Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.38.1 - Penguntit.


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 38 : Penguntit.


+++


“Yang benar saja! Masih tercium meski sudah begini?” ucap Erra


Ia berhasil menemukan Plague Pig di kejauhan, dan siap menyerangnya. Tapi, saat ia mendekat aroma busuk dari monster itu kembali tercium oleh hidungnya. Padahal, Erra telah memakai masker untuk mengurangi aroma yang tercium itu.


Masker yang dipakainya bahkan bukan masker yang murah. Masker ini bisa dimasukan wewangian, dan seharusnya dengan begitu Erra tak akan mencium bau tidak sedap di udara. Tapi sayang, Plague Pig itu berbeda. Bau tubuh mereka itu adalah satu-satunya perlindungan mereka. Jadi, baunya memang sangat efektif untuk mengusir pemburu.


“Hmph! Berarti aku harus melakukannya dengan cepat!” ucap Erra pada dirinay sendiri.


Ia mulai berlari ke arah si Plague Pig yang dilihatnya. Dan begitu menyadari kedatangan Erra, Plague Pig itu segera mencoba untuk melarikan diri.


Plague Pig adalah adalah tipe monster pasif yang tak akan menyerang orang. Meski mereka diserang, mereka tak akan melakukan perlawan dengan cara menyerang balik. Mereka hanya akan menambahkan gas bau busuk dari tubuh mereka sambil melarikan diri. Seperti yang saat ini sedang terjadi.


Jleb!


“NGOORRRKK!!!”


Erra melompat dan menikam Plague Pig itu, monster b4bi itu pun menjerit ketika belati Erra tertanam dalam pada tubuhnya.


“Cih! Gagal!”


Erra berharap untuk bisa membunuh targetnya dalam sekali serang, tapi ternyata harapannya itu tak terjadi.


Jleb! Jleb! Jleb!


Erra memberikan tikaman beruntun pada si monster. Dan sedari tadi, avatar bermata merah ini bertarung dengan menahan napasnya.


“Buagh!!! Uhuk! HOEEEK!!!”


Erra tak bisa menahan napasnya lebih lama lagi. Karena parameter napasnya telah mencapai angka nol, dan ia harus segera mengambil napas. Tapi, begitu ia menarik napasnya. Aroma busuk si Plague Pig segera memenuhi hidungnya. Seketika itu juga ia merasa mual bukan kepalang. Bahkan tubuh virtualnya pun terkena efek, dan jadi sedikit sulit dikendalikan.


“Aku tak kan gagal!”


Dengan semua kondisinya yang memburuk, Erra memaksakan dirinya. Dan akhirnya ia menyerang monster b4bi itu dengan membabi buta.

__ADS_1


Hingga akhirnya ia berhasil mengalahkannya. Dan segera pergi menjauh.


.


.


.


“Cih.. bahkan baunya menempel di pakaianku. Megasolus, kalian ini mau apa, sih? Bagaimana bisa ada makhluk sebau itu di dunia ini?”


Erra menggerutu sendiri dalam perjalanannya pulang. Setelah ia menghabisi Plague Pig itu, tentunya ia tak lupa mengambil sumber daya yang dijatuhkan si Plague Pig. Dan setelah itu ia segera pergi.


Di perjalanan pulang ini, ia pun tak lupa mengumpulkan semua tanaman herbal yang terlihat sebagai bahan ramuannya. Ia juga sembari menghabisi Boink atau hewan liar di hutan ini yang kebetulan ia lihat.


“Hm... sepertinya aku memang harus mengeluarkan biaya lebih lagi. Padahal, aku sedang ingin menghemat untuk rencana ’itu’.”


“Baiklah, sekarang aku akan langsung melakukannya.”


Sebenarnya, apa yang Erra maksud?


Apa yang harus ia bayar sehingga perlu biaya lebih?


Jadi, sebenarnya apa yang Erra lakukan sebelumnya untuk memburu Plague Pig itu belum sesuai dengan saran yang pernah ia baca. Karena aroma Plague Pig yang bisa menembus masker, maka para pemburu Plague Pig menggunakan senjata jarak jauh dalam perburuannya.


