
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 7 : Pelatihan Scouts I.
+++
Plaza tempat Erra berada saat ini adalah plaza yang ada di tengah Avalan City. Sebuah plaza dengan ukuran luas yang besar. Dan tempat ini sangat teramat ramai.
Erra mulai berjalan, untuk menemukan tempat pelatihan Scouts. Ia ingin menanyakan arah pada orang di sekitar, tapi banyak yang mengabaikannya. Bahkan banyak mata yang merendahkannya karena ia adalah pemain baru.
“Hm... di dunia mana pun manusia sama saja. Banyak yang sombong hanya karena merasa lebih tinggi.” Ucap Erra mengomentari orang-orang yang memandangnya rendah.
Erra pun lanjut berjalan ke arah pinggiran plaza. Sampai ia sedikit meninggalkan area plaza ke salah satu jalan utama kota ini. Setelah beberapa saat menjauh, hidungnya menangkap aroma yang menarik.
“Aromanya enak.”
Setelah berkata begitu, Erra mengikuti aroma itu dan sampai lah ia di sebuah kedai. Kedai yang cukup besar dan ramai. Erra pun menghampiri kedai itu.
“Maaf, kau mau ke mana?” tanya seorang penjaga yang berdiri di samping pintu masuk kedai, dengan kata-kata yang terdengar sopan namun dengan nada yang merendahkan.
“Mau masuk.” Jawab Erra dengan polos.
Si penjaga menatap Erra tajam, memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Erra pun paham dengan maksud si penjaga.
“Kalau aku tidak boleh masuk, katakan saja.” Ucap Erra.
“Bagus kalau kau mengerti, pergi lah!” hardik si penjaga.
Erra pun berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu, namun ia kembali menghadap si penjaga dan berkata...
“Aku tidak tahu berapa lama. Tapi aku akan kembali ke sini. Bukan untuk membeli makanan di sini, tapi untuk membeli tempat ini. Dan kau ini NPC, kan? Eh, maksudku Lander.
Kuyakinkan kau sekarang. Saat waktu itu tiba, bersiap lah. Kau tak akan suka.”
Setelah berkata begitu, Erra langsung meninggalkan tempat. Di dalam hatinya, Erra menyimpan rasa kesal yang besar. Dari dulu ia selalu membenci sikap orang-orang yang memandang rendah orang lain. Apalagi orang seperti si penjaga.
Tanpa ada rasa merendahkan orang yang pekerjaannya menjadi penjaga atau satpam. Erra sangat membenci orang-orang seperti itu, yang hanya punya kekuasaan kecil tapi bersikap begitu sombongnya. Padahal, mereka tetap bisa menjaga keamanan tempat yang mereka jaga dengan bersikap sopan.
Erra kembali berjalan, ia tak lagi berusaha bertanya pada orang yang lewat. Ia kini coba memasuki sebuah jalan kecil. Badan jalannya sebenarnya tidak kecil, tapi ukurannya lebih kecil dari jalan utama. Di sana ia mendapati aroma menggoda selera lainnya, dan coba mengikutinya.
Ternyata aroma itu berasal dari sebuah gerobak yang menjual makanan. Gerobak penjual makanan itu terlihat menjual semacam bolu dan minumannya hanya ada susu. Erra menghampirinya.
“Permisi, boleh aku tahu berapa harganya ini?” Erra berusaha bersikap sangat sopan.
“Oh, tentu saja boleh. Itu harganya 2 Ard untuk satu potong. Kalau kau membayar 5 Ard, kau dapat tiga potong atau satu potong dengan segelas susu.” Jawab si pemilik gerobak yang ternyata seorang kakek, dan ia juga lander.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku mau satu.” Ucap Erra sambil mengulurkan tiga koin tembaga.
“Baiklah... ini!” si kakek memberi Erra sepotong bolunya dan mengambil uangnya.
“Oh, ya. Maaf aku boleh tanya lagi?” ucap Erra sambil memegang bolunya.
“Oh, boleh. Kalau aku tahu, aku jawab.”
“Arah utara ke mana, ya?”
“Utara? Ke sana.” Si kakek menunjuk suatu arah.
