
.
.
.
“Ah, apa ini sungai yang dimaksud?”
Ezzza mencapai tepian sungai. Misi yang diambilnya adalah misi untuk mencari telur dari semacam monster ayam di hutan ini. Tepatnya di daerah yang ada di seberang sungai yang ada di hadapannya ini.
Ezzza mendekati sungai dan memperhatikannya. Lalu...
“Ah... sepertinya tidak bisa berenang, ya?”
Ezzza pun mencari jalan lain untuk menyeberangi sungai ini. Sambil mencari tempat menyeberang, ia berbicara pada dirinya sendiri.
“Hutan ini memang sangat lebat. Tapi tak seperti yang kudengar, katanya di sini sangat banyak monster meski monster kecil. Nyatanya, sedikit sekali monster yang kutemui di daerah ini.
Lalu ada lagi masalah Green Hut. Mereka lebih berbahaya dari kabar yang kudengar. Aku merasa semua warganya seperti mengawasiku, meski sikap mereka tak menunjukkannya. Sepertinya merampok di desa itu lebih sulit atau bahkan mustahil, kalau kubandingkan dengan Gezar.
Hah... mulai dari mana, ya?”
Beberapa saat kemudian, Ezzza menemukan sebuah pohon besar yang rubuh ke arah sungai. Pohon itu tak cukup tinggi atau panjang untuk Ezzza jadikan jembatan demi menyeberangi sungai. Namun meski begitu, ujung pohon ini melewati tengah sungai.
“Sepertinya aku harus sedikit nekat.”
Ezzza berucap begitu sambil melepaskan zirahnya. Ia kemudian mengambil ancang-ancang dan mulai berlari di pohon tersebut. Begitu mencapai ujung pohon, ia melompat dan...
Byur!!!
Ia memasuki sungai dan mulai berenang. Lalu tak lama kemudian...
“Haha!! Ternyata berenang di sini memang bukan pilihan bagus!”
Ezzza cukup kesulitan untuk berenang, karena ternyata sungai ini berarus deras meski terlihat tenang. Akan tetapi meski begitu, Ezzza berusaha sekeras mungkin untuk bisa mencapai seberang sungai dengan secepat mungkin. Karena ia mulai merasakan ada beberapa makhluk yang mendekatinya di dalam air.
.
.
.
Erra melihat dua orang gadis ayng sedang bertarung dan terlihat berusaha melarikan diri dari kejaran kelompok kera. Lalu, sambil mengembangkan senyum tipis, ia berkata...
“Aku punya ide!”
Setelah berseru seperti itu, Erra bergerak ke arah kedua gadis itu. Sementara itu, di sisi lain. Kedua gadis yang tidak bukan dan tidak lain adalah Arini dan Lunariaa pun menyadari keberadaan Erra.
“Hey, sepertinya orang itu ke sini?” tanya Arini.
“Ya! Dan dia bawa gerombolan monyet juga!” sahut Lunariaa.
Erra yang coba mendekati kedua gadis itu, sadar kalau kedua gadis itu sudah menyadari dirinya. Ia pun berteriak...
__ADS_1
“Hey! Kalau kalian terjepit juga! Bagaimana kalau kita kerja sama?!”
Lunariaa dan Arini sedikit saling tatap, mereka ingin berdiskusi. Apa bisa percaya pafa orang itu atau tidak. Tapi sayang sekali mereka sulit melakukannya karena mereka harus bertarung menghalau para kera yang mengepung mereka.
“Arini, bagaimana?!”
“Sepertinya kita tidak punya pilihan lain. Kita terima saja.”
“Baiklah, kamu yang jawab dia.”
“Baik!”
Arini sedikit menarik napas sebelum berteriak...
“Kami terima! Mau bagaimana sekarang?!”
“Kita saling mendekat! Kita adu dua kelompok kera ini!”
Kedua gadis itu yang mendengar perkataan Erra sedikit mengangkat alis mereka tanda mereka sedikit bingung. Mereka bingung, bagaimana cara mengadu kedua kelompok kera ini. Akan tetapi, setelah saling tatap dan saling memberi anggukan. Mereka memilih untuk tak memikirkannya, dan ikuti saja rencana itu. Karena mereka juga tak punya rencana sama sekali.
Arini bersama Lunariaa, dan Erra kini bergerak saling mendekat.
Syuut!
Jleb!
Erra menembakan panahnya pada kera yang hampir saja menerkam Arini. Lalu berteriak...
“Hey, penyihir! Sesekali coba serang monyet yang di sini!”
