Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.52 - Kekhawatiran.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 52 : Kekhawatiran.


+++


Erra beserta Lunariaa dan Arini masih di dalam perjalanan menuju ke desa berikutnya yang menjadi tujuan Erra. Dan beberapa saat kemudian mereka bertiga pun sampai. Melihat kedatangan Erra, para warga desa ini terlihat bersemangat dalam menyambutnya.


Desa ini adalah termasuk desa yang memasok keperluan tanaman herbal Desa Green Hut. Mereka memiliki cara untuk memelihara beberapa jenis tanaman herbal di hutan agar jumlah dan kualitasnya stabil sepanjang tahun. Sebuah kemampuan rahasia yang akan menjadi perebutan kekuatan besar di dunia ini.


Seperti desa sebelumnya, desa ini dahulu adalah desa yang bekerja sama dengan Desa Gezar. Lalu kemudian coba bekerja sama dengan Desa Green Hut. Dan karena arogansi Desa Gezar yang memaksa desa ini untuk memilih antara desa mereka atau Green Hut. Desa ini pun memilih Desa Green Hut sebagai rekan sejatinya.


Keputusan yang diambil desa ini dan desa lainnya tak lepas dari pengaruh Erra. Beberapa ‘ajaran’ Erra dirasa sangat membantu di desa ini. Lalu Erra juga adalah orang luar pertama yang mengetahui kemampuan rahasia desa ini. Namun Erra selalu tutup mulut, seakan tak tahu apa-apa. Bahkan tak ada satu pun warga Desa Green Hut yang mengetahui hal ini dari Erra. Yang ada, Erra malah berusaha menutupi rahasia desa ini.


Dalam jamuan sederhana yang diadakan untuk menyambut Erra. Pemain yang punya warna rambut dan mata mencolok ini menjelasakn hubungan terbarunya dengan Desa Green Hut. Ia juga menjelaskan maksud kedatangannya ke desa ini adalah untuk menumpang menginap, yang mana sangat disambut oleh warga desa. Tak lupa pula Erra menceritakan penemuannya di desa pengumpul kayu sebelumnya.


“Desa itu memang dirampok beberapa hari yang lalu. Mereka sempat datang ke sini setelah perampokan untuk meminta bantuan. Kami pun membantu sebatas kemampuan kami, sembari ada yang pergi ke Green Hut untuk meminta bantuan yang lebih baik. Saat orang-orang Green Hut datang, mereka menganjurkan agar semua warga desa yang masih selamat pindah ke Green Hut. Dan tak ada yang menolak.”


Penjelasan itu diutarakan oleh seorang pria Lander tua yang merupakan kepala desa ini.


“Apa ada ciri yang bisa dijelaskan tentang para perampok itu?” Erra bertanya.


“Dari cerita mereka, tak ada ciri khusus. Kecuali tingkah aneh ketua mereka.”


“Tingkah aneh apa maksudnya?”


“Kata mereka, ketua perampok itu memperkenalkan namanya sambil menegaskan ejaan namanya. Hm... siapa namanya, ya? Saya lupa...”


“Ezzza?” ucap Lunariaa.


“Ah! Iya, benar itu namanya!”


“Hah... orang itu lagi!” Lunariaa terlihat sangat jengkel saat mendengar pembenaran kalau Ezzza yang melakukan perampokan.


“Apa ada tindakan lanjutan dari Green Hut? Seperti penyelidikan atau lainnya?” tanya Erra.


“Yang saya dengar ada. Mereka mengirimkan beberapa pengintai untuk melacak keberadaan para perampok. Kemungkinan Green Hut mau menyerang markasnya.”

__ADS_1


“Tidak ada perlindungan bagi desa ini atau yang lain di dekat sini?”


“Ah, tidak ada tuan.”


“Hah... sepertinya yang kukhawatirkan segera terjadi. Menyebalkan sekali...”


Semua orang menatap ke arah Erra, merasa penasaran apa yang dikhawatirkan orang ini. Menyadari tatapan yang menuntut penjelasan dari semua orang. Erra pun memutuskan untuk menjelaskan rasa khawatirnya itu.


