
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 50 : Desa Kosong.
+++
“Mau ke mana lagi sekarang?”
“Apa mau lanjut ke selatan?”
“Tidak, kurasa sebaiknya jangan ke sana dulu. Ku pikir aku akan sedikit berkeliling di hutan ini. Terserah kalian mau ikut atau tidak.”
Arini, Lunariaa, dan Erra kini sedang berdiam. Mereka beristirahat setelah membuat jarak yang cukup jauh dengan para goblin.
“Aku mau coba memperkuat diri terlebih dahulu sebelum kembali ke sana. Aku tak menyangka para goblin secerdik itu. Aku tak bisa mendeteksi keberadaan mereka sama sekali tadi.”
Arini dan Lunariaa hanya mengangguk mendengar pendapat Erra. Mereka juga setuju dengan hal itu karena mereka sendiri merasakannya.
“Bagaimana, Arini?”
Lunariaa menanyakan apakah Arini masih mau mengikuti Erra, atau mereka mau berpisah jalan di sini dengan si avatar bermata merah itu. Dan Arini pun menjawab....
“Ya, sepertinya kita ikut dulu saja. Aku belum terbayang mau ke mana lagi. Dan mungkin saja kita akan diserang lagi. Kalau kita hanya berdua mungkin akan sulit selamat.”
“Baik lah, sepertinya kami masih akan ikut denganmu.”
“Kalau begitu, ayo jalan lagi.”
Mereka bertiga pun mulai berjalan lagi. Kini mereka bergerak sedikit ke timur. Dalam perjalanan, kebanyakan mereka diam saja. Tapi terkadang ada obrolan kecil.
“Omong-omong, berapa hari lagi sampai kalinan harus Log Out?” tanya Erra.
“Kami masih bisa di sini sekitar tiga atau empat hari lagi. Kau sendiri?” tanggap Lunariaa.
“Hm... sepertinya hanya tinggal hari ini.”
“Jadi, apa kau mau cari tempat menginap dulu untuk hari ini?”
“Ya, aku terpikirkan satu tempat yang tak begitu jauh dari sini. Tidak ada penginapan di desa kecil itu, tapi aku kenal dengan warga desanya. Kita bisa menumpang di tempat mereka.”
Akhirnya, desa kecil tanpa nama yang Erra maksud menjadi tempat tujuan mereka saat ini.
.
.
.
__ADS_1
“Rooo!!!”
Di tengah istirahat mereka, tim Aizu dikejutkan oleh raungan itu. Mereka melihat ke arah sumber suara dan melihat seekor Snow Troll. Dan tak lama kemudian berdatangan Snow Troll lainnya.
Mereka pun mengakhiri istirahat mereka dan coba melarikan diri. Namun, kawanan Snow Troll yang berjumlah sepuluh ekor itu mengikuti mereka. Mengejar dengan wajah buas mereka yang terlihat marah.
“Apa mereka mau balas dendam?!” tanya Fira sambil berlari.
“Mungkin.” Jawab Ro.
“Kenapa begini? Aku tidak dengar tim lain dikejar begini?” Ranta yang bertanya.
“Mungkin mereka tak tahu? Mungkin mereka menyangka kita yang selalu memburu kawanan mereka?” ini kata Ro.
“Yang penting cari selamat.” Ucap Aizu.
Mereka terus berlari, dan akhirnya harus menuruni gunung. Keempatnya bukan lah ahlinya dalam naik turun gunung. Ini membuat mereka bergerak lebih lambat, karena takut terpeleset dan jatuh.
Dan karena hal tersebut, para Snow Troll pun mulai berhasil mendekati mereka.
“Apa kau tak bisa menembak mereka, Fira?” tanya Ranta.
“Ah, bisa!”
“Jangan!!!” Aizu menghentikan Fira saat gadis penyihir itu mau menembakan sihir apinya.
“Bagaimana kalau jadi longsor salju?”
Tak ada yang menyangkal kekhawatiran Aizu itu. Karena memang mungkin saja, ledakan akibat sihir api Fira bisa memicu longsor salju.
