Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.22 - Level 10.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 22 : Level 10.


+++


Para peserta pelatihan itu terus saja memanah ke arah salah satu naga dan membiarkan yang satunya lagi. Naga yang sedang dihujani panah tak bisa bergerak dengan bebas dan tak bisa mengejar Erra lagi. Sedangkan yang satunya lagi masih terus mengejar Erra.


Sebelumnya Erra berlari ke arah para peserta pelatihannya, akan tetapi ia mengubah arah larinya setelah menyadari suatu hal.


“Kalian janga diam! Bergerak mundur sedikit demi sedikit!!!” seru Erra.


Erra menyadari kalau Naga Sungai yang bebas mengejarnya akan terus mengejarnya bahkan saat ia sampai di tempat para peserta pelatihan. Jaraknya memang cukup jauh dari sungai, dan kemungkinan besar naga itu tak akan bertahan lama sebelum mundur. Tapi Erra tidak mau mengambil risiko lebih banyak lagi peserta pelatihannya yang tewas menjadi makanan monster.


Para peserta pelatihan pun menyadari maksud Erra dan mulai bergerak mundur perlahan, sambil terus memanah salah satu naga.


Daerah Great Southern Jungle memang sangat lebat dengan semak belukar dan pepohonan yang besar. Akan tetapi, betapa kurang beruntungnya Erra dan yang lainnya saat ini karena mereka tengah berada di sisi hutan yang kurang pepohonan besar. Yang mana bisa dijadikan pelindung alami dari para monster berukuran tubuh besar seperti ini.


Setelah berlari dengan sekuat tenaga dalam beberapa waktu, akhirnya Erra mencapai posisi dengan banyak pohon besar. Ia pun memanjat salah satu pohon dengan segera. Naga yang mengejarnya semakin kesulitan bergerak karena pepohonan besar semakin rapat dan mempersempit ruang gerak bagi tubuhnya yang besar itu. Namun meski begitu, ia tetap bergerak mengejar Erra. Dan sesampainya ia di pohon tempat Erra berada...


Brak! Drak! Brak! Drak! Gragagak!!


“Roooo!!!”


Naga itu menghantam, menggigit, dan mencakar pohon tempat Erra bertengger. Berharap pohon itu akan rubuh dan menjatuhkan Erra. Dan benar saja, meski pohon itu besar tapi tak cukup kuat menahan serangan si monster. Pohon itu mulai bergoyang dan terlihat akan roboh.


“Hah! Kau pikir aku akan habis ide?!” seru Erra sambil melompat ke pohon lainnya.


GUBRAAAKKK!!!


Pohon tempat Erra sebelumnya bertengger roboh. Tapi Erra sudah selamat di pohon yang lain. Naga itu kembali menyerang pohon baru tempat Erra bertengger.


Erra melihat keadaan sekitar sebelum membuat sebuah keputusan. Ia melihat ke arah para peserta pelatihannya. Dan ia pun mendapati kalau naga yang mereka lawan tak lagi mengejar dan mulai mundur. Melihat itu, Erra memberi perintah.

__ADS_1


“Maju sedikit!!! Maju dengan mendadak dan serang dengan brutal!!! Saat naga itu kabur, datang ke sini!!! Jika tidak kabur, larikan diri kalian!!! Tinggalkan aku!!!”


Salah seorang peserta pelatihan yang mendengar perintah Erra memberi tanda bahwa ia mengerti. Ia terlihat membahas perintah Erra dengan rekannya yang lain. Mereka pun dengan segera melakukan perintah Erra.


Sebagian dari mereka memanjat pohon, dan berpindah ke pohon terdekat dengan si monster. Mereka pun mulai memanah dari atas. Sementara itu, yang masih di darat berlari menerjang Naga Sungai itu. Kemudian memanah secepat yang mereka bisa.


Naga itu pun merasa terdesak. Ia sadar kalau dirinya pasti bisa menghabisi para manusia yang tengah menghujaninya dengan serangan itu. Akan tetapi, ia sudah terlalu jauh dari sungai dan juga terlalu lama keluar dari sungai.


Seekor Naga Sungai tidak bisa membiarkan tubuhnya kering dari air. Karena ada suatu efek yang membuat sisik mereka mengering dan lebih lemah saat tubuh mereka menjadi kering.


Naga Sungai itu pun memutuskan untuk mundur dan meninggalkan para manusia. Ia pun menyimpan dendam dan berniat kembali saat tubuhnya sudah memungkinkan.


“Sekarang kita ke Tuan Erra!!!”


Mereka pun bergerak ke arah Erra, dan bersama mulai menghujani Naga Sungai yang mengejar Erra. Mereka kembali membagi tugas. Sebagian memanah dari atas pohon, da sebagian memanah dari darat. Untuk yang memanah di darat, mereka bersiap memanjat pohon terdekat jika terjadi hal yang tak diinginkan.


Sambil ikut menghujani naga itu, Erra berkata...


“Kita tak akan mundur! Kita akan mengusirnya!”


Para peserta pelatihan pun terlihat semangat saat mendengar itu dari Erra. Tapi hanya sebagian dari mereka yang berekspresi seperti itu, sebagian lagi menunjukkan wajah yang bingung dan takut.


‘Ah, sial! Aku lupa tentang itu!’ Erra menghardik dirinya sendiri di dalam benak saat sadar akan hal itu.


“Kita serang sampai semua anak panah kita habis! Kalau gagal mengusirnya kita kabur! Sekarang, semua naik ke pohon!”


Awalnya Erra berpikir tak ada harapan sama sekali jika mereka melawan Naga Sungai itu. Akan tetapi, kini ia punya sedikit harapan. Meski masih berpikir mustahil untuk mengusirnya, Erra merasa cukup percaya diri untuk mengusirnya. Erra berpikir kalau pun tidak bisa membunnuh naga itu, ia dan semua rekannya akan mendapatkan poin pengalaman yang tidak sedikit.


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Drak! Brak! Gragak! Dradatat! Brakkaak!!!!


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!

__ADS_1


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Drak! Brak! Gragak! Dradatat! Brakkaak!!!!


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Suara dari hujan anak panah, berpadu dengan suara hantaman, cakaran, dan terkaman si Naga Sungai. Naga itu masih menyerang pohon tempat Erra berada, yang mana itu sekarang adalah pohon yang keempat.


Ya, sudah tiga pohon dirubuhkan oleh Naga Sungai itu.


Naga Sungai itu kini sangat marah dan benar-benar ingin menghabisi targetnya. Ia sampai tak ingat kalau dirinya terlalu jauh dari sungai dan sudah lama keluar dari air. Yang mana kini menyebabkan tubuhnya sudah benar-benar kering. Dan sisiknya yang mnengering pun semakin ‘renyah’.


“RROOOOAAAA!!!!!”


Setelah meraung seperti itu, akhirnya Naga Sungai itu menyerah. Ia pun lari ke arah sungai. Di saat yang bersamaan, muncul tanda notifikasi di pandangan Erra. Sebuah notifikasi yang isinya...


+++


Selamat!


Kamu naik level!


Level 9 >> Level 10


+++


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2