
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 37 : Akhir Pengejaran.
+++
Fitz mencapai tempat Erra. Sambil melompat ke arah Erra dengan mengayunkan pedangnya dengan kuat, ia berteriak...
“Mati kau!!!”
Trak!
Erra tak sempat menghindar, tapi sempat menahan tebasan pedang Fitz dengan busurnya. Erra bisa melihat notifikasi seberapa banyak kerusakan yang diterima busurnya, dan berdecak kesal karenanya. Ia pun mundur beberapa langkah dan mencoba menyerang Fitz dengan menembakan panahnya.
“Tak akan berhasil!” teriak Fitz.
Trang!
Fitz dengan mudah menangkis serangan Erra dan kembali menerjang. Erra tak bisa kabur lagi kali ini dan harus menerima pertarungan jarak dekat yang sangat merugikannya ini. Ia pun mencabut belatinya sebagai senjatanya.
Trang! Tring! Trang! Tring! Trang! Tring!
Fitz dengan begitu liarnya mengayunkan pedang pendeknya ke arah Erra. Dan di sisi lain, Erra yang memegang belatinya terbalik itu berhasil menangkis sebagian saja serangan dari Fitz. Sedangkan sisanya berhasil lolos, dan membuat Erra mulai kehilangan Hit Point.
Melihat Erra terdesak seperti itu, para anggota kelompoknya terlihat ingin membantu. Tapi mereka tak melakukannya karena...
“Fokus pada pertarungan kalian!!!”
...mendengar teriakan Erra itu.
“Sombong sekali kau! Bukankah selama ini kau selalu kabur karena tahu tak mungkin menang dariku saat bertarung langsung, hah?!” Fitz mengucapkannya dengan wajah yang sangat beringas.
“Ya, betul.” Jawab Erra tanpa jeda dan wajahnya yang datar.
Jawaban Erra sedikit menyentak Fitz. Karena tak menyangka akan mendapatkan jawaban ‘jujur’ seperti itu dengan segera. Fitz mengira kalau Erra akan bersilat lidah dan tak mengakuinya, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya.
“Kalau memang kau merasa begitu, kenapa kau tak membiarkan mereka membantumu, hah?! Apa kau mau berlagak sombong lagi?!”
“Berlagak sombong? Siapa yang berlagak sombong? Aku memang sombong!”
Fitz dibuat tersentak lagi oleh jawaban Erra yang seperti tak terima dirinya disebut berlagak sombong.
‘Orang ini otaknya rusak atau kenapa?!’ ucap Fitz dalam benaknya.
Wajar Fitz berkata seperti itu. Karena hampir tak ada orang yang mengakui dirinya sombong. Meski pun dirinya adalah orang yang sangat sombong. Dan dalam setiap budaya pun bersikap sombong adalah suatu hal yang seharusnya dihindari. Karena bisa membawa berbagai macam penyakit hati.
“Cukup basa-basinya! Kuhabisi kau sekarang!”
Fitz berseru dengan penuh semangat. Namun tanpa jeda sedetik pun Erra menyambung kalimat Fitz dengan ucapan...
“Benarkah? Kau yakin bisa melakukannya?”
Erra mengucapkannya dengan nada mengejek dan menyepelekan Fitz. Membuat Fitz sangat emosi, dan bersiap melancarkan serangan yang akan menghabisi Erra. Namun, ketika ia mengayunkan pedangnya...
“Water Bomb!!!”
__ADS_1
Wuuoosssh!!!
BYARRRR!!!
Serangan bom air menghantam kepala Fitz dengan sukses. Membuat sahabat dari Kronoz itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Lalu di saat ia belum mendapatkan keseimbangannya kembali...
“Rock Cutter!!!”
WUUZH!!!
KLANG!!!
“Sial!”
Fitz mengumpat saat menerima serangan kapak yang bisa memotong batu itu. Karena serangan itu membuat dirinya terhempas dan menabrak sebuah pohon. Pedangnya tak sampai patah, tapi rusak berat.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Dengan mendadak muncul serangan anak panah dari berbagai macam arah. Dan yang menjadi target adalah semua anggota kelompok Fitz, termasuk Fitz sendiri.
Mereka yang menjadi target tak bisa menghindar dengan sempurna karena mereka juga sedang dalam keadaan bertarung. Alhasil, kebanyakan panah beracun itu menacap di tubuh mereka.
“Ah, kenapa ada kalian?” tanya Erra.
“Kami kebetulan sedang berkunjung ke desa saat mendengar suara peluit. Lalu kami bertemu dengan orang-orang Green Hut, lalu ikut mereka.” jawab si penembak sihir bom air, Arini.
“Orang ini sepertinya sangat berbahaya. Kita harus bekerja sama dengan benar untuk mengalahkannya.” Ucap si pemegang kapak, Lunariaa. Dan yang dimaksud gadis ini adalah Fitz.
