
.
.
.
Menanggapi terjangan Ezzza, Erra tak mundur. Ia justru memasang kuda-kuda sempurna untuk memanah, lalu mengambil dua buah anak panah sekaligus.
Kriiet!
Syut!
Erra melesatkan kedua anak panah itu secara bersamaan ke arah Ezzza. Yang mana salah satunya berhasil Ezzza tangkis dengan tangannya, sedangkan satunya lagi ia hindari.
Erra tak berhenti hanya dengan tembakan itu. Ia memanahi Ezzza dengan dua atau tiga anak panah setiap kali menembak. Dengan segala macam status Erra saat ini, tembakan meleset adalah hal yang sulit terjadi. Karena itu, meski Erra tak terlalu membidik targetnya, tembakannya selalu punya sekitar sembilan puluh sembilan persen akan tepat sasaran.
Dengan rentetan anak panah yang Erra lesatkan pada dirinya. Ezzza akhirnya tak bisa meneruskan terjangannya. Ia pun berhenti maju. Dan fokus untuk menangkis atau menghindari serangan Erra.
Dan begitu lawannya berhenti maju. Erra mulai berpindah tempat. Ia terus bergerak, mau itu ke kanan, kiri, atau belakang alias mundur. Membuat serangannya jadi berasal dari berbagai arah. Yang mana itu semakin merepotkan bagi Ezzza.
‘Sial!’ umpat Ezzza dalam benaknya.
Serangan yang dilancarkan Erra benar-benar hampir tak punya jeda. Maka dari itu, saat ada jeda serangan seperti saat ini. Yang meski hanya sekitar satu detik. Ezzza membuat gerakan, dengan berlari ke samping. Ia coba cari perlindungan dari serangan Erra dengan bersembunyi di balik pohon.
“Haha! Ternyata kau tidak bodoh, ya?” ucap Erra.
Ezzza coba tak mendengarkan ucapan Erra. Karena ia tahu kalau pemanah yang sedang melawannya itu sangat gemar melakukan provokasi. Ezzza enggan terjebak dalam provokasi itu, dan sampai membuat kesalahan fatal.
‘Berhenti?’
Ezzza sedang berada di balik pohon besar, dan tak bisa melihat Erra sama sekali. Ia dibuat keheranan saat serangan Erra berhenti dengan mendadak. Ia pun coba mengintip ke arah Erra.
Di sana, terlihat Erra yang masih ada di sekitar tempatnya semula. Tapi kini ia sedang memanah ke arah lain. Ia menyerang anggota pasukan dari Desa Gezar yang lainnya. Dan seakan mengabaikan Ezzza, karena ia bahkan memunggungi tempat Ezzza berada saat ini.
‘Sepertinya tak ada kondisi mendesak yang membuatnya harus mengabaikanku. Apa dia berusaha menipuku?’
Itu lah pemikiran yang muncul di benak Ezzza. Dan sementara itu, di dalam benak Erra...
‘Dia tak segera menerjangku? Padahal aku sudah memunggunginya. Ah... sepertinya aku terlalu meremehkan orang ini.’
__ADS_1
Seperti yang Ezzza duga, kalau Erra berusaha memancing Ezzza untuk mendekat. Dan kemudian memberi serangan dadakan.
Melihat keadaan yang saat ini terjadi di sekitarnya. Erra pun akhirnya memutuskan untuk benar-benar mengabaikan Ezzza. Ia pun pergi, dan membantu anggota pasukannya yang lain.
Ezzza kembali mengintip ke arah Erra, yang mana ia dapati sudah tak ada di sana. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya ia menemukan Erra yang bertarung di tempat lain.
“Dia benar-benar mengabaikanku? Jadi, yang tadi bukan jebakan?”
.
.
.
Kita ke sisi utara Desa Green Hut, atau lebih tepatnya gerbang utama yang menjadi medan tempur saat ini.
Pasukan penyerang yang berasal dari Desa Gezar kini benar-benar terbagi dua. Salah satunya masih berada di sisi luar dinding, dan masih sedikit terkurung asap beracun. Dan satunya lagi berada di sisi dalam dinding.
