Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.13 - R&R.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 13 : R&R.


+++


Hal pertama yang akan terlintas pada pikiran setiap orang yang pertama kali melihat dekorasi di kamar ini. Adalah si pemilik kamar sangat lah feminin.


Seluruh dindingnya dilapisi kertas dinding berwarna merah muda, dengan gambar wajah kucing dan kelinci yang imut. Hampir semua perabotan yang ada di kamar ini bernuansa merah muda dan putih. Lalu berhiaskan gambar kucing atau kelinci yang menggemaskan. Selain itu, ada juga banyak bonek hewan-hewan berbulu di kamar ini.


Siapa pemilik kamar ini?


Sang pemilik ada seorang gadis muda yang kini tengah berbaring, sembari terpasang sebuah perangkat di kepalanya. Sebuah perangkat yang memungkinkan dirinya untuk memasuki dunia virtual.


“Ah... lelah juga. Sayang sekali Neo mati. Padahal kukira bisa menjadikannya sumber penghasilan.”


Gadis muda itu baru saja melepas perangkatnya, dan bangkit. Ia kemudian berdiri dan melakukan peregangan ringan.


“Rika! Ada temanmu datangmu datang!”


“Iya, bi! Sebentar aku turun!”


Rika adalah nama panggilan gadis ini. Sedangkan nama lengkapnya adalah Rara Chandrika. Ia adalah salah seorang pemain Ardanium’s Tale Online, yang mana memakai nama akun Lunariaa.


Ya, dia lah Lunariaa. Sang gadis berzirah, yang bersenjatakan kapak perang. Yang bertarung dengan gagah sekaligus brutal. Siapa pun yang mengenal Rika tak akan terbayang kalau ia adalah Lunariaa. Karena Rika adalah seorang gadis yang sangat lah feminin. Baik itu dari gaya pakaiannya, atau pun sikapnya.


Rika punya kamar di lantai dua. Dan ia turun menuju ke ruang tamu di lantai satu untuk menemui temannya. Tapi, sebelum ia memasuki ruang tamu, ia berpapasan dengan bibinya.


“Rika, kenapa banyak yang gemar memainjam bukumu, dan semuanya lelaki? Ya, kecuali Rani.”


“Haha... entah lah bi.”


Rika segera ke ruang tamu, dan dari pertanyaan bibinya itu ia bisa tahu kalau temannya yang datang ini punya alasan mengembalikan buku yang ia pinjamkan. Padahal, nyatanya ia sedang tidak meminjamkan buku apa pun ke siapa pun.

__ADS_1


“Oh? Rudi?”


“Ah? Hey, Rika!”


Teman Rika yang bernama Rudi itu segera bangkit dari duduknya saat melihat Rika memasuki ruang tamu. Dan kembali duduk saat Rika ikut duduk.


“Jadi, buku apa yang mau kau kembalikan? Seingatku, aku tidak meminjamkan buku apa pun.”


“Ah, itu... hehe... sebenarnya...”


“Sudah lah, apa maumu? Ada urusan apa? Aku sedang tidak santai.”


“Itu...”


Alasan mengembalikan buku yang dipinjam, adalah alasan utama yang sering dipakai teman-teman lelaki Rika untuk bertemu dengannya di rumahnya. Tujuan mereka semua sebenarnya hanya ada satu, yakni untuk bisa mengobrol dengan Rika. Yang merupakan salah satu dari dua primadona di sekolahnya.


Rika punya tinggi sekitar seratus enam puluh lima sentimeter, dan berperawakan langsing. Rambutnya yang hitam legam itu pendek, hanya mencapai bahunya dan punya poni lurus yang menutupi dahinya. Ia punya mata coklat gelap yang bening dan besar, dilengkapi bulu mata tebal dan lentik. Wajahnya terkesan seperti anak sekolah dasar meski dirinya sudah tahun terakhir di sekolah menengah pertama.


Singkatnya, sosok Rika bisa dirangkum dalam satu kata. Yakni, indah.


Rudi kebingungan untuk memilih kata, padahal ia sudah banyak latihan untuk saat ini. Akhirnya, dengan sopan. Rika meminta Rudi untuk pulang, karena ia masih ada yang harus dikerjakan. Rudi pun pulang begitu saja, bahkan sebelum mendapatkan suguhan air bening pun.


