
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 47 : Akhir Percobaan.
+++
Erra sudah mengangkat belatinya bersiap menikam jantung si anggota terakhir Tim B itu, tapi ia mengurungkan niatnya dan menyarungkan senjatanya.
“Hm... patut dicoba...”
Erra yang sekarang rambutnya hitam itu, membalikan tubuh lawannya yang terkulai lemas.
“M-mau apa kau?! Cepat selesaikan ini! Habisi aku!” ucap lawan terakhirnya itu.
“Avatar atau Lander? Yang mana kau? Menurut tebakanku, kau avatar. Benar?”
“Y-ya, aku avatar...”
Lawan terakhir Erra ini menjawab dengan suara yang gemetar. Timbul perasaan takut di dalam hatinya. Serasa ia menghadapi teror di depan matanya. Sampai ia bergumam dalam hatinya...
‘Apa terjadi galat? Bagaimana bisa seperti ini?!’
Ia bergumam begitu dikarenakan perasaan aneh yang dirasakannya saat ini. Dan perasaan itu muncul karena menatap mata Erra. Mata yang masih berwarna merah darah itu, selintas terlihat seperti kosong. Seakan melihat mata dari jasad tak bernyawa.
Lawan terakhir Erra itu pun berpikir kalau terjadi galat pada sistem, sehingga menapilkan pemandangan horor tersebut. Namun pada kenyataannya, sistem berjalan dengan lancara, bahkan sangat lancar. Sehingga sistem bisa merepresentasikan mata Putra pada mata Erra dengan sangat akurat.
Ya, mata dengan tatapan kosong bagai jasad tak bernyawa itu adalah mata Putra yang sesungguhnya. Di dunia nyata, selama ini hanya ada tiga orang yang pernah melihatnya dengan benar. Orang pertama dan kedua yang melihatnya kini telah tak bernyawa. Sedangkan orang terakhir yang masih bernyawa, terkadang masih dihantui teror dari mata yang horor itu.
Mendengar jawaban dari lawan terakhirnya itu, Erra tersenyum tipis dengan tatapan matanya yang tak berubah. Menciptakan sebuah ekspresi yang biasanya hanya diperlihatkan di film animasi horor yang bisa membuat para penonton merinding ketakutan. Dan itu lah yang dirasakan orang itu sekarang.
“Bagus, kalau begitu. Percobaan ini akan jadi lebih baik.” Ucap Erra.
Si lawan terakhir Erra itu membukan dan menutup mulutnya seperti ikan. Hendak mengatakan berbagai macam pertanyaan. Namun tak ada suaranya yang keluar sedikit pun.
Jleb! Jleb!
“Eh?”
Si lawan terakhir Erra itu dibuat bingung karena tiba-tiba kehilangan penglihatannya. Dan itu terjadi karena Erra baru saja membutakan orang itu dengan menikam kedua mata orang itu sampai hancur. Tapi, cukup dangkal sehingga tak mengancam hidupnya.
Sreet! Sreeet!!
Kemudian orang itu pun merasa tubuhnya diseret...
.
__ADS_1
.
.
Merasa ketakutan akan apa yang menghampiri nasibnya, lawan terakhir Erra itu sempat berteriak-teriak. Namun, Erra menjejalkan sebotol racun yang menghilangkan suara pemain itu.
Racun itu dikenal dengan nama Silence Poison. Seperti namanya, racun itu memiliki fungsi untuk menjadikan ‘sunyi’. Dalam hal ini, yang ‘disunyikan’ adalah suara si peminum racunnya. Racun ini tak memiliki efek lain selain membuat peminumnya tak bisa mengeluarkan suara sama sekali.
Erra menyeret orang itu cuku jauh. Terkadang efek racunnya habis di tengah jalan. Erra pun menenggakan sebotol racun lagi pada orang itu saat efek racun sebelumnya hilang. Selain efek dari Silence Poison, efek dari Mid Paralyze Posion 3 pun terkadang hilang. Dan saat itu terjadi, Erra akan memberikan dosis racun lainnya.
Hingga akhirnya ia dan orang yang diseretnya itu sampai di sebuah gua.
“Hm... efek racun bisu itu belum hilang, ya? Jadinya kau belum bisa bersuara. Tapi, kau masih bisa mendengar dengan jelas. Aku tahu itu!” ucap Erra sambil menguatkan ikatan pada tubuh lawannya.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik. Pertama, aku mau berterima kasih karena kau akan menjadi bahan percobaanku. Tenang saja, karena kau pemain jadi tak akan terlalu masalah. Kalau pun kau mati, kau akan hidup lagi nanti.”
Mendengar perkataan Erra yang diucapkan dengan nada santai yang bersahabat itu. Lawan terakhir Erra yang kini menjadi sanderanya itu, terlihat gemetaran. Gemetar karena takut juga kesal, sembari mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang menimpanya.
