Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.42.4 - Pertempuran Selatan.


__ADS_3

.


.


.


Kondisi tanpa komandan alias tanpa pemimpin, adalah suatu hal yang sangat buruk untuk terjadi pada sebuah pasukan. Namun, itu lah kenyataan yang terjadi pada pasukan dari Desa Gezar ini, setelah komandan ketiganya tewas.


Mereka sedari awal sudah bersiap, jika komandan pasukan mati. Jadi, mereka sudah membuat semacam rantai komando yang menentukan komandan yang baru saat komandan yang lama mati. Akan tetapi, mereka hanya menyiapkan dua orang ‘komandan cadangan’. Karena mereka tak menyangka hal semacam ini akan terjadi.


Kini mereka sedang terhenti, tak bergerak. Karena mereka bingung tentang pergerakan berikutnya. Meski mereka memiliki beberapa pilihan, belum ada yang mengambilnya. Karena semua ragu untuk melakukannya.


Pilihan pertama yang bisa mereka ambil adalah untuk meneruskan misi tanpa komandan. Mereka hanya perlu untuk terus bergerak ke arah Desa Green Hut lalu melancarkan serangan. Akan tetapi, masalahnya adalah tidak akan ada yang memberi koordinasi pada gerakan mereka.


Pilihan kedua adalah untuk memilih komandan yang baru dari sisa anggota yang ada. Yang jadi masalah adalah, sekali lagi, mereka adalah pasukan dadakan. Tak semua orang saling kenal. Bisa saja akan ada perdebatan siapa yang akan menjadi komandan berikutnya. Dan kalau sampai mereka pecah, mereka yakin kalau diri mereka akan menjadi santapan mudah bagi Erra dan pasukannya.


Pilihan ketiga, yang mana merupakan pilihan yang saat ini sedang dipikirkan oleh kebanyakan anggota pasukan ini adalah untuk membatalkan misi, lalu pulang. Salah satu yang sedang memikirkan hal ini adalah Ezzza. Selain dia, kebanyakan yang memikirkan pilihan ini adalah yang bukan berasal dari Golden Stars. Karena misi ini bagi mereka hanya lah ajang mencari keuntungan. Sedangkan sampai sejauh ini, mereka belum melihat keuntungan menghampiri mereka. Dan malah melihat kerugian yang mendatangi mereka.


“Kalian sepertinya pusing sekali, ya?”


Mendengar pertanyaan yang entah dari mana itu, semua anggota pasukan dari Desa Gezar ini mencari sumber suara. Dan akhirnya mereka mendapati sumber suaranya adalah seorang lelaki muda yang sedang duduk santai di atas salah satu dahan pohon yang besar.


“Erra.” gumam Ezzza dan beberapa orang lainnya saat melihat sosok lelaki itu.


Ya, lelaki muda yang bertingkah santai itu adalah Erra. Orang yang saat ini kemunculannya membuat semua orang di hadapannya merasa jengkel.


“Hai! Hai! Semuanya...! Kita bertemu lagi...!”


Erra mengucapkannya sambil melambaikan tangannya. Dan tak lupa ia memasang senyuman ramah yang ceria. Yang mana menambah rasa jengkel beberapa orang, dan membuat beberapa orang lainnya entah kenapa merasa merinding.


Sementara itu, di dalam benak Ezzza tersirat...


‘Ah... mungkin bukan dia. Tapi orang ini sama menyebalkannya dengan si Putra!’


Menyadari kalau Ezzza menatap dirinya dengan sangat tajam. Erra berkata...

__ADS_1


“Oh, hey!! Kau masih bisa bertahan hidup? Tuan gagah yang selalu kalah dari dua gadis imut. Kudengar kau sudah bertarung dengan mereka sebanyak sepuluh kali, dan kalah lima belas kali. Apa itu benar?”


Kata-kata Erra memang lah hanya omong kosong. Itu hanya ia lakukan untuk membuat Ezzza terprovokasi. Dan itu cukup berhasil membuat Ezzza terlihat sangat kesal. Sayangnya, Ezzza tak melakukan hal sembrono yang Erra harapkan.


‘Hm... ternyata ia tak sepenuhnya idiot.’ Gumam Erra dalam benaknya melihat respon Ezzza.


