
“Fokus lari dan menghindar. Sebentar lagi, bertahan lah!” seru Erra pada anggota kelompoknya.
“Siap!”
“Tambah kecepatan! Mereka tak akan bisa menyerang sambil berlari kencang!” perintah Erra.
Erra berpikir kalau mereka bisa berlari dengan lebih cepat. Maka mereka bisa meninggalkan kelompok Fitz. Semua anggota kelompoknya juga terpikirkan hal yang sama, maka mereka pun berusaha untuk menambah kecepatan lari mereka saat ini.
Sementara itu di sisi lain, Fitz menyadari kalau para targetnya mulai menambah kecepatan. Mereka terlihat mulai mengabaikan serangan yang datang dari belakang dan kembali fokus untuk melarikan diri.
“Sial!” umpat Fitz dengan sangat kesal.
Dan yang terjadi benar adanya. Kelompok Erra kembali membuat jarak yang lebih jauh dengan kelompok Fitz. Sedikit demi sedikit, jarak di antara mereka terus bertambah. Hingga akhirnya...
“Tuan Fitz! Kami sudah tak bisa menjangkau lagi!” teriak salah seorang pelempar pisau.
Fitz mengabaikan perkataan anak buahnya itu, karena tanpa diberi tahu pun ia sudah tahu akan hal itu. Karena dirinya sendiri saja yang memakai busur dan panah mulau kesulitan menembak.
Fitz adalah salah satu pemanah yang hebat. Namun, karena begitu langka dirinya memakai busur. Kemampuannya pun bisa dikatakan sedikit menurun. Ditambah dengan kondisi dari lokasi memanahnya yang merupakan hutan rimba yang sangat lebat akan pepohonan, baik yang berukuran kecil mau pun besar. Semakin mengurangi akurasi menembak Fitz.
Kembali ke sisi Erra.
“Semuanya! Sekarang!”
Mendengar seruan itu dari Erra, semua anggota kelompoknya mengeluarkan sebuah peluit dari saku masing-masing, begitu pula dengan Erra sendiri. Dan setelah itu....
PPUUUUUUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
PPUUUUUUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
PPUUUUUUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Mereka semua dengan sekuat tenaga meniup peluit di tangannya masing-masing. Mereka meniupnya dengan panjang, dan sebanyak tiga kali.
“Gawat! Berhenti menyerang! Kejar mereka dengan secepat mungkin!” perintah Fitz.
Fitz bisa dengan mudah menebak kalau tiupan peluit itu adalah pertanda buruk bagi dirinya dan kelompoknya. Setelah memerintahkan hal tersebut, Fitz sendiri memasukan hampir semua yang membebani tubuhnya ke dalam inventori. Dan ia pun berlari dengan kecepatan penuhnya.
“Mati kalian!”
Wuuzh! Wuuzh! Wuuzh!
Fitz yang berhasil mengejar kelompok Erra, melompat ke udara. Dan ia melemparkan beberapa pisau pada mereka. Karena tak tahu yang mana Erra, maka ia menjadikan mereka semua sebagai targetnya.
Jleb! Jleb! Jleb!
Pisau-pisau itu pun mendarat, tertanam di tempat pendaratannya. Dari semua pisau yang Fitz lempar, ada beberapa yang tak mengenai targetnya sama sekali. Tapi masih ada beberapa yang kena tepat sasaran pada targetnya. Namun sayang, kebanyakan hanya menyerempet tubuh target.
Bluk! Bluk! Bluk!
__ADS_1
Beberapa anggota kelompok Erra yang terkena telak lemparan pisau Fitz terjatuh. Di saat itu lah, Fitz menghampiri salah satu dari mereka.
Swush!
Fitz mengayunkan pedang pendeknya langsung ke arah targetnya, tapi targetnya berhasil menghindar dan hanya tergores sedikit.
“Bukan!” ucap Fitz saat melihat kalau ternyata targetnya bukan lah Erra.
Di saat yang bersamaan, para anak buah Fitz tiba di tempat mereka yang terkena serangan pisau Fitz dengan telak. Merlihat gerakan Fitz, semua langsung mengikutinya. Mereka menyerang anggota kelompok Erra yang terjatuh, dan memastikan kalau itu Erra atau bukan.
