
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 31 : Jalur Baru.
+++
“Huaah... akhirnya selesai juga...”
Hari ini, setelah melalui beberapa hari, akhirnya Erra menyelesaikan pelatihan dirinya sebagai seorang Herbalist.
“Baiklah... Kalau begitu sepertinya sekarang aku sedikit penyegaran dulu, sambil mengumpulkan bahan.”
Erra pun melesat ke arah Kork Forest lagi.
Pada dasarnya, Erra bukan lah orang yang gemar mendengarkan orang lain berbicara dalam waktu lama. Dalam hal belajar, ia lebih suka membaca sendiri. Dan hanya mencari orang lain yang bisa menjelaskan hanya di saat ia benar-benar sudah tak sanggup lagi memahami materinya.
Dalam melakukan pelatihan untuk menjadi Herbalist, tentunya berbeda dengan pelatihan untuk menjadi Scouts. Dari awal, sudah banyak teori yang harus Erra dengarkan dan dalam sekejap ia pun segera merasa bosan. Kebosanannya baru berkurang di saat tiba waktunya latihan praktik. Akan tetapi, hal itu pun jadi tak begitu menyenangkan karena instrukturnya yang sangat cerewet.
Karena semua itu lah, Erra kini memilih untuk mencari penyegaran. Ia berniat melakukan perburuan Boink dan beberapa hewan di hutan itu. Sembari ia juga ingin mengumpulkan beberapa jenis tanaman herbal yang bisa ia olah menjadi ramuan. Hasil rampokannya dari Toko Sincro sebenarnya masih cukup banyak untuk bahan latihannya. Akan tetapi, ia ingin bisa segera mulai berjualan ramuan. Jadi ia berpikir untuk mengumpulkan lebih banyak lagi bahan dasarnya.
“Oh... sudah ganti pemilik, ya?”
Erra baru saja melewati Toko Sincro yang kini sudah berganti pemilik. Bahkan fungsi bangunannya juga telah berubah. Kini bangunan itu menjadi sebuah kedai kecil yang tampak cukup ramai pengunjungnya.
“Sepertinya aku akan mampir nanti.”
.
.
.
Masalah di dunia nyata.
Sesuai janji, Putra menemui gadis itu sekitar sepuluh menit setelah bel sekolah berbunyi. Gadis yang bernama Aas itu, ternyata memang sudah menunggu di sana.
“Baiklah, jadi kita mau bicara di mana?”
“Tak jauh dari terminal ada kafe es krim, apa kau tahu? Bagaimana kalau di sana?”
__ADS_1
“Ah... kafe es krim itu, ya? Baiklah, tapi aku tidak mau mentraktirmu, ya...”
Putra bicara dengan nada yang sedikit bercanda. Padahal, aslinya ia memang ingin mengatakan itu dengan serius.
“Ahaha... bisa saja. Tenang, aku tidak akan minta traktir. Aku yang mengajakmu, jadi aku malah tidak keberatan kalau harus mentraktirmu.”
“Oh, baiklah kalau begitu. Ayo, langsung ke sana saja.”
Putra mengatakan itu sambil melirik ke berbagai arah. Aas mengerti maksud lirikan itu, karena ia juga melihat apa yang Putra lihat. Yakni kerumunan orang yang mulai menonton mereka. Dan akhirnya, mereka berdua pun pergi ke kafe es krim yang dimaksud.
“Jadi, bagaimana cara memesan di sini?” tanya Putra saat menghampiri pintu masuk kafe tersebut.
“Oh? Kau belum pernah ke sini?”
“Belum.”
“Pesan di kasir, sekaligus bayar. Kalau ada tambahan bisa menyusul.”
Putra hanya mengangguk dan mereka pun bersama memasuki kafe es krim tersebut. Putra akhirnya memesan es krim coklat hitam porsi besar, sedangkan Aas memesan es krim stroberi porsi kecil. Saat Aas akan membayar pesanan Putra, Putra mencegahnya. Mereka pun akhirnya membayar pesanannya masing-masing.
Setelah memesan, es krim mereka langsung disiapkan. Setelah mendapatkan es krim masing-masing, baru lah mereka mencari tempat duduk. Aas memilih tempat duduk yang berada di sudut dan cukup jauh dari pelanggan lain.