“Aku akan memberimu beberapa jenis racun. Aku ingin melihat efeknya secara langsung. Tenang saja, karena aku juga ingin mencoba beberapa ramuan seperti ramuan pemulih atau penawar racun. Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja.
Jadi, mekanismenya begini. Aku akan mencoba racun padamu sampai kau sekarat, tapi tak akan kubiarkan mati. Lalu setelah itu aku akan mencoba ramuan penyembuh dan lainnya untuk mencegahmu mati.
Bagaimana?
Itu sederhana, kan?
Kau hanya perlu diam. Dan karena ini tubuh virtual, seharusnya kau tak kesakitan.”
“Mari kita mulai!” ucap Erra dengan memegang sebuah botol.
.
.
.
Beberapa hari berlalu di dunia virtual ini. Dan Erra tanpa henti melakukan percobaan atas segala macam ramuan yang dibuatnya.
Si sandera yang menjadi bahan percobaan itu. Dilukai, lalu disembuhkan. Diracuni, lalu diberi penawar racunnya. Erra mencatat secara detail semua hasil penelitiannya. Dan akhirnya kini ia merasa sudah tak ada yang bisa ia coba lagi. Maka...
“Baiklah, kita sudahi percobaannya. Terima kasih atas kerja samanya.”
Erra mengucapkan itu sambil memasang senyum ramah dan mengulurkan tangan kanannya pada sang sandera. Mecoba mengajaknya berjabatan tangan karena sudah membantu dirinya dalam percobaannya. Si sandera yang kini kondisi tubuh virtualnya prima itu, terlihat wajahnya sangat pucat. Dan ia tak menjabat tangan Erra melainkan hanya menatap Erra dengan pandangan yang begitu kompleks.
Sekilas di matanya terlihat rasa takut. Namun sekilas terlihat juga rasa benci, amarah, dan sebagainya.
“Ya... kalau tidak mau berjabat tangan tidak apa-apa... kau bisa pergi sekarang. Dan ini, aku bukan orang yang suka minta bantuan tanpa membalas. Jadi ini semua untukmu, sekali lagi terima kasih.”
__ADS_1
Erra mengatakan itu semua sambil menyerahkan puluhan botol ramuan yang masih tersisa. Ramuan yang terdiri dari berbagai jenis itu, mau yang untuk pemulihan, racun, atau pun penawar racun. Jika ditotal semuanya bisa memiliki nilai uang yang tidak rendah.
Sewajarnya orang akan antusias saat menerima hadiah sebanyak itu. Tapi tidak dengan orang ini. Ia hanya menatap puluhan botol ramuan itu dengan matanya yang sayu. Lalu menatap punggung Erra yang sedang meninggalkan gua.
“Tunggu!!!” ucap si bahan percobaan.
Erra berhenti dan sedikit berbalik.
“Ada apa? Apa imbalannya kurang? Aku masih bisa menambahnya tapi tidak banyak.”
“Persetan dengan imbalan!!! Jawab aku! Kenapa kau melakukan itu padaku?! Siapa kau?! Apa masalahmu denganku?!” orang itu berbicara dengan emosi membara.
“Hm... namaku, Erra. seorang Scouts sekaligus Herbalist. Aku tidak punya masalah denganmu, dan tidak ada alasan khusus aku melakukan percobaan padamu. Kebetulan saja kau yang beruntung.” Ucap Erra dengan wajah santai seperti tanpa masalah.
“Beruntung?! Kau bilang beruntung?!” ucap orang itu sambil bangkit dari duduknya.
“Ya, kau beruntung. Karena jadi bahan percobaanku, kau mendapatkan imbalan ramuan yang banyak itu. Dan aku juga tak mengambil sepeser pun hartamu. Coba ingat teman-temanmu yang hanya mati saja, tanpa dapat imbalan.”
GRRT!!!
Si sandera sudah sangat murka dengan sikap Erra. ia mengeluarkan senjatanya dari inventorinya.
“Kalau kau mau bertarung, aku tak akan sungkan membunuhmu.” Erra mengancam dengan santai tanpa melakukan apa pun.
“Mati kau!!!”
Erra diterjang dan dengan cepat mencabut belatinya. Ia menghindari serangan lawannya yang tak terkendali itu dengan mudah. Lalu...
Jleb!
“GOKHOOOK!!!”
Erra menikam tenggorokan orang itu dengan pisaunya yang berlumuran racun...
Bluk!
Orang itu pun jatuh, tapi tidak langsung mati.
“Kalau kau mau menyerangku, aku akan membela diri. Tapi, omong-omong... kalau kau mau lagi jadi bahan percobaanku, boleh saja. Tinggal cari saja aku, sementara aku masih akan ada di Avalan City. Tapi bulan depan aku sepertinya akan pindah.”
Dengan acuh tak acuh, Erra meninggalkan gua itu. Dan saat Erra mencapai mulut gua, muncul notifikasi...
[Kamu membunuh : 1 Avatar]
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...