
+++
Salam..!!!
Jangan lupa Like dan Comment..!!!
Selamat membaca..!!!
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 6 : Pembaruan Jalan.
+++
“Sekali lagi aku akan menegaskan pada kalian. Aku tak peduli apa alasan kalian mau menjadi perampok bersamaku. Yang ku pedulikan adalah seberapa tinggi kesungguhan kalian, dan seberapa siap kemampuan kalian. Menjadi perampok bukan hanya perlu keberanian, tapi juga kecerdasan dan kekuatan yang memadai. Kalian bukan hanya harus berani membunuh, tapi juga siap terbunuh. Tapi yang lebih penting adalah kalian harus tahu caranya agar tak terbunuh. Dan ada dua cara untuk melakukannya.
Yang pertama, kalian harus pintar-pintar memilih korban. Jangan hanya kalian berani, kalian menyerang target yang terlihat sangat jelas lebih kuat dari kalian. Itu namanya bukan berani melainkan idiot!
Lalu untuk yang kedua. Di saat kalian coba menilai target, penilaian kalian mungkin saja salah. Jangankan seorang perampok pemula, perampok ahli pun bisa membuat kesalahan ini. Dan jika kita sampai salah melakukan penilaian, jika kita menyangka target kita lemah namun ternyata kuat. Kita harus bisa melarikan diri!
Dan melarikan diri pun bukan lah hal yang mudah. Tak semua orang akan melepaskan begitu saja orang yang coba merampok mereka. Maka kita harus bertarung sambil berusaha kabur.”
Di salah satu sudut Aezmeralda Forest, Ezzza sedang mengadakan penataran kepada para pengikut barunya. Mereka semua adalah Lander. Yang terdiri dari empat lelaki dan dua perempuan. Dan mereka semua terlihat memiliki usia di akhir masa remaja.
“Satu hal lagi hal dasar yang harus kalian ingat. Kita harus siap melawan para pemburu. Sebagai perampok, kita pasti akan diburu, mau cepat atau pun lambat. Mereka yang akan memburu kita itu, pasti sepenuhnya bersiap untuk menghabisi kita.
Saat berhadapan dengan yang seperti itu, kita tetap harus mengutamakan untuk melarikan diri. Beri perlawanan seperlunya saja, sampai kita bisa kabur. Tapi, karena memang tujuan mereka memburu kita, mereka pun tak akan dengan mudah melepaskan kita. Dan di saat seperti itu lah, kita harus melawan sampai mereka mati.
Sampai sini kalian paham??!!!!”
“Kami paham!!!” jawab keenam orang itu serentak.
“Hari ini aku akan melatih kalian untuk bertarung. Dan meski ini hanya latihan, kaian harus siap terbunuh! Kalian siap?!”
“SIAP!!!”
.
.
.
__ADS_1
“Hm... Avatar memang tidur sampai berhari-hari, ya?”
“Iya, ternyata rumornya benar.”
“Menurut kakak, kenapa begitu?”
“Mungkin itu bayaran bagi semua kekuatan mereka yang luar biasa? Ingat, mereka itu bahkan abadi, kan?”
“Ah, iya. Kakak ada benarnya juga!”
“Ssstt!! Jangan terlalu keras, nanti kita mengganggunya.”
Obrolan ini adalah antara Piko dan Liko, dua bersaudara yang tempo hari Erra selamatkan dari seekor Direwolf.
“Sedang bicarakan apa kalian?”
“HEEEHHH!!!!”
Piko dan Liko begitu terkejut mendengar pertanyaan itu dari Erra yang baru saja membuka matanya.
“T-tidak ada, tuan! S-selamat datang kembali!” ucap Piko si kakak.
“Ah...”
“Apa tuan, mau sarapan?” tanya Piko.
“Tidak, aku mau ke luar dulu.”
Dengan mengabaikan kedua bersaudara itu, Erra keluar dari tenda daun tempatnya tidur.
Beberapa hari yang lalu dalam hitungan dunia virtual ini. Erra memasuki rumah tempat tinggal keluarga dua bersaudara itu. Mereka tinggal di satu tenda daun besar, dan jumlah anggota keluarganya ada lima orang. Piko, Liko, kedua orang tua mereka dan adik bungsu mereka.
