Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.25 - Hari-hari


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 25 : Hari-hari.


+++


POV : Erlangga Saputra.


+++


Hari baru telah tiba lagi. Dan aku pun melakukan apa yang biasa kulakukan.


Bangun tidur, merapikan kamar, sedikit berolah raga, sedikit membantu ibu dengan pekerjaan rumah, sarapan, membantu ibu membereskan bekas sarapan, dan pergi berangkat ke sekolah.


Itu lah rutinitas yang selalu kulakukan setiap harinya.


Ah, lebih tepatnya pada hari yang bukan hari libur tentunya. Karena kalau libur, aku tak pergi ke sekolah.


Saat sudah mendekati sekolah, tentu saja menjadi hal yang wajar saat aku bertemu dengan para murid sekolah yang satu sekolah denganku. Banyak dari mereka yang mengenalku, tapi aku tidak mengenali mereka. Banyak yang berani menyapaku terlebih dahulu, tapi tak sedikit pula yang hanya menatapku dalam diam.


Mereka yang menatapku dalam diam itu, bisa kulihat dengan jelas apa isi hatinya. Sebagian dari mereka terlihat ingin berusaha menyapaku juga, tapi tak bisa. Ada juga dari mereka yang menatapku kosong, tak ada perasaan apa pun yang terlihat di ekspresi mereka. Dan ada sebagian lagi yang menatapku dengan tatapan permusuhan.


Erlangga Saputra, itu namaku. Nama yang terkenal di sekolah ini.


Aku terkenal sebagai seorang siswa teladan. Para guru sering menjadikan penampilanku sebagai contoh bagi para siswa lain. Aku juga punya nilai yang baik dalam bidang akademis, mau pun olahraga. Meski aku cukup payah dalam olah raga permainan, terutama yang dimainkan dalam tim. Aku lumayan mampu dalam olah raga atletis.


Kalau untuk paljaran di dalam kelas, aku paling tidak suka dengan pelajaran yang melibatkan perhitungan. Seperti matematika, fisika, dan kimia. Tapi bukan berarti aku tidak bisa pelajaran-pelajaran itu. Aku bisa, hanya saja aku tak suka.


Aku paling suka pelajaran seni, terutama seni rupa. Dan aku kurang menyukai seni musik, karena aku suka kesunyian. Meski aku menyukai seni rupa, jujur saja aku tak berbakat dalam hal itu.


“P-pagi, Kak Putra.”


“Pagi...”


“Ah, maaf. Apa aku boleh mengganggu waktumu sebentar?”


“Oh, memangnya ada apa?”


Jujur saja semester ini semakin menyebalkan bagiku. Karena semakin banyak gadis di sekolah ini yang bertingkah begini. Semester ini sudah hampir berakhir. Dan seingatku, hampir setiap pagi ada gadis yang mencegatku begini. Baik itu adik kelas, yang satu angkatan denganku, atau pun kakak kelas.


Jujur saja aku mulai kesal, tapi tak pernah dan tak akan pernah bisa aku menunjukkannya.

__ADS_1


“O-orang tuaku membuka kafe baru di dekat sini. I-ini kupon diskon khusus.”


Gadis ini menyodorkan sebuah kupon kecil, dan dengan sangat malas aku menerimanya.


“Ah, begitu? Terima kasih banyak kalau begitu.”


“Ya, sama-sama, kak.”


Aku ingin segera meninggalkannya, tapi kelihatannya masih ada yang ingin ia katakan. Benar-benar aku tidak ingin mendengarnya. Tapi mau bagaimana pun, akan lebih baik kalau aku mendengarkannya.


“Apa ada lagi?” tanyaku.


“B-begini, kak. Kupon itu hanya berlaku hari ini. K-kalau kakak tidak keberatan, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kakak mampir? Aku bisa mengantar.”


“Ah, sayag sekali kalau hanya hari ini. Sebenarnya aku ada niatan untuk pergi ke tempat lain sepulang sekolah. Tapi, biar kulihat dulu. Kalau bisa aku akan pergi bersamamu.”


“EH?! Benar, kah? B-baiklah, terima kasih, kak! Maaf sudah mengganggu!”


Ah... akhirnya gadis itu pergi juga.


Kalau begini, nanti sepulang sekolah aku hanya perlu mengatakan kalau aku tak bisa membatalkan rencanaku sebelumnya. Maka aku akan terbebas darinya!


Haha! Aku membuat ide cemerlang lagi!


