
.
.
.
Meski kondisinya seburuk itu, Erra telah berhasil melukai ketiga Hell Hog itu. Sementara dirinya sendiri belum terkena serangan dari ketiga monster bara itu sama sekali. Tapi tetap saja, meski berhasil menjaga Hit Point-nya, Erra mulai kehabisan Stamina Point dan Mana Point.
“Aku tak bisa lebih berlama-lama lagi!”
Erra sambil berlari terus memikirkan cara untuk mengalahkan ketiga monster yang mengejarnya itu. Ia sempat berencana untuk menaiki sebuah pohon lalu menembaki mereka dari sana. Tapi sayang, ide itu langsung kandas begitu saja. Karena ketiga Hell Hog yang mengejarnya itu, menghantam pohon tempat Erra bertengger.
“Ah! Bagus!”
Erra melihat sesuatu yang kelihatannya akan sangat membantu dirinya.
Dan, apa yang dia lihat itu?
Itu adalah sekelompok petualang yang tengah bertarung dengan seekor Hell Hog.
Erra terus berlari ke arah kelompok itu. Lalu...
“Hey, semuanya! Aku tambah lawannya, ya!!!” seru Erra saat sampai ke tempat para petualang itu.
“Eh, apa?”
“Siapa dia?”
“Apa maksudnya??”
Pertanyaan tentu saja muncul pada benak para anggota kelompok petualang yang terdiri dari tiga orang itu.
Srak! Srak! Srak! Srak! Srak!
Dan ketiga orang itu baru sadar ketika ketiga Hell Hog yang mengejar Erra menghampiri mereka.
“Yang benar saja!”
“Hey, kau! Apa maksudmu?!”
“Jangan lari!!!”
Ketiga petualang itu pun memutuskan untuk melarikan diri, karena tentu saja mereka merasa tak akan sanggup menghadapi empat ekor Hell Hog sekaligus.
__ADS_1
Mereka berlari, kabur dari para Hell Hog sambil mengejar Erra.
“Hey, berhenti kau!!!” seru salah satu anggota kelompok petualang itu.
“Tidak mau!” jawab Erra sambil terus berlari ke arah luar hutan.
‘Cih! Mereka itu, kenapa langsung lari?! Aku jadi tak bisa kabur!!!’ ucap Erra dalam hatinya dengan geram.
Sebelumnya Erra memang tak berharap ketiga petualang yang kelihatannya punya level tak jauh dengan dirinya itu bisa menahan para Hell Hog. Tapi ia berharap kalau mereka bisa sedikit menghambat para Hell Hog. Sehingga dirinya punya kesempatan untuk meloloskan diri.
Kalau pun gagal untuk lolos sepenuhnya. Erra sebelumnya yakin ia bisa mendapatkan waktu untuk setidaknya memulihkan sedikit staminanya. Atau kemungkinan lainnya adalah, ketiga orang itu kabur dan para Hell Hog teralihkan perhatiannya dan mengejar mereka, bukan dirinya lagi.
Tapi pada kenyataannya, ketiga petualang itu tak ragu untuk kabur bahkan sambil mengejar dirinya.
‘Ah, mau bagaimana lagi? Hanya bisa ambil risiko!’
Setelah mengatakan itu, Erra mengambil beberapa botol kaca yang bentuk dan ukurannya mirip bola golf. Ia menggenggam dua botol di masing-masing tangannya, jadi ia punya empat botol. Keempat botol itu berisikan cairan berwarna hijau seperti daun muda. Tapi terlihat seperti ada serpihan bubuk berwarna hijau tua di dalamnya yang melayang-layang.
Erra dengan mendadak berhenti, berbalik, dan melemparkan keempat botol itu.
Prraapyarr! Prraapyarr!
Wuuuooosssshhhh!!!!
“Ugh! Apa ini?!”
“Sial!”
“Awas! Ini racun!”
Ketiga petualang yang ada di belakang Erra dengan segera terbungkus oleh gas yang keluar dari botol-botol itu. Dan gas itu memang lah racun. Yang mana memiliki nama, Mid Paralizing Gas 3.
Seperti namanya, gas racun itu memiliki fungsi untuk memberikan efek Paralyze pada yang menghirupnya. Efek dari gas racun ini tergantung berapa banyak gas yang dihirup lawannya. Kalau pun lawannya menghirup seratus persen gas dari satu botol, efeknya hanya setara dengan Low Paralyze Poison 3.
Meski memiliki efek yang lebih lemah, bukan berarti gas racun ini tidak sebanding bahayanya dengan racun cair. Karena tidak seperti racun cair yang lebih sulit dimasukan ke tubuh lawan. Racun dalam bentuk gas ini sangat mudah masuk ke tubuh lawan. Dan lawan akan sangat sulit menghindarinya. Apalagi kalau mendadak seperti ini.
