
+++
Jangan lupa Like dan Comment..!!!
Selamat membaca..!!!
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 4 : Keluar Hutan.
+++
“Itu...?”
Erra sekilas mendengar suara keributan dan segera melirik ke arahnya. Dan ternyata ada dua orang yang sedang berusaha kabur dari seekor serigala yang besar. Erra bergerak sedikit mendekati mereka, untuk bisa melihat lebih jelas.
Dua orang yang Erra lihat ternyata adalah dua lelaki muda, yang mungkin masih berusia sekitar sebelas sampai tiga belas tahun.
“Lander?” tanya Erra.
Pamain berambut putih itu kemudian melihat serigala besar yang megejar kedua orang itu.
“Direwolf?” gumam Erra saat melihat serigala itu.
Serigala itu memiliki ukuran tubuh yang beberapa kali lebih besar dibandingkan dengan serigala di dunia nyata. Tapi, serigala ini sendiri sebenarnya dibuat berdasarkan serigala yang memang pernah ada di dunia nyata. Dan dunia virtual ini sekarang, serigala ini tergolong monster.
Erra melihat ke arah sekeliling.
“Tidak ada... apa perlu ku tolong, ya?”
Erra mencari keberadaan Direwolf lainnya. Karena biasanya serigala bergerak dalam kawanan.
“Coba saja lah...”
Erra kemudian menyiapkan busurnya sambil mencari tempat yang cocok untuk menembak. Bukan hanya jaraknya yang tak terlalu jauh atau terlalu dekat, dan bisa menembak dengan bebas. Erra juga mencari tempat yang akan sedikit menyembunyikan dirinya.
Kedua orang yang sedang dikejar itu akhirnya terpojok. Mereka berdua memunggungi sebuah pohon besar. Dan kini keduanya tengah tatap mata dengan si monster serigala.
“Kakak....” ucap salah satu orang itu.
“Adik, maaf aku tak bisa melindungimu...” balas yang satunya.
“Aku yang minta maaf karena tak mendengarkan kakak.”
“Tidak apa.”
Kedua orang yang ternyata kakak dan adik ini, telah menyerah untuk kabur dari si monster serigala. Dan mereka pun merelakan hidupnya berakhir di mulut monster itu.
“Grrr...” erangan si monster.
ZLAB!!!
Sebuah anak panah menghantam leher sisi kiri serigala itu dengan begitu kuatnya. Sebuah anak panah yang dilesatkan oleh Erra, setelah menahan anak panahnya selama beberapa saat. Hingga mengaktifkan Power Shot.
Setelah melepaskan anak panahnya itu. Erra segera menyiapkan anak panah lainnya. Dan bersiap lagi menembakan Power Shot.
__ADS_1
Si monster serigala kini telah menatap ke arah Erra. Setelah beberapa saat mengerang, ia pun memutuskan untuk menerjang ke arah Erra. Tapi...
ZLAB!!!
“HIIIEEKK!!!”
Si serigala segera menjerit kesakitan saat Power Shot kedua mendarat tepat di mata kirinya. Menghancurkan matanya itu dengan seketika. Selain menyebabkan kebutaan pada mata kiri monster serigala itu. Tembakan barusan menyebabkan monster itu kehilangan banyak Hit Point.
“GGRRR!!! AAAUUUU!!!!”
Setelah membuat suara gaduh itu, si Direwolf menerjang ke arah Erra dengan berlari cepat. Erra sendiri telah kembali siap melepaskan Power Shot berikutnya.
Jarak antara Direwolf itu dengan Erra adalah sekitar lima puluh meter. Meski tubuh besarnya itu menghalangi dirinya untuk berlari lurus ke arah Erra karena terhalang pepohan besar. Monster serigala itu, berhasil memotong jarak sejauh dua puluh meter hanya dalam lima detik saja. Tapi setelah itu gerakannya mulai melambat.
Si monster serigala merasa kaki kiri depannya menjadi kekurangan tenaga, dan mulai lemas. Karena ini lah ia melambat saat berlari. Dan penyebabnya adalah kedua anak panah Erra yang tentu saja dilumuri racun.
ZLAB!!!
Erra melepaskan sebuah Power Shot untuk ketiga kalinya. Dan incarannya adalah kaki kiri depan si monster serigala.
ZRRRRUUUUUGGG.....!!!!
Monster serigala itu segera tersungkur saat terkena serangan itu. Selain karena efek tabrakan anak panah yang menembus kakinya itu. Racun pada anak panah itu juga menghilangkan sepenuhnya tenaga dari kaki kirinya.
Sedari tadi, Erra memakai racun favoritnya untuk saat ini. Dan itu adalah High Paralyze Poison 2.
Krreeeketketket....!!
