Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.54.4 - Turn Point.


__ADS_3

.


.


.


Ezzza masih mengejar Erra ke dalam hutan, sedangkan Erra sendiri masih berlari tanpa menunjuk niat berhenti. Hingga kemudian ia dengan mendadak berbalik dan menyerang Ezzza.


Syut! Syut! Syut!


Beberapa anak panah Erra lesatkan secara beruntun. Dengan memanfaatkan pepohonan di sekitar, Ezzza berhasil untuk menghindari anak panah dari Erra. Meski tetap ada beberapa yang berhasil menggoresnya.


“Hey, apa kau tidak punya cara menyerang dari jauh sama sekali?” tiba-tiba Erra bertanya.


Ezzza sedikit tertegun, tapi tak memberi jawaban.


“Kau tahu? Dari semua hal yang kutahu tentang dirimu, ku pikir kau ini orang yang sangat berbahaya bagiku. Akan tetapi, belakangan aku baru sadar. Kau tidak sehebat yang kupikir. Jujur, aku sedikit kecewa. Kukira aku akan dapat teman main yang lebih menyenangkan dari Fitz, tapi ternyata tidak.”


Erra mengatakan semua itu sambil tetap berlari dan sesekali melepaskan serangan.


“Hey, kau tidak mau mengobrol sedikit?” tanya Erra.


Ezzza tetap terdiam, tak menjawab Erra.


“Ah, ya sudah lah. Maaf, tapi saat ini aku lebih kuat darimu. Dan aku punya kewajiban untuk menghancurkanmu. Sekali lagi, maaf ya?”


Ezzza berusaha menahan emosinya, namun tentu saja itu sulit. Ia berlari dengan tidak terlalu berusaha menghindar lagi. Ia kini lebih memilih menangkis serangan dari Erra.


Bosh! Bosh! Bosh!


Erra melemparkan beberapa bom asap, lalu kembali berlari ke tempat awal pertarungan. Ia memanahi Ezzza, dengan tujuan menunjukkan lokasi keberadaannya. Yang mana langsung ditangkap maksudnya oleh Ezzza.


Sambil mengejar Erra, Ezzza meminum lagi anti racun dan beberapa ramuan lainnya.


Setiap kali Ezzza hampir keluar dari kepulan asap, Erra menambah bom asapnya. Hingga kini mereka berdua sudah kembali ke tempat semula, baru lah Erra membiarkan Ezzza keluar dari kepulan asap. Tapi...


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Hujan anak panah yang tak mungkin dihindari mendera Ezzza. Hampir semua panah beracun itu menancap di tubuh Ezzza. Tindakannya meminum anti racun sebelumnya cukup membantu, meski tak begitu berarti. Karena kini, ia mulai terkena efek racun yang Erra berikan. Dan penyebabnya adalah karena dosis racun yang Erra berikan melebihi yang bisa ditangguhkan oleh anti racun yang Ezzza minum.


Tap! Tap! Tap!


Setelah menghujani lawannya dengan serangan panah, Erra melesat ke arah Ezzza. Kini, ia memakai belatinya untuk menyerang. Dan pertarungan jarak dekat yang ‘normal’ pun terjadi.

__ADS_1


Wuut! Wuut! Wuut!


Erra mengayunkan belatinya tiga kali, yang mana semua dihindari Ezzza. Ia mengulanginya, dan Ezzza lagi-lagi menghindari atau menahannya. Merasa mendapat kesempatan Ezzza pun menyerang balik, tapi ternyata...


Jleb! Jleb! Jleb!


Erra berputar dan mendaratkan tiga tusukan dangkal secara beruntun. Dan kemudian, ia mulai menyerang lagi. Bukan hanya dengan belatinya, tapi juga dengan tinjuan dan tendangannya.


Meski dalam keadaan terpengaruh racun, Ezzza masih sanggup mengimbangi Erra. Karena biar bagaimana pun juga pertarungan jarak dekat adalah keahliannya. Meski begitu, tetap saja Ezzza kesulitan memberi serangan balik. Apalagi, saat Ezzza akan menyerang Erra menjauh darinya dua sampai tiga langkah.


Pertarungan terus berlanjut dalam keadaan seimbang selama beberapa lama. Sampai akhirnya...


Bruk!


“Kena kau!!!”


Ezzza menendang kaki Erra yang menyebabkan si mata merah itu terjatuh. Ia berhasil bangkit kembali dengan cepat, tapi Ezzza tak membiarkan momentum ini. Kini keadaa sudah tak seimbang lagi, karena Ezzza berhasil mengungguli Erra.


Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak!


Ezzza berhasil mendaratkan tinjuan dan tendangan beruntun pada Erra. Yang membuat Erra kehilangan keseimbangan, dan akhirnya berdiri dengan sempoyongan.


“Hahaha! Sudah kubilang kau terlalu sombong! Sekarang, tamat lah kau!!!”


