Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.19 - Kork Forest


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 19 : Kork Forest.


+++


Begitu Erra melewati gerbang barat Avalan City, ia segera disambut oleh hamparan padang yang luas. Di kejauhan terlihat ada beberapa kelompok pohon, tapi tak cukup untuk disebut sebagai hutan.


“Kalau dipikir-pikir lagi, ini pertama kalinya aku ada di tempat begini.”


Di dunia nyata, Erra sebagai Putra pernah tinggal di dua kota yang berbeda, yakni di Jakarta dan Bandung. Akan tetapi, keduanya adalah kota metropolitan. Daerah di Bandung memang masih terdapat lebih banyak tempat yang alami, tidak tersentuh urbanisasi. Namun tempat-tempat itu adalah pegunungan, dan hutan tropis. Tak ada tempat yang terdapat hamparan rerumputan saja sampai seluas ini.


Erra menarik napas dalam sebelum mulai bergerak. Ia mulai bergerak dengan berlari, mengikuti jalan yang ada untuk menuju terus ke barat.


Erra memang lah berlari, akan tetapi ia tidak bisa lari terlalu kencang, ia tak bisa memakai kecepatan maksimalnya. Itu dikarenakan keramaian jalan ini yang lumayan tinggi. Jadi, bisa dibilang Erra hanya berlari santai saja. Baru setelah meninggalkan gerbang sejauh satu kilometer lebih, akhirnya Erra bisa berlari dengan kencang.


Erra yang berlari begitu tak menyita perhatian orang sama sekali. Karena ia bukan lah satu-satunya yang berlari. Ada banyak juga orang yang bergerak dengan berlari seperti Erra. Dan kebanyakan dari mereka juga memang memiliki alasan yang sama dengan Erra. Yakni untuk mendapatkan bonus peningkatan atribut.


Dengan terus berlarian begini, ada dua atribut yang paling sering dapat bonus. Yang pertama adalah Stamina, dan yang kedua adalah Dexterity. Selain kedua atribut itu, Strength juga kadang ikut dapat bonus. Bahkan meski langka, terkadang Vitality juga dapat bagian bonusnya.


Erra terus berlari kencang, sampai akhirnya ia kehabisan stamina dan memutuskan untuk beristirahat. Ia segera ke pinggir jalan, lalu sedikit menjauh dari jalan dan segera berbaring. Ia juga berusaha untuk mengatur napasnya. Semua usaha yang dilakukan Erra ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kecepatan pemulihan dari atribut Staminanya yang sudah habis.


Erra bisa saja menggunakan Stamina Potion, alias ramuan yang berfungsi untuk mengembalikan sejumlah poin stamina dengan instan. Dan Erra juga memang membawa ramuan tersebut. Akan tetapi, ia ingin menghemat penggunaan ramuan yang memakan biaya itu.


Selain alasan untuk menghemat uang, Erra juga belum lama ini menemukan hal lain yang bisa menjadi alasannya. Itu adalah lagi-lagi masalah bonus poin untuk atribut. Dan kali ini adalah atribut Recovery.


Ternyata, setelah Erra berkali-kali memulihkan stamina dengan cara seperti ini. Ia bisa mendapatkan poin bonus pada atribut Recovery yang memiliki efek untuk memulihkan stamina.


Jika saat berlarian tadi Erra tak menyita perhatian banyak orang. Kini, dengan ia yang berbaring tak jauh dari jalan utama itu, menarik cukup banyak perhatian.


“Hm... apa anehnya orang berbaring begini di pinggir jalan?” gumam Erra.


Semakin lama semakin banyak yang memerhatikan dirinya, dan pada akhirnya membuat Erra merasa tak nyaman. Ia pun segera bangkit, dan kini mengambil posisi duduk bersila. Ia ingin segera melanjutkan lagi perjalanannya akan tetapi staminanya belum pulih. Sekarang, meski ia sudah mengubah posisinya, ia masih berusaha mengendalikan napasnya agar tetap memberi efek pemulihan yang lebih cepat.


Dan setelah beberapa saat akhirnya stamina Erra kembali pulih. Ia pun kembali berlari menuju ke tempat tujuannya.


.

__ADS_1


.


.


Setelah beberapa kali berlari dan beristirahat, Erra akhirnya melihat tempat tujuannya.


Ke mana kah sebenarnya Erra menuju?


