
“KAAAUUU!!!!!”
BuAK!
Tinjuan dari tangan kanan si lelaki mendarat dengan mulus di pipi kiri Putra. Selesai meninju begitu, ia sedikit mundur lagi, lalu menatap Putra.
“Hah! Kau cuma banyak omong!”
Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!
Pipi kanan, pipi kiri, dada, perut. Tijuan lelaki itu menghujani tubuh Putra dengan begitu brutalnya. Sementara itu, Putra hanya terdiam tanpa ada upaya bertahan atau pun menghindar. Hal ini menyebabkan si lelaki semakin merasa di atas angin. Ia semakin bersemangat untuk menghajar Putra habis-habisan. Sampai...
“Apa?!”
Si lelaki mundur begitu ia menyadari ekspresi wajah Putra. Senyuman lebar, senyuman paling lebar, menghiasi wajah Putra. Bukan senyuman ceria penuh kehangatan. Namun senyuman lebar yang membawa hanya perasaan buruk bagi yang melihatnya. Ia kini tersenyum bagaikan para iblis yang di gambarkan di berbagai macam media.
“Kenapa berhenti?” tanya Putra.
“Ayo, lanjutkan! Semakin banyak seranganmu yang masuk maka akan semakin baik untukku.”
Si lelaki benar-benar tak mengerti maksud Putra. Ia kini malah terdiam mematung.
‘Orang ini! Apa dia benar-benar manusia!’ jerit si lelaki dalam hatinya.
Kini, bagi si lelaki. Putra tampak bagaikan hewan buas yang sedang mempermainkan dirinya.
“Kalau kau sudah selesai... sekarang... giliranku...” ucap Putra dengan nada sedingin es.
Wuush!
“Apa?!”
Si lelaki terhentak karena Putra tiba-tiba saja mendekatinya.
BUAK!!!
Tinjuan yang sangat kuat, sangat keras, dan sangat kencang menghantam wajah si lelaki. Tinjuan yang dilontarkan Putra itu, sanggup untuk membuat tubuh si lelaki berputar. Setelah berputar, ia kehilangan keseimbangannya dan terlihat akan segera jatuh. Tapi...
BUAK!!!
Sebelum ia sampai jatuh, Putra memberi satu lagi tinjuan ke arah perut lelaki itu. Dan seketika, si lelaki terjatuh hampir tak sadarkan diri.
“Yap, ini beres.” Ucap Putra dengan santainya.
__ADS_1
“Oya, kau boleh tahu rencanaku. Nanti, aku akan melaporkanmu. Dalam laporanku nanti, isinya adalah tentang aku yang mendapatimu memaksa seorang siswi di sekolah ini untuk bermesum ria. Lalu saat aku berusaha menolong gadis itu, kau menghajarku. Luka di tubuhku ini cukup sebagai bukti, lho. Dan masalah kau yang juga kulukai, aku akan mengatakan itu adalah bentuk pertahanan diri. Karena kau menyerangku terlebih dahulu.”
“errr...” si lelaki mengerang dengan lemahnya.
“Kenapa aku menceritakan rencanaku padamu? Tentu saja, agar nanti kau berusaha menggunakannya untuk menyelematkan dirimu. Tapi tenang saja, aku tak akan kalah. Dan setelah aku berada di atas angin, aku akan menuntutmu dengan berbagai macam hal.
Haha... Ini menarik....
Kebetulan, belakangan aku sedang cukup stres karena harus terus memasang topeng hampir setiap waktu. Sesekali aku ingin menyegarkan suasana. Melihatmu, orang asing yang tak kukenal, akan tersiksa karenaku. Itu cukup untuk menjadi penyegaran.
Tenang saja, nanti aku akan berterima kasih padamu.”
Si lelaki pun pingsan setelah mendengar perkataan Putra.
.
.
.
Sabtu itu, terjadi kehebohan di SMA Bintang Nusa.
Putra merayap di tanah mendatangi tempat umum yang mudah terlihat. Agar ia dengan mudah ditemukan. Dan benar saja, beberapa saat kemudian langsung ada yang menemukannya dan saat itu lah kehebohan dimulai.
Setelah berada di ruang perawatan sekolah, Putra menceritakan semua yang dialaminya. Tentu saja, bukan versi yang sebenarnya. Ia menceritakan versinya sendiri.
