Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.23 - Berburu IV


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 23 : Berburu IV.


+++


Erra memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Ia melihat ke arah sekeliling, berniat mencari tempat aman untuk beristirahat. Namun ia tak menemukan satu pun tempat yang cocok kecuali...


“Harus naik ke pohon.” Ucap Erra.


Erra pun mulai menilai pohon mana yang hendak ia panjat. Ia mencari pohon yang punya dahan yang cukup besar agar ia bisa bersantai. Dan juga kalau bisa membuatnya tak terlalu terlihat agar ia tetap aman.


“Ah... sepertinya di situ saja.”


Erra memutuskan untuk memanjat sebuah pohon. Namun saat ia baru mau mulai berjalan, ia mendapat perasaan tidak enak.


Srek!


Suara gemerisik singkat terdengar dari arah kanan Erra, dan tanpa pikir panjang ia segera mengambil satu langkah mundur, lalu...


Jleb!


Tepat di tempat Erra baru saja berdiri, kini tertanam sebuah anak panah. Perasaan tidak enaknya barusan ternyata karena ada yang mau menyerang dirinya. Dengan sigap, Erra mencabut kembali belatinya dan memasang kuda-kuda ke arah datangnya anak panah itu.


“Yo! Kelihatannya kau mau istirahat, ya? Bagaimana kalau kau main dulu sebentar dengan kami?”


Yang mengatakannya adalah seorang lelaki bertampang sangar layaknya preman jalanan. Melihat busur di tangan kirinya, Erra sadar kalau orang ini lah yang menembakan anak panah barusan. Di saat yang bersamaan dengan saat lelaki ini berbicara. Keluar lah dua orang lainnya dari balik pohon. Keduanya memiliki tampang yang sama, seperti preman jalanan.


Setelah melihat lawannya, Erra menjawab pertanyaan si pemanah.


“Dengan kalian tiga lelaki sangar? Mana mungkin aku mau main dengan kalian. Kalau kalian tiga gadis cantik aku baru mau.”


“Cih! Sombong juga kau, padahal dalam keadaan sekarat begitu!” ucap salah seorang yang baru keluar dari balik pohon dengan senjata tombak.


“Kalau aku sombong memangnya kenapa? Aku memang orang hebat, jadi pantas kalau aku sombong, kan?”


“Tidak usah banyak bicara! Kita habisi ia sekarang!” ucap lelaki yang satunya lagi, yang bersenjatakan kapak.


Si pemegang kapak dan tombak mulai maju, sedangkan si pemegang busur mulai menyiapkan anak panahnya lagi.


“Huhu! Boleh juga kau, masih bisa memasang wajah tenang begitu!” ucap si pemegang kapak.

__ADS_1


“Tentu saja, karena seperti yang kukatakan tadi. Aku ini orang hebat.” Jawab Erra.


Wajah kesal yang geram terlihat jelas di wajah ketiga lelaki ini, yang merasa Erra meledek mereka. Erra seakan mengatakan kalau dirinya yang sedang terluka parah itu, tetap terlalu hebat bagi ketiga lelaki ini untuk melawannya.


Syuut! Jleb!


Sebuah anak panah kembali melesat, dan Erra menghindarinya dengan melangkah mundur. Di saat yang bersamaan, si pemegan tombak dan kapak segera melesat mendekati Erra. Lalu si pemain berambut putih itu segera berbalik, sedikit berlari dan kemudian memanjat sebuah pohon. Tentu setelah ia menyarungkan kembali belatinya.


“Hoy! Terus mengatakan kau orang hebat tapi kabur dari pertarungan! Dasar pecundang!” teriak si pemegang tombak.


“Hah... dasar orang-orang bodoh! Yang namanya hebat itu bukan hanya dalam bertarung! Kabur dengan keren juga itu bisa disebut hebat!”


“Kabur dengan keren?” si pemegang kapak keheranan.


“Ya! Kabur dengan keren! Lihat, sekarang kalian tak bisa mengejarku, kan? Berarti aku sudah kabur dengan keren! Hahaha!”


“Kau!”


