
+++
Jangan lupa Like dan Comment..!!!
Selamat membaca..!!!
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 3 : Itu...?
+++
“SEKARANG!!!”
Dengan sekuat tenaga Lunariaa berteriak. Dan di saat itu juga, si pedagang melarikan diri.
Begitu melihat si pedagang lari, secara reflek para perampok itu kehilangan fokus bertarungnya. Dan saat itu juga, kedua gadis pengawal itu tak membuang kesempatan emas yang tersaji di depan mata mereka.
Dari kesempatannya beradu serangan beberapa saat yang lalu, Lunariaa memilih untuk menerjang dan berusaha menghabisi atau setidaknya melumpuhkan lawannya ayng berpedang daripada Ezzza. Itu karena Lunariaa bisa menyadari kalau Ezzza lebih berbahaya.
Di sisi lain, Arini yang tengah menerjang ke arah lawannya semakin diuntungkan dengan keadaan lawannya yang mengalihkan perhatian. Ia mengubah pegangan pada tongkat sihirnya yang punya panjang sekitar satu meter itu. Awalnya ia memagang tongkatnya di bagian tengah, tapi sekarang memegang di bagia nujung bawahnya. Dan begitu ia bisa mendekati targetnya...
“Ohok!!”
“Water Bomb!”
Arini berhasil memasukan ujung tongkat sihirnya ke mulut targetnya dan dengan segera mengaktifkan sihirnya. Sebuah sihir yang sesuai dengan namanya, yakni berupa serangan elemen air yang meledak.
Blar!!!
Ledakan bom air itu terjadi di mulut salah satu perampok itu. Yang dengan segera menghancurkan lidahnya serta merontokan semua giginya. Selain itu, akibat dorongan dari ledakan itu. Rahangnya lepas, menyebabkan mulutnya terbuka sangat lebar dan pipinya robek. Seketika menghabisi permapok itu.
[Kamu telah membunuh : 1 Avatar!]
Notifikasi dengan ukuran huruf kecil yang muncul di sudut kiri pandangan Arini itu mempertegas kematian lawannya.
Ezzza menyadari kematian salah satu rekannya. Dan sadar itu bisa sampai terjadi karena mereka teralihkan oleh si pedagang yang melarikan diri.
“FOKUSS!!!” teriak Ezzza, menyadarkan semua rekannya untuk kembali fokus pada pertarungan.
__ADS_1
“Cih!”
Baik Lunariaa mau pun Arini berdecak kesal karena lawannya kembali fokus melawan mereka. Tapi, mereka tak melupakan keberuntungan mereka sebelumnya yang bisa mengurangi jumlah lawan meski hanya satu orang.
Ezzza menerjang ke arah Lunariaa, yang mana telah membuat si pemakai pedang terpojok dan mendapat beberapa luka berat. Lunariaa yang menyadari hal ini dengan sekuat tenaga berusaha meningkatkan tempo serangannya. Dan akhirnya berhasil membuat si pemakai pedang itu melepaskan senjatanya.
Dengan segera, Lunariaa mengayunkan kapaknya secara vertikal dari atas ke bawah. Menjadikan kepala lawannya itu sebagai target. Berniat menyirnakan seluruh Hit Point yang tersisa pada orang itu. Tapi...
BUAK!!!
“Uhug!”
Ezzza berhasil mencapai Lunariaa, dan menendang pinggang sisi kiri gadis berzirah itu. Membuat gadis itu terpental sekitar dua meter ke arah kanan. Dan juga merusak keseimbangan tubuhnya.
Ezzza memberi tendangan itu dengan setengah putus asa. Ia berpikir kalau tendangannya tak akan sempat. Jadi, ia pun melakukan tendangan yang kurang baik. Dan akhirnya terjatuh sendiri.
Namun, pemuda petarung tangan kosong itu dengan segera bangun kembali dan memasang kuda-kudanya lagi. Sebuah sikap yang mengindikasikan kalau dirinya memang seorang petarung yang berpengalaman.
Sementara di sisi lain, Lunariaa baru saja berhasil bangun lagi. Dan belum berhasil mendapatkan keseimbangan tubuhnya lagi.
