Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.22 - Berburu III


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 22 : Berburu III.


+++


Buk!


“Yo!”


Erra melompat tepat ke depan si macan yang sedang berusaha pergi.


Slash! Jleb!


Dengan sebuah tebasan yang dilanjut dengan sebuah tikaman, Erra pun menghabisi si macan yang sebelumnya baru menghabisi tiga orang petualang.


“Hm... Meski berhasil menghabisinya, tetap tidak dapat banyak EXP, ya? Kalau begini aku tidak bisa main curi serangan terakhir... Tapi ya sudah lah.”


Erra segera memilih menu Loot lagi dan menggunakannya pada si macan. Ia pun mendapatkan cakar dan bulu macan itu. Setelah selesai mengurus si macan, ia tak segera meninggalkan tempat karena terpikirkan sesuatu.


“Hehe... aku bisa mencoba ‘itu’ sekarang!”


Dengan senyuman tipis yang bisa membuat orang merinding melihatnya, Erra mendekati jasad ketiga petualang. Di dalam dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini. Jasad dari makhluk apa pun tak akan menghilang begitu saja setelah mereka mati, termasuk jasad virtual para pemain.


Erra telah berjongkok di sisi jasad Polo, sambil mengarahkan pisau dari menu Loot. Dan...


Jleb!


Sreeett...


Jleb!


Sreeett...


Jleb!


Sreeett...


Dengan berulang, Erra menikam dan menggores jasad Polo. Hingga akhirnya...


“Oh?! Ternyata bisa!”


Jasad Polo mulai terurai menjadi pecahan piksel, dan akhirnya menghilang. Lalu kemudian, seperti yang terjadi di saat Erra melakukan hal itu pada jasad anak rusa atau pun macan, ada beberapa benda yang muncul.


“Bola mata dan... ini kalau tidak salah ginjal?”


Ya, ada sebuah bola mata dan sebuah ginjal yang muncul dari balik terurainya jasad Polo.


“Bisa dibuat apa, ya? Ah, nanti saja. Ambil dulu yang lain.”


Akhirnya Erra melakukan hal yang sama pada jasad Ema dan Edard. Yang mana kedua jasad itu juga meninggalkan beberapa organ dalam. Selain mengambil organ dalam dari jasad ketiga petualang itu. Erra juga mengambil peralatan mereka yang terjatuh saat tadi mereka mati oleh si macan.

__ADS_1


Erra pun melanjutkan perjalanannya...


.


.


.


Setelah beberapa saat berlalu, Erra bertemu kembali dengan beberapa jenis hewan hutan. Ia beberapa kali bertemu dengan kelinci dan tetap memutuskan untuk tak memburu mereka. Ia juga beberapa kali bertemu dengan rusa dan berhasil menangkap mereka.


Dan kini, ia bertemu dengan...


“Ah... Kucing besar... Bisa kau membiarkanku lewat?”


“Rawr!!!”


“Aku tidak mengerti maksudmu. Apa itu artinya tak boleh?”


“RRAAAHH!!!”


“Eh... ditanya malah marah!”


Erra berhasil menghindari terjangan si kucing besar, alias macan itu.


“RRAAAAHH!!!!”


“Mana mungkin aku mau diam saat kau mau menerkamku!”


“Rraah!!”


“RAWRRRAAHH!!!”


Macan itu kembali mencoba untuk menerkam Erra, dan Erra sekali lagi berhasil menghindarinya. Dan tak hanya itu, karena Erra juga berhasil menggores tubuh si macan dengan belatinya.


“RRAAAHHH!!!!”


Si macan semakin marah dan terus berusaha menyerang Erra. Pertarungan serius pun akhirnya terjadi antara si pemain berambut putih dan si kucing besar.


Macan itu terus coba menyerang Erra dengan melompat dan berusaha menerkan si mata merah. Tapi, Erra selalu berhasil menghindar dan juga sembari menyerangnya. Meski hanya goresan kecil yang berhasil Erra buat pada setiap serangannya. Akan tetapi, karena banyak sekali serangan yang berhasil Erra daratkan. Si macan pun kini telah kehilangan sekitar tiga puluh persen Hit Point yang dimilikinya.


“RRAAAHH!!!”


Sekali lagi si macan berusaha menerkam Erra, dan sekali lagi Erra berhasil menghindar. Namun kali ini Erra melakukan gerakan yang berbeda. Sebelumnya ia hanya menghindar dengan bergerak ke samping. Tapi kali ini ia menambah dengan gerakan putaran. Lalu kemudian...