“Ya, orang ini sangat berbahaya. Maka dari itu lebih baik kita kabur darinya daripada melawannya.” Ucap Erra.
“EH?!” reflek Arini dan Lunariaa mengeluarkan suara keheranan itu.
“Kau tak akan bisa kabur!!!” teriak Fitz yang mendengar perkataan Erra barusan.
Lunariaa dan Arini memang datang dengan alasan yang seperti dikatakan Arini barusan. Dan orang-orang Desa Green Hut yang mereka maksud adalah mereka yang baru saja menyerang kelompok Fitz dengan anak panah. Mereka datang untuk menyelamatkan kelompok Erra.
Fitz pun menerjang ke arah Erra. Dan kini pertarungan antara Erra yang dibantu Lunariaa dan Arini melawan Fitz pun dimulai.
.
.
.
“Bos! Bos! Di mana kau, bos?!”
Cungu mencari Ezzza sambil belarian.
__ADS_1
“Aku di sini! Ada apa?” tanya Ezzza.
“Ada kekacauan di Desa Gezar, bos!”
“Kekacauan apa?”
“Fitz dan orang-orangnya mencoba menangkap Erra. Lalu...”
Cungu menceritakan semua yang terjadi barusan di Desa Gezar pada bosnya, Ezzza. Ia bisa menceritakannya dengan lumayan detail karena dirinya baru saja dari desa itu.
“Haha! Fitz itu katanya kepala intelejen Golden Stars, kan? Dia bisa dikelabui si Erra itu? Konyol!”
Ezzza tertawa sebentar lalu lanjut berkata...
“Tapi, ini juga berarti si Erra itu benar-benar orang merepotkan. Kita harus menemukan cara untuk menghilangkannya, sementara menjaga jarak dengannya. Kalau tidak begitu, kita tak akan bisa menyerang Green Hut.”
“Ah... bos. Bagaimana kalau kita tak perlu menyerang Green Hut?” tanya Coro yang ada di dekatnya.
“Hah? Aku tidak salah dengar? Kau sendiri tahu kalau Green Hut sekarang semakin kaya, kan? Dan mereka sebentar lagi akan menyaingi Gezar dalam kekayaan. Tentu saja akan tiba saatnya kita untuk merampok mereka!”
“A-ah... maaf, aku mengerti bos.”
“Sekarang, bagaimana hasilnya? Apa si Fitz itu berhasil menangkap Erra?” tanya Ezzza pada Cungu.
“Maaf, bos. Aku tak tahu itu, tapi yang pasti Fitz mengejar Erra ke arah Green Hut.”
“Ah... aku ingin sedikit lihat.”
Ezzza pun memutuskan untuk melihat konflik antara Fitz dan Erra.
.
.
.
Kembali ke tempat Erra dan yang lainnya.
Erra bersama semua anggota kelompoknya, termasuk juga Arini dan Lunariaa masih sanggup bertahan dari terjangan kelompok Fitz. Dan mereka bertarung dengan berusaha untuk terus mendekati Desa Green Hut.
Di sisi lain, Fitz mulai merasa sangat kesal karena tak bisa segera menghabisi targetnya. Dan ia juga sadar, kalau sedikit demi sedikit mereka bergeser mendekati Desa Green Hut.
Kini Fitz bertarung dibantu seorang anggota kelompoknya melawan Erra, Lunariaa, dan Arini. Pertarungan dua lawan tiga ini terlihat seimbang. Padahal level mereka terpaut sangat jauh.
Erra, Lunariaa, dan Arini. Ketiganya baru kali kedua bertarung bersama, tapi koordinasi mereka sudah menjadi sangat baik. Gerakan mereka yang dinamis itu membuat Fitz dan seorang rekannya kesulitan. Siapa pun yang melihat kerja sama antara mereka bertiga akan berpikir kalau mereka memang terbiasa bertarung bersama.
Di sisi lain, Arini dan Lunariaa sendiri merasa sedikit heran dengan lancarnya kerja sama mereka bertiga. Karena kelancaran ini didukung oleh Erra yang bisa dengan cepat beradaptasi dengan cara bertarung kedua gadis itu.
Mereka terus bergeser mendekati Green Hut sampai dinding desanya mulai terlihat. Tak lama kemudian terlihat juga beberapa orang keluar dari desa dengan pakaian siap bertarung. Mereka ini adalah warga desa lainnya yang memiliki kemampuan bertarung, namun bukan petarung utama desa. Bisa dikatakan mereka adalah pasukan cadangan.
Begitu pasukan cadangan ini bergabung dengan pertarungan. Kelompok Fitz pun dengan cepat tertekan dan terpaksa mundur.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...