
+++
Arc 1 : Births of The Ender
Bab 39 : Menyebalkan.
+++
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
"Baiklah, cari target berikutnya..."
Seperti hari-hari sebelumnya, Erra kembali berburu Plague Pig. Tapi, ada hal yang sedikit berbeda untuk hari ini. Dan itu adalah kecepatan berburu Erra yang lebih cepat dari hari-hari sebelumnya.
Sebelumnya, Erra mencari targetnya perlahan. Lalu ia mengendap-endap perlahan lagi. Lalu membidik dengan hati-hati sebelum akhirnya melepaskan tembakan.
Sedangkan sekarang, Erra bergerak dengan cepat mencari targetnya. Lalu ia tak mengendap-endap lagi saat melihat target. Tapi ia langsung menerjang dan menghujani targetnya dengan serangan panahnya tanpa membidik dengan teliti.
"Ah, di sana!"
Srak-srak-srak!!!
Erra segera berlari menembus semak belukar hutan begitu melihat seekor Plague Pig.
Plague Pig yang menjadi target Erra pun dengan mudah menyadari kedatangan Erra yang rusuh itu. Dan tentu saja Plague Pig itu segera melarikan diri.
Kreket!
Erra menarik busurnya sembari masih berlari sambil menembus semak belukar.
Syut! Sret!
"Ngork!!"
Tembakan Erra itu tak berhasil menancap di tubuh si Plague Pig. Tapi berhasil memberi goresan yang cukup dalam.
Tanpa mengeluarkan reaksi apa pun atas kegagalannya. Erra segera menarik busurnya lagi dengan anak panah baru.
Syut! Jleb!
"Ngoork!"
Dan saat Erra melepaskan anak panah itu. Kini berhasil menanamkannya pada paha kiri si monster hijau.
Keberhasilannya ini tak membuatnya puas diri, dan ia pun terus menghujani targetnya itu dengan serangan beruntun.
Syut! Jleb!
Syut! Sret!
Syut! Jleb!
Syut! Sret!
Syut! Jleb!
Syut! Sret!
Rentetan anak panah yang Erra lesatkan sebagian berhasil tertancap di tubuh si Plague Pig. Namun tak sedikit juga yang hanya menggoresnya.
__ADS_1
Meski begitu...
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
...ia berhasil mengahabisi Plague Pig itu.
"Hm... anak panahku..."
Erra memeriksa anak panahnya. Dan mendapati kalau ia telah memakai semua anak panahnya. Tapi, bukan berarti Erra telah kehabisan anak panah.
Karena sebuah anak panah bisa terus dipakai berulang kali sampai hancur. Erra selalu mengumpulkan kembali anak panah yang telah dipakainya. Oleh karena itu, meski ia telah sempat memakai semua anak panahnya, ia juga tak kehabisan anak panahnya.
"Rata-rata hanya bisa dipakai sekali lagi. Dan jumlah totalnya tinggal ada dua puluhan lagi. Lanjutkan tidak, ya?"
Err kini menimbang kiranya apa ia perlu menghentikan perburuannya kali ini atau melanjutkannya.
"Eh? Di mana ini?"
Ya, Erra tetap lah Erra. Kini, lagi-lagi karena terlalu fokus dalam perburuannya. Ia lupa melihat lokasi tempatnya berada. Dan ia pun kemudian membuka peta dari panel menunya.
"Ah... Ternyata aku sudah masuk bagian dalam, ya?"
Seperti yang ia katakan. Erra kini telah berada di daerah tengah dari Kork Forest.
"Kalau begini, berarti aku harus kembali. Bertemu monster penghuni daerah ini bukan hal bagus untukku."
Dan dengan begitu, Erra pun mulai bergerak ke arah luar Kork Forest.
.
.
.
"Honey-Cola, satu."
Erra memesan minuman di meja konter.
'Ah... sepertinya... aku mulai pegal... ya... meski aku mulai terbiasa, tapi tetap menyebalkan...'
Itu adalah ucapan Erra dalam benaknya.
"Silakan!"
"Terima kasih."
