
Erra yakin para penguntitnya ini berasal dari kelompok besar karena jumlah mereka yang banyak. Selain itu, pergerakan mereka sangat terkoordinasi.
‘Aku cukup beruntung bisa menyadari pergerakan mereka.’ gumam Erra dalam benaknya.
‘Hm... kalau kuingat lagi, sepertinya mereka sudah cukup lama mengikutiku. Apa tujuan mereka, aku tak tahu. Tapi ini artinya aku memang harus bertambah kuat secepatnya. Rencana mencari banyak uang sepertinya harus ditunda sementara waktu. Kalau mereka ternyata berniat buruk, aku pasti tak akan bisa melawan.’
Erra berjalan di jalan utama Avalan City ini dengan terlihat sangat santai. Ia sesekali melirik, atau bahkan melihat-lihat barang dagangan yang ada di pinggiran jalan. Ia berusaha bersikap tak ada yang berbeda darinya meski ia sudah menyadari keberadaan para penguntit itu. Tentu saja ini untuk mengelabui para penguntit agar berpikir kalau ia belum menyadari keberadaan mereka.
‘Sial... mereka benar-benar ada di setiap sudut!’
Erra bergerak sambil memperhatikan sekelilingnya. Mencoba untuk mencari celah agar bisa loloss dari mata mereka yang mengawasinya. Akan tetapi, Erra mendapati kalau mereka berada di berbagai macam sudut yang bisa mengawasi pergerakannya secara detail. Dan ia tak akan punya kesempatan untuk menghindari mereka.
‘Ah, kalau begini. Ya, sudah lah. Aku lakukan apa saja.’
Erra pun menyerah untuk menghindari mereka. Dan akhirnya mulai melakukan apa yang memang ia rencanakan sebelumnya. Yaitu adalah menuju kembali ke tempat pelatihan Scouts untuk mempelajari kemampuan baru.
.
.
.
“Hah... Selesai juga. Berapa lama yang kuhabiskan di sana, ya?”
Beberapa hari dalam hitungan dunia virtual Ardanium’s Tale Online telah berlalu. Dan Erra kini telah berhasil mempelajari kemampuan untuk memanah.
Sebagai seorang Scouts, Erra bisa mendapatkan kemampuan memanah. Akan tetapi, kemampuannya tetap tidak sebaik Hunter, apalagi Archer. Scouts bisa memanah, tapi hanya memakai busur sederhana berukuran kecil. Yang mana kekuatan tembakannya, dan jarak jangkaunya tak terlalu tinggi.
“Hm... sepertinya tiga hari kurang. Baiklah, sekarang aku akan mulai berburu.”
Erra kembali pergi ke arah barat Avalan City.
‘Mereka masih ada. Sebenarnya apa mau mereka?’
Erra sedikit menyelidik ke sekitarnya. Dan ia bisa merasakan masih ada beberapa penguntit yang mengawasinya. Tapi ia berusaha mengabaikan mereka dan segera meluncur ke arah Kork Forest.
.
.
.
Erra telah tiba lagi di Kork Forest bagian tengah. Ia akan coba berburu Plague Pig lagi. Kali ini penampilan Erra bermasker seperti sebelumnya. Tapi ada yang sedikit berbeda darinya. Dan itu adalah busur di tangan kirinya, dan wadah anak panah alias quiver di punggungnya. Quiver itu kelihatannya terisi oleh sekitar dua puluh anak panah, tapi nyatanya ada seratus anak panah di dalmnya.
“Hm... kalau dipikir lagi... lebih baik sekarang aku lepas masker dulu, ya?”
Erra berpikir begitu karena cara palingm sudah menemukan Plague Pig adalah dengan mencari baunya. Dan pemakaian masker bisa menghalangi penciuman Erra.
“Ah, sepertinya ada satu di sekitar sini.”
__ADS_1
Erra mencium lagi bau busuk yang kini mulai akrab di hidungnya dan mengikuti arah bau itu. Sekarang, Erra juga sudah lebih terbiasa mencari arah sumber bau.
Setelah beberapa saat mencari, Erra berhasil menemukan arah yang tepat dan segera bergegas ke arah tersebut. Dan ketika bau busuk itu semakin menyngat, ia pun memakai maskernya lagi. Selain itu avatar bermata merah ini juga menyiapkan busur dan anak panahnya.
“Ah, itu dia.” Ucap Erra saat melihat seekor Plague Pig pada jarak sekitar dua puluh meter dari dirinya.
Erra mulai berjalan perlahan, sambil berusaha mendekati Plague Pig itu. Meski Erra sekarang memegang busur, ia belum punya keyakinan untuk bisa menembak tepat sasaran dari jarak sejauh itu di tengah hutan yang cukup lebat ini.
“Seharusnya, dari sini cukup.” Bisik Erra pada dirinya sendiri yang kini ada pada jarak sekitar delapan meter dari si Plague Pig.
Erra mulai mengarahkan senjatanya ke arah monster b4bi hijau itu. Lalu...
Krreeeret!
