
.
.
.
“Stone Cutter!!!”
Wuush!!!
Grak!!!
“Yang benar saja!!! Kenapa bisa begitu?!”
Lunariaa baru saja mengeluarkan salah satu Skill yang memiliki daya seranga paling yang ia miliki saat ini. Stone Cutter, adalah Skill serangan yang sangat kuat. Tapi, serangan itu gagal memberi luka berat pada si monster landak.
Death Needle memiliki duri yang sama kerasnya dengan besi yang dipadatkan. Duri sekeras itu, tumbuh lebat menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Tentu saja, ia menjadi perlindungan yang sangat kuat bagi monster landak tersebut.
“Jangan terlalu putus asa. Ada beberapa durinya yang patah.”
Arini berkata begitu dari atas dahan salah satu pohon. Ia dengan santainya menonton Lunariaa bertarung sambil menyantap sebuah apel yang baru ia temukan. Ia sudah berkeliling di sekitar sini, tapi tak menemukan jamur yang dicarinya. Dan setelah tak menemukan hal menarik lainnya, ia memutuskan untuk menonton Lunariaa bertarung.
“Cih!”
Lunariaa tampak jengkel karena sikap Arini yang tak mau sama sekali membantunya. Tapi, ia juga tak bisa protes terlalu banyak. Karena beberapa saat yang lalu, sebelum mereka bermasalah dengan monster landak ini. Mereka juga bermasalah dengan monster lainnya.
Saat itu, Arini coba menembak seekor Golden Deer dengan sihirnya. Tapi, serangannya meleset, dan mengenai seekor monster laba-laba. Lunariaa tak mau membantu Arini untuk melawan monster itu, dengan alasan karena itu kesalahan Arini sendiri yang memancing monster itu untuk menyerang. Padahal, alasan sebenarnya adalah Lunariaa memang cukup takut pada wujud laba-laba.
Lunariaa merasa kalau Arini sedang membalasnya. Karena itu lah, ia tak bisa protes lebih banyak lagi.
Si monster landak menggulung tubuhnya seperti trengiling, lalu maju menggelinding. Ia melaju seperti roda, dengan cepat menghampiri Lunariaa yang sempat menjauh darinya. Begitu dekat dengan Lunariaa, Death Needle itu melompat. Masih dalam kondisi menggulung tubuhnya, ia menegakan semua durinya. Berusaha menghantamkan tubuhnya ke arah lawannya. Dan memang seperti ini lah cara seekor Death Needle menyerang.
“Itu tak akan berguna!”
Lunariaa menghindar dengan mudah ke arah samping. Ia tak hanya menghindar, tapi juga memberikan serangan. Di saat Death Needle itu masih berada di udara, Lunariaa melayangkan serangan.
Grak!
Serangan yang mengenai sisi kiri tubuh monster landak itu, berhasil membuatnya terhempas.
Begitu berhasil mendapatkan keseimbangan kembali. Monster landak itu kembali menyerang dengan cara yang sama. Dan Lunariaa pun menghadapinya dengan cara yang sama. Hal ini terus berulang-ulang bukan hanya belasan kali, tapi puluhan kali.
Sedikit demi sedikit Lunariaa berhasil mematahkan duri si Death Needle. Kurang lebih sudah ada sekitar tiga puluh persen duri monster berduri itu yang patah. Dan akhirnya, si monster pun berhenti menyerang. Dari tatapannya, terlihat jelas kalau ia masih ingin menyerang manusia bersenjatakan kapak di hadapannya itu. Akan tetapi, ia merasa kalau dirinya tak akan menang. Karena sudah kehilangan banyak sekali duri.
Karena Death Needle itu berhenti menyerang, Lunariaa kini mengambil posisi menyerang. Ia terus menyerang bertubi-tubi dan membuat semakin banyak duri si monster landak yang patah. Membuat si Death Needle tak berusaha lagi untuk menyerang atau bertahan. Ia hanya berusaha kabur, namun ia gagal. Karena Lunariaa berhasil menghabisinya.
“Ayo, kita lanjut.” Ucap Arini sambil meninggalkan Lunariaa.
“Huh!!!”
.
.
.
Syut! Syut! Syut! Syut!
__ADS_1
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
“Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!!”
Erra melepaskan serangan beruntun dengan busurnya. Ia tak berniat untuk benar-benar mendaratkan serangannya pada seekor pun Sting Monkey yang mengepungnya. Ia hanya ingin memecah pengepungan ini, dan melarikan diri. Dan usahanya itu pun berhasil.
