
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 42 : Pertempuran Selatan.
+++
“Ya, ini tindakan bodoh kalau dilakukan orang lain. Tapi kalau aku yang melakukannya. Ini namanya tindakan keren!”
Mendengar perkataan Erra, tak ada yang mengerti. Bukan karena mereka tidak mengerti apa yang Erra maksud. Melainkan karena mereka tak mengerti kenapa Erra mengatakan hal semacam itu.
“Banyak bicara! Kau yang namanya Erra? Kupikir kau terlihat kuat, tapi kelihatannya kau sangat lemah! Biar kuhabisi kau!”
Salah satu anggota pasukan dari Desa Gezar itu bersiap menerjang Erra. Tapi sang komandan segera menghentikannya.
“Sabar lah. Dia pasti menyiapkan jebakan.”
Orang yang mau menerjang itu terlihat tak terima dihentikan. Ia baru mau melawan dan mengatakan sesuatu. Tapi itu terpotong karena Ezzza angkat bicara.
“Yo, komandan. Kenapa dihentikan? Padahal biarkan saja ia maju, agar kita tahu jebakan apa yang disiapkan orang aneh itu.”
Ezzza mengatakannya sambil menatap ke arah Erra.
Si orang yang mau menerjang itu jadi merasa marah mendengar perkataan Ezzza. Entah kenapa ia merasa kalau ia begitu dihinakan. Tapi sekali lagi, niatnya mau bicara terbatalkan karena ada orang lain yang angkat bicara. Dan kali ini adalah Erra.
“Kalian tahu? Aku akan berkata jujur, dan aku bersumpah atas nama Tuhan, aku tidak akan berbohong tentang hal ini.”
Semua anggota pasukan dari Desa Gezar itu jadi terfokus perhatiannya pada Erra. Melihat semua lawannya sudah terfokus pada dirinya, Erra lanjut bicara.
“Jika dibandingkan, aku lebih suka kopi daripada teh. Tapi minuman favoritku adalah susu.”
Hening.
Hening.
Dan, hening.
Tak ada suara dari begitu banyaknya manusia di tempat ini. Yang terdengar hanya lah suara alam. Seperti dahan yang bergesekan karena tertiup angin, dan beberapa suara hewan seperti burung.
“Lalu?”
Kata yang berasal dari orang yang barusan mau menerjang itu memecah keheningan yang terjadi. Erra menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman, lalu berkata...
“Ya... siapa tahu ada yang mau mengundangku ke rumahnya? Aku akan lebih suka kalau disuguhkan kopi daripada teh. Tapi aku akan sangat senang kalau disuguhkan susu, apalagi kalau pakai madu.”
“Apa maksudmu berkata begitu?!” kata orang yang barusan mau menerjang.
“Hm... ya... aku kan tadi sudah bilang aku akan berkata jujur, bahkan bersumpah pada Tuhan. Dan aku memang jujur kalau minuman favoritku susu, lalu aku lebih suka kopi daripada teh.”
“Haha... caramu mengulur waktu unik juga, ya?” Ezzza menyambung kalimat Erra.
__ADS_1
Mendengar perkataan Ezzza, semua seperti baru sadar kalau Erra sedang membicarakan hal yang tidak jelas. Dan sama sekali tak ada hubungannya dengan keadaan saat ini. Yang mana berarti Erra hanya mengatakannya untuk mengulur waktu saja.
Plok! Plok! Plok!
Erra bertepuk tangan lalu berkata...
“Wow... wow... wow...! Ternyata ada juga di antara kalian yang pintar! Eh, tunggu dulu. Kita pernah bertemu sebelumnya. Kau orang yang ingin menghabisi Arini dan Lunariaa tapi gagal terus, kan? Tunggu, aku lupa namamu. Jangan beri tahu, aku akan berusaha mengingat!”
Erra terlihat berlagak mengingat, dan lalu berkata...
“Ah! Kau Ejajaja, kan?!”
“Ejajaja?! Namaku memakai huruf Z! Bukan huruf J!”
“Ooh, maaf. Jadi, namamu Ezazaza?”