Kasus itu pun diproses sepanjang pekan berikutnya.
Si lelaki berulang kali menampik pernyataan Putra. Ia juga mengatakan pada polisi tentang rencana Putra. Tapi semua usahanya itu sia-sia, karena cerita Putra bisa lebih dipercaya.
Bukan hanya cara bicara Putra yang meyakinkan pihak kepolisian. Tapi kesaksian dari si gadis juga menguntungkan Putra. Putra sudah menghubungi si gadis dan mengatakan apa yang harus dilakukan gadis itu agar dirinya dan Putra sama-sama selamat dari masalah ini.
Belakangan diketahui, kalau si lelaki itu ternyata adalah salah seorang asisten pembimbing ekstrakurikuler yang diikuti si gadis. Lelaki itu adalah seorang mahasiswa, yang memang baru saja berpacaran dengan si gadis.
Biar bagaimana pun, si gadis merasa tak tega membiarkan pacarnya tersudut sendirian. Tapi, rentetan perkataan Putra berhasil mengubah persepsi si gadis. Sehingga si gadis merasa kalau pacarnya itu hanya lah lelaku bejat yang tak lain hanya menginginkan tubuhnya tanpa mencitainya sama sekali.
Putra, pihak sekolah, dan pihak kepolisian. Bersama-sama berusaha menjaga identitas si gadis yang masih di bawah umur. Karena jika diketahui publik, bisa saja menjadi tekanan batin baginya. Tapi, lambat laun berita pun bocor. Itu karena si gadis yang mengundurkan diri dari pencalonan dirinya sebagai ketua osis.
Gadis ini, adalah gadis yang sangat populer. Selain memang ia cantik dan menarik, ia juga gadis yang memiliki nilai baik dalam hal akademis. Ia bahkan merupakan salah seorang calon ketua osis terkuat. Pengunduran dirinya tentu menyita perhatian para pendukungnya. Yang kemudian menghubungkannya dengan kasus yang sedang terjadi di sekolah.
Akhirnya, kenyataan bahawa si gadis adalah yang terlibat dalam kasus tersebut menjadi rahasia umum di sekolah. Semua orang tahu tapi tak ada yang mengemukakannya. Kini mereka bersimpati pada si gadis, dan banyak yang mendorongnya untuk kembali mencalonkan diri. Tapi si gadis tetap tak kembali.
.
__ADS_1
.
.
Saat ini masih jam pelajaran, tapi guru yang bersangkutan tak bisa hadir karena sakit. Alhasil, hanya ada tugas yang dengan cepat diselesaikan para murid kelas ini. Yang mana kini kehabisan kegiatan, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Seperti Putra, yang sedang membaca sebuah buku dari perpustakaan.
“Yo...” ucap Esa menghampiri Putra.
Seperti biasa, Putra tak mempedulikan Esa.
“Hey, kali ini kau benar-benar menarik perhatian, ya? Aku jadi penasaran cerita yang sebenarnya seperti apa? Aku yakin yang sebenarnya terjadi tak seperti yang menyebar. Aku benar-benar kagum dengan topengmu yang bahkan bisa mengelabui polisi.”
Esa mengucapkan semua ini dengan setengah berbisik. Putra menatap Esa, lalu berkata...
“Kau mau aku mengatakan cerita aslinya?”
“Ya.”
“Baiklah, aku akan mengatakan cerita aslinya tapi dengan satu syarat.”
“Ooohh... apa itu?”
“Naik lah ke atas gedung sekolah, dan melompat lah ke tanah. Usahakan kepalamu datang lebih dulu. Kalau kepalamu pecah berkeping-keping, aku akan meneriakan cerita aslinya sampai semua orang mendengarnya. Kalau kau mati, tapi kepalamu tak hancur. Aku tetap tak akan melakukannya.”
Esa terdiam sebentar, lalu...
“Hahaha!” tawa lantangnya menyita perhatian seisi kelas.
“Kau memang pintar melawak, Putra!” Esa pun kembali ke tempat duduknya.
.
.
.
Bersambung...
Yo!
Bab 1.26 ini sebenarnya mau dijadikan satu bab saja. Tapi, nanti terlalu singkat dan saya takut apa yang saya maksud tak tersampaikan.
Terima kasih atas kunjungannya...
__ADS_1
Semoga sehat selalu...
Sampai jumpa di bab berikutnya...