Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.39 - Dialog.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 39 : Dialog.


+++


“Hey, Erra. Selamat, ya!”


“Hm... selamat untuk apa?”


“Kau baru terpilih sebagai Kepala Pertahanan dan Keamanan Desa Green Hut ini, kan?”


“Ya.”


“Ya... aku memberi ucapan selamat untuk itu.”


“Oh, jadi itu sesuatu yang pantas diberi ucapan selamat?”


“Y-ya.... menurutku itu pantas. Memangnya kau tidak berpikir begitu?”


“Jujur saja, aku tak pernah memikirkannya. Tapi sepertinya, aku mau bilang terima kasih saja atas ucapan selamat darimu.”


“Ah, ya.... sama-sama.”


Dialog itu terjadi antara Arini dan Erra yang bertemu dengan tak sengaja di jalanan Desa Green Hut.


“Oh, ya. Ke mana temanmu itu? Biasanya kalian selalu berdua.” Tanya Erra.


“Oh, Lunariaa? Dia sudah Log Out lebih dulu. Aku juga mau Log Out, tapi ada barang yang mau kubeli dulu.”


“Begitu, ya? Kalau begitu selamat berbelanja.”


“Ah, iya.”


“Omong-omong, kau mau beli apa?”


“Beberapa ramuan. Baik itu pemulih, racun, atau yang lainnya. Setelah aku sering berinteraksi dengan kalian, kini aku melihat cara baru untuk bertarung. Yang.... sangat menguntungkan.”


“Ahaha.... apa yang kau maksud tentang penggunaan racun?”


“Salah satunya.”


“Hm... Arini, ada yang mau kutanyakan.”


“Oh, boleh. Memangnya mau tanya apa?”


Sebelum menyampaikan pertanyaannya, Erra terdiam sejenak sampai akhirnya berkata...


“Ini sedikit pribadi, maksudku di luar konteks dunia permainan ini.”


“Ah... sebenarnya aku menghindari pembicaraan macam itu. Tapi, aku akan dengarkan dulu pertanyaanmu.”


“Baik lah, kalau begitu. Aku ingin bertanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku sebelum di hutan waktu kita sama-sama dikejar kera.”


“Hm... sepertinya belum. Omong-omong, bagian mana dari pertanyaan itu yang di luar konteks dunia permainan ini?”


“Ah, pertanyaan barusan belum menyangkut pertanyaan intiku. Jujur saja, aku merasa pernah bertemu denganmu. Tapi bukan di dunia virtual ini, melainkan di dunia nyata.”


Arini berhenti melangkahkan kakinya begitu mendengar perkataan Erra itu. Gadis penyihir itu menatap Erra lalu berkata...

__ADS_1


“Bagaimana bisa kau merasa begitu? Aku kurang bisa berbicara dengan perumpamaan. Jadi, aku akan langsung bertanya balik. Apa kau sedang mencoba untuk...”


“Maaf aku tidak berusaha menggodamu.”


Erra memotong pertanyaan Arini. Yang mana membuat Arini sedikit tersentak, karena Erra bisa menebak pertanyaan yang akan ia ucapkan dengan tepat.


Arini merasa Erra akan coba menggodanya dengan cara seperti itu. Karena itu memang adalah salah satu cara paling umum alias pasaran yang dilakukan para pemain atau avatar di dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini untuk menggoda lawan jenis. Terutama dipakai oleh para pemain lelaki untuk mendekati para pemain perempuan.


“Maaf memotong pertanyaanmu. Aku ingin mengobrol lebih lama, tapi sepertinya ada yang harus kukerjakan lagi.”


Erra mengucapkannya sambil melihat ke satu arah. Arini coba melihat ke arah yang Erra lihat tapi tak menemukan sesuatu yang janggal. Hanya kegiatan warga desa sehari-hari lah yang gadis ini lihat.


“Aku serius, aku merasa pernah bertemu denganmu di dunia nyata. Yang membuatku merasa begitu bukan lah dari penampilanmu. Tapi dari suara dan beberapa sikapmu. Dan omong-omong, aku juga merasakan hal yang sama pada Lunariaa.


Dan jujur saja, kalau masalah Lunariaa. Aku bahkan merasa kami sering bertemu pada masa lampau. Tapi sudah tak pernah bertemu lagi dalam waktu lama.”


“A-ah... begitu?” Arini tampak sangat keheranan dengan perkataan Erra.