Untuk saat ini tujuannya adalah sebuah sungai, tapi itu juga bukan tujuan akhirnya. Tujuan akhir Erra adalah hutan yang berada di seberang sungai ini. Sebuah hutan yang menjadi tempat favorit banyak pemain pemula untuk mengasah diri. Hutan yang dikenal dengan nama Kork Forest.


Untuk menyeberangi sungai ini, dan mencapai Kork Forest. Terdapat sebuah jembatan.


Jembatan ini adalah jembatan kayu yang memiliki lebar mencapai dua puluh meter. Panjang jembatan ini membentang sekitar seratus meter. Dan jembatan ini berada pada ketinggian sekitar satu meter dari permukaan air sungai.


Jembatan ini sangat ramai dengan orang yang menyeberang. Menjadikan tempat ini begitu padat. Dan karena hal ini lah, ada beberapa orang, biasanya pemain, yang memutuskan untuk menyeberang tidak dengan melalui jembatan ini. Namun langsung menyeberangi sungai ini dengan berenang.


Dan itu lah yang kini dicoba Erra.


Sebelumnya Erra sudah mengetahui keadaan di jembatan ini dari infomasi yang ia dapatkan. Dan memang ia sudah menentukan tak akan melewati jembatan, melainkan akan berenang. Akan tetapi, ia juga tak begitu saja langsung melompat ke sungai untuk berenang. Ia memerhatikan orang lain terlebih dahulu yang juga berenang.


Kedalaman sungai ini adalah sekitar lima sampai sepuluh meter. Jadi akan timbul masalah kalau sampai tak bisa berenang dengan benar. Arus sungai ini juga tak pelan, meski tak deras. Tapi kalau tidak hati-hati, maka tetap saja bisa hanyut.


Byur!!!


Dan kemudian mulai berenang dengan gaya bebas. Dan setelah beberapa saat kemudian, ia berkomentar...


“Ah... begini rasanya berenang di sungai? Lumayan repot...”


Erra berkomentar begitu ketika ia mulai merasa kesulitan untuk bisa berenang lurus ke seberang. Ia sedikit demi sedikit terbawa arus sungai yang mengarah dari utara ke selatan. Namun meski merasa lumayan kesulitan begitu, Erra berhasil mencapai seberang sungai. Dan ia pun langsung sampai di Kork Forest.


.


.


.


Beberapa waktu berlalu, Erra telah memasuki Kork Forest dan mulai menjelajah.


Kork Forest memiliki banyak pohon besar yang tinggi, dilengkapi dengan dahan yang lebat. Akan tetapi, tak cukup lebat untuk membuat cahaya matahari tak bisa menyinari bagian dalam hutan. Jadi, saat siang hari, suasana di dalam hutan ini terlihat teduh.

__ADS_1


Selain pepohonan, terdapat juga banyak semak belukar di hutan ini. Ada juga berbagai tanaman rambat. Banyak juga terdapat jamur. Dan meski tak banyak, ada juga rerumputan.


Erra berjalan dengan belati yang telah ia genggam di tangan kanannya. Ia juga berjalan dengan berhati-hati.


“Dari tadi, hanya ada serangga.”


Sedari tadi, Erra memang baru melihat beragam serangga saja. Ia bahkan belum melihat hewan kecil. Apalagi hewan buas dan monster. Tapi ternyata, tak lama kemudian...


“Hm... apa itu?”


Ada semak yang sedikit bergoyang tak jauh dari posisi Erra. Pemain berambut putih itu pun dengan perlahan mendekati semak itu. Tapi belum juga sampai, ada sesuatu yang melompat keluar dari balik semak itu. Dan sesuatu itu, langsung melompat ke arah Erra.


Dengan refleknya yang tak buruk, Erra segera berusaha menghindar. Dan ia pun berhasil melakukannya. Kemudian Erra segera mengambil kuda-kuda siap bertarung dan melihat makhluk apa yang barusan melompat ke arahnya.


“Eh?”


.


.


.


Bersambung...


Yo!


Terima kasih sudah baca, ya...


Ternyata, meski punya kerangka yang mantap. Kalau waktu untuk menulisnya tak ada, tetap saja saya tak bisa rilis bab baru secara rutin....


Semoga teman-teman pembaca bisa bersabar, ya...


Saya masih berusaha menyesuaikan dengan pola dari alur jadwal kegiatan hidup sehari-hari saya yang sedikit berubah dari sebelumnya....


Sekali lagi, terima kasih atas kunjungannya di karya saya yang jauh dari kata sempurna ini...


Semoga semua sehat selalu...


Sampai jumpa di bab berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2