Tak ada pembagian ruangan di dalam tenda itu. Jadi semua tidur bersama di dalam sana. Sebuah situasi yang tak akan membuat Erra merasa nyaman. Dan akhirnya, dengan mendadak. Piko, Liko, ayah mereka, serta dibantu beberapa warga lainnya membuatkan tenda daun untuk Erra sendiri.
Sebuah tenda daun yang sebenarnya cukup untuk memuat tiga orang itu, dibuatkan untuk Erra yang seorang diri. Dan itu adalah bentuk rasa terima kasih warga desa ini pada Erra. Karena telah menyelamatkan Piko dan Liko.
Semua mata penghuni desa segera tertuju pada Erra saat ia keluar dari tenda daun pribadinya. Terlihat mereka semua berusaha menunjukkan wajah yang paling ramah dan segera memberi salam pada Erra. Erra sendiri, demi pencitraannya meladeni semua itu dengan baik. Karena ia memang sudah sangat terbiasa bersandiwara dengan sikapnya. Bahkan bisa dikatakan setiap harinya, sekitar delapan puluh persen waktunya dipakai bersandiwara.
Saat melihat ke sekeliling desa, ada satu kegiatan yang menarik perhatiannya. Ia pun menghampiri sejumlah perempuan tua dan muda yang tengah berkumpul.
“Apa kalian sedang membuat ramuan?” tanya Erra dengan nada yang sangat ramah.
“Ah, tuan? Ya, kami sedang membuat ramuan.” Yang menjawab adalah ibu dari Piko dam Liko.
__ADS_1
“Hm...” Erra memperhatikan semua bahan yang dipakai, dan cara peracikannya.
“Kalian sedang membuat Mid Healing Potion 3?”
Pertanyaan Erra kali ini membuat para perempuan ini sedikit mebelalakan matanya. Itu hal yang wajar karena Erra bisa dengan cepat menebak jenis ramuan yang sedang mereka buat dengan sangat tepat.
Kalau lah Erra hanya menebak kalau yang mereka buat itu adalah Healing Potion, itu tak akan terlalu mengejutkan. Tapi Erra berhasil menebak sampai Kelas dan Tingkatannya dengan tepat. Padahal, semua Healing Potion memakai bahan yang sama saja, perbedaan hanya terletak pada perbandingan bahannya saja.
“Apa Tuan Erra seorang Herbalist?”
Tanpa ragu, ibu Piko bertanya begitu. Karena hanya itu alasan yang paling logis tentang kemampuan Erra. Meski sebenarnya, seorang Herbalist pun belum tentu bisa menebak seperti Erra.
“Ya, aku Herbalist. Itu juga alasanku datang ke hutan ini. Karena di sini sangat banyak tanaman herbal liar.”
Erra pun segera bergabung dengan kelompok pembuat ramuan itu. Ia tak ikut membuat ramuan, tapi hanya ikut mengobrol. Di sana, semua dibuat terkagum saat mendengar jenis ramuan apa saja yang bisa dibuat oleh Erra. Namun ada juga yang heran, kenapa kebanyakan ramuan yang bisa Erra buat adalah racun.
.
.
.
“Hah... hah... itu tadi... menegangkan sekali!! Tapi seru!!!”
“Kurasa kau terlalu positif, Neo.”
Trio Lunariaa, Arini, dan Neo baru saja selamat dari pertarungan yang mempertaruhkan nyawa.
Mereka kini sedang menyeberangi Kork Forest. Menurut Lunariaa dan Arini, lebih baik kalau menghindari bagian dalam Kork Forest, tempat tinggal para Hell Hog. Mereka berdua sendiri sebenarnya tak begitu masalah menghadapi jenis monster itu. Yang jadi masalah adalah Neo.
Neo terlalu bersemangat, dan daripada berani, lebih dekat disebut sembrono. Kemampuan bertarung Neo cukup rendah. Tapi ia selalu ingin merasakan pertarungan dengan lawan kuat.
“Haha! Lunariaa, seharusnya aku yang lebih ketakutan. Aku kan hanya Lander dengan satu nyawa. Avatar sepertimu seharusnya tak perlu takut mati, kan?”
“Aku memang bisa hidup lagi setelah mati di sini. Tapi bukannya tanpa pengorbanan, dan biar bagaimana pun juga aku tidak suka mati.”
“Haha! Begitu, ya? Yang penting sekarang semua selamat.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...