Erra menyiapkan sebuah tembakan Power Shot yang diarahkan langsung pada kepala Direwolf itu. Dengan jarak yang hanya kurang dari dua meter. Tahu dirinya dalam bahaya, monster serigala itu berusaha untuk bangun dan itu tak terlalu sulit. Karena yang sekarang lumpuh total adalah kaki kiri depannya saja.
Erra tak kehilangan ketenangannya meski pun si serigala kini telah berdiri lagi, dan siap menerjangnya. Kemudian di saat serigala raksasa itu akan menerjang...
ZLAB!!
Erra melepaskan Power Shot-nya, dan berhasil menanamkannya dengan dalam ke mata kanan si monster serigala. Karena tembakannya yang sangat kuat dan jaraknya yang sangat dekat. Tembakan Erra ini berhasil menembus mata kanan Direwolf itu dan menjangkau otaknya. Dengan seketika, menghabisi si monster serigala.
Erra segera mengeluarkan pisau Loot-nya, dan melakukan Looting...
.
.
.
“Terima kasih kau kembali, Neo.” Ucap Lunariaa pada si pedagang.
“Ahaha... tidak masalah. Lagipula, kalau aku terus lari. Belum tentu aku akan selamat. Selain itu, aku hanya berhasil membawa sedikit barang daganganku.”
“Ya, kau benar juga. Sekarang mau bagaimana? Kuda penarik keretanya mati, dan keretamu juga rusak.”
“Ya... kita lanjutkan dengan berjalan kaki, kalau kalian tak keberatan.”
“Tentu saja, kami tak keberatan. Lalu barang-barangnya?”
“Hm... setahuku kalian para avatar punya semacam tempat penyimpanan tanpa batas tak berwujud yang namanya inventori, kan?”
“Ah, iya. Kami punya.”
__ADS_1
“Bisa kalian membawa barang-barang ini di sana?”
“Tentu saja.”
Lunariaa dan Arini mulai mengumpulkan barang-barang dagangan milik Neo yang cukup berserakan karena keretanya terbalik. Sedangkan Neo sendiri mengumpulkan barang-barang yang dijatuhkan para perampok. Dan mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Jujur saja, menurutku. Untuk seroang Lander pedagang, kau sangat berani.” Ucap Lunariaa.
“Waha... aku dipuji nona cantik...”
Neo sedikit memerah wajahnya, lalu lanjut berkata...
“Aku sebenarnya bermimpi menjadi seorang petualang. Tapi, keluargaku melarangnya. Sebagai putra sulung, mereka ingin aku meneruskan toko yang dimiliki ayahku. Jujur saja, aku sangat enggan melakukan itu. Diam si satu tempat untuk selama sisa hidupku itu pasti membosankan.
Lalu, aku terpikirkan untuk menjadi pedagang keliling. Jadi, aku bisa meneruskan usaha dagang ayahku sambil melakukan petualangan. Awalnya ditolak mentah-mentah, tapi akhirnya aku bisa meyakinkan kedua orang tuaku.”
“Wah, begitu...”
Obrolan ringan pun terus menemani perjalanan mereka.
Tiga orang ini terus berjalan sampai gelap datang, dan mereka pun beristirahat. Tak ada lagi gangguan perampok yang muncul, tapi ada beberapa gangguan monster dan hewan buas di hutan ini. Neo terus ikut bertarung selama sisa perjalanan, karena ia ingin merasakan menjadi petualang.
Dan setelah melewati tiga malam di hutan. Akhirnya mereka keluar dari hutan itu.
.
.
.
Setelah selesai dengan jasad si Direwolf, Erra menghampiri dua orang yang tadi dikejar monster serigala itu.
“Kalian mau mati atau hidup?” tanya Erra.
Kedua orang itu hanya melotot kaget dan bingung dengan pertanyaan Erra.
“Kalian sudah terluka parah dan kalau dibiarkan bisa mati. Kalau kalian sudah tidak ingin hidup aku akan membantu kalian untuk mati dengan belatiku ini. Tapi, kalau kalian masih mau hidup. Aku akan berikan ini, tapi tidak gratis.”
Erra berkata begitu sambil menunjukkan dua botol High Healing Potion 3.
Dengan bibir bergetar, salah satu dari kedua orang itu yang terlihat lebih tua berkata...
“B-berapa kami... harus b-bayar? K-kami tidak... p-punya banyak... u-uang...”
“Aku tahu dari tampang kalian, pasti kalian miskin. Makanya aku mau minta bayaran yang lain. Kalian tunjukan tempat aku bisa beristirahat dengan tenang di sekitar sini saja, itu cukup.”
“B-baiklah... b-bagaimana kalau... ke desa k-kami? Tidak, jauh... d-dari sini...”
“Baiklah, minum ini.” Erra menyerahkan dua botol ramuan itu.
Setelah pulih, kedua orang itu membawa Erra ke desa mereka.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...