“Begitu, ya? Terima kasih, kek. Aku permisi dulu.”
Erra segera meninggalkan kakek penjual bolu itu. Dan segera berjalan ke arah utara.
Sambil berjalan, ia memandangi bolu hangat di tangannya, yang tak hentinya mengeluarkan aroma sedap. Ia sedikit menekan-nekan bolu itu, sampai akhirnya coba memakannya.
“Aromanya sangat nyata, teksturnya juga tidak bisa dibedakan dengan bolu asli. Dan rasanya juga seenak ini. Aku tidak menyangka kalau makanan di dunia virtual ini akan senikmat ini.”
Erra terus berjalan ke arah utara yang ditujunya, sambil menikmati bolunya.
Kenapa Erra malah bertanya arah utara?
Bukannya langsung saja menanyakan arah tempat pelatihan Scouts?
Sayangnya, saat ini sedang tengah hari di dunia virtual ini. Erra tak bisa menentukan arah utara karena matahari tepat ada di atasnya. Jadi, ia pun berusaha mencari tahu arah utara ke mana.
.
.
.
“Ah, sampai juga.”
Erra kini telah sampai di depan tempat pelatihan Scouts. Bangunannya berupa gedung tiga lantai yang terlihat sederhana dengan arsitektur standar eropa pada abad pertengahan akhir.
Erra mulai melangkah menuju pintu masuk bangunan itu. Terlihat ada beberapa orang yang keluar masuk bangunan ini, tapi tak bisa dikatakan ramai. Erra pun terus berjalan memasuki lobi, dan menuju meja resepsionis.
“Selamat datang. Ada yang bisa dibantu?”
Sambutan standar segera dihantarkan sang resepsionis dari mejanya. Ia adalah resepsionis perempuan, yang terlihat memiliki penampilan di usia dua puluhan awal. Gadis ini terlihat memiliki tampilan tipikal gadis Eropa yang memiliki rambut pirang bergelombang, serta mata biru.
“Aku baru, dan mendapat misi untuk menjalankan pelatihan di sini.”
“Oh, begitu ya? Saya mengerti, kalau begitu...”
__ADS_1
Si resepsionis pun memberikan beberapa penjelasan yang diperlukan. Salah satunya adalah ruangan mana yang harus Erra tuju di bangunan ini. Juga tentang biaya pelatihan yang harus ia bayar.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan si resesionis. Erra pun dengan segera menuju ke tempat yang tadi di tunjukan.
.
.
.
Erra sudah tiba di ruangan yang ditujunya. Ruangan ini memiliki ukuran yang cukup luas, bisa dikatakan kalau luasnya setara dengan dua buah lapangan sepak bola yang berjajar. Ruangan ini punya langit-langit yang tinggi, kurang lebih sekitar lima belas meter.
Ruang berlantai tanah ini bukan lah ruangan yang kosong. Tapi terdapat banyak hal yang terlihat merupakan perangkat latihan. Dan di ruangan ini, Erra tak sendirian. Karena di sini ada...
“Halo! Selamat siang, hey kau pendatang baru! Aku Igor, yang akan menjadi instrukturmu! Sebutkan lah namamu!”
“Erra.”
“Waha! Dingin sekali!” komentar Igor mendengar Erra. Dan kemudian lanjut berkata,
“Aku bukan orang suka basa-basi, dan kelihatannya kau juga. Jadi, mari kita langsung saja mulai pelatihannya!”
“Ya.”
“Pertama-tama, sebelum kita mulai ke bagian utama. Aku ingin tahu apa alasanmu memilih untuk menjadi Scouts. Bahkan ini adalah Job pertama yang kau pilih.”
“Karena aku bisa jadi keren.”
“.......” Igor terpaku mendengar jawaban Erra.
“Buahahaha!!! Jawaban yang bagus!” instruktur yang tak punya rambut di kepalanya itu pun tertawa terbahak-bahak.
.
.
.
Bersambung...
Terima kasih sudah mampir....
Tolong jangan lupa Like dan Komentarnya, ya...
Sekalian juga masukan kisah ini ke daftar Favorite-mu!
Dan, kalau ada boleh lah bersedekah Vote...
__ADS_1
Sampai jumpa di bab berikutnya...