
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 30 : Titik Berbelok.
+++
“Silakan, ada yang bisa saya bantu?”
“Tentu saja ada, makanya aku datang padamu.”
“Ah, maaf. Kalau begitu, apa keperluan Anda?”
“Aku ingin mendapat Job yang bisa membuat ramuan penyembuh atau yang sejenisnya. Aku dengar aku bisa dapat di tempat ini, benar kah?”
“Oh? Tentu, itu benar sekali. Anda bisa menjadi Herbalist di sini.”
“Hm... Kukira Job yang kumau itu Pharmacist.”
“Anda bisa mengambil Job Pharmacist setelah mengambil Herbalist atau Chemist.”
“Bisa aku tahu apa perbedaan kedua Job itu? Herbalist dan Chemist, bukan kah keduanya membuat ramuan?”
“Ya, Anda benar. Keduanya bisa membuat ramuan, tapi ada perbedaan pada jenis ramuan yang bisa dibuat kedua Job tersebut. Secara sederhana, Herbalist fokus pada pembuatan ramuan pemulih Hit Point, Stamina Point, dan Mana Point. Selain itu juga bisa membuat racun dan penawar racunnya. Chemist pun bisa melakukannya, akan tetapi untuk mencapai hasil kualitas yang sama akan jauh lebih sulit. Karena Chemist bisa membuat lebih banyak lagi jenis ramuan. Tak terbatas seperti Herbalist.
Jika Anda ingin fokus pada pembuatan ramuan pemulih, maka lebih baik mengambil Job Herbalist. Namun jika Anda ingin bisa membuat lebih banyak jenis ramuan, maka pilih lah Job Chemist.”
“Hm... Baik lah kalau begitu aku akan ambil Herbalist saja. Bagaimana caranya?”
Erra telah memantapkan dirinya untuk mendapatkan Job yang bisa memberinya kemampuan untuk membuat ramuan. Terutama adalah ramuan untuk memulihkan Hit Point, Stamina Point, juga Mana Point. Ia memutuskan ini setelah melakukan penelitian sederhana. Yang mana menunjukkan dengan kemampuan ini ia bisa mendapatkan penghasilan.
Erra sadar betul, meski ia bersekolah bahkan sampai perguruan tinggi sekali pun. Riwayat hidupnya akan menghambat dirinya untuk mendapatkan pekerjaan. Satu-satunya yang paling memungkinkan bagi dirinya adalah membuat usaha sendiri. Yang mana itu juga tak akan mudah.
Karena itu lah, ia sedikit terpikirkan untuk bisa menghasilkan uang dari Ardanium’s Tale Online. Setelah ia membaca beberapa berita tentang para pemain yang berhasil mendapat penghidupan dari permainan ini. Bukan penghidupan yang pas-pasan, melainkan penghidupan yang layak. Bahkan ada yang sanggup membiayai keluarganya yang memiliki beberapa anak.
Di Ardanium’s Tale Online, baik avatar atau pun Lander sama-sama bebas mengambil sebanyak apa pun Job yang mereka inginkan. Hanya saja, tentu tetap ada risikonya. Yang paling sederhana sebagai risiko dari mengambil terlalu banyak Job adalah tidak mampunya seseorang memaksimalkan potensi salah satu Job-nya. Karena harus membagi tenaga, waktu, dan lainnya.
Karena itu lah, nyatanya sekarang kebanyakan orang hanya mengambil dua atau tiga Job saja. Baik itu pemain atau pun NPC.
__ADS_1
Pagi ini Putra berangkat sekolah seperti biasanya. Dan seperti biasa pula ia sulit mencapai kelasnya karena banyak hambatan. Seperti saat ini...
“Putra, bisa minta waktumu sebentar?” ucap seorang gadis.
“Kalau kurang dari lima menit bisa.” Jawab Putra dengan topeng senyuman ramah dan hangatnya seperti biasa.
“Aku hanya mau tanya, apa kau punya waktu luang sepulang sekolah? Ada yang ingin kubicarakan, tapi sepertinya akan sulit kalau di sekolah.”
“Hm... sepertinya... kalau sebentar bisa saja.”
“Baiklah! Kalau begitu, sepuluh menit setelah bel sekolah, aku akan menunggumu di gerbang sekolah.”
“Ya...”
Gadis itu pun segera meninggalkan Putra.
“Mau apa sih dia?” gumam Putra dengan suasana hatinya yang sedikit jengkel.
Gadis itu adalah gadis yang tempo hari Putra temukan sedang berduaan di belakang gedung tua sekolah. Gadis itu benar-benar berhenti dari pencalonan dirinya sebagai ketua osis. Dan akhirnya posisi ketua osis diambil oleh saingan terberat semua calon, yakni Esa.
Sejak kejadian itu, gadis ini sebenarnya beberapa kali mencoba untuk menguntit Putra. Ia hanya ingin memastikan apa yang dilihatnya saat kejadian itu sebenarnya. Ia yakin sekali melihat sosok lain Putra yang begitu dingin bagaikan pembunuh berantai dalam film-film. Tapi, di saat yang bersamaan juga ia melihat sosok Putra yang lembut dan hangat seperti biasanya.