Erra mengubah sikap duduknya, jadi tidak terlalu santai. Lalu ia mulai berbicara...


“Begini, kami punya tawaran untuk kalian. Kami akan membayar sepuluh persen lebih tinggi daripada Desa Gezar. Kalau kalian mau membelot pada kami.”


Mendengar perkataan Erra, belum ada yang memberi komentar. Mereka semua masih terlalu sibuk untuk mewaspadai keadaan sekitar. Karena mereka yakin tindakan Erra hanya lah untuk mengulur waktu saja.


“Sekarang jujur lah. Kalian bingung mau melakukan apa? Iya, kan? Di antara kalian pasti banyak yang ingin mundur dari misi ini. Karena memang kalian merasa tidak mungkin menang. Untuk kalian yang merasa begitu, lakukan lah yang kalian inginkan.


Di sini aku hadir untuk menawarkan hal lain selain hanya sekedar mundur dari misi kalian itu. Saat mundur nanti, kalian tidak akan mendapatkan apa pun. Dan kalian mungkin di kemudian hari akan mendapat kesulitan untuk memasuki Desa Gezar lagi. Yang memang hal itu lah yang membuat kalian enggan langsung mundur, kan?


Pikirkan lah tawaran kami ini. Daripada hanya mundur dari misi ini. Lebih baik kalian terima misi dari kami. Selain bayaran yang lebih tinggi. Kalian juga tak akan mendapatkan kesulitan saat memasuki Desa Green Hut kami.


Sekedar informasi saja. Kalau kami punya data siapa saja yang mengikuti misi ini. Kalau nanti setelah selesai konflik ini kalian ada yang ingin ke Desa Green Hut, silakan. Datang lah, tak ada larangan. Tapi kalian haru smembayar segala sesuatu di sana sedikit lebih mahal. Kurang lebih, sekitar seratus kali lipat saja.”


BOSSHH!!!


Erra membanting sebuah bom asap ke arah antara kakinya sendiri. Membuat tak ada orang yang bisa melihat dirinya yang diselubungi asap itu. Dan saat asap itu sudah menghilang, Erra ikut menghilang.


Seteah kejadian itu, sesama anggota pasukan penyerang dari Desa Gezar ini saling tatap. Mereka sama-sama ingin tahu apa keputusan anggota pasukan lainnya.


Jujur saja, tak sedikit yang tergiur dengan ajakan Erra barusan. Tapi sebagian dari mereka juga takut kalau itu hanya lah sekedar tipuan semata.


Akhirnya, pasukan ini pun tak bergerak dalam waktu yang lama.


.


.


.

__ADS_1


Pasukan dari Desa Gezar yang menyerang gerbang utama Desa Green Hut sudah berhasil membuat kemajuan. Mereka berhasil mencapai atas dinding, dan mulai berniat menyerang pasukan pertahanan Green Hut yang ada di atas dinding.


Namun ternyata...


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Pasukan dari Desa Gezar yang berhasil mencapai bagian atas dinding pertahanan Green Hut itu. Dengan mendadak menerima rentetan serangan anak panah dari bagian dalam desa.


Di balik dinding desa ini, telah bersiap warga desa yang sebenarnya bukan lah bagian dari pasukan pertahanan. Akan tetapi, mereka memiliki kemampuan memanah dan bertarung meski rendah. Mereka memang bersiap untuk menyerang pasukan lawan yang berhasil naik ke dinding.


Dengan keadaan ini, akhirnya posisi kedua belah pihak tetap belum ada perubahan. Bisa dikatakan keduanya masih berimbang. Belum ada yang lebih mengungguli.


.


.


.


Author’s Note :


Yo!


Author di sini!


Hey, semuanya! Semoga semua sehat selalu.


Sudah lama saya tidak muncul di dalam cerita...


Kali ini mau minta maaf sedikit, karena belakangan mungkin terlalu banyak ‘Syut-Jleb’...


Jujur saja, meski sedang memasuki bagian yang seru, saya sedang keuslitan ide. Jadi saya hanya bisa mengembangkan sedikit cerita....


Terima kasih untuk selalu setia membaca kisah ini...

__ADS_1


Salam sehat semua...!


__ADS_2