
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 10 : Awalan.
+++
“Hah... hah... hah...” Lunariaa terengah-engah.
“Haha! Lihat, kan? Sebaiknya kalian menyerah di hadapanku! Ezzza yang agung! Hahaha!!!”
Pertarungan antara kelompok Lunariaa dan Ezzza berlangsung berat sebelah. Kelompok Ezzza memiliki keunggulan yang cukup jauh. Dan dalam seketika, berhasil menguasai pertarungan. Akan tetapi, itu tak membuat kelompok Lunariaa menyerah begitu saja. Mereka terus melawan dengan penuh semangat, terutama Neo.
Tapi sayang sekali, perbedaan kekuatan yang mencolok itu. Membuat Neo si pedagang kehabisan semua Hit Point yang dimilikinya. Kini tubuhnya tergeletak di tanah dengan dipenuhi luka dan lebam. Sementara itu, Lunariaa sendiri sudah kehilangan lebih dari enam puluh lima persen Hit Point mereka. Sedangkan Arini hanya punya sisa Hit Point kurang dari sepuluh persen.
“Ya, sekarang aku tak bisa memungkiri kami akan kalah kalau terus melawan. Tapi, tentu saja kami tak akan berhenti melawan kalian. Sebagai seorang avatar seharusnya kau tahu alasannya, hey kau Eza!”
Ezzza tentu saja paham dengan maksud dari kalimat terakhir Lunariaa itu. Jika Lunariaa menuruti kemauan Ezzza dan memberikan semua hartanya. Belum tentu Ezzza tak akan membunuhnya. Sedangkan jika Lunariaa terbunuuh di sini. Ia hanya akan kehilangan sedikit harta dan penurunan satu level.
Kini Ezzza memasang wajah yang benar-benar tidak ramah. Namun, alasannya menunjukkan ekspresi itu ternyata adalah...
“Berapa kali kubilang? Namaku Ezzza!! Pakai Z tiga!! Bukan satu!!”
Ezzza kemudian mengangkat tangannya, dan berkata...
“Habisi mereka!”
__ADS_1
Duar! Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!
Kamar yang disewa Erra, Remo, dan yang lainnya bisa dikatakan mengenaskan. Jika dilihat dari sudut pandang Erra. tapi, kelihatannya Remo dan yang lainnya malah merasa kamar itu istimewa.
Kamar yang mereka tempati itu hanya lah ruangan kosong berlantai kayu dengan ukuran sekitar tiga kali tiga meter. Dan tinggi laingit-langitnya hanya sekitar dua meter kurang sedikit. Tak ada celah apa pun di kamar ini, kecuali pintunya yang tak ada kuncinya itu.
Mereka cukup berdesakan di dalam kamar itu, karena mereka juga menyimpan barang-barang mereka di ruangan ini. Sebagian dari mereka sampai tak bisa berbaring dan harus duduk.
“Bagaimana kalau aku simpan barang-barang ini di inventoriku?” tanya Erra.
“Maksudnya?” Remo yang bertanya.
Ternyata mereka tak ada yang tahu tentang inventori yang dimiliki para pemain atau avatar. Erra pun menjelaskannya sambil memperlihatkan cara kerjanya. Mereka terkagum dan sangat senang dengan keberadaan inventori itu.
Sebelum mereka tertidur, Erra mengajak mereka mengobrol. Tujuannya adalah menjelaskan tentang kegunaan dari uang. Agar mereka mau memakai uang, dan menghapus pikiran mereka bahwa penggunaan uang itu memusingkan. Erra berusaha keras menjelaskan semua itu, agar bisa diterima. Karena ia ingin menjadikan desa itu sebagai lahan bisnisnya yang baru di masa depan. Dan jika mereka tak mengerti seberapa pentingnya mengganti sistem barter dengan sistem keuangan. Maka Erra tak bisa memulai rencana besarnya di masa depan.
Sebuah rencana besar yang ia rencanakan untuk dirinya sendiri. Tanpa peduli dan memikirkan orang lain sedikit pun. Akan tetapi, tanpa ia sadari. Rencana besarnya itu, akan sekali lagi menggerakan roda dunia virtual ini. Sekali lagi, memancing mata dunia untuk menatap ke arah dirinya.
