
.
.
.
Hari ini, Erra bersama Lunariaa dan Arini berpamitan dengan warga desa untuk melanjutkan petualangan mereka. Dan sekarang, ketiganya sedang berhenti sejenak seteah menghabisi beberapa ekor monster yang menghadang.
“Hm... aku mulai bosan dengan suasana hutan lebat ini.” ucap Lunariaa.
“Ah, ya... aku juga.” Tanggap Arini.
“Bagaimana kalau kita pergi ke West Desert? Suasananya pasti akan jauh berbeda daripada masih di daerah sini juga.” Ucap Erra mengusulkan tujuan baru.
“West Desert? Ya, aku cukup tertarik ke sana. Tapi itu kan jauh sekali. Untuk sampai pelabuhannya saja, kita bisa-bisa harus jalan selama sebulan atau lebih.” Tanggap Lunariaa tentang usul Erra.
“Ya, memang jauh sekali. Tapi kita bisa memotong dengan menaiki kapal sungai di pelabuhan sungai yang lebih dekat. Kalau kita terus berjalan dengan kecepatan ini, mungkin sekitar satu pekan atau paling lamanya sepuluh hari lagi kita akan sampai di pelabuhan utama untuk menyeberang ke West Desert. Bagaimana? Kalian mau coba?”
Arini dan Lunariaa saling tatap, mempertimbangkan tawaran Erra. Dan setelah beberapa saat berpikir, mereka pun memutuskan untuk mengikuti saran Erra. Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya memulai kembali perjalanannya.
Ketika baru memulai perjalanan, Erra menjelaskan kalau ada dua jalur untuk menuju ke pelabuhan sungai yang mana merupakan tempat mereka untuk menaiki kapal sungai. Jalur pertama adalah jalur para pedagang yang relatif aman, tapi cukup memutar. Sedangkan jalur kedua adalah jalur menembus hutan, yang mana di dalamnya menunggu banyak monster.
Erra menjelaskan, kalau memilih jalan menembus hutan itu lebih pendek daripada ambil jalur aman yang memutar. Akan tetapi, karena gangguan para monster di sana. Pada akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu yang sama saja.
Tanpa pikir panjang, kedua gadis itu pun memilih jalur menembus hutan. Karena menurut mereka akan lebih seru melewati jalur yang memiliki rintangan daripada yang tidak. Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan buruan di sana.
Akhirnya, ketiganya pun mengambil jalan menembus hutan dengan Erra yang menjadi penunjuk jalannya. Dan benar saja, mereka sering kali menghadapi beragam monster dan hewan buas di dalam hutan itu.
Ketiganya terus melalui jalur tersebut, dengan sesekali istirahat. Setiap beberapa saat, mereka akan bergantian untuk Log Out. Dan setelah tujuh hari alias satu pekan, ketiganya pun sampai di pelabuhan sungai yang mereka tuju.
Mereka segera mencari tempat untuk menjual barang-barang yang mereka dapatkan dari para monster yang mereka buru sepanjang jalan. Ada juga yang mereka bawa ke tempat pengrajin untuk diolah menjadi barang lainnya. Seperti pakaian pelindung atau senjata dan lainnya lagi. Erra juga menyisihkan waktunya untuk mengolah tanaman herbal yang dikumpulkannya untuk menjadi Potion dan Poison.
Total, mereka menghabiskan waktu tiga hari di pelabuhan sungai ini. Sebelum akhirnya mereka membeli tiket untuk naik kapal sungai yang tak lama kemudian akan berangkat. Dan saat ini, mereka baru saja menaiki kapal mereka.
“Ini pertama kalinya aku naik kapal.” Ucap Arini.
__ADS_1
“Ah, aku juga. Bagaimana denganmu, Erra?”
“Hm... kalau kapal, sama. Ini pertama kalinya. Tapi aku pernah naik perahu, di sungai dan danau. Tapi laut belum pernah.”
Tak lama kemudian kapal berangkat. Ketiganya mengobrol ringan tentang tempat tujuan mereka, West Desert. Dalam obrolan ini, mereka akhirnya saling membuka diri kalau mereka sama-sama tinggal di negeri tropis di dunia nyata. Dan ketiganya juga sama-sama belum pernah ke daerah dengan iklim berbeda. Maka, West Desert ini menjadi tempat pertama dengan iklim bukan tropis yang pertama mereka kunjungi.
Di tengah perjalanan, ketiganya juga curi dengar obrolan penumpang lain untuk mengumpulkan informasi. Ini adalah usul dari Erra, yang memang adalah dorongan dari Job-nya sebagai Scouts. Dan di saat curi dengar ini lah mereka mendengar sebuah kabar yang kurang enak.
