
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 33 : Tawaran Kecil.
+++
“Bagaimana ini, tuan? Sepertinya mereka tak akan setuju dengan tawaran kita? Menurutku, kemungkinan kita berhasil hanya sekitar lima persen. Atau mungkin kurang dari itu.”
“Kau itu terlalu pesimis. Optimis lah, mereka masih mungkin menerima tawaran kita meski kecil. Daripada mengatakan kemungkinan berhasil ‘hanya’ mencapai lima persen. Lebih baik kau mengatakan kalau kemungkinan kita berhasil ‘hingga atau mampu’ mencapai lima persen. Apa kau paham?”
“Ah.... ya... ya, saya paham, tuan.”
“Bagaimana dengan yang lainnya? Apa kalian paham yang kumaksud?”
“Kami paham!”
Erra sedang berkumpul dengan beberapa bawahannya. Bukan hanya mereka yang berangkat bersamanya dari Desa Green Hut untuk datang ke Desa Gezar ini. Melainkan mereka yang memang tinggal di Desa Gezar ini untuk menjadi pengumpul informasi atau pengintai pun ikut serta.
Seperti dalam obrolan di atas. Kesempatan pengajuan kerja sama yang Erra tawarkan kemungkinan besar akan gagal. Itu karena Fitz atau Golden Stars yang menyadari pergerakannya segera melakukan langkah pencegahan. Golden Stars yang awalnya selalu bersikap lunak pada Desa Gezar, karena tak ingin ada keributan. Kini bersikap tegas dan keras.
Setelah mengetahui pergerakan Erra di Desa Gezar, Fitz dengan segera menghubungi Kronoz. Meski pun sebenarnya ia merasa tidak mau meminta bantuan, Fitz merasa kalau dirinya tak mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat. Dan ia merasa takut kalau terlambat dalam menangani masalah ini maka akan muncul masalah besar lainnya.
Fitz sebenarnya tak meminta bantuan yang macam-macam pada Kronoz. Tapi, permintaannya ini bisa dikatakan memang sangat vital atau bisa berefek besar. Fitz meminta izin pada Kronoz untuk memberi ancaman pada Desa Gezar. Dan isi ancamannya adalah untuk mengambil alih desa ini secara paksa. Dengan kata lain, akan menyerang Desa Gezar.
Desa Gezar selama ini memang desa paling maju di Great Southern Jungle. Akan tetapi, kemajuan pesat mereka baru terjadi saat mereka muali bekerja sama dengan Golden Stars. Dan kini, tanpa disadari oleh para petinggi desa, Golden Stars sudah memiliki pengaruh yang kuat di desa ini.
Fitz menyampaikan pada para petinggi Desa Gezar, bahwa Golden Stars akan menyerang desa. Jika mereka sampai mau membangun kerja sama dengan Green Hut. Fitz mengingatkan bahwa Golden Stars memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk meratakan desa ini dalam sekejap.
Menerima ancaman dari Fitz, para petinggi Desa Gezar pun segera gentar dan mulai mengabaikan pengajuan dari Erra.
“Hm... setelah kupikir lagi. Mungkin lebih baik kalian semua pergi dari sini untuk sementara waktu. Entah bagaimana, aku merasa kalau mereka sudah mengetahui identitas kalian semua. Dan hidup kalian bisa dalam bahaya.” Ucap Erra.
“Bagaimana dengan Anda, tuan?”
“Aku akan tetap di sini untuk beberapa saat. Untuk melihat keadaan di sini. Jangan khawatirkan aku, aku pasti selamat.”
.
__ADS_1
.
.
Arini dan Lunariaa akhirnya memutuskan menerima tawaran Erra untuk tinggal di Desa Green Hut. Keduanya merasa ini kesempatan bagus untuk membuat relasi dengan pihak yang memiliki kekuatan. Meski pun kekuatannya bisa dikatakan tidak besar.
Kedua gadis ini juga sebenarnya tak ada niatan untuk tinggal menetap, atau selamanya tinggal di desa ini. Mereka masih ingin mengeksplorasi dunia virtual ini dengan berpetualang keliling dunia. Jadi, rencananya mereka akan tinggal di sini selama beberapa bulan saja.