Setelah mereka sedikit paham dengan pengejelasannya, Erra menyudahi kuliah singkatnya. Kemudian mereka pun segera tidur. Termasuk Erra, tapi ia bukan hanya tidur melainkan kembali ke dunia nyata. Ia hanya keluar kamar untuk ke toilet dan memakan makanan ringan dan kembali ke dunia virtual. Dan hari pun sudah berganti.
Duar! Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!
Rentetan ledakan itu terjadi saat Ezzza memerintahkan anak buahnya. Namun, itu bukan berasal dari serangan anak buah Ezzza. Melainkan berasal dari serangan yang mengarah pada mereka.
Dari hutan bermunculan orang-orang bersenjata. Mereka adalah para petualang yang mengambil misi untuk membasmi kelompok Ezzza.
Begitu Kekaisaran Orum mendengar kalau kelompok perampok yang belakangan ini didirikan oleh seorang mantan anggota Green Goblin. Mereka pun segera tak memandang kasus ini sebelah mata lagi. Karena mereka enggan sampai terjadi lagi kisah masa lalu yang pahit saat Green Goblin aktif di Aezmeralda Forest.
__ADS_1
Mereka pun dengan segera menerbitkan misi penghapusan kelompok perampok yang dipimpin oleh Ezzza. Hadiah dari misi itu, bisa dikatakan sangat besar. Cukup besar untuk menarik perhatian para petualang berlevel tinggi, agar mengambil misi tersebut. Dan cukup besar untuk membuat para petualang berlevel rendah untuk menjauhkan diri dari misi itu.
Saat ini, ada sepuluh petualang berlevel empat puluhan yang mengepung kelompok Ezzza. Level empat puluhan, bukan lah level yang bisa diremehkan. Hanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi lah yang bisa mencapainya.
“Sial! Kenapa jadi begini?!” keluh Ezzza
“Kenapa jadi begini? Kau mau tahu? Tentu saja itu karena keodohanmu!” salah seorang petualang itu.
“Hahaha!!! Ternyata Cuma perlu membburu kelompok kelas teri begini! Ini namanya keberuntungan besar!!!” salah seorang petualang tertawa lantang, saat melihat targetnya yang terlihat lemah untuk bisa dimusnahkan itu.
“Hati-hati dengna mulutmu itu. Kekaisaran Orum pasti punya alasan kuat memasang harga tinggi bagi orang itu.” sahut petualang lain yang mengambil misi ini sambil menatap ke arah Ezzza.
“Benar. Kelompok ini baru dibuat beberapa pekan ke belakang dari kumpulan orang lemah. Dan kini mereka sudah menjadi ancaman.” Sahut petualang yang lainnya lagi.
Keadaan tegang bertahan cukup lama. Lunariaa yang terjebak di tengah-tengah, terlihat cukup keingungan menanggapi situasi ini. Tapi...
“Kekacauan akan terjadi, mau mundur atau bergabung?” Arini bertanya pada Lunariaa dengan berbisik.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Bergabung atau tidak, itu tergantung dari keadaanmu. Aku masih sanggup bertarung lagi.” Balas Lunariaa dengan berbisik juga.
“Kalau tergantung padaku. Kita mundur sejenak, dan ikut maju lagi. Aku sangat ingin menghajar si Eza itu.”
Kedua gadis itu pun bersiap untuk menyelinap keluar dari pertempuran yang akan terjadi. Mereka akan memulihkan diri sebaik mungkin selama beberapa saat. Dan kemudian, mereka akan ikut bergabung dalam pertempuran ini. Dengan tujuan utama menghajar Ezzza.
Melihat semua yang tersaji di depan matanya, Ezzza mengubah ekspresinya. Dari yang awalnya terlihat kaget dan kebingungan, berganti dengan senyuman lebar khas penjahat di film anak-anak.
“Ehhhahahahahahaha!!! Jadi, Orum benar-benar serius mengincarku, ya?! Hahaha! Kalian semua para pengikut setiaku! Kalian bisa lihat seberapa hebat bos kalian! Jika kalian masih ingin mengikuti diriku yang hebat ini! Ayo, kita bertarung! Kalian yang mau menyerah silakan saja, serahkan nyawa kalian sekarang juga!”
__ADS_1
Mendengar ucapan dari bos mereka. Anak buah Ezzza semua memasang senyuman yang sama dengan bosnya itu. Mereka juga dengan segera memasnag kuda-kuda untuk siap bertarung, melawan semua orang yang memburu mereka.
Bersambung...