
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 7 : Semester Genap.
+++
Bandung, Januari 2128.
Semester genap di SMA Bintang Nusa dimulai.
Terlihat para pelajar dari SMA kenamaan ini mulai berdatangan dan memasuki gerbang sekolahnya. Di SMA ini, ada beberapa ‘selebriti’ yang kedatangannya akan menjadi pusat perhatian hampir setiap pasang mata. Dan salah satunya adalah, sang ketua dari osis, Esa.
Hari ini Esa menjadi pusat perhatian lebih dari biasanya. Dan itu bukan karena ia membuat tingkah yang lebih menarik perhatian, yang terjadi justru sebaliknya. Hari ini ia tak menunjukkan keceriaannya yang biasa. ia juga tak menebar senyum dan salam pada setiap orang seperti biasanya. Yang ada, ia hanya membalas setiap salam dan teguran orang lain hanya dengan senyuman tipisnya.
Semakin mendekati ruang kelasnya, semakin terlihat keanehan pada wajahnya. Wajahnya terlihat semakin tegang dan senyumannya terlihat semakin dipaksakan.
Pok!
“Yo, Esa! Selamat pagi!”
Seseorang menepuk bahu kanan Esa dari belakang, dan memberi salam. Mendengar suara orang ini, tanpa terkendali tubuh Esa bergetar meski hanya sebentar. Ia kemudian menggerakan lehernya yang terasa sangat kaku itu untuk melirik orang itu.
“Y-yo... Putra...”
“Wajahmu aneh sekali. Apa kau sedang sakit? Kalau kau sakit, sebaikanya tak perlu ke sekolah dulu.”
Putra yang biasanya bersikap dingin pada Esa, kini menunjukkan perhatiannya. Hal ini membuat Esa justru semakin tidak nyaman.
“Tapi... kalau kamu tidak ke sekolah. Makan siangku akan menjadi utangmu. Kau ingat dengan taruhan kita, kan?”
Glek!
Esa menelan ludahnya dengan begitu tegang saat ia mendengar hal yang paling tidak ingin ia dengar hari ini. Dan hal ini lah yang menyebabkan Esa bersikap berbeda hari ini. Sebuah hal yang sebenarnya disebabkan oleh dirinya sendiri, untuk menyerang Putra. Tapi, justru malah berbalik pada dirinya sendiri.
“I-iya... aku... ingat...”
Putra dan Esa pun memasuki kelas bersama. Begitu memasuki kelas, Putra langsung mengungkit masalah traktiran makan siang itu. Ia mengatakan kalau makan siang hari ini semuanya ia yang belikan.
Sebagian teman sekelasnya sangat berbahagia mendengarnya, dan tak peduli apa yang melatari tindakan Putra. Tapi sebagian lagi tersenyum dengan canggung menanggapinya. Karena merekan ingat kalau Putra menang taruhan traktiran makan siang tanpa batasan sepanjang semester ini dengan Esa. Jadi nanti, setiap makanan yang Putra beli harus Esa bayar. Yang berarti, kalau Putra membelikan makan siang untuk seisi kelas. Itu artinya Esa lah yang akan membayar semuanya.
Putra memang sangat populer dengan segala apa pun darinya. Terutama adalah ketampanan dan sikap baiknya pada setiap orang. Akan tetapi, mereka yang cukup mengenal dekat Putra, seperti teman-teman satu kelasnya. Akan merasakan ada suatu hal yang sedikit berbeda.
Dan hal itu adalah, Putra memang sangat baik. Tapi, jangan memancing emosinya. Karena ia bisa jadi sangat kejam, dan kekejamannya tak terbayangkan.
Di sisi lain, Esa juga terkenal sebagai orang yang sangat baik. Tapi, mereka yang cukup dekat dengannya dan lebih mengenali dirinya sadar. Tahu kalau Esa juga punya sisi lain yang gelap. Dan yang paling buruk adalah sikapnya yang selalu ingin dianggap terbaik.
Semua murid yang ada di kelas ini sadar betul. Sepanjang semester kemarin, Esa sering kali memancing emosi Putra. Tapi Putra terlihat mengabaikannya begitu saja. Tak ada yang menyangka, kalau ternyata akhirnya Putra menyerang balik Esa dengan cara yang sangat menyiksa.
__ADS_1
.
.
.
“Wah... kau memang kutu buku, ya? Hari pertama langsung mengunjungi perpustakaan.”
“Kakak sendiri?”
Hari pertama semester genap ini telah berakhir, dan Putra mengunjungi perpustakaan sekolahnya. Dan di sana, ia bertemu dengan Ani.
“Ahaha... aku bukan kutu buku. Hanya sedikit suka membaca.”
“Hah... terserah.”
Keduanya mengambil buku yang ingin mereka pinjam dan segera pulang. Mereka berjalan bersama ke gerbang sekolah.