Ezzza dengan semangat berapi-api menerjang Erra, bermaksud mengakhiri pertarungan ini. Tapi...


Erra menyambut serangan Ezzza, dan segera menghindar dengan berputar. Lalu...


Zap! Glek! Glek!


Dengan sangat cepat, Erra menyumpalkan sebotol racun ke mulut Ezzza. Dan secara reflek, Ezzza menenggak racun itu. Lalu Erra sedikit menjauh dari Ezzza untuk meminum Healing Potion dan juga Stamina Potion.


“A-apa ini?! Kenapa begini?!”


Ezzza mulai meracau saat kehilangan tenaga. Ia bisa melihat di pandangannya kalau seluruh poin statusnya berkurang sekitar lima puluh persen. Ditambah lagi, ia terkena efek Slow yang membuatnya sulit bergerak.


Erra menyarungkan belatinya, lalu mulai mengambil kuda-kuda seperti seorang petinju.


Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak!


Tinjuan beruntun mendarat di wajah dan kepala Ezzza. Disusul dengan tendangan yang mendarat di perutnya. Yang mana menghempasnya beberapa langkah ke belakang dan terjatuh.


Erra menghampirinya, memegang kerah baju Ezzza. Ezzza pun menangkap tangan kiri Erra itu, namun tak bisa bertindak lebih. Erra mengangkat tubuh Ezzza sampai ia ke posisi duduk, dan mulai meninju wajahnya berkali-kali dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Erra kemudian melepaskan Ezzza untuk kembali terbaring di tanah. Sementara dirinya meminum lagi beberapa Potion pendukung.


Dengan sangat kesal, Ezzza berusah bangkit untuk menghajar Erra. Ia menyadari kalau Erra tak berniat menghabisi dirinya dengan cepat. Ia tahu kalau Erra sedang mencoba menghancurkan dirinya sampai benar-benar hancur. Karena itu lah, ia berusaha menolak hal itu dan berusaha bangkit.


Ezzza pun berhasil berdiri lagi, meski tubuhnya sempoyongan. Efek racun sebelumnya mulai menghilang, tapi ia tak begitu senang dengan keadaannya sekarang.


Ezzza sadar kalau dirinya sudah babak belur. Sedangkan Erra hampir kembali prima karena terus meminum Potion. Ia benar-benar harus memutar otak untuk mengalahkan Erra bukan dengan kekuatan. Tapi, otaknya pun terasa macet tak bisa dipakai berpikir.


Saat Ezzza masih dalam keadaan tak seimbang baik fisik mau pun mentalnya...


Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak!


Erra lagi-lagi menghujaninya dengan serangan sampai Ezzza terjatuh lagi. Dan hal ini berulang beberapa kali. Erra menghajar Ezzza sampai jatuh, membiarkannya berdiri kembali dan menghajarnya sampai jatuh lagi.


Sampai akhirnya...


“Aah... kurasa mainnya cukup.” Ucap Erra sambil melakukan gerakan peregangan tanpa alasan.


Sementara itu, Ezzza yang baru berhasil berdiri lagi. Sudah kehabisan akal untuk melakukan apa lagi. Namun, ia masih merasa tak sudi untuk menyerah. Dan ia pun berhasil mengumpulkan kembali fokus ke arah lawannya. Hanya untuk menyaksikan Erra sudah membidiknya.


“Mungkin kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal dan sampai jumpa!”


Syut! Jleb!


Panah yang mendarat tepat di tenggorok Ezzza itu mengakhiri pertarungan.


.


.


.


Seusai pertarungan, kelompok Ezzza membubarkan diri. Dan pesta pun diadakan di desa yang selamat itu. Kemudian pada hari berikutnya, Erra beserta Lunariaa dan Arini meninggalkan desa untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Sementara itu, beberapa hari kemudian dalam hitungan dunia virtual. Ezzza kembali ke markasnya, hanya untuk menemukan kalau kebanyakan anggotanya telah pergi. Dan anggota yang tersisa pun ternyata hanya menunggu Ezzza untuk berpamitan. Kekalahannya tempo hari benar-benar telah menghancurkan dirinya.


Ezzza coba untuk mengumpulkan kembali anak buahnya. Dari cara halus sampai memaksa. Namun ternyata itu malah berakibat buruk baginya. Karena ternyata mereka malah bersatu untuk melawan Ezzza dan membuatnya harus pergi meninggalkan Great Southern Jungle.


Ezzza memulai perjalanan baru bukan sebagai perampok lagi, tapi sebagai petualang biasa. Meski begitu, bukan berarti ia telah membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia masih menyimpan dendam pada Erra. Ia bersumpah akan mencari cara memperkuat diri dan mengalahkan Erra di kemudian hari.


Dan setelah beberapa pekan berlalu. Perjalanan pun membawa Ezzza ke West Desert. Tempat yang akan mengubah dirinya di masa yang akan datang...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2