‘Cih! Jangan merusak properti ku!!! Aku sudah menginvestasikan banyak hal pada mereka! Dasar sialan!!!’
Itu lah yang Erra teriakan dalam hatinya. Tapi yang ia teriakan dengan mulutnya adalah...
“Berhenti! Selamatkan teman kita!”
Semua anggota kelompok Erra yang masih berlari segera berhenti dan berbalik. Mereka kembali untuk menyerang kelompok Fitz. Tapi tentunya sebagai para pemanah, mereka tak menerjang langsung kelompok Fitz. Melainkan mengambil busur mereka dan mulai menembak.
“Menghindar!” teriak Fitz saat melihat kelompok Erra mulai membidik.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Wuush!
“Cih! Sialan!! Semua tembakan mereka melengkung!” umpat Fitz saat sebuah anak panah hampir mendarat di tangannya meski ia sudah berlindung.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Adu panah antar dua kelompok pun dengan segera terjadi.
__ADS_1
Erra bersama semua anggota kelompoknya yang masih bisa bergerak memanah sambil bergerak ke sana dan ke mari. Mereka berhasil membuat kelompok Fitz cukup tersudutkan.
Memanah di tengah hutan rimba yang lebat pepohonan seperti ini adalah suatu hal yang tergolong tak mudah. Bahkan sangat pantas dikatakan sulit. Kalau lah pemanah amatir yang melakukannya, sudah pasti akan kesulitan. Tapi jangankan pemanah amatir. Karena pemanah profesional seperti atlet olimpiade sekali pun akan kesulitan melakukannya jika tak terbiasa.
Tapi semua kesulitan itu seakan tak pernah ada bagi kelompok Erra. Dan alasannya jelas itu karena mereka selalu berlatih di tempat semacam ini. Tempat ini adalah medan tempur mereka.
Di sisi lain, kelompok Fitz memang kesulitan dan sedikit tersudut. Akan tetapi bukan berarti mereka tak berdaya untuk memberikan serangan balik. Biar bagaimana pun juga mereka adalah anggota Golden Stars yang tersohor. Bahkan jika dibandingkan dengan kelompok Erra, kelompok Fitz jelas lebih berpengalaman dalam pertarungan.
Beberapa anggota Fitz bergerak di antara semak belukar hutan sambil menghindari serangan dan berusaha mendekati anggota kelompok Erra. Fitz juga termasuk yang melakukannya. Dan begitu mereka mencapai jarak yang ideal...
Syut! Syut! Syut!
Wuush! Wuush! Wuush!
Mereka melesatkan anak panah dan pisau lempar ke arah kelompok Erra.
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
“AA!”
“UGH!!!”
“Uwah!!!”
Satu per satu anggota kelompok dari kedua belah pihak mulai saling terkena serangan. Dengan kondisi anggota kelompok Fitz memiliki level yang lebih tinggi dari anggota kelompok Erra. Membuat mereka bisa sedikit di atas angin.
Akan tetapi, kelompok Fitz tak melumuri setiap senjata mereka dengan racun seperti kelompok Erra. Akhirnya, hal ini menyebabkan kedua kelompok hampir berimbang.
‘Mau ke mana dia?’
Gumaman itu diucapkan Erra dalam hatinya, saat ia melihat Fitz bergerak ke arah yang bukan dirinya. Erra yakin Fitz akan berusaha mendekati dirinya terus, karena memang dirinya lah target utama Fitz. Tapi kini, Fitz terlihat bergerak ke arah lain. Dan itu membuat Erra sedikit tak tenang.
‘Bagus! Dari sini akan bagus!’ seru Fitz dalam hatinya.
Ia tanpa ragu melempar busurnya dan mencabut pedang pendeknya. Dan kemudian melompat.
“Sial!” umpat Erra.
Fitz melompat ke atas, dan memakai batang pohon sebagai pijakan. Ia meluncur lurus ke arah Erra, tanpa ada serangan yang mengarah padanya.
Jadi, sedari tadi Fitz mencari tempat yang mana bisa memungkinkan bagi dirinya menerjang Erra secara langsung. Dengan tanpa adanya serangan yang menghalanginya.
Fitz pun mencapai tempat Erra. Sambil melompat ke arah Erra dengan mengayunkan pedangnya dengan kuat, ia berteriak...
“Mati kau!!!”
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...