Ada yang memakai pisau lempar, tombak, dan tentu saja busur. Erra punya kemampuan melempar pisau, tapi itu kurang terasah karena jarang ia pakai. Dan saat ini ia sedang tak memiliki pisau lempar. Jadi, ia harus membelinya. Dan ia enggan melakukannya karena ingin menghemat uang.


Dan lagipula, yang paling direkomendasikan untuk berburu Plague Pig adalah busur. Karena meski bertubuh besar, Plague Pig gemar bersembunyi di balik semak tinggi atau pepohonan besar. Dengan keadaan begitu, menggunakan busur akan lebih efektif daripada pisau lempar.


.


.


.


“Yap! Sekarang aku mau latihan dulu atau istirahat, ya?”


Erra sudah menjual semua yang bisa ia jual hari ini. Dan ia memang mendapatkan uang yang tak sedikit dari sumber daya yang diperolehnya dari Plague Pig. Lalu si pemain berambut putih ini pun segera membeli busur dan tentunya tak ketinggalan beberapa anak panah.


“Ah, sepertinya istirahat sebentar tak apa.”


Erra memutuskan untuk beristirahat di penginapannya. Dan sesampainya di sana, ia tak benar-benar beristirahat. Melainkan meracik beberapa ramuan, hingga semua bahan dasarnya habis terpakai.

__ADS_1


Setelah itu, Erra kini keluar dari penginapannya dan mampir ke sebuah kedai. Ia tidak benar-benar lapar, dan makan di dunia virtual ini sebenarnya kurang baik untuk tubuh aslinya. Ia datang ke kedai ini hanya karena ia suka rasa dari makanan di sini.


“Wah? Tuan Erra? Selamat datang kembali! Silakan ikut aku, ada tempat kosong di lantai dua kalau Anda tidak keberatan.”


Begitu Erra masuk, seorang pelayan perempuan langsung menyambutnya. Karena Erra adalah pelanggan tetap, ia sangat dikenal di kedai ini.


“Baiklah, aku ikut saja.”


Erra pun mengikuti pelayan itu ke meja kosong yang ada dilantai dua. Ia pun segera memesan setelah dapat tempat duduk. Berselang waktu singkat, meja di sebelah Erra segera diisi oleh beberapa orang yang baru datang. Erra melirik mereka dengan tatapan curiga.


‘Sepertinya aku memang dipantau? Siapa mereka? Apa mereka berbahaya?’ gumam Erra dalam benaknya.


Selama beberapa hari terakhir Erra memang merasa kalau dirinya ada yang mengikuti. Dan para penguntit ini sepertinya tak ada niatan untuk menyerangnya. Tapi Erra merasa kalau orang-orang ini sedang mencari tahu tentang dirinya.


“Permisi, tuan! Ini pesanannya!”


“Ah, terima kasih.”


Erra pun menyantap hidangannya. Ia sekilas terlihat santai saja melahap semua hidangan di depannya. Padahal, ia juga sembari memperhatikan daerah di sekitarnya. Mencari tahu, apakah ada lebih banyak lagi orang yang mengawasinya.


.


.


.


Erra sudah selesai makan dan segera meninggalkan kedai itu.


‘Sepertinya memang ada lebih banyak lagi? Cih! Sepertinya mereka kelompok besar. Memangnya apa yang kulakukan sampai menarik perhatian kelompok besar?’


Di kedai itu, hanya ada orang-orang yang makan di meja sebelah Erra yang mengawasinya. Tapi ternyata, di luar kedai ada beberapa orang lagi yang melakukannya. Erra pun bisa melihat tak lama setelah ia keluar dari kedai, orang-orang yang tadi makan di meja sebelahnya telah keluar dari kedai. Mereka terlihat berpisah dan pergi ke arah berbeda. Tapi Erra merasa kalau mereka tetap mengikuti Erra.


Erra sadar betul kalau tingkahnya dalam berdagang di Ardanium’s Forum berhasil menarik perhatian. Dan ada tak sedikit orang yang terganggu dengan tingkahnya. Tapi, Erra tak merasa kalau semua yang telah ia lakukan cukup untuk menarik perhatian kelompok besar.


Erra yakin para pengungtitnya ini berasal dari kelompok besar karena jumlah mereka yang banyak. Selain itu, pergerakan mereka sangat terkoordinasi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2