
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 43 :
+++
[Kamu membunuh : 1 Hell Hog!]
“Hah..!! Akhirnya...”
Erra menghela napas lega setelah melihat notifikasi itu pada pandangannya. Meski sangat senang, Erra tak membuang waktu untuk bersantai. Karena bisa saja ada yang menyambar buruannya. Karena lagipula, itu tingkahnya sendiri yang suka menyambar buruan orang lain. Jadi, ia lumayan takut mendapat karmanya.
Erra biasanya selalu waspada dan bisa sangat sensitif tentang keberadaan orang lain di sekitarnya. Itu juga yang menjadi alasan ia bisa dengan cepat menyadari keberadaan para penguntit dari Golden Stars. Tapi, pertarungannya barusan menguras konsentrasinya. Sehingga selama pertarungan itu ia tak bisa memperhatikan sekelilingnya. Bisa saja, kini telah tiba petualang lain yang suka menyambar hasil buruan orang lain.
“Hm.. lanjut tidak, ya?” ucap Erra sambil memeriksa perangkatnya.
Setelah menimbang selama beberapa saat, akhirnya Erra memutuskan untuk tak melanjutkan perburuan Hell Hog hari ini. Dan ia pun segera pergi ke arah luar hutan, sekaligus ke arah Avalan City.
.
.
.
“Baiklah, omong-omong... apa kabar dengan si Erra itu?” tanya Kronoz.
“Aku benci mengakuinya, tapi pengintai kita ketahuan.” Jawab Fitz.
“Ketahuan? Bisa kau jelaskan?”
“Ketahuan, ya ketahuan. Si Erra itu ternyata menyadari kalau dirinya diawasi. Ia sampai tahu berapa banyak orang yang mengikutinya, dan ciri-ciri dari setiap orangnya. Menandakan kalau ia memang tahu jelas tentang pengintai yang membuntutinya.”
“Bagaimana kau tahu kalau kita ketahuan?”
“Ia menghampiri para pengintai kita dan mengatakannya sendiri. Dan, sedikit memberi ancaman.”
“Ancaman? Wah! Menarik! Apa ancamannya?”
“Ia bilang ia akan menjadi kerikil kecil dalam sepatu yang tak bisa diusir, kecuali dibuang bersama sepatunya.”
__ADS_1
“Wahaha! Orang ini punya nyali. Tapi, apa ia tahu kalau pengintainya adalah kita atau ia hanya tahu kalau dirinya diintai.”
“Ia belum tahu kalau kita, Golden Stars, yang mengintainya. Tapi ia sudah menaruh curiga. Ia curiga kalau yang mengintai dirinya berasal dari Golden Stars atau The Beast.”
“Tajam juga dia. Kira-kira, kenapa ia curiga pada Golden Stars dan The Beast?”
“Tak perlu kira-kira, karena ia sudah mengatakan alasannya. Itu karena menurutnya, Konfederasi Avalan adalah wilayah bergerak kita. Dan The Beast suka bergerak di daerah orang lain.”
“Ah... aku semakin penasaran dengannya. Sekarang, apa yang sedang ia lakukan?”
“Setelah memberi ancaman, ia terus berburu di Kork Forest. Terakhir kali kudengar, ia semakin lihai dalam memanah. Dilihat dari pergerakannya, kemungkinan ia akan segera memasuki Kork Forest bagian dalam. Lalu, ada satu hal yang aneh adalah, tentang hasil buruannya. Biasanya ia selalu menjual semua hasil buruannya, tapi kini tiba-tiba saja ia berhenti melakukannya.”
“Apa kau punya kecurigaan?”
“Ya, ada. Menurutku, karena ia bisa membuat Low Healing Potion 1 dan sejenisnya. Pasti ia juga bisa membuat racun. Plague Pig yang ia buru setiap hari, seperti yang kau tahu adalah bahan bagus untuk racun. Jadi, aku curiga ia sedang membuat racun.
Tapi yang membuatku bingung adalah, tentang untuk apa racun yang dibuatnya. Dengan jumlah Plague Pig yang ia buru tiap harinya. Ia bisa membuat sangat banyak racun, tapi tak ada yang ia jual sama sekali.”
“Waspada lah, Fitz. Entah kenapa aku merasa ini ada hubungannya dengan ancamannya.”
“Kronoz, jadi kau menganggap serius ancamannya?”
“Memangnya kau tidak?”