“Maaf membicarakan hal yang terdengar aneh. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Jadi aku permisi undur diri.”


Erra memberi salam dengan anggukan rendah, dan segera meninggalkan Arini. Dan gadis penyihir itu hanya bisa melihat si avatar bermata merah pergi dengan sangat cepat. Dan tanpa ia sadari sudah menghilang.


Arini pun melanjutkan niatannya untuk berbelanja beberapa samuan, dan kemudian segera Log Out.


.


.


.


“Halo, ada apa?” ucap Rika, si pemakai karakter Lunariaa, saat mengangkat panggilan di ponselnya.


“Apa kamu sedang sibuk?” tanya si penelpon yang adalah Rani, si pemakai karakter Arini.


“Ada hal kecil yang ingin kubicarakan, tapi tidak mendesak juga.”


“Ya, sudah. Katakan saja.”


“Baik lah, jadi...”


Rani menceritakan obrolannya dengan Erra beberapa waktu sebelumnya.


“Ah, jadi begitu?” tanya Rika.


“Ya, begitu. Bagaimana menurutmu? Apa ada pendapat?”


“Hm... jujur saja, Rani. Aku baru mau membicarakan hal itu.”


“Maksudmu?”


“Aku merasakan hal yang sama dengan si Erra ini. Setelah sekian lama sejak kita bertemu dengannya di hutan waktu itu, aku lama kelamaan merasakan hal yang sama seperti itu. Aku merasa pernah bertemu dengan orang itu, tapi bukan di dunia Ardanium. Melainkan di dunia nyata.


Aku juga merasa mengenalnya bukan dari penampilannya. Aku juga tak merasa itu dari suaranya. Intinya aku tidak tahu apa yang membuatku merasa begitu. Tapi aku merasakan kalau aku mengenalnya di dunia nyata.”


Kedua gadis yang bersahabat dekat itu pun membahas hal ini sedikit lama. Mereka bersama, berusaha mengingat orang yang punya sikap seperti Erra. Dan keduanya mengenal orang itu. Tapi, mereka tak menemukan jawabannya.


“Ah! Rani, aku baru ingat!”


“Ingat apa?”


“Perasaanku saat ada di dekat Erra. Itu.... meski ini aneh... tapi.... rasanya mirip saat berada di dekat kakakku. Dan kalau dipikir lagi, mereka punya kemiripan sifat. Seperti sama-sama bersikap seakan tak peduli, tapi sangat peduli.”

__ADS_1


“Eh.... kakakmu? Aku kan belum pernah bertemu dengan kakakmu sampai sekarang.”


“Iya, aku tahu itu.”


Pembahasan mereka pun terus berlanjut.


.


.


.


“Bos! Bos! Ini ada berita bagus!” Coro berlari sambil menghampiri Ezzza.


“Berita bagus apa?”


“Desa Gezar akan melancarkan serangan ke Desa Green Hut. Dan mereka membuka pendaftaran misi untuk yang mau bergabung dengan bebas!”


“Apa yang membuat itu jadi berita bagus?”


“Eh? Bos tidak paham? Ini aneh.”


“Cepat katakan! Aku sedang malas berpikir!”


“Aa-ah! Iya, bos! Maksudku begini... Kita bisa mendaftar ke misi itu untuk mendapatkan uang dan memberi pengalaman bertarung nyata pada semua anggota baru kita!”


Ezzza terdiam sejenak sampai ia menjawab...


“Ah, ya... ya.... ya! Aku setuju denganmu!”


Ezzza dan kelompoknya pun mendaftarkan diri ke Desa Gezar.


.


.


.


“Mau beri laporan apa? Kenapa panik sekali?” tanya Erra pada anak buahnya yang baru memberi salam.


“Desa Gezar mendeklarasikan perang dengan kita, tuan!”


“Oh, jadi akhirnya dimulai? Kalau begitu, kita bersiap. Waktu yang ada cukup untuk bersiap, kan? Jangan bilang kerja kerasku di Gezar beberapa waktu ke belakang tak ada artinya?”


“Ah, ya. Waktunya akan cukup, tuan. Lalu ada satu lagi laporan.”


“Apa?”


“Ada sebuah kelompok perampok baru. Mereka baru dua kali beroperasi, dan caranya sama.”


“Jumlah anggota mereka?”


“Perkiraan, lebih dari seratus.”


“Hah... ini menyebalkan.”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2