Jleb!


Erra berhasil menikam perut sisi kiri si macan, dan dengan segera mencabutnya kembali. Si macan yang semakin geram, menyerang Erra dengan semakin buas. Namun Erra terus berhasil menghindar dan memberikan serangan. Tapi sayang sekali...


“Ah... sial kalau begini.”


Erra lupa memperhatikan parameter staminanya. Dan untuk saat ini, ia sudah hampir kehabisan stamina virtualnya. Yang mana jika benar sampai terjadi maka ia tak akan bisa bergerak.


Wuut!

__ADS_1


Zrat!


“Menyebalkan!”


Erra sedikit lengah, dan si macan berhasil mendaratkan serangannya. Ia tak melompat untuk menerkam Erra lagi, tapi mencoba mencakar Erra. Di sisi lain, Erra yang sadar di beberapa saat terakhir berhasil bergerak untuk berusaha menghindar. Akan tetapi, sayang sekali masih ada serangan yang mendarat.


Melihat Erra tak berusaha bergerak menjauh terlalu jauh dari dirinya, si macan kembali menyerang dengan cakarnya. Di sisi Erra sendiri, ia sedang harus menghemat gerakannya dengan benar. Karena ia sedang menghemat staminanya yang tengah sekarat.


Erra terus berusaha mendaratkan lebih banyak serangan. Ia lebih mengusahakan untuk mendaratkan serangan menikam karena bisa menyebabkan si macan kehilangan Hit Point yang lebih banyak dalam satu kali serang jika dibandingkan dengan serangan tebasannya.


Sementara terus mendaratkan serangan pada si macan, Erra juga terus menerima serangan dari si macan. Terlihat makin banyak robekan pada pakaian Erra. Dan kini tubuhnya mulai berdarah.


Di Ardanium’s Tale Online, di saat ada pemain atau pun NPC yang terluka. Maka akan terlihat nyata. Luka sobekan pada kulit akan terlilhat nyata dengan darah yang juga keluar dari luka tersebut. Bahkan darah bisa terlihat mengalir, seperti saat kepala Ema si penyihir dicabut oleh macan yang sebelumnya.


Hal semacam ini bisa mengganggu bagi beberapa pemain. Karena itu lah ada pilihan untuk tak melihatnya. Tapi kalau Erra, tentu saja tak peduli dengan hal semacam itu. Erra tak terganggu sama sekali dengan hal semacam itu. Tapi bukan berarti ia menyukainya. Ia hanya tak peduli saja, tak ada alasan lain.


Kembali ke pertarungan.


Jleb!


“RRAAAWWWRRR.... rrrr.... r..”


Tikaman itu mengakhiri hidup si macan. Erra pun keluar sebagai pemenangnya. Tapi dengan harga yang tak murah, karena ia juga kehilangan sekitar delapan puluh lima persen Hit Point yang dimilikinya. Menjadikannya dalam sebuah situasi yang bisa jadi sangat merugikan.


Kenapa merugikan?


Tentu saja itu karena jika kini ada yang menyergap Erra. Mau itu macan lain atau apa pun itu yang bisa menyergap. Erra bisa kalah dengan mudah. Karena ia hanya tinggal memiliki sekitar lima belas persen Hit Point lagi yang tersisa.


“Aku harus cepat cari tempat istirahat. Padahal niatanku adalah berburu Boink. Tapi belum ketemu juga sudah begini.”


Erra menengok ke sekelilingnya, dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat di atas sebuah pohon. Namun...


Jleb!


Begitu lah suara sebuah anak panah yang tertanam di tanah tepat di depan Erra. Jika Erra tak menghindar sama sekali, maka anak panah itu sudah tertanam di tubuhnya. Untung saja ia menyadari kedatangan serangan itu di saat-saat terakhir.


“Yo! Kelihatannya kau mau istirahat, ya? Bagaimana kalau kau main dulu sebentar dengan kami?”


“Dengan kalian tiga lelaki sangar? Mana mungkin aku mau main dengan kalian. Kalau kalian tiga gadis cantik aku baru mau.”


.


.


.


Bersambung...


Huaaah....


Lama gak rilis, maaf ya....


Hehe...

__ADS_1


Semoga semua sehat selalu...


Terima kasih atas kunjungannya, sampai jumpa di bab berikutnya...


__ADS_2