“Kalau begitu, mulai sekarang anggap lah itu ancaman serius.”
“Baik.”
.
.
.
Erra berjalan santai menuju ke penginapannya. Tapi, mata dan telinganya sangat mewaspadai sekelilingnya. Ia sedang memperhatikan para penguntitnya, yang kini sedikit lebih sulit diperhatikan.
‘Sepertinya, sekarang sudah waktunya.’ Gumam Erra dalam hatinya.
Ia segera memasuki kamarnya di penginapan, lalu segera mengemasi barang-barangnya. Ia memasukan sebanyak mungkin barangnya ke dalam inventori sampai penuh. Lalu ia mengubah penampilannya.
Ia memakai rambut palsu hitam legam yang punya poni lurus. Dan rambut palsunya ini sangat panajng hingga mencapai bokongnya. Rambutnya ini dikepang satu. Lalu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai para penyihir tipe penyembuh. Salah satunya adalah jubah putih bertudung dengan corak biru.
__ADS_1
Selain semua itu, Erra memakai riasan wajah. Ia memakai perona bibir dan pipi, dan juga bulu mata lentik. Dan kini, sosok Erra yang biasanya segera menghilang. Apalagi, setelah ia menghilangkan wajah datarnya dengan wajah ramah berhiaskan senyuman tipis.
Kini Erra memiliki penampilan androgini. Ia terlalu cantik untuk disebut lelaki. Namun terlalu gagah untuk disebut perempuan.
Ia memakai tudung mantel atau jubahnya. Sebelum akhirnya keluar dari penginapannya.
Saat keluar dari penginapan, Erra sempat berpapasan dengan beberapa penguntitnya. Tapi tak ada yang menyadari penyamarannya. Dan Erra pun bergerak dengan bebas menuju ke tempat tujuannya.
Ke mana kah tempat tujuannya?
Ia menuju ke sebuah penginapan lain yang tak begitu jauh dari penginapannya. Ia masuk ke penginapan itu dengan tampilan menyamarnya. Ia menyewa kamar yang cukup besar, lalu segera mengosongkan semua isi inventorinya dan meninggalkannya di kamar barunya itu. Sedangkan ia kembali ke penginapan awalnya untuk mengambil sisa barangnya.
Saat kembali ke penginapan lamanya, Erra sempat mengganti penampilannya. Ia mengganti rambut palsunya dengan rambut panjang bergelombang berwarna hijau tua. Dan pakaiannya masih terlihat seperti penyihir. Tapi dengan yang biasa dipakai penyihir angin. Meski berganti penampilan, ia tetap mempertahankan tampilan androgininya.
Saat kembali ke penginapan lamanya, Erra tak segera memasuki kamarnya. Melainkan ke meja resepsionis untuk memesan kamar baru. Saat sedang memesan kamar baru itu, Erra bisa melihat ada satu orang penguntitnya di dalam lobi penginapan. Tapi penguntit itu tak menyadari keberadaan Erra.
Setelah mendapatkan kunci kamar barunya, Erra segera pergi dari meja resepsionis. Tapi, Erra kemudian tak menuju ke kamar barunya. Melainkan menuju kamar lamanya. Tindakannya memesan kamar baru hanya lah sandiwara.
Erra kemudian mengambil semua barangnya yang tersisa, yang untungnya pas untuk dimasukan ke dalam inventorinya sampai penuh. Lalu ia pergi keluar penginapan dengan mengganti penampilannya lagi.
Dengan cara yang sedikit rumit ini, Erra akhirnya berhasil melepaskan diri dari pengawasan para penguntitnya.
.
.
.
“Apa?! Kalian kehilangan jejaknya?! Bagaimana bisa?!” Fitz terlihat sangat kesal saat mendapat laporan kalau para anak buahnya kehilangan jejak Erra.
“Kami, mengakui kami benar-benar tak bisa memperkirakannya. Seperti biasanya, ia masuk ke penginapannya. Ia biasa menghilang beberapa hari, kemungkinan karena Log Out. Tapi, setelah kami menunggu beberapa pekan. Kami tak melihatnya keluar sama sekali. Selain itu, ternyata kamarnya sudah ganti penyewa.”
“Aku tidak mau tahu, yang penting sekarang temukan lagi dia! Kronoz mulai tertarik padanya. Kalau sampai Kronoz tahu kalian kehiangan jejaknya. Kalian akan tanggung akibatnya!”
“S-siap!!!”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...