Begitu mendapatkan pesanannya, Erra segera meninggalkan meja konter. Ia berjalan ke arah sebuah meja untuk dua orang. Yang mana saat ini sedang ditempati oleh satu orang.
"Yo! Kau sedang sendirian, kan? Jadi tak masalah kalau aku duduk di sini, kan?"
Erra berkata begitu sambil duduk.
"Maaf tapi aku sedang menunggu seseorang." jawab orang di meja itu.
"Siapa? Temanmu yang sesama penguntit?" tanya Erra.
"Apa maksudmu? Lagipula apa maumu?"
"Tak perlu berlagak bodoh. Aku tahu kau dan kawananmu sudah mengikutiku terus ke mana pun aku pergi selama beberapa pekan ini. Dan itu mulai menyebalkan. Tapi setidaknya kalau kalian semua itu para gadis cantik aku tidak keberatan."
Lawan bicara Erra berusaha memasang wajah datar alias poker face. Tapi, meski hanya sekilas Erra bisa melihat kedutan pada kelopak mata orang itu. Yang menandakan kalau ada yang berusaha untuk ditutupi orang ini.
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksud dan arah pembicaraan ini?" ucap orang itu berusaha mengelak dari Erra.
"Golden Stars atau The Beast?
Kalau sesuai daerah seharusnya kalian Golden Stars. Tapi, The Beast terkenal suka bergerak di daerah lain di luar daerah mereka.
Jadi, kalian yang mana?"
"Sudah kukat... "
"Aku memang orang kecil. Dan kelompok sebesar kalian mungkin memang bisa bertingkah sesuka kalian pada orang kecil sepertiku. Tapi, asal kalian tahu saja. Aku tak akan tinggal kalau kalian menggangguku.
Aku akan jadi kerikil kecil di dalam sepatu kalian. Yang tak bisa kalian keluarkan kecuali kalian membuang sepatu itu.
Kukira, orang sepertimu seharusnya bisa paham maksudku. Jadi, sekali lagi aku tanya dari mana kalian ini?"
Lawan bicaranya baru mau mengeluarkan bantahan lainnya. Tapi Erra segera memotong kalimatnya. Dan menghujani orang itu dengan ucapannya.
Dan kini, lawan bicara Erra itu terdiam. Tapi ia masih berhasil memasang wajah datarnya. Lalu beberapa saat kemudian ia buka mulut lagi.
"Aku tanya lagi. Apa maumu sebenarnya? Dan..."
"Haha... baiklah. Aku sebenarnya sedang malas membuat masalah baru karena ada hal yang lebih penting daripada melayani kalian."
Glek! Glek!
Erra lagi-lagi memotong pembicaraan lawan bicaranya. Lalu meneguk habis minumannya.
Tak!
Dan menaruh gelas kosong di tangan kanannya itu dengan sedikit bantingan. Lalu lanjut bicara...
"Tapi, sepertinya aku akan melayani kalian dulu agar tak terlalu menggangguku selama beberapa waktu ke depan. Permisi."
Erra pun meninggalkan orang itu. Dan orang itu terus menatap arah Erra pergi. Yang ternyata bukan menuju pintu keluar. Dan malah menuju ke sebuah meja yang diisi dua orang.
"Yo!" Ucap Erra sambil duduk bergabung dengan dua orang itu.
Dan tanpa menunggu respon dari dua orang itu, Erra langsung berbicara.
"Kalian berdua temannya orang itu, itu, itu, dan... yang itu juga, kan?"
Erra menunjuk beberapa orang termasuk lawan bicaranya barusan.
"Aku tahu kalian mengikuti terus. Informasi apa sebenarnya yang kalian mau dariku aku tidak peduli. Tapi kalian menyebalkan, dan aku ingin kalian berhenti walau sejenak. Setidak satu atau dua abad ke depan.
Kalian tahu, kan?
Satu abad itu berapa jam?
Kalau tidak tahu cobalah cari tahu."
Setelah berbicara begitu, Erra langsung pergi meninggalkan kedai itu.
Lalu dua orang itu, dan semua orang yang Erra tunjuk barusan. Saling lirik satu sama lain, dan satu per satu pergi meninggalkan kedai juga.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...