Erra hanya menimbulkan keburukan saja. Karena selama ini, setiap usaha Fitz berakhir percuma. Dan malah menimbulkan kerugian bagi Golden Stars. Baik itu kerugian materi atau pun kerugian karena pamor mereka menjadi turun.


Sebenarnya, Kronoz sendiri sudah membebaskan Fitz dari tugas ini. Karena Kronoz juga melihat hanya ada kerugian selama misi penangkapan Erra berjalan.


Sayangnya, meski sudah mendapat kelonggaran untuk mundur dari misi ini. Fitz masih berkeras diri untuk menyelesaikannya.


.


.


.


“Apa ada cara memberi sinyal cepat dengan fitur daftar teman?” tanya Erra.


“Tidak. Tidak ada fitur seperti itu sama sekali.” Arini yang menjawab.


“Memangnya kenapa?” kini Lunariaa yang bertanya pada Erra.


“Aku berencana untuk bergerak sendiri ke depan, dan sekeliling. Memindai lokasi akan lebih mudah bagiku kalau sendirian.”


“Ah, benar juga. Kamu ini Scouts, ya....”


“Saat aku bergerak sendiri nanti. Mungkin saja aku mendapat bahaya, atau mungkin kalian butuh bantuanku segera. Maka dari itu aku mau kita punya alat pemberi sinyal yang efektif dan efisien.”


Erra mengeluarkan peluit dari sakunya, lalu lanjut berkata...


“Bagaimana kalau kita pakai peluit?”


Kedua gadis satu timnya itu setuju dengan pendapat Erra. Dan Erra pun membagikan masing-masing satu peluit pada keduanya. Setelah itu, Erra pun pergi sendirian.

__ADS_1


Erra maju dengan belatinya yang siap. Ia tak memakai busur, karena lebatnya hutan ini akan menurunkan tingkat efektifitas dari pemakaian busur. Ia bergerak dengan lincah dan lentur, hampir tak menyentuh sama sekali semak belukar yang begitu lebat di hutan ini. Membuat Arini dan Lunariaa yang melihat dibuat terkagum.


“Kita juga jangan lengah.” Ucap Arini.


“Ya, benar. Apa kamu mau berkeliling sedikit?”


“Tidak masalah.”


Keduanya pun mulai berkeliling.


‘Hm... jejak.’ Gumam Erra yang menemukan jejak dari semak yang patah.


Ia meningkatkan kewaspadaannya dan mengikuti jejak itu. Tak lama kemudian, ia melihat...


“Goblin.”


Goblin yang Erra lihat sedang meminum air dari genangan di tanah. Ia terlihat sangat santai dan tak peduli sekitar. Erra yang melihat tingkah goblin itu terpikirkan untuk segera menyerangnya. Tapi, ia memeriksa dulu di sekitar. Jika saja ada goblin lainnya yang sembunyi.


Dan setelah beberapa saat berkeliling dengan begitu hati-hati, Erra tak menemukan goblin lainnya. Maka dari itu ia pun menyergap si goblin. Tapi...


“Keyaa!!!”


“Sial!”


Saat Erra hampir menikam punggung si goblin, ada goblin lain yang menerjang ke arah Erra. Untung saja ia berhasil menghindar, tapi...


“Ah, gawat. Sepertinya aku sedikit lengah.”


Tak lama kemudian muncul beberapa goblin lainnya. Dan goblin yang tadi sedang minum menunjukkan ekspresi puas. Seakan sebelumnya ia memang coba memancing Erra.


Jika saja ia berada di dekat Desa Green Hut, yang daerahnya ia hafal betul. Erra tak akan takut melawan para goblin ini sendirian. Tapi karena ia berada di tempat tak dikenal, ia pun memutuskan untuk mundur sambil meniup peluitnya.


Ia mengeluarkan peluitnya dan...


PWWIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTT!!!!!!!!!!!


“Eh?”


Erra belum sempat meniup peluit, tapi sudah ada suara peluit lain dari arah Arini dan Lunariaa.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2