
.
.
.
Pertempuran yang terjadi di sisi luar dinding pertahanan Desa Green Hut akhirnya mencapai akhir. Semua penyerang yang berasal dari Desa Gezar itu kini sudah tiada. Sebagian besar dari mereka mati di tempat, dan sebagiannya lagi melarikan diri. Pihak Green Hut pun memutuskan untuk tak mengejar yang melarikan diri.
Mereka tak mengejar karena saat ini, pertempuran mereka belum selesai sepenuhnya. Karena pertempuran di sisi dalam dinding masih berlangsung hingga saat ini. Para pasukan yang ada di sisi luar dinding ini ingin membantu pasukan yang ada di sisi dalam dinding. Tapi mereka memutuskan untuk memulihkan diri terlebih dahulu sebelum melakukannya.
Sementara itu, pertempuran di sisi dalam dinding juga sebenarnya sudah hampir selesai. Karena pasukan penyerang kini sudah terpojok, dan pasukan pertahanan sudah berhasil menjadi yang unggul. Hanya saja, masalahnya adalah anggota-anggota pasukan penyerang yang masih tersisa di sana adalah anggota-anggota terbaik.
Mereka adalah anggota Golden Stars dengan level tiga puluhan sampai empat puluhan awal. Level yang cukup tinggi untuk membuat pasukan pertahanan Desa Green Hut tak mampu membasmi mereka dengan cepat. Karena setiap anggota pasukan Desa Green Hut, belum ada satu pun yang mencapai level sepuluh. Dan selain karena level mereka yang lebih tinggi. Pengalaman bertempur mereka yang lebih banyak pun membantu mereka mempertahankan diri.
“Sial! Di mana mereka?!” teriak salah satu anggota Golden Stars yang masih bertahan.
Yang ia maksud adalah pasukan kecil yang seharusnya menyerang dari selatan.
“Mungkin mereka sudah hancur!”
“Kita mundur! Orang itu tak ada di sini! Dia pasti di sana, dan Fitz pasti ke sana!”
Para anggota Golden Stars ini akhirnya memutuskan untuk mundur. Tapi, meski sudah memutuskan seperti itu. Bukan berarti mereka bisa langsung mundur begitu saja. Karena biar bagaimana pun juga mereka terkepung oleh musuh dari segala arah.
“Kalian pikir bisa lari, hah?!”
Seruan yang berasal dari Lunariaa itu disertai dengan ayunan kapaknya yang kuat. Ia menerjang ke tengah lawan, dan bertarung langsung dengan lima orang itu. Lunariaa memang hebat, tapi ia tetap belum bisa melawan musuh sebanyak itu dengna kekuatan sejauh itu, sendirian.
Lalu kenapa ia melakukannya?
Apa dia terlalu percaya diri, hingga jadi bodoh?
Bukan, bukan itu alasannya. Alasannya adalah rasa percayanya pada rekan dan sahabatnya, Arini. Yang mana selalu mendukungnya dari belakang.
Lawan Lunariaa kini menjadi sangat jengkel. Karena mereka tahu seharusnya mereka bisa mengalahkan gadis berkapak ini dengan cukup mudah. Akan tetapi dukungan sihir dari Arini sangat mengganggu mereka. Karena itu lah...
“Semua karena penyihir itu! Kita habisi dia!!!”
__ADS_1
Jika dilihat sedikit ke belakang, pasukan penyerang sudah hampir bisa menguasai keadaan. Namun semua itu sirna ketika Arini turun tangan. Ini bukan berarti Arini sangat hebat luar biasa, tapi hanya karena Arini adalah seorang penyihir.
Di dalam pertempuran di dunia sihir dan pedang seperti Ardanium’s Tale Online ini. Kekuatan sihir bisa dipakai untuk menguasai keadaan, atau membalikan keadaan.
Semua terlihat jelas sejak awal. Karena tak ada pemakai sihir, pasukan pertahanan berhasil didesak meski memiliki senjata racun yang melimpah dan strategi yang cukup bagus. Dan pasukan pertahanan juga bisa mengubah keadaan saat penyihir di pihak penyerang telah binasa. Kemudian pinyihir mereka ikut bertempur, meski pun hanya seorang diri.