Gadis itu tak punya motif lain, ia hanya benar-benar merasa penasaran saja. Namun, setelah cukup lama memperhatikan Putra secara intens, ada perasaan berbeda yang tumbuh di hatinya. Singkat cerita, gadis itu mulai jatuh hati pada Putra.
Setelah menyadari perasaannya pada Putra, ia tak langsung bisa menerimanya. Karena ia merasa seorang seperti Putra tak akan mau dengan gadis sepertinya. Seorang gadis yang mau saja diajak bermesraan di tempat dan waktu yang tak layak. Di sisi lain, ia juga takut kalau ternyata Putra yang asli adalah Putra yang dingin itu.
Putra sampai di kelasnya, seperti biasanya ia langsung meluncur ke tempat duduknya. Tapi, kini di dekat tempat duduknya sedang berkumpul beberapa siswa yang satu kelas dengannya. Mereka sedang menonton sesuatu di layar ponsel mereka bersama-sama.
Putra duduk tanpa mempedulikan mereka, dan tak ingin sama sekali terlibat dengan urusan mereka. Tapi...
“Oy, Putra! Selamat pagi!” sapa Esa yang ada di kumpulan itu.
“Ya, selamat pagi.” Jawab Putra dengan acuh tak acuh.
“Hey, apa kau tahu tentang ini?”
“Tidak.”
Esa baru mau menunjukkan layar ponselnya, tapi Putra langsung menjawab tanpa melihat sama sekali.
__ADS_1
“Hey, kau belum melihatnya sama sekali!”
“Memangnya kau mau menunjukkan apa?”
“Ini!”
Esa menunjukkan layar ponselnya, yang mana ada gambar dua gadis muda dengan usia sekitar dua belas atau tiga belas tahun.
“Memangnya kenapa dengan ini? Apa kau jadi pedofil?”
“Heya! Putra! Kalau pun aku menyukai mereka, itu tak akan menjadikanku pedofil. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah...”
“Aku tahu mereka Bloody Angels, kan?”
Putra memotong perkataan Esa. Sedangkan Esa sendiri sedikit terkejut Putra mengetahui hal semacam ini. Setelah cukup lama melakukan ‘penelitian’ terhadap Putra, Esa menemukan kalau Putra tidak menyukai jenis musik apa pun. Ia hanya sedikit menyukai musik instrumental klasik.
‘Penelitian’ Esa tak sepenuhnya salah, tapi juga tak sepenuhnya benar.
Esa bertanya begini di depan umum tentu saja masih dengan niatan menurunkan citra Putra. Kalau kali ini Putra tak mengenali duo gadis pemusik yang sedang naik daun di internet itu. Esa akan merasa dirinya sudah sedikit mengungguli Putra.
Karena ternyata Putra tahu tentang Bloody Angles, Esa coba menanyakan lagu-lagu mereka. Yang ternyata Putra mengetahui semuanya.
“Waha! Ternyata kau tahu yang begini juga, ya?”
“Aku tidak tahu maksudmu, tapi tentu saja aku tahu. Memangnya aku tinggal di tengah hutan belantara sampai tidak tahu tentang mereka berdua?”
“Hahaha! Benar juga, ya? Eh, menurutmu kenapa dua gadis manis ini memakai nama yang cukup menyeramkan begitu, ya?”
“Apa maksudmu menyeramkan? Menurutku itu nama yang tragis tapi juga jujur.”
“Eh? Aku malah lebih tidak paham kalau kau bilang begitu.”
“Bloody Angels berarti Malaikat atau Bidadari Berdarah. Sedangkan ‘berdarah’ adalah simbol dari ‘terluka’. Menurutku, kedua gadis itu jujur tentang keadaan diri mereka yang entah terluka seperti apa. Kalau kau cermat, kau bisa lihat pilihan lagu mereka.
Sampai saat ini, mereka belum pernah menyanyikan lagu orisinil mereka sendiri. Mereka hanya menyanyikan lagu lain yang sudah terkenal dan membuat aransemennya. Dan lihat lah pilihan lagu mereka. Meski ada beberapa lagu ceria, tapi tetap saja lagu ceria yang mereka pilih memiliki kisah perih di baliknya.”
Bukan hanya Esa seorang, tapi semua yang mendengar penjelasan Putra dibuat terkagum. Selama ini, perbincangan tentang pemilihan nama yang dirasa kurang tepat oleh kedua gadis itu sangat lah panas di forum internet. Tak pernah ada satu pun yang menyatakan hal seperti yang Putra nyatakan.
Dua gadis ini adalah dua gadis yang memiliki paras yang memang begitu manis. Mereka adalah siswi SMP yang gemar bermusik. Salah satunya memainkan piano, dan satunya lagi bernyanyi sambil memainkan gitar akustik. Mereka mulai terkenal di media sosial FaceGram, lalu menyebar ke YouCube. Dan sekarang di berbagai media.
__ADS_1
Kedua gadis itu bernama Rani dan Rika.
Bersambung...