Kabar itu adalah tentang dua ekor Naga Sungai yang sedang mengarungi sungai ini. Kedua Naga Sungai itu entah kenapa pergi jauh dari tempat asalnya, yang mana jarang sekali dilakukan Naga Sungai. Dan mereka berdua kerap menerjan kapal yang melintasi sungai serta memakan para penumpang yang jatuh ke sungai.
Yang tidak diketahui para penumpang ini, juga semua orang lainnya. Insiden ini bukan lah hal yang tak disengaja. Kedua Naga Sungai itu memang diarahkan untuk mengamuk dan menyerang kapal di sungai ini, oleh pihak pengembang. Karena mereka berencana untuk mengadakan sebuah Event dadakan.
“Mudah-mudahan, mereka tidak muncul di sini.” gumam Erra.
“Apa kau takut? Bukannya kau sudah biasa menghadapi mereka?” tanya Lunariaa.
“Ya, aku biasa mengahdapi mereka. Tapi aku tidak bisa menghadapi mereka di atas sungai begini. Aku biasa menarik mereka keluar dari habitatnya, dan meski begitu. aku belum pernah benar-benar menghabisi mereka. Sekarang aku ada di atas kapal yang ada di tengah sungai. Jarak ke daratan juga lumayan jauh. Jadi akan merepotkan kalau kapal ini diserang.”
“Kalau kapal ini diserang, ya jangan lawan mereka. Kita fokus kabur saja. Penumpang kapal ini kan banyak. Biarkan saja mereka yang dimakan, dan kita cari selamat.” Tanggap Arini dengan wajah datar.
Perjalanan berlanjut tanpa hambatan, dan tanpa Naga Sungai. Hingga akhirnya pelabuhan tujuan telah terlihat. Namun saat kapal mulai menepi...
BRAAAKK!!!! BRAAAKK!!!! BRAAAKK!!!! BRAAAKK!!!!
Kapal menerima hantaman dari kedua sisi dengan sangat kuat.
“Kita diserang!!! Naga Sungai!!!!” salah seorang kru kapal berteriak dari puncak tiang layar utama.
Para penumpang yang bisa bertarung terlihat bersiap untuk bertarung. Sedangkan sisanya terlihat ketakutan. Semua yang siap bertarung itu terlihat semangat untuk memburu kedua naga sungai itu, kecuali Erra dan kedua gadis yang bersamanya. Karena ketiganya siap untuk kabur.
BRAAAKK!!!! BRAAAKK!!!! BRAAAKK!!!!
“RROOOOAAARRR!!!!”
Kedua Naga Sungai itu muncul ke permukaan dan menyerang dengan semakin brutal. Hingga kapal mengalami kebocoran dan akhirnya mulai tenggelam. Erra dan kedua rekannya segera melompat ke air dan berenang menjauhi lokasi. Terlihat beberapa yang mengikuti mereka, dan ada juga yang melawan para naga. Tapi ada juga yang hanya panik dan tenggelam, menjadi santapan para naga.
__ADS_1
Ternyata para petarung yang melawan para naga hanya bisa bertahan sebentar dan menjadi santapan juga. Kemudian para naga pun mengejar mereka yang kabur berenang dan mulai menyantap mereka satu per satu. Untungnya, Erra dna kedua gadis yang bersamanya berhasil sampai pelabuhan. Tapi para naga masih mengejar hingga mengamuk di pelabuhan.
Jalan Erra dan kawan-kawan terhalang, dan mereka pun terpaksa melawan. Ketiganya tetap berusaha kabur tapi keramaian yang sangat kacau di pelabuhan ini menghambat mereka. Beberapa orang pun mulai terhempas ke sungai, termasuk...
“Ah, sial!!!”
“Erraaa!!!!”
Byur!!!
Erra terhempas dan sempat tenggelam sebentar di sungai dan mulai berusaha berenang kembali ke tepian. Tapi ternyata salah seekor Naga Sungai masuk kembali ke sungai dan mulai menyantap satu per satu orang di sungai. Erra pun memutuskan untuk berenang searah arus sungai untuk kabur. Tapi ia terkena beberapa hantaman kuat sampai tangan kirinya patah dan tak bisa digerakan.
Ia pun tergulung air sungai dan mulai tenggelam. Ia berusaha kembali ke permukaan namun kesulitan. Hingga akhirnya...
Grududuk!!!
Erra merasa menabrak sesuatu. Pemandangannya yang ada di dalam sungai tiba-tiba berubah, dan ia merasa jatuh dari ketinggian.
Bruk!
“Ah, sial! Di mana ini? Apa yang terjadi?!”
Erra kini berada di tengah ruangan minim cahaya. Yang mana dinding dan lantainya terbuat dari batu. Ia menengaok ke segala arah tanpa tujuan pasti hingga...
Wush! Wush! Wush! Wush! Wush!
Obor-obor di dinding mendadak menyala, menunjukkan wujud dari ruangan ini.
“Akhirnya, ada juga yang tiba di sini.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...