Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.27 - Timur!


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 27 : Timur!


+++


“Hahaha! Kalian memang bertiga, tapi sudah babak belur begitu! Kalian yakin mau melawanku, hah?” ucap Ezzza sambil menunjukkan sikap meremehkan.


“Kita lihat saja.” Lunariaa yang menjawab.


Ezzza pun memasang kuda-kudanya. Dan Lunariaa pun...


Tap!


...melaju, menerjang ke arah Ezzza.


“Hyaaa!!”


Trang!


Serangan kapak Lunariaa ditahan Ezzza dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya yang telah terkepal, meluncurkan tinjuan ke arah perut kiri Lunariaa. Namun...


Teng!


Erra datang menyerang.


Ezzza sedikit mundur dan kemudian mulai maju menyerang lagi. Erra melakukan gerakan yang sedikit rumit, untuk mengecohkan pandangan Ezzza. Sementara itu, Lunariaa sedikit memutar untuk melepaskan serangan lainnya. Pertarungan jarak dekat ini pun terus berlanjut.


Sementara Erra dan Lunariaa berhadapan langsung dengan Ezzza. Di garis belakang ada Arini, yang masih terdiam dalam posisi siaga. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menembakan sihir yang bisa melemahkan Ezzza.


Arini memang berani untuk maju menyerang langsung. Akan tetapi, ia tetap lah seorang penyihir. kemampuan bertarung jarak dekatnya akan sangat payah kalau dibandingkan dengan tiga orang yang ada di hadapannya saat ini.


Selain itu, kalau saja Arini hanya perlu bekerja sama dengan Lunariaa. Mungkin ia masih berani maju sekarang. Tapi masalahnya ada Erra. Yang baru saja ia temui. Ia tidak yakin bisa memahami gerakan Erra. Dan ia menghindari kejadian seperti salah serang atau semacamnya.


Trang! Tang! Buk! Dung! Wuush! Zraat! Bam! Trang! Tang! Buk! Dung! Wuush! Zraat! Bam! Trang! Tang! Buk! Dung! Wuush! Zraat! Bam! Trang! Tang! Buk! Dung! Wuush! Zraat! Bam! Trang! Tang! Buk! Dung! Wuush! Zraat! Bam!


Ezzza terus bertukar serangan dengan Erra dan Lunariaa. Meski pun satu lawan dua, Ezzza bisa mengimbangi lawannya. Karena memang seperti yang dikatakan Ezzza sebelumnya. Mereka sudah babak belur. Sebagai salah satu tandanya adalah serangan mereka yang kurang akurat. Dan mereka juga hampir tak memakai Skill apa pun dalam pertarungan ini.


Arini melihat celah, dan...


“Water Ball!”


Wuush!


Byar!

__ADS_1


Serangan bola air itu tepat mengenai kepala Ezzza. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan fokus. Erra pun melihat kesempatan emas untuk memberi serangan kuat.


Erra memutar tubuhnya ke sisi belakang Ezzza, sambil mengambil posisi berjongkok dan....


Jleb! Srat!


“Kagh!”


Ezzza tak merasakan sakit, namun ia kaget saat bagian belakang lutut kanannya terkena serangan. Serangan yang menikamnya, lalu menebasnya.


Karena serangan dari Erra itu, Ezzza kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah kanan. Lunariaa pun memanfaatkannya dengan mengayunkan kapaknya tepat ke arah kepala Ezzza. Tapi sayangnya, sesaat sebelum serangan itu mendarat. Ezzza berguling dan berhasil menghindar.


Erra dan Lunariaa mengejarnya. Ezzza pun melemparkan sesuatu ke arah mereka, dan...


BLARR!!!


Lunariaa dan Erra terkena serangan ledakan dari Ezzza yang memakai sebuah benda semacam kristal yang berfungsi seperti granat. Lunariaa terdorong mundur sampai jatuh terduduk. Sementara itu, Erra yang terkena ledakan lebih dekat. Sampai terhempas dan menabrak sebuah pohon besar di belakangnya.


Karena lawannya teralihkan, Ezzza pun menyempatkan diri meminum sebotol Healing Potion. Lalu ia kembali bergerak untuk menerjang. Namun kali ini yang ia terjang bukan lah Lunariaa atau pun Erra. Melainkan Arini, si penyihir yang sekarang sendirian.