Itu pun menjadi kesempatan emas bagi Ezzza. Dan ia pun langsung menerjang kembali ke arah Lunariaa. Pertarungan dengan posisi Ezzza yang diuntungkan pun terjadi.
Beralih ke sisi Arini.
Si pemanah bisa melihat hal itu, dan dengan segera menembak si gadis penyihir air itu.
Arini menyadari serangan dari si pemanah dan berusaha untuk menghindarinya. Akan tetapi, ia sadar kalau ia tak akan sempat menghindar. Dan akhirnya sembari masih berusaha menghindar, ia juga coba menangkis serangan anak panah itu dengan tongkat sihirnya.
Ctak!
Dan gadis itu pun berhasil melakukannya. Namun sayang sekali, itu benar-benar merusak keseimbangan tubuhnya dan ia hampir terjatuh.
Lawan Arini yang satu lagi, mengambil kesempata ini dengan menerjang ke arah gadis itu. Dengan senjatanya yang berupa kapak satu tangan, ia menyerang dengan penuh percaya diri.
Arini sadar akan serangan yang datang itu, dan berusaha melakukan sesuatu agar tak terkena. Akan tetapi, kondisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk melakukan apa pun. Mau itu menghindar atau pun menahan serangan, keduanya mustahil ia lakukan dalam kondisi yang sedang jatuh itu.
Zraat!
Serangan kapak itu pun mendarat mulus di tangan Arini. Dan gadis itu pun jatuh ke tanah.
Si pemakai kapak sambil memasang senyuman lebar mengayunkan sekali lagi kapaknya ke Arini yang terkapar di tanah. Namun...
__ADS_1
Jleb!
Ada sesuatu yang menusuknya dari belakang. Lalu tak lama kemudian tubuhnya merasa lemas dan ia pun terjatuh.
Ternyata si pemakai kapak ditusuk dari belakang oleh si pedagang yang kembali. Ia meusuk si pemakai kapak dengan memakai sebuah tombak yang sedikit kecil. Dan kepala tombak itu sudah dilumuri Mid Paralyze Poison 2. Sehingga si pemakai kapak langsung terkapar di tanah. Yang kemudian hidupnya segera berakhir di tangan si pedagang.
“Bisa bangun!” ucap si pedagan pada Arini.
“Bisa!”
Arini bangun sendiri sambil mencari keberadaan si pemanah yang ternyata sudah mati juga. Sepertinya, pemanah itu juga dibunuh oleh si pedagang.
Sekarang, Arini dan si pedagang menghampiri Lunariaa yang tengah tersudut.
Si pemakai pedang telah kembali menyerang Lunariaa. Meski hanya bisa memberi serangan ringan, tapi sangat membantu Ezzza untuk menyudutkan Lunariaa.
BLAR!!!
Secara tiba-tiba, ledakan air menghantam kepala Ezza. Dan ternyata itu adalah serangan Water Bomb yang dilancarkan oleh Arini.
Posisi pertarungan segera berbalik, menyudutkan para perampok yang masih hidup. Setelah itu, pertarungan hanya berlangsung sebentar. Karena Ezzza melarikan diri, dan si pemakai pedang pun dengan segera mati.
.
.
.
Erra mengurungkan niatannya untuk memasuki Great Southern Jungle lebih dalam lagi. Itu karena ia ragu bisa menemukan tempat aman untuk beristirahat. Ia pun akhirnya meneruskan eksplorasinya di pinggiran hutan saja. Dan kini ia sedang bersiap untuk meninggalkan hutan karena hari mulai gelap.
Erra berencana untuk kembali ke desa terakhir yang ia kunjungi. Meski akan memakan waktu sekitar dua hari untuk ke sana. Tapi Erra tak punya pilihan lain.
Ia berniat untuk terus bergerak kembali ke desa itu dengan sedikit istirahat. Lalu ia akan kembali ke dunia nyata dari desa itu. Dan kembali menuju ke Great Southern Jungle setelah membeli peta baru.
Tapi di perjalanannya pulang...
“Itu...?”
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...