“Omong-omong, boleh aku bertanya?” tanya Putra.
“Apa?”
“Kau ini suka buku atau suka membaca?”
Ani melirik Putra saat mendapat pertanyaan yang agaknya ambigu itu.
Lagipula, apa bedanya ‘suka buku’ dan ‘suka membaca’?
Hal-hal seperti itu lah yang terlintas di pikiran Ani selama beberapa saat. Tapi, akhirnya ia menangkap maksud Putra dan menjawab...
“Membaca.”
“Kalau begitu, kenapa suka ke perpustakaan?”
Lagi-lagi Putra melontarkan pertanyaan yang kurang jelas. Tapi kali ini, Ani sudah lebih siap dengan pertanyaan seperti itu, ia pun menjawab...
“Kepastian.”
Ani sedikit membalas Putra dengan jawaban singkat itu. Ia berpikir kalau Putra akan butuh waktu untuk memahaminya. Tapi ia salah, karena Putra langsung paham apa maksudnya.
“Oh, begitu? Sedikit saran saja. Kalau yang kau mau itu kepastian dari isi bacaanmu. Kau harus berjuang lebih, bukan hanya dengan datang ke perpustakaan dan meminjam buku. Baca lah beberapa sumber. Kau akan menemukan perbedaan dan kesamaan, meski tema yang ditulis sama. Kesamaan itu lah kepastiannya.”
Apa isi obrolan mereka mudah dimengerti?
Tak sedikit orang tak akan langsung paham dengan isi obrolan ini.
Jadi, kurang lebih begini...
Pertama, tentang pertanyaan awal Putra tentang menyukai buku atau membaca. Maksudnya adalah kalau suka membaca, itu berarti tidak harus dari buku. Yang paling sederhana adalah dari internet. Tapi, kalau yang disukai adalah bukunya. Berarti hanya mau membaca dari buku, dan tak begitu suka atau peduli pada bacaan lain selain dari buku. Apa pun alasan yang melatarinya.
__ADS_1
Lalu pertanyaan Putra tentang kenapa Ani ke perpustakaan. Yang namanya perpustakaan adalah pusatnya buku.
Kalau Ani lebih suka membaca, kenapa ia harus datang meminjam buku yang ada di perpustakaan?
Kalau Ani lebih suka membaca daripada buku, kenapa Ani tak hanya cukup membaca dari sumber lain selain buku?
Lalu Ani menjawab ‘kepastian’. Itu maksdunya adalah isi buku ia anggap lebih pasti, karena buku hanya bisa diterbitkan setelah melalui beberapa proses. Salah satunya adalah hanya tulisan dari orang-orang yang kompeten yang bisa menjadi buku. Dan isi dari tulisannya pun, telah dikaji ulang oleh para ahli sebelum akhirnya diterbitkan.
Putra tak setuju dengan pendapat Ani. Menurutnya, buku sekali pun tak mengandung kepastian. Karena menurut Putra, banyak kepentingan golongan tertentu dalam perizinan dari penerbitan sebuah buku. Dan salah satu yang paling Putra tidak suka adalah kepentingan politik di dalamnya.
Mereka berdua tak terlibat lagi obrolan sampai mereka mencapai gerbang sekolah dan berpisah dengan salam singkat.
.
.
.
“Yo!”
“K-kau!”
Putra baru menaiki bis dan ternyata ada Esa. Putra pun segera duduk di sebelah Esa.
“Sepertinya kau sangat tidak suka bertemu denganku? Biasanya kau yang selalu menghampiriku.” Ucap Putra melihat ekspresi kesal di wajah Esa.
Esa tak memberi jawaban, dan Putra lanjut berbicara.
“Kau tahu? Aku rela membatalkan taruhan kemarin. Jadi, kau tak perlu lagi mentraktirku selama sisa semester ini.”
Esa melirik Putra dengan penuh kecurigaan, karena tak percaya dengan yang dikatakan Putra. Tapi, Esa juga enggan mengambil kesempatan baik ini. Ia pun bertanya...
“Syaratnya?”
“Syaratnya sederhana. Lakukan sesuatu yang sangat memalukan untuk dirimu sendiri di sekolah. Misal, merangkak mengelilingi sekolah tanpa busana sambil menggonggong.”
“Kau!”
Esa terpancing emosinya dan menarik kerah Putra, dan hampir menghajarnya. Tapi, ia berhasil menahan emosinya agar tak meledak. Dan segera melepaskan genggamannya, lalu pindah tempat duduk.
Putra tak melanjutkan, meski ia masih ingin membuat Esa lebih kesal lagi. Ia hanya tersenyum melihat Esa. Sebuah senyuman yang biasanya hanya ditunjukan oleh para karakter psikopat di film horor.
.
.
.
Berambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Comment..!!!