Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.18 - Sudah, lah...


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 18 : Sudah, lah...


+++


Ezzza berdiri dengan kuda-kuda mantap, terlihat akan menahan setiap serangan yang akan dilancarkan padanya. Sementara itu, para penyerang yang berjumlah tujuh orang itu. Menerjang ke arah Ezzza dengan wajah beringasnya.


Dengan mendadak, Ezzza membuat sebuah gerakan. Gerakan untuk menerjang ke salah satu lawannya. Dan lawan yang ia targetkan adalah yang ada di belakangnya. Ezzza bergerak dengan sangat cepat dan gesit. Berbalik, lalu berlari, dan meluncurkan sebuah tendangan ke arah targetnya.


Si target yang sangat tak menyangka dirinya akan diserang, terkena tenadangan itu dengan telak di perutnya.


“Ugh!!”


Si target sampai mundur beberapa langkah karena tendangan itu. Di saat yang bersamaan, rekan-rekannya masih terpaku karena rasa kaget mereka yang disebabkan oleh gerakan mendadak Ezzza. Tapi, mereka segera menyadarkan diri masing-masing dan lanjut menerjang Ezzza.


Ezzza seakan mengabaikan musuhnya yang lain. Ia hanya terus saja menerjang ke arah target pertamanya. Si pemain beramb ut merah ini memang sengaja mendesak target pertamanya yang sudah berhasil ia sudutkan. Akan tetapi, bukan berarti ia mengabaikan musuhnya yang lain.


“Hiiat!!” salah satu musuh Ezzza berseru sembari mengayunkan kapaknya ke arah punggung Ezzza.


Ezzza segera menghentikan serangannya pada target pertamanya. Ia berbalik dan memutar badan ke arah si pengayun kapak itu.


Buk!!


Ia melontarkan tendangan yang menjejak perut si pemegang kapak itu.


“Ugah!”


Si pemegang kapak pun terdorong mundur.


Ezzza kemudian mengambil langkah nekat dengan menyerang dengan gerakan yang seakan membabi buta ke arah para musuhnya. Membuat mereka semua jadi bingung mau mengambil tindakan apa.


Gerakan Ezzza itu adalah untuk mengecoh lawan-lawannya. Dan begitu para musuh Ezzza teralihkan Ezzza segera menerjang ke arah salah satunya.


Bak! Buk! Trang! Bak! Buk! Trang! Bak! Buk! Trang! Bak! Buk! Trang! Bak! Buk! Trang! Bak! Buk! Trang!


“Haha! Ternyata hanya segini kemampuan kalian, hah?!”


Ezzza berusaha memprovokasi lawannya. Ia sengaja memancing agar lawannya terbakar emosi. Dan di saat seseorang terbakar emosi, maka konsentrasinya pun bisa kabur.


“Tutup mulutmu! Kami pasti akan mencincangmu!”


“Haha! Haha! Dari tadi kalian hanya mengoceh! Rasakan ini!”


Buam!

__ADS_1


Tijuan Ezzza yang mendarat di tubuh musuhnya itu menimbulkan ledakan. Meski tak besar, namun itu cukup memberikan efek kehilangan Hit Point yang tidak sedikit pada lawannya.


Tinjuan Ezzza itu bisa menimbulkan ledakan karena ia memakai salah satu Skill yang ia miliki sebagai seorang Brawler. Dan nama dari Skill itu adalah Explosive Punch, sesuai dengan efek yang ditimbulkannya.


Zraat!


“Cih!”


Ezzza mengumpat saat punggungnya terkena serangan tabasan dari musuhnya. Ezzza berbalilk dan berniat untuk membalas serangan lawannya yang memakai pedang besar bermata satu itu. Akan tetapi...


Byar!!


Kepala Ezzza terkena serangan bola air yang segera meledak. Itu adalah serangan Water Ball yang berasal dari musuhnya.


Ezzza baru saja berhasil menyeimbangkan tubuhnya, belum sempat ia memikirkan apa yang harus ia lakukan berikutnya...


Wuuush!! Krak! Kak! Kak!


Angin dingin berhembus dengan kuat ke arah kepalanya yang berambut merah itu. Dan dengan segera membekukan air yang masih membasahi dirinya. Ezzza pun dengan segera terkena efek Slow. Sebuah efek yang seperti namanya, membuat korbannya melambat.