Sadar musuh mengincar Arini, Lunariaa berusaha menghambat mereka. Namun, ia dijegal oleh musuh yang lainnya.
“Lindungi Arini!!!” teriak Lunariaa sekuat tenaga.
Pasukan pertahanan Desa Green Hut yang mendengarnya segera berusaha melindungi Arini. Dan untuk saat ini para anggota pasukan penyerang yang hendak menerjang Arini bisa ditahan. Namun bisa dilihat kalau hal tersebut juga tak akan bertahan lama.
Dan benar saja, mereka berhasil menembus pertahanan dan mencapai tempat Arini berada.
“Mati kau gadis sialan!”
Orang ini mengucapkannya sambil mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Arini. Tapi itu tak membuat si gadis penyihir gentar. Wajahnya datar, tenang, seperit tak ada masalah. Itu karena...
“Yang benar saja!”
Bukan hanya satu atau dua kali. Arini bisa menghindari serangan pedang itu dengan mulus. Bahkan kini ada tiga orang yang mengepungnya, dengan dua diantaranya memakai pedang dan seorang lagi memakai tombak. Tapi ketiganya tetap tak bisa melukai Arini.
“Magic Shot!”
Blar!
Arini melepaskan sihir serangan paling lemah itu, dengan ujung tongkat sihirnya yang berada di dalam mulut targetnya. Yang dengan seketika meledakan kepalanya. Kepala yang meledak itu menghamburkan cukup banyak darah, yang menghujani Arini dan rekan si korban.
Kedua rekan korban yang ada terjatuh, mereka kaget dengan yang mereka lihat di depan matanya. Meski mereka pemain, dan tahu semua ini hanya lah dunia virtual. Wajar kalau mereka tetap saja kaget saat melihat kepala manusia tiba-tiba meledak di hadapan mereka.
Pasukan yang masih ada di luar dinding akhirnya memasuki dinding. Dan akhirnya, pertempuran di Desa Green Hut pun berakhir.
.
.
.
__ADS_1
Zrat!
“Ah, untung saja.”
Erra baru saja menghindari serangan anak panah yang bercampur Power Shot. Ia langsung melihat ke arah sumber serangan, dan...
“Oooh...! Yo! Kau muncul juga Fitz Si Payah! Aku baru mau menambah gelarmu dengan Si Pengecut!”
Erra mengucapkannya sambil sedikit melambaikan tangan, seperti menyapa kawan lama yang lama tak bertemu.
Fitz tak menjawab Erra, dan hanya menyiapkan serangan berikutnya. Erra sendiri menyadari kalau kini ada beberapa orang yang baru bergabung dengan pertempuran ini.
“Hahaha!!! GOLDEN STARS!!!!”
Suara Erra yang begitu lantang itu menggema di rimba ini. Membuat semua orang berhenti seketika dari pertarungan mereka karena rasa kaget. Perhatian mereka juga teralihkan pada Erra.
“Golden Stars yang agung! Salah satu dari kekuatan dunia! Untuk menangkap diriku, Erra! Kalian menurunkan petinggi. Lalu memanipulasi Desa Gezar untuk berperang!
Kuucapkan terima kasih yang sangat banyak! Karena kalian telah memujiku dengan begitu agungnya! Bahkan kalian bersedia merendahkan diri kalian!”
Entah kenapa pertarungan berhenti, berhenti semua, berhenti total. Semua menatap ke arah Erra, dan mendengarkan setiap ucapannya. Fitz yang menyadari hal ini merasakan firasat buruk dan hendak menghabisi Erra secepatnya. Namun sayangnya...
‘Kenapa ini?! Aku tidak bisa bergerak! Tidak mungkin dia punya Skill seperti ini!’ teriak Fitz dalam benaknya.
Saat Fitz tak melihat ada tanda kalau dirinya terkena serangan Skil yang membuat berhenti bergerak. Ia seketika itu juga merinding. Rasa takut menjalar di tubuhnya.
‘Orang ini! Tidak mungkin! Tidak mungkin terjadi hal seperti ini di dunia virtual!!!’
“Sebagai tanda terima kasihku atas pujian kalian! Aku tak akan membiarkan misi kalian berhasil!”
Bosh!!!
Erra membanting bom asap yang menyelubungi dirinya dan sekitarnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...