Erra memanfaatkan celah kecil dalam pengepungan yang terbuka, dan melarikan diri.
“Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!! Kiiek!!”
Tapi tentu saja, para monster monyet itu tak akan membiarkan musuh mereka kabur begitu saja. Mereka pun dengan ramai mengejar Erra.
Si avatar bermata merah itu menyimpan busurnya, agar ia bisa fokus hanya untuk berlari. Ia berlari dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapainya saat ini. Yang mana seharusnya bisa membuatnya meninggalkan kejaran para monyet. Itu karena kecepatan berlari Erra yang sangat lah tinggi.
Akan tetapi, lebatnya semak belukar dan pepohonan di hutan ini, menghambat langkah kakinya. Dan pada akhirnya, para monyet berhasil mengejarnya.
Erra pun kembali mencabut busurnya, dan kembali bersiap memanah.
Syut! Syut!
Erra memanah ke arah monyet-monyet terdepan, yang hampir menutup jalurnya untuk melarikan diri. Tembakan tanpa bidikan yang serius itu, hanya menyerempet tubuh para monster primata itu. Meski begitu, hal tersebut cukup untuk memberinya jalan.
Beberapa saat kemudian, hal yang barusan terjadi, kembali terjadi. Sejumlah Sting Monkey berhasil menyusul Erra dan berniat mengepungnya lagi.
“Hah! Kalau begini...”
Erra menyiapkan lagi busur dan panahnya. Kali ini ia membidik dengan lebih serius, dan...
Syut!
Jleb!
Sebenarnya, racun yang terkandung pada satu anak panah Erra saat ini tak akan sanggup membunuh seekor Sting Monkey. Akan tetapi, karena Sting Monkey itu jatuh dari dahan pohon yang cukup tinggi. Mosnter itu pun mati dengan sekali serang.
Syut!
Jleb!
Erra sekali lagi melepaskan serangannya. Karena ia lebih serius menyerang, kecepatannya berlari berkurang. Ia pun akhirnya mulai terkepung lagi.
“Hah... serba salah...”
.
.
.
“Yap! Akhirnya tugas kita selesai!” seru Lunariaa dengan penuh semangat.
“Ya, ayo kita segera kembali ke desa.” Balas Arini.
Keduanya berhasil menemukan jamur yang mereka cari dan dalam jumlah yang lebih dari cukup. Keduanya kini bersiap untuk bergerak kembali ke Desa Gezar. Tapi...
Srak! Srak! Srak! Srak!
Buk!
__ADS_1
“Hey! Kembalikan jamurku!”
“Rrrraaaa!!”
Sebelum Lunariaa memasukan jamur yang dikumpulkannya di keranjang ke dalam inventorinya. Tiba-tiba saja muncul tiga ekor kera, dan merebut keranjang itu.
“Water Bomb!”
Wuush!
Blar!
Tanpa pikir panjang, Arini melepaskan serangan ke arah para kera itu.
“Rrraaa!!!”
Satu dari mereka yang terluka berat, dan dua lainnya terluka ringan.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Lunariaa juga tak bicara lagi dan segera menerjang ketiga kera itu.
Wuss! Wuss! Wuss! Wuss!
Ia mengayunkan kapakanya mengenai ketiga kera itu. Dan salah seekor dari mereka yang terluka berat pun mati. Sissa dua ekor lainnya berusaha kabur sambil...
“Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!!”
...terus berteriak seperti itu.
“Lunariaa cepat kejar mereka! Firasatku buruk!” seru Arini sambil mulai mengejar para kera.
Lunariaa pun tanpa menjawab Arini segera berlari secepat yang ia bisa. Dari kejauhan, Arini coba menyerang dengan sihirnya, tapi sulit mengenai target.
“Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!!”
“Rraaa!! Rraaa!!”
“Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!!”
“Rraaa!! Rraaa!!”
“Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!! Rraaa!!!”
“Rraaa!! Rraaa!!”
“Sial! Tinggalkan saja! Kita harus kabur!” teriak Arini.
“Kau tak perlu mengatakannya!!!”
Kedua gadis itu, yang tadinya menjadi pengejar. Kini menjadi yang dikejar.
Kedua kera itu ternyata memanggil kawanannya, yang kini mulai mengejar kedua gadis itu.
.
.
__ADS_1
.