“Hm...” Aas tidak menjawab langsung, tapi ia menyuap beberapa kali es krimnya.
“Jadi... pertama aku mau berterima kasih.” Akhirnya Aas menjawab.
“Hah? Untuk apa?”
“Lelaki itu, waktu itu kami memang berpacaran. Aku memang terbuai dan terlena oleh bujuk rayunya. Aku hampir saja melakukan setiap hal yang dimintanya. Tentu saja aku tak selalu langsung menurut. Tapi, kalau aku tak menurut ia tak akan memaksaku. Lalu setelah itu mulai merayuku secara perlahan, dan akhirnya aku terjerat lagi oleh bujuk rayunya.
Setelah kejadian kemarin, akhirnya aku sadar. Selama ini ia tak benar-benar mencintaiku. Ia hanya ingin memanfaatkanku, terutama....”
Aas terhenti karena merasa malu mau melanjutkan perkataannya.
“Tak perlu dilanjtukan bagian itu, aku paham.” Ucap Putra memahami kalau Aas mau mengatakan bahwa lelaki itu hanya mengincar tubuhnya.
Setelah itu, Aas bercerita cukup panjang tentang hubungannya. Bisa dibilang, meski bukan cinta pertama tapi lelaki itu adalah pacar pertamanya. Dan ia benar-benar dibuat mabuk cinta dan tak bisa memakai logikanya. Setelah kejadian tempo hari, Aas baru mengetahui sosok sebenarnya lelaki itu. Ia ternyata memang tukang main perempuan. Ia akan mendekati gadis yang cukup lugu dan merayunya sampai mendapatkan tubuh si gadis. Dan setelah puas, ia akan mencampakan gadis-gadis itu.
Aas merasa terselamatkan oleh Putra, karena itu lah ia ingin berterima kasih. Awalnya salah satu bentuk terima kasih yang ingin ia sampaikan adalah dengan mentraktir Putra di sini. Tapi karena Putra menolak, jadi sekarang ia bingung lagi mau apa.
“Ahaha.. sudah lah. Tak perlu dipikirkan lagi. Menolong sesama yang sedang membutuhkan itu memang sudah sifat alami manusia, kan?”
__ADS_1
“Ya, kau bisa berkata seperti itu. Tapi aku tetap merasa tak enak.”
“Ah, kalau begitu. Ada satu cara yang bisa kau lakukan untuk berterima kasih padaku.”
“Benarkah? Apa itu?”
“Untuk ke depannya, lebih berhati-hati saat mau menerima seorang lelaki di hidupmu. Mungkin saja kau akan bertemu lelaki bejat seperti itu lagi. Atau mungkin saja kau akan bertemua dengan...”
Kalimat Putra terjeda sebentar, lalu ia melanjut...
“Dengan yang lain lagi. Tapi aku berdoa agar kau bertemu dengan lelaki yang baik-baik saja.”
“Ah, t-terima kasih. Tapi... apa itu cukup?”
“Yap! Lebih dari cukup!”
Mereka pun melanjutkan obrolan kecil selama beberapa saat. Putra menyadari kalau gadis ini sedang berusaha menyelidiki sesuatu tentang dirinya. Maka dari itu, ia pun berusaha memasang setebal mungkin topengnya. Saat ini, Putra sedang menjadi seorang pemuda yang sangat baik. Berhati lembut dan hangat, dan sangat peduli dengan orang lain. Yang mana tentu semuanya berkebalikan dengan jati dirinya yang asli.
Di sisi lain, Aas berhasil terkena tipuan Putra. Gadis itu kini mengubah sudut pandangnya pada kejadian tempo hari, di saat ia melihat sisi lain Putra. Ia berpikir kalau Putra memang lah seorang yang baik, tapi bisa jadi mengerikan saat ia marah atau semacamnya.
.
.
.
Kembali ke dunia virtual.
Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing! Boing!
“Hah... hah... ini menarik!” ucap Erra sambil memasang seringai yang mengerikan.
Saat ini, si pemain berambut putih itu tengah berada di Kork Forest. Dan kondisinya saat ini sedang terkepung oleh dua puluh ekor Boink.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1