Kenapa aku tidak langsung menolak?


Malah memberinya harapan dulu, dan nanti baru mematahkan harapan itu?


Biar bagaimana pun juga, aku harus tetap menjaga citraku di muka umum. Erlangga yang baik hati, itu harus tetap berkumandang. Kalau aku langsung menolaknya begitu saja, ia bisa langsung menebak kalau aku memang tidak mau pergi. Tapi, kalau aku meminta waktu untuk memikirkan ajakannya dan nanti kutolak. Ia akan berpikir bahwa aku berusaha memenuhi keinginannya, tapi tak bisa karena keadaan. Bukan hanya sekedar tidak mau.


Jujur saja, hidup dengan topeng baik hati ini semakin lama semakin membuatku bosan dan jengkel. Tapi apa daya, aku harus mempertahankannya. Bukan hanya demi kebaikanku sendiri, tapi juga demi mereka yang kusayangi.


Aku membuat beberapa masalah merepotkan di masa lalu. Akibatnya, bukan hanya aku yang menanggung masalah yang datang setelahnya. Seumur hidupku, aku paling menyayangi ibuku. Dan ibuku menghadapi hal yang sangat menyulitkan karena masalah yang kubuat itu.


Hanya karena demi menghindari masalah yang serupa. Aku harus bertahan, dan berusaha hidup dengan topeng ini.


.


.


.


Jam demi jam berlalu, dan akhirnya tiba waktunya pulang sekolah. Seperti biasanya, aku akan mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku, dan meminjam buku lainnya.

__ADS_1


Di zaman ini, semakin jarang orang yang mau ke perpustakaan. Karena hampir semua hal bisa dicari di internet. Alasanku terus meminjam buku ke perpustakaan sekolah, bukan lah karena aku memang membutuhkannya. Karena aku juga lebih suka mencari berbagai macam hal melalui internet karena segala macam kepraktisannya.


Namun, dengan rajin meminjam buku seperti ini. Aku bisa mendapatkan gelar ‘anak baik’ yang semakin kuat. Dan ini juga semakin menebalkan topengku. Semakin menutupi diriku yang sebenarnya, dari mata umum.


Ah, hari ini seperti biasanya. Lagi-lagi aku bertemu dengan gadis itu di perpustakaan. Ia adalah adik kelasku, salah satu yang tak pernah berusaha menyapaku.


Ada hal lain pada gadis ini, yang tak bisa dijelaskan dengan perkataan. Entah kenapa, aku merasa ia ‘sama denganku’. Aku merasa, ia menyembunyikan sesuatu seperti diriku.


“Yo, Ani. Kita bertemu lagi.”


“Ah, Kak Putra? Bisa tidak mengatakan hal yang sama, hampir setiap kali kita bertemu?” ucap gadis itu dengan nada ketus yang sama sekali tak bersahabat, dan cenderung jengkel.


“Haha, maaf-maaf.”


Awalnya gadis ini sangat menghindariku. Tapi belakangan, aku bisa mengajaknya berbicara. Dan kini, ia adalah satu-satunya adik kelas yang berani bicara begitu padaku.


Terjadi obrolan kecil sampai akhirnya kami berpisah. Seperti biasanya, lebih banyak aku yang bicara. Jujur saja, ini pertama kalinya aku merasa tertarik pada seorang gadis setelah ‘dirinya’. Tapi, sepertinya rasa tertarikku padanya ini bukan hal semacam asmara. Hanya rasa penasaran, karena aku merasa ia ‘sama denganku’.


.


.


.


Ah... akhirnya aku sampai di rumah.


Dulu, sesampainya di rumah setelah dari sekolah. Aku akan beristirahat dengan membaca buku yang kupinjam, meski aku sebenarnya malas membacanya. Tapi kini, aku punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan.


Dan tentu saja itu adalah bermain Ardanium’s Tale Online.


Jujur saja aku sangat menyukai dunia virtual itu. Karena di sana, aku tak perlu memakai ‘topeng’ ini. Aku malah bisa menjadi diriku yang sebenarnya di dunia palsu itu.


Tapi kurasa kebanyakan orang juga begitu, jadi aku bukan satu-satunya.


Hari ini, aku berniat melanjutkan perburuan Boink lagi. Aku yakin hari ini bisa naik level. Naik level di permainan ini benar-benar sulit. Sudah cukup lama aku bermain, tapi masih saja aku terjebak di level 2.


“Yap! Mari kita berburu!”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2