Pasukan yang masih berada di luar bisa dikatakan sangat tragis. Saat kepulan asap yang membungkus mereka semakin menipis, semakin jelas pula terlihat keadaan mereka. Dengan kondisi tubuh yang sulit dikendalikan, baik itu karena lemas atau lainnya, yang mana diakibatkan oleh racun. Anggota pasukan ini dibantai sedikit demi sedikit oleh lawannya.
Sedangkan pasukan yang ada di dalam bisa dikatakan lebih unggul. Karena pasukan pertahanan Desa Green Hut yang dibantu warga biasa itu. Sedikit demi sedikit terus bergerak mundur karena dorongan mereka.
“Hm... sepertinya sebentar lagi.”
“Sekarang saja, ya?”
“Ah... baik lah. Ayo, kita maju.”
Obrolan itu adalah antara Lunariaa dan Arini. Mereka berada di Desa Green Hut untuk membantu. Tapi, mereka diminta untuk tak perlu membantu kecuali pihak Desa Green Hut terdesak. Dan karena melihat pasukan desa yang mundur terus, Lunariaa pun ingin segera menyerang.
“Wipe Out!!!” seru Arini meneriakan nama sihirnya.
Dari tongkat sihir yang diarahkan ke udara itu. Muncul lah sebuah bola air sebesar kepalan tangan bayi, yang dengan cepat berputar dan membesar. Kemudian baru berhenti membesar setelah ukurannya setara dengan dua kali bola basket.
Zwooosh!!!
Bola air itu meluncur ke udara. Dengan arah lesatan yang melambung, akhirnya bola air itu mendarat di tengah gerombolan musuh.
BYAAARR!!!
__ADS_1
Begitu mendarat, bola air itu pecah atau melesak. Tapi, bukan melesak ke segala arah, melainkan ledakan dengan arah horizontal saja. Bola air itu berubah menjadi gelombang air yang mendorong semua orang yang ada di sekitarnya.
Serangan ini punya dampak pengurangan Hit Point target yang kecil. Karena tujuan dari serangan Skill tipe sihir elemen air yang bernama Wipe Out itu adalah untuk mengacaukan formasi lawan. Seperti yang terjadi saat ini.
“HEEYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!”
Dengan teriakan itu, Lunariaa menerjang ke arah lawan yang tercerai berai itu.
Zrat! Zlab! Sreet! Jlab! Brak! Treng! Duak! Sring! Zrat! Zlab! Sreet! Jlab! Brak! Treng! Duak! Sring! Zrat! Zlab! Sreet! Jlab! Brak! Treng! Duak! Sring!
Lunariaa yang mengamuk di tengah pasukan dari Desa Gezar itu, membuat beberapa prajurit pertahanan Desa Green Hut ikut bersemangat. Mereka pun ikut menerjang langsung.
Dengan kombinasi serangan duo gadis ini, keadaan segera berbalik. Kini, pasukan dari Desa Gezar yang ada di dalam dinding pertahanan Desa Green Hut pun mulai ikut terdesak seperti rekan mereka yang ada di luar. Bahkan keadaan mereka bisa dikatakan lebih buruk
Itu karena mereka akan terhambat oleh dinding ketika mereka coba untuk melarikan diri. Sedangkan rekan mereka yang masih ada di luar dinding, masih memiliki kebebasan untuk bergerak ke mana pun.
.
.
.
Kembali ke tempat pasukan Erra yang bentrok dengan pasukan kecil dari Desa Gezar. Di atas dahan pepohon besar, terlihat beberapa orang sedang menonton pertarungan yang terjadi.
“Apa kita serang sekarang, Tuan Fitz?”
“Tunggu. Kita tunggu sebentar lagi. Kita tak boleh membunuh orang itu, kita harus menangkapnya.”
“Maaf, tapi dengan kekuatan kita bersama. Itu mudah, kan?”
“Ya, itu mudah. Kalau lawannya bukan dia. Aku bukannya takut ia bisa melawan kita. Yang jadi masalahnya adalah kalau ia tahu tujuan kita itu untuk menangkapnya, bukan membunuhnya. Ia bisa saja bunuh diri, demi menggagalkan misi kita.”
Komentar Fitz tentang Erra itu membuat semua rekannya menatapnya.
“Kenapa kalian menatapku begitu? Aku melawannya dua kali, dan terus mengawasinya. Aku yakin ia bisa melakukan apa pun demi merugikan kita.”
.
.
__ADS_1
.