Pada intinya, Erra selalu berpesan pada Green Hut untuk mengutamakan bertahan daripada menyerang. Selain itu jangan memicu konflik terlebih dahulu. Erra sangat tahu kalau banyak orang Green Hut yang sangat bersemangat menyerang lawan untuk unjuk gigi, tapi ia selalu melarangnya.


Lalu Erra mengatakan kalau dirinya masih di Green Hut, ia akan mengambil tindakan lain dalam masalah ini. Pertama ia juga akan melakukan pelacakan terhadap markas para perampok. Namun tujuannya bukan lah untuk menyerang, melainkan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Terutama adalah tempat yang menjadi target perampokan berikutnya.


Sementara itu, ia akan menyiapkan pasukan kecil untuk bersiaga di beberapa desa yang rentan diserang. Dan begitu mengetahui target berikutnya, ia akan memperkuat pertahanan serta menyiapkan jebakan. Lalu menghabisi para perampok itu di tempat.


Erra juga mengutarakan pendapatnya kalau orang yang bernama Ezzza itu berbahaya. Dari beberapa kali pertemuannya, meski bisa dikatakan Erra selalu mengungguli Ezzza. Erra mengakui kalau Ezzza bukan lah lawan yang bisa diremehkan, terutama dalam berstrategi.


Erra mendasarkan pendapatnya ini bukan hanya dari pengalaman pribadinya. Tapi juga dari pengalaman Arini dan Lunariaa yang sudah lebih sering bentrok dengan Ezzza. Erra mengatakan bahwa kemampuan Ezzza untuk selalu bisa dengan cepat membangun kekuatan baru setelah yang lama dihancurkan, adalah kemampuan yang paling Erra takutkan.


.


.


.


“Serius sekali?” sebuah suara muncul dari belakang Putra.


“Oh, ibu?”


“Kenapa wajahmu seserius itu? Apa sedang ada masalah?”


“Hm... selama manusia hidup pasti punya masalah.”


“Er, bisa tidak kalau sedang bicara dengan ibu tidak perlu filosofis? Itu kadang membingungkan bahkan menakutkan.”


“Hehe... maaf, bu. Aku memang punya masalah, tapi itu hal kecil. Sayangnya... hal kecil itu ada banyak.”


“Hm... mungkin ibu bisa bantu sesuatu?”


“Ah... tidak perlu, bu. Aku bisa menangani semuanya.”

__ADS_1


“Benar kah? Kalau begitu ya, sudah. Tapi nanti kalau perlu bantuan ibu, jangan ragu meminta. Kebiasaan burukmu itu selalu memikirkan apa pun sendirian.”


“Haha... iya, bu.”


“Oh ya, ibu baru dari rumah pamanmu. Adikmu menitip salam.”


Putra terdiam mendengar perkataan ibunya. Dan hanya merespon dengan,


“Oh... ya.”


“Oh ya, katanya adikmu juga bermain Aldanum.”


“Aldanum? Maksud ibu Ardanium?”


“Ah, iya! Ibu salah sebut, ya? Hehe...”


“Begitu, ya...”


“Iya, begitu. Dan itu artinya kau bisa bertemu dengannya di sana, kan?”


Putra tak menjawab ibunya, dan hanya menunjukkan senyuman tipis. Ia kemudian melihat ke arah jam minta izin kembali ke kamarnya.


“Kamu mau main lagi? Ibu harap kamu bisa mengurangi waktu mainmu. Ibu rasa kamu terlalu lama bermain.”


“Ya, bu. Aku sedang berusaha menyusun hal di sana. Agar aku tak terlalu lama. Lagipula sekarang aku mau kerjakan beberapa tugas sekolah dulu.”


Putra pun kembali ke kamarnya dan segera mengerjakan tugas sekolahnya.


Selama mengerjakan tugas, Putra beberapa kali melirik ke arah jam di meja belajarnya. Dan beberapa lama kemudian, ia menyudahi pekerjaan rumahnya meski belum selesai. Dan ia segera kembali ke dunia virtual.


Bukannya Putra mengabaikan tugas sekolahnya. Hanya saja ia merasa tugas sekolahnya mudah, sedangkan masalah di dunia virtual sulit. Karena itu lah ia lebih fokus pada dunia virtual.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2