Arini dan Lunariaa bisa melihat kalau desa ini sedang melakukan sebuah persiapan pertarungan atau pertempuran. Mereka pun akhirnya menanyakan yang sebenarnya terjadi. Tak ada yang memberi jawaban pada mereka, sampai akhirnya mereka berdua bertanya pada Erra. Yang mana Erra tak menampik pendapat keduanya. Secara otomatis membenarkan kalau Green Hut sedang bersiap menghadapi pertempuran.
Keduanya pun memiliki keinginan untuk ikut bertarung di sisi Green Hut. Yang mana tidak terlalu mendapat respon psitif dari Erra.
“Si Erra itu, awalnya dia sangat ramah. Kenapa sekarang malah seperti yang penuh curiga pada kita?” keluh Lunariaa.
“Ya... mau bagaimana lagi? Biar bagaimana mana pun juga kita berdua adalah orang yang baru dikenalnya. Ia ramah pada kita karena kita bisa bekerja sama dengannya sewaktu dikejar kera waktu itu. Ia juga bersikap biasa saja, sampai kita mulai ingin ikut campur dengan urusan desa ini, kan?”
“Hah... ya... sepertinya begitu. Kalau begitu ini salahmu.”
“Hey! Kenapa jadi aku yang salah?”
“Ini idemu, kan? Untuk ikut campur dengan urusan internal mereka.”
“Tapi itu lebih baik daripada tidak punya ide sepertimu.”
“Apa?!”
Dan... kedua gadis ini pun mulai berdebat lagi.
.
.
.
“Yang seperti ini kalian sebut desa?” ucap Ezzza dengan keheranan.
“Memangnya kenapa, bos?” tanya Coro.
“Hanya ada... berapa orang yang tinggal di tempat ini? Sepertinya tidak sampai lima puluh orang?” balas Ezzza.
__ADS_1
“Ah, ya... kalau aku tidak salah hitung ada sekitar tiga puluhan orang saja, bos.” Ucap Cungu.
“Tapi tenang, bos. Tujuan kita kan cari anggota baru. Penghuni desa ini kebanyakan masih muda dan mereka sangat miskin dan menderita. Mereka ini, tadinya tidak sesengsara ini. Tapi karena serangan tak terduga monster, banyak yang tewas. Yang muda masih sempat menyembuhkan diri, sedangkan yang tua tidak.” Jelas Coro.
“Ah, sudah lah. Kita buktikan saja. Sekarang kita lakukan sesuai rencana.” Ucap Ezzza.
“Siap, bos!” jawab Coro dan Cungu bersamaan dengan kompak.
Ezzza dan kedua anak buahnya mendekati desa kecil itu dengan berhati-hati. Mereka bergerak di antara semak dan pepohan dengan begitu sunyinya. Mereka bersamaan menghampiri dua orang perempuan yang berada di pinggiran desa.
Srak! Srak! Srak!
Ketiganya menyergap kedua perempuan itu.
“Tolong!!!” teriak salah satunya.
Teriakan itu mudah didengar oleh semua orang di desa kecil sekecil ini. Semua warga desa pun menuju ke arah para perempuan itu. Sebagian terlihat mempersenjatai diri dengan perkakas tani.
“Yo! Selamat siang, semuanya!” ucap Ezzza dengan penuh semangat.
Ezzza membentangkan kedua tangannya, menyapa warga desa tanpa nama ini. Sedangkan Coro dan Cungu memegangi kedua perempuan itu.
“Pertama, aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Ezzza! Ezzza bukan Eza! Ada tiga huruf Z-nya.”
Warga desa terdiam memperhatikan Ezzza berbicara. Mereka tak mengerti apa yang dilakukan orang itu. Lalu Ezzza melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu kalian bingung dengan keberadaan kami bertiga di sini. Kalian pasti bertanya-tanya alasan kami menahan kedua perempuan, kan?”
“Ya! Cepat katakan, apa maumu?!” salah seorang warga desa menjawab.
“Aku punya tawaran kecil untuk kalian. Apa kalian mau mendengarkan?”
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1