Sembari menghalau dan menembaki monyet yang mengejarnya. Erra juga sesekali menyerang kera yang mengepung Arini dan Lunariaa. Di sisi lain, Arini yang memakai sihirnya untuk mendukung Lunariaa. Sesekali melepaskan sihirnya ke arah para Sting Monkey yang mengejar Erra.
Setelah beberapa saat berusaha saling mendekat, mereka pun sampai pada titik yang sama.
“Sekarang bagaimana?” tanya Lunariaa.
“Tetap menyerang dan menghindari serangan mereka. Kau gadis kapak jangan maju. Kita juga harus bergeser ke sana ke mari, tapi jangan terpisah. Kalian paham?”
“”Ya!”” kedua gadis itu menjawab Erra dengan serempak.
Mereka bertiga akhirnya berada pada posisi saling memunggungi satu sama lain. Erra terus menembakan panahnya, sambil terkadang memakai busurnya untuk menghalau lawan yang terlalu dekat. Begitu pula dengan Arini yang terus melepaskan sihirnya. Dan terkadang memakai tongkat sihirnya untuk memukul lawan. Dan Lunariaa, hanya fokus pada lawan yang berhasil mendekati mereka.
“Apa kalian tahu arah utara? Aku kehilangan arah.” Ucap Erra.
“Ke sana.” Lunariaa yang menjawab, sambil menunjukkan arah yang ditanya Erra dengan kapaknya.
“Kita bergerak ke sana.”
“Baik!”
“Siap!”
“Tapi, bagaimana cara kita mengadu mereka?” tanya Arini tiba-tiba.
__ADS_1
“Tunggu saja, itu akan terjadi dengan sendirinya.” Jawab Erra.
Arini terlihat meragukan perkataan Erra, begitu pula dengan Lunariaa. Akan tetapi, mereka juga tak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membuat kedua kelompok ini berselisih sampai bertarung satu sama lainnya. Jadi, mereka pun tak lanjut mempertanyakan perkataan Erra.
Dan ketiga petualang itu pun menjalankan rencana mereka. Terus bergerak bersama, berusaha untuk tidak saling menjauhi dan terus untuk tetap dekat. Sembari terus menghalau serangan para kera dari dua kelompok itu.
Setelah waktu berlalu beberapa saat kemudian. Terlihat mulai ada monyet dan kera yang bentrok dan saling bertarung. Dan lama kelamaan semakin banyak pertarungan terjadi antara mereka.
“Lihat, kan? Mereka bertarung dengan sendirinya.” Ucap Erra.
Karena perselisihan antara para monyet dan kera itu semakin meluas. Ketiga petualang itu pun mendapatkan celah untuk melarikan diri.
.
.
.
“Graa!!”
Wush! Wush! Wush!
“Haha! Kau pikir bisa menyerangku dengan seranga seperti itu, hah?!”
Ezzza sedang bertarung dengan seekor beruang berbulu perak karena tak sengaja bertemu. Beruang itu memiliki tinggi sampai tiga setengah meter saat berdiri dengan dua kaki. Dan cakarnya berupa pisau-pisau besi yang begitu mengkilat, menunjukkan ketajamannya.
“Rasakan ini!”
Buak!
Sekali lagi Ezzza mendaratkan serangannya. Terlihat jelas kalau Ezzza lebih unggul. Karena ia tak terlihat terluka sama sekali. Di lain sisi, si beruang juga tak terlihat terluka. Akan tetapi, pergerakannya melambat dan tidak terkoordinasi. Ia mengalami luka lebam dan tulangnya ada yang retak bahkan patah. Tapi tak ada darah yang keluar karena semua serangan Ezzza bersifat tumpul.
Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!
“Graaaa.....”
Raungan itu, menjadi akhir dari hidup si beruang.
“Haha! Lumayan juga, dapat penghasilan tambahan!”
Ezzza pun mulai melakukan Looting pada beruang itu. Dan setelah selesai ia beristirahat sebentar.
“Suara apa itu?”
Dengan samar, Ezzza mendengar suara gaduh dari kejauhan. Ia pun jadi penasaran dan bergerak ke sumber suara. Dan ia menemukan dua kelompok primata yang tengah bertarung.
“Oooh... perang antar hewan, ya? Eh, mereka itu, kan....”
Ezzza menangkap keberadaan tiga manusia yang juga bertarung dengan para kera dan monyet.
“Ah... benar... itu dua gadis menyebalkan itu.”
.
__ADS_1
.
.