Tindakan yang ditunjukan Rika adalah sesuatu yang bisa dikatakan tidak sopan. Dan ia dengan sadar betul melakukannya meski tahu. Ia melakukannya agar para lelaki ini menyerah untuk mengejarnya dengan menunjukkan sisi buruknya. Tapi, tak ada satu pun yang mundur.


Pagi ini Rika datang ke sekolah seperti biasanya. Melangkah secepatnya menuju ruang kelas adalah yang biasa Rika lakukan. Akan tetapi, hal sederhana itu sulit untuk dilakukannya. Karena ada saja orang yang menghentikan langkahnya. Terutama para murid lelaki di sekolah ini.


Rika akhirnya sampai di kelasnya dan segera duduk di tempatnya.


“Pagi, Rika.”


“Pagi, Ema.”


Ema adalah teman sekelas Rika yang duduk di depannya, dan baru saja datang seperti Rika.


“Ema, kamu lihat Rani?”

__ADS_1


“Hm? bukan kah dia tadi ada di belakangmu?”


“Heh?! Benar kah? Aku tidak sadar! Tapi kalau begitu kenapa dia belum sampai kelas juga?”


“Hah... Rika, kamu ini kapan mau sadar? Kalian berdua itu kan bernasib sama. Sama-sama kesulitan hanya untuk mencapai kelas. Karena banyak dicegat lelaki.”


“Ah.. eh... b-begitu, ya?”


“Dulu aku selalu bermimpi untuk menjadi sangat cantik. Tapi, setelah melihat kalian bedua mimpi itu pupus. Karena ternyata menjadi sangat cantik itu merepotkan.”


“Eh... aku tidak secantik itu.”


Obrolan ringan antara Rika dan Ema berlanjut sampai Rani yang duduk di sebelah Ema sampai.


“Huh... Apa aku harus pakai topeng saat masuk sekolah?” pertanyaan ini langsung keluar dari Rani yang baru datang.


“Haha! Sepertinya kalian berdua memang harus pakai topeng!” ucap Ema.


Sekarang obrolan terjadi antara mereka bertiga sampai jam pelajaran pertama dimulai.


Seperti yang dikatakan Ema, kalau Rani dan Rika memiliki nasib yang sama. Keduanya adalah gadis paling populer di sekolah ini. Karena keduanya terkenal sebagai siswi paling cantik. Jika kecantikan Rika bisa digambarkan memancarkan aura ceria dan hangat. Kecantikan Rani bisa digambarkan memancarkan aura tenang dan sejuk.


Keduanya begitu populer bukan hanya karena kecantikan mereka. Tapi juga karena beberapa hal lainnya. Salah satunya adalah keunggulan mereka di dalam bidang mata pelajaran. Terutama adalah dalam bidang musik dan olah raga.


Untuk bidang musik, mereka mengembangkannya dengan membuat konten musik di media sosial. Meski mereka belum punya lagu sendiri dan hanya menyanyikan lagu lain yang sudah terkenal. Keduanya dengan cepat menjadi selebritas di jejaring sosial dunia maya.


Sekali lagi, kecantikan mereka membantu untuk menaikkan popularitas mereka. Namun, mereka bukan lah para gadis yang hanya bisa jual tampang. Kemampuan bermusik mereka juga sangat baik, sehingga menarik banyak penggemar musik tanah air.


Rika, mengambil posisi sebagai vokalis yang juga bermain gitar akustik. Sedangkan Rani, sepenuhnya hanya bermain piano. Keduanya hanya memakai kedua alat musik itu untuk menyanyikan lagu apa pun. Sehingga mereka harus melakukan aransenmen untuk beberapa lagu agar sesuai.


Awalnya mereka tak memikirkan naman untuk grup duo mereka ini. Tapi, banyak penggemar mereka yang mulai menamai mereka Duo Angels. Keduanya tak keberatan saat panggilan itu semakin terkenal. Tapi, suatu hari Rani punya ide untuk membuat namanya sendiri. Nama yang membuat sedikit bingung beberapa penggemar mereka karena memiliki kesan yang kelihatannya tak cocok untuk kedua gadis ini.


Dan namanya adalah Bloody Angels.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2