“Namaku, Ezzza! Hanya huruf Z-nya yang ada tiga!”
Seperti biasa Ezzza sangat marah kalau ada yang mempermainkan namanya. Ia terlihat akan mengatakan hal lainnya, tapi itu terpotong oleh Erra yang berkata...
“Hahaha! Kupikir kalian semua hanya kumpulan idiot? Tapi ternyata kumpulan idiot ditambah orang payah.”
Begitu selesai dengan kalimatnya itu, Erra langsung memasang ekspresi terkejut. Layaknya orang yang baru sadar kalau dirinya salah bicara. Ia lalu menutup mulutnya dengan satu tangan lalu berkata...
“Ups! Maaf, aku terlalu jujur! Jangan marah! Biar kuluruskan! Maksudku bukan idiot dan payah. Tapi hanya tidak punya akal dan tidak punya kemampuan apa pun!”
Erra telah sukses memprovokasi hampir semua anggota pasukan dari Desa Gezar. Mereka semua terlihat geram, lalu...
“Hoooo!!!”
“Seraaang!!!”
“Habisi dia!!!!”
“Mati, kau!!!”
Banyak yang mengikuti untuk menerjang Erra karena emosi. Meski sang komandan pasukan dan beberapa orang lainnya berusaha menghentikan, tak ada yang mendengar. Semua terbakar oleh amarah, karena rasa tersinggung.
Dengan senyuman lebar dan keseluruhan ekspresi seperti psikopat di film. Erra mengangkat kedua tangannya lalu...
Plok!
“Pesta dimulai!!!”
Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh!
.
.
.
__ADS_1
Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab! Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab! Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab!
“Ah!”
“Uoooh!!”
“Apa?!”
“Ohok!!”
Bluk! Bluk! Bluk! Bluk!
Terdengar beragam suara tebasan dan tikaman di balik asap. Yang segera diikuti dengan jeritan pasukan Desa Gezar.
Bom asap yang berjatuhan ke pasukan Desa Gezar itu berasal dari atas pohon. Karena di dahan pepohonan yang ada di sana itu, para pasukan Desa Green Hut sudah bersiaga. Mereka melemparkan bom asap, lalu turun dan menyerang lawan.
“Wind Blow!”
“Wind Pillar!”
“Wind Strike!”
Beberapa penyihir dalam kelompok pasukan yang berasal dari Desa Gezar ini mengeluarkan serangan tipe elemen angin mereka. Yang mana dengan cepat menghilangkan asap beracun yang membungkus mereka. Dan saat itu lah, para anggota pasukan Desa Green Hut yang ada di tengah musuh mulai terlihat.
Menyadari diri mereka sudah terlihat oleh lawan. Pasukan Desa Green Hut kembali membanting beberapa bom asap. Kali ini mereka melakukannya untuk melarikan diri.
Para penyihir pun sekali lagi memakai sihir angin untuk menghilangkan asap yang membungkus mereka. Yang mana kali ini sampai semua asap benar-benar hilang. Dan saat semua sudah terlihat jelas lagi. Para anggota pasukan Desa Green Hut sudah menghilang dari tengah mereka.
“Pemegang perisai maju perlahan bersama pemanah! Penyihir pendukung, beri dukungan pada pemanah!”
Komandan pasukan dari Desa Gezar segera memberi perintah. Mendengar perintah komandannya, mereka langsung melakukannya. Tapi sekali lagi, karena pasukan ini hanya lah pasukan dadakan. Kecepatan mereka merespon perintah cukup lambat.
“Sisanya kita bergerak maju perlahan! Tetap waspada pada serangan dari segala arah!”
Komandan pasukan dari Desa Gezar melanjut perintahnya. Lalu kemudian menambah perintah...
“Pemanah, serang!!!”
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
“Angkat perisai!”
Giliran komandan dari pasukan pertahanan Desa Green Hut yang memberi perintah.
Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak! Ctak!
Semua serangan anak panah dari pasukan dari Desa Gezar tertahan oleh perisai yang diangkat pasukan Desa Green Hut di atas dinding.
.
.
__ADS_1
.