Syut! Jleb!


“Ah!”


Sekarang giliran sebuah anak panah yang tertanam pada paha kiri Ezzza. Anak panah itu tertanam cukup dalam dan ternyata berlumurkan racun. Racun yang bernama Low Stun Poison 3.


“Hahaha!”


“Hahaha!”


“Hahaha! Kau memang hanya banyak bicara!”


Semua musuh Ezzza mentertawakan Ezzza yang kini tersungkur ke tanah.


“Aaah! Sial! A-aku minta maaf! Kutarik semua perkataanku tadi! Kumohon! Lepaskan aku! Aku akan memberi kalian semua uangku, tapi tolong sisakan barangku! Ku mohon!”


Ezzza merengek dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.


“Hahaha! Benar-benar menggelikan! Tadi kau sangat sombong dan sekarang begini?! Hahaha!”


“Jangan pikir kami akan memaafkanmu! Sekarang, terima lah nasib terburuk dalam hidupmu!”


Para perampok ini mendekati Ezzza dengan wajah penuh kemenangan. Mereka sudah sangat yakin kalau mereka akan berhasil menghabisi Ezzza. Bahkan tak ada yang bersiap sama sekali kalau sampai Ezzza melakukan serangan dadakan.


Sambil masih tersungkur ke tanah, Ezzza yang menghadapkan wajahnya ke tanah itu tak bisa menahan senyuman lebarnya.


‘Dasar amatir!’ Ezzza berseru dalam hati.

__ADS_1


.


.


.


Sekilas dilihat, ini adalah sebuah pertarungan yang berat sebelah. Karena salah satu kubu terdiri dari lima orang petualang yang semuanya lelaki. Sedangkan kubu lawannya hanya lah dua orang gadis petualang.


Tapi anggapan itu akan segera sirna hanya dengan sedikit saja memperhatikan pertarungan ini dengan lebih seksama. Karena bisa dilihat kalau kondisi pertarungan ini imbang. Kedua gadis itu bisa melakukan koordinasi yang sangat dinamis untuk memberi perlawanan yang sengit pada lawan-lawannya.


“Yang benar saja? Bagaimana mereka bisa bergerak seperti itu tanpa sepatah kata pun untuk melakukan koordinasi?!”


Salah seorang anggota dari kelompok lima orang petualang itu bergumam pada dirinya sendiri melihat gerakan yang ditampilkan Arini dan Lunariaa. Mereka berdua bergerak dengan begitu harmonis dan dinamis. Seakan mereka digerakan oleh satu pikiran yang sama, meski memiliki tubuh yang berbeda.


Biasanya, jika ada duo petarung jarak dekat dan penyihir seperti kedua gadis ini. Si petarung jarak dekat akan meluncur ke arah lawan, sementara teman penyihirnya akan menjaga jarak sebisa mungkin. Tapi kedua gadis ini maju secara bersamaan menerjang lawannya.


Arini, meski ia memiliki pertahanan yang rendah sebagai seorang penyihir. Ia tak merasa gentar sama sekali untuk maju menerjang musuhnya dari jarak dekat. Karena Arini memiliki keyakinan yang tinggi pada Lunariaa yang akan selalu berhasil melindungi dirinya.


Pertarungan terjeda, kedua kubu mengambil langkah mundur dan menjaga jarak. Semua terlihat terengah-engah.


“Katakan, sebenarnya apa tujuan kalian?!” tanya salah seorang dari kelompok lima orang petualang itu.


“Hah? Kalian tidak dengar? Tadi kan kami sudah bilang alasannya.” Lunariaa yang menjawab pertanyaan itu.


“Mana mungkin kami bisa menerima alasan karena kalian bosan?!”


“Terima saja lah! Sekarang, kalian mau bertarung lagi atau tidak?”


Kelima orang itu saling tatap satu sama lain.


“Kalau kami sudah tidak mau?”


“Hm... ya sudah.”


Lunariaa dan Arini segera menurunkan senjata mereka.


“S-sudah? Kalian mau menyudahinya?”


“Ya... sudah lumayan hilang bosan. Jadi, ya sudah lah.”


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2