Ketiga lelaki yang berusaha menghabisi Erra itu dibuat semakin geram. Mereka memang kesulitan untuk menangkap Erra sekarang. Erra berdiam di atas dahan pohon yang daunnya rimbun, yang membbuat si pemegang busur keseulitan melihatnya, apalagi menembaknya. Si pemegang kapak dan tombak pun akan kesulitan untuk memanjat karena ukuran senjata mereka yang tak kecil.


“Ah, sudah mau rusak, ya?”


Begitu lah komentar Erra ketika melihat kondisi belatinya. Ia pun segera mengeluarkan belatinya yang lain dari inventorinya. Lalu...


Jleb!


“Wow! Tepat sasaran!” ucap Erra.


Ia baru saja mencoba melempar belatinya yang sudah mau rusak itu ke si pemegang kapak. Dan ternyata, tepat menancap di kepalanya. Yang membuat si pemegang kapak mati seketika. Si pemegang tombak pun segera mengambil jarak.


“Lihat, kan? Aku ini orang hebat. Bahkan dalam kondisi terdesak begini aku yang lebih dulu membunuh salah satu dari kalian. Hahaha!”


Itu lah kata-kata yang Erra lontarkan pada para lawannya. Tapi di dalam benaknya ia mengatakan hal lain.


‘Wow, aku beruntung. Tak kusangka akan bisa langsung begitu! Sepertinya aku memang punya keberuntungan tinggi?’


Si pemegang tombak dan busur berdiskusi.


“Apa kita mundur saja? Sepertinya ia bukan orang biasa. Mungkin ia pemain veteran yang membuat akun baru dan memulai dari awal lagi.” Ucap si pemegang tombak.


“Apa kau gila? Kau mau kita jadi lebih malu lagi?”


“Hanya dia seorang yang melihat kita, dan kita juga belum memperkenalkan diri. Masih aman untuk citra kita kalau kita mundur sekarang.”

__ADS_1


“Hm.... Ya.... Sepertinya kau benar juga. Ayo, kita mundur!”


Dari atas pohon, Erra ingin sekali menyerang kedua orang yang tengah berdikusi itu. Akan tetapi, ia pun menyadari batasan dirinya. Ia tak akan mampu untuk memenangkan pertarungan jika memang harus bertarung serius dengan kedua orang itu sekaran. Sebelumnya, ia berhasil membunuh satu dari mereka, itu ia anggap sebagai keberuntungan belaka.


Dan akhirnya, di saat kedua orang itu pergi. Erra pun merasa lega.


“Huah.... aku memang masih amatir.” Komentar Erra pada dirinya sendiri.


Ia pun memutuskan tak turun lagi, dan beristirahat di sana.


.


.


.


Setelah beberapa saat beristirahat tanpa gangguan, Erra turun dari pohon tempatnya beristirahat itu. Dan dengan segera melanjutkan perjalanannya.


‘Aku hanya punya sedikit waktu yang tersisa.’ Pikir Erra.


Erra baru melihat jam dunia nyata di panel menunya, dan ternyata waktu bermainnya sudah mau habis. Ia kini memutuskan hanya memasuki hutan sedikit lebih dalam lagi lalu segera kembali.


“Ah, sepertinya hari ini aku tidak beruntung. Apa para Boink itu memang sulit ditemukan, ya?”


Erra akhirnya memutuskan untuk keluar dari hutan. Namun baru beberapa langkah, ia sudah berhenti lagi karena mendengar suara pertarungan di dekatnya. Ia pun menghampiri sumber suara, berharap bisa mendapatkan sesuatu yang menguntungkan lagi.


“Eh? Itu, kan?”


Kini di hadapan Erra ada dua orang petualang pemula seperti dirinya yang tengah bertarung dengan sejumlah Boink. Mereka berdua terlihat cukup kerepotan melawan belasan Boink yang mengepung mereka itu. Dan kelihatannya, mereka berdua tengah berusaha kabur.


“Hm... aku sudah memeriksa berita tentang Boink dan semua mengatakan mereka adalah monster yang paling lemah. Tapi, mereka bisa mendesak petualang begini juga.” Gumam Erra.


Erra terus menonton kejadian itu, hingga akhirnya para petualang dan para Boink yang mengejarnya sudah tak terlihat lagi.


“Hm... kalau aku pergi ke sana apa aku akan menemukan Boink juga?”


Erra pun akhirnya coba pergi ke arah asal para petualang itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2