Karena terlanjur menghirup gas racun itu, ketiga petualang itu pun mulai terkena efeknya. Mereka mulai kehilangan tenaga dari tubuhnya dan tumbang ke tanah. Tapi, mereka masih sempat memposisikan tubuhnya terhindar dari terjangan Hell Hog yang ada di belakang mereka.
Sementara itu, para Hell Hog pun menghirup racun dalam bentuk gas ini. Karena kecerdasan mereka yang rendah, mereka pun tak mengetahui kalau gas ini beracun. Mereka pun bernapas seperti biasanya, dan alhasil mereka menghirup sangat banyak gas racun. Kemudian keempat Hell Hog itu pun mulai tumbang beberapa saat kemudian.
Sebelumnya Erra ssempat terbesit untuk segera melarikan diri setelah gas racun itu keluar. Tapi ia mengurungkan niatannya dan memutuskan untuk meneruskan perburuan.
Tahu efek racunnya tak akan bertahan lama, Erra segera bersiap.
__ADS_1
Ia segera menghujani kepala keempat Hell Hog itu dengan anak panahnya. Tentunya bukan anak panah biasa melainkan anak panah yang telah dilumuri High Paralyze Poison 2. Selain terkena daya serang dari tembakan panah Erra. Para Hell Hog pun dengan terpaksa tinggal diam untuk lebih lama karena efek Paralyze pada mereka semakin bertambah.
Di sisi lain, ketiga petualang itu telah berhasil lepas dari efek racunnya. Dua dari mereka ingin menerjang Erra tapi salah satunya menghentikannya. Ia memberi pendapat bahwa lebih baik mereka menghabisi keempat Hell Hog lumpuh itu dengan tangan mereka. Sehingga mereka bisa diuntungkan dengan itu. Setelah itu baru menghabisi Erra.
Mereka bertiga pun mulai menyerang salah satu Hell Hog. Erra pun membiarkannya dan fokus menyerang tiga Hell Hog yang lain. Melihat Erra tak menyerang mereka, dengan cerobohnya mereka mengabaikan keberadaan Erra untuk sejenak.
Erra sendiri, saat melihat Hell Hog yang dihajar ketiga petualang itu sekarat. Segera memanah ketiga petualang itu, dan kemudian menghabisi si Hell Hog yang sudah sekarat.
Ketiga petualang itu pun baru sadar kalau Erra memang harus dihabisi terlebih dahulu. Tapi sayang, mereka telat. Karena ternyata Erra lebih memilih menghabisi mereka bertiga terlebih dahulu sebelum menghabisi ketiga Hell Hog yang tersisa.
Demi menghemat anak panah, Erra menghabisi ketiga petualang dan ketiga Hell Hog itu dengan belatinya. Dan setelah semua selesai. Erra tak lupa melakukan Looting pada jasad keempat Hell Hog itu, juga ketiga petualang itu yang ternyata semuanya pemain.
Setelah selesai, Erra pun pulang ke Avalan City.
.
.
.
Hari sudah gelap, bahkan sudah menjelang tengah malam saat Erra selesai menjual semua hasil buruannya. Kalau lah Erra menjual semuanya ke satu toko saja, ia bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat. Tapi, demi bersembunyi ia harus menjual ke banyak toko berbeda.
Malam ini Erra berencana mengistirahatkan tubuh virtualnya di salah satu penginapan yang ia sewa. Dan kini ia sedang melewati sebuah jalan setepak gelap yang panjang untuk menuju kesana, demi memotong jarak.
Saat hampir mencapai pertengahan jalan, ia berhenti.
“Siapa?” tanya Erra pada kehampaan gelapnya jalan ini.
Tak terlihat siapa pun di sekitarnya, tapi Erra langsung mencabut belatinya dan memasang kuda-kuda. Tapi, ia bukannya bersiap untuk bertarung. Melainkan untuk melarikan diri.
Dari balik kegelapan, muncul seseorang. Orang itu memakai pakain serba hitam. Bahkan ia memakai topeng yang juga berwarna hitam.
“Hebat juga kau bisa menyadariku?” ucap orang itu.
“Tentu saja, aku ini Scouts yang keren. Jadi, itu wajar.” Balas Erra.
Mereka saling tatap, dan di dalam hatinya Erra sadar kalau orang ini berbahaya. Meski pun Erra tak mengenal siapa orang ini. Tapi ia yakin bahwa orang ini masih lah komplotan penguntitnya.
Erra benar sekali, dan bahkan bisa dibilang orang ini adalah bosnya para pengunti dirinya itu. Karena ia adalah sang pemimpin dari kelompok intelejen Golden Stars, Fitz.
.
.
__ADS_1
.