“Water Ball!”


Byar!


Arini coba menyerang Ezzza agar tak mendekatinya. Namun serangan itu berhasil dihindari Ezzza dan ia terus menerjang ke arah Arini.


Wush!


Buak!


Tendangan Ezzza mendarat di perut Arini, membuatnya sedikit terhempas. Ezzza berniat mengejarnya namun...


Wuush!


...ia merasakan serangan dari belakang dan menghindar. Dan benar saja, Lunariaa baru saja mengayunkan kapaknya. Dan kalau Ezzza tak menghindar, serangan itu akan mendarat tepat ke kepalanya.


“Timur!”


Sambil berteriak seperti itu, Erra menerjang Ezzza. Mendengar teriakan Erra, kedua gadis itu sedikit terdiam karena tak langsung paham. Namun, mereka akhirnya paham kalau Erra mengajak mereka bergerak ke timur.


Mereka sadar akan hal itu, karena ingat perkataan Erra kalau ia punya teman. Tapi harus pergi lebih ke timur, untuk setidaknya bisa memanggil mereka. Kedua gadis itu pun langsung coba bergerak ke timur, sambil masih menghadapi Ezzza.


Keduanya sadar, kalau mereka saat ini bisa dikalahkan oleh Ezzza. Mereka ingat Ezzza punya rekan, yang setidaknya ada dua orang. Dan saat ini tak terlihat satu pun. Bisa saja rekannya muncul dengan mendadak, dan menyergap mereka. Kalau pun Ezzza benar-benar sendiri, mereka masih mungkin kalah. Karena sekali lagi, mereka babak belur. Sedangkan Ezzza masih dalam kondisi prima.


‘Sepertinya akan ada yang merepotkan kalau mereka terus bergerak ke timur. Aku harus menghabisi mereka secepat mungkin.’ Gumam Ezzza dalam benaknya.


Ezzza pun menambah tempo serangannya, dan memakai lebih banyak Skill. Ia juga sesekali melepaskan kristal granatnya. Dan ini semua membuar Erra, Lunariaa, dan Arini kerepotan. Mereka terus bertambah lukanya. Juga semakin kehabisan stamina.

__ADS_1


Erra melihat keadaan sekitar, lalu mengambil sebuah peluit dari sakunya. Dan...


PUUUIIIIIIIIIIITTT!!!!!!!!!!!


Erra meniup peluit itu sekuat tenaga. Menyebabkan bukan hanya Ezzza yang terkejut. Tapi Lunariaa dan Arini juga ikut terkejut.


Mendengar peluit itu, Ezzza jadi semakin waspada. Curiga hal buruk akan terjadi. Di sisi lain, Lunariaa dan Arini merasa lebih optimis. Meski mereka tak tahu pastinya, tapi mereka bisa menebaknya. Kalau Erra coba memanggil teman-temannya.


Namun setelah beberapa saat berlalu, pertarungan berlanjut tanpa terjadi hal apa pun. Membuat kewaspadaan Ezzzaa menurun dan rasa percaya dirinya meningkat kembali. Sedangkan Arini dan Lunariaa, menjadi turun lagi semangatnya.


GRAK!!!


“Guagh!!!”


Ezzza menendang perut Erra, dan menabrakannya ke pohon yang ada di belakangnya.


BLARR!!


“Huah!!”


Ezzza kemudian melepar kristal granat tepat ke wajah Lunariaa yang hendak menerjangnya. Membuat wajah gadis itu terkena ledakan dengan telak.


Ezzza kemudian menerjang Arini. Gadis itu sedang kehabisan Mana, jadi ia pun siap bertarung langsung.


Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak!


Arini bukan lah lawan Ezzza dan dengan cepat berhasil dijatuhkan.


“Hahaha! Lihat sendiri, kan? Kalian akan kuhabi...”


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Ezzza tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena ia terkena hujan anak panah.


Bruk!


Ezzza pun terjatuh, dan mendapat notifikasi kalau dirinya terkena racun, berbagai racun. Itu karena semua anak panah yang tertanam di tubuhnya itu berlumuran racun. Dengan tubuhnya yang tak bisa bergerak, Ezzza menggulirkan matanya, berharap bisa melihat arah sumber serangan itu.


Ia pun mendapati kalau serangan itu berasal dari seberang sungai. Dari beberapa orang pemanah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2