Begitu lah suara tali busur yang Erra tarik perlahan. Lalu saat merasa yakin bidikannya sudah tepat, Erra menahan napasnya. Dan...
Syuut!
JLEB!!
“NGOORRRRKK!!”
Anak panah yang Erra lesatkan tertanam dalam pada paha kiri kaki belakang si monster. Dan si monster yang kaget coba melarikan diri setelah sedikit melompat.
Tentu Erra tak membiarkan targetnya lolos. Ia pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dan berlari ke arah monster hijau itu sambil menyiapkan anak panah lainnya. Ia berniat menghabisi monster ini sepenuhnya memakai busur.
Syut! Jleb!
Syut! Jleb!
Syut! Jleb!
Syut! Jleb!
Syut! Jleb!
Syut! Jleb!
Erra menambah lima tembakan lagi, dan akhirnya si monster b4bi mulai melambat larinya. Erra tak berhenti memberi tembakan sampai akhirnya ia mendapatkan...
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
“Ah, berhasil juga.”
Notifikasi atau pemberitahuan itu selalu muncul saat seorang pemain membunuh suatu objek hidup di dunia virtual ini. Biasanya Erra tak mengaktifkan pemberitahuannya karena merasa sedikit mengganggu. Tapi belakangan, ia mengaktifkannya.
Erra memunguti anak panahnya lagi, karena masih bisa dipakai. Setelah ia mengumpulkan semua sumber daya yang dijatuhkan si Plague Pig, ia pun melanjutkan perjalanannya untuk memburu lebih banyak lagi Plague Pig.
.
__ADS_1
.
.
Ruang rapat.
Itu lah yang pertama terlintas saat melihat ruangan ini. Karena keberadaan meja panjang yang dikelilingi banyak kursi ada di tengah ruangan ini.
Ruang rapat ini bukan lah ruang rapat biasa. Karena baik itu meja, kursi, atau pun dekorasi ruangan ini terkesan sangat mewah. Karena semua bercorakan emas. Bahkan ada banyak dekorasi yang berwarna emas sepenuhnya.
Terlihat ada dua orang yang sedang berbincang di ruang rapat yang mewah ini.
“Hm... begitu, ya? Kalau begitu, baik lah. Terima kasih atas kerja kerasmu dan semua anak buahmu. Ada lagi yang mau kau sampaikan, Fitz?”
“Apa kau mau dengar tentang Erra, Kronoz?”
“Oh... iya! Aku baru ingat tentangnya. Aku menyuruhmu mengumpulkan informasi tentang orang itu juga, ya? Bagaimana? Apa ada yang menarik?”
“Belum ada hal besar yang dilakukannya. Tapi, ada beberapa hal yang dilakukannya belakangan ini yang sedikit menarik.”
“Apa itu?”
“Setelah memasang promosi beli dua gratis satu untuk barang dagangannya, ia mendapatkan kesuksesan yang cukup besar. Tapi itu hanya bertahan tiga hari saja, karena para pemain besar langsung mengalahkannya. Dan kini, kalau kau melihat pasar di Ardanium’s Tale Online ini. Kau akan mendapati perubahan besar.
Kau tahu sendiri, perdagangan di dunia ini sangat lah sederhana. Bagi penjual ada barang, pasang harga, jual. Paling promosi potongan harga hanay berlaku untuk mpembelian dalam jumlah besar. Lalu di sisi pembeli juga, mereka hanya mencari barang yang mereka butuhkan. Melakukan sedikit penawaran dan membelinya.
Kini, semua itu telah berubah. Para pedagang berbondong-bondong membuat beragam promosi layaknya di dunia nyata. Dan para pembeli juga sekarang lebih semangat untuk berbelanja. Bahkan makin banyak pembeli yang tidak menawar harga barang lagi. Karena promosi yang ada membuat harga barang tetap terjangkau.”
“Jadi, kau bilang si Erra ini menggerakan roda perdagangan dalam skala besar dengan satu tindakannya? Dan apa maksudmu ia hanya bertahan tiga hari dan ia kalah?”
“Ya, orang ini menggerakan salah satu roda penggerak dunia inidengan tindakannya. Dan yang kumaksud itu, sekarang ia sudah kalah bersaing dari para pedagang kelas kakap. Lalu, kini ia menarik semua barang dagangannya dan berhenti berdagang.”
“Hah? Apa ia menyerah?”
“Tampaknya tidak. Sepertinya ia merencanakan sesuatu. Karena kelihatannya ia masih memproduksi ramuan yang biasa ia jual seperti biasanya. Ia hanya tak menjualnya saja.”
“Apa hanya itu yang ia lakukan?”
“Tidak. Belakangan ia aktif berburu Plague Pig, ia bahkan mempelajari panahan untuk berburu.”
“Ah... kita nanti apa yang ia lakukan ke depannya.”
“Ya.”
Golden Stars benar-benar mengawasi Erra. Dan mereka yang menguntit Erra tidak lain dan tidak bukan adalah anggota Golden Stars.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...