“Rooo! Ro! Roo!!”
Sebagian Snow Troll menyusul kelompok Aizu, turun lebih dulu untuk mencapai kaki gunung. Dan mereka menunggu di sana. Sedangkan sebagian lagi tetap mengejar dari belakang.
“Sial! Kita terkepung!” umpat Ranta.
Tim empat petualang ini menghentikan langkah kaki mereka sebelum mencapai kaki gunung. Para Snow Troll yang ada di belakang mereka pun ikut berhenti.
“Apa kita mungkin bisa menang?” tanya Fira.
Ranta dan Ro tak menjawab karena mereka tak mau menurunkan moral tim. Karena keduanya tahu kalau mereka menang adalah kemungkinan yang hampir tak ada. Sementara itu Aizu...
“Hah... Agar lebih cepat kita diam saja. Menang juga tak mungkin.”
Ketiga rekan satu tim Aizu segera melihat ke arah gadis itu. Merasa tak percaya dengan ucapannya.
Tanpa peduli dengan tatapan para rekannya, Aizu membuka panel menu dan berkata...
“Eh...? Kita belum masuk mode bertarung jadi masih bisa Log Out. Sepertinya aku akan Log Out saja. Dari pada merasakan tubuhku dicabik.”
__ADS_1
Tanpa ragu, Aizu menekan tombol Log Out. Seketika itu juga tubuh virtualnya terjatuh, terkulai lemas di tanah bersalju. Sementara itu ketiga temannya hanya menatap tubuh virtual itu dalam keheranan. Lalu mereka bertiga saling tatap.
Menyadari semua perkataan Aizu benar. Ketiganya pun mengikuti langkah Aizu. Mereka menyerah pada pertarungan ini, dan segera Log Out.
Para Snow Troll jadi kebingungan karena keempat manusia target amukan mereka tiba-tiba saja berjatuhan. Mereka pun menghampiri keempat tubuh virtual itu.
Mereka berhati-hati karena takut ini jebakan. Tapi ternyata bukan, dan mereka pun mulai menyentuh tubuh virtual para avatar petualang itu. Para Snow Troll ini sedikit berdiskusi dan menganggap orang-orang ini pingsan.
Ada di antara para Snow Troll yang ingin mencabik tubuh para petualang ini. Namun sebagian lagi merasa tak perlu karena itu hanya buang tenaga. Mereka berpikir kalau lebih baik ditinggalkan saja di tempat bersalju ini. Karena keempatnya bisa mati karena kedinginan.
Akhirnya para Snow Troll pun pergi meninggalkan keempat tubuh virtual para avatar itu di hamparan salju.
.
.
.
Erra bersama Lunariaa dan Arini mencapai desa kecil yang Erra maksud sebelumnya. Tapi menemukan kalau desa ini kosong. Mereka pun berkeliling dan melihat keadaan desa yang berantakan.
“Mereka diserang.” Ucap Arini.
“Ya, sepertinya ini ulah para perampok.” Ucap Erra.
Desa yang Erra dan lainnya datangi ini adalah desa penghasil kayu yang sebelumnya diserang oleh kelompok Ezzza. Tidak semua warganya terbantai, tapi kini tak ada satu pun orang di desa ini. Yang ada hanya bangunan yang berantakan, dan noda darah di mana-mana.
Setelah berkeliling beberapa saat ketiganya menemukan gundukan-gundukan tanah yang berjajar. Mereka menemukan banyak kuburan baru.
“Hm... kalau kutarik kesimpulannya. Mungkin mereka dirampok sampai banyak jatuh korban. Dan sekarang warga yang tersisa memilih untuk mengungsi?” ucap Lunariaa.
“Sepertinya begitu. Tapi, ke mana mereka pergi?” tanggap Arini.
“Green Hut, mereka akan pergi ke sana. Desa ini adalah salah satu desa yang bekerja sama baik dengan Green Hut.” Jawab Erra.
Tebakan Erra memang benar adanya. Setelah selesai memakamkan semua korban tewas. Warga yang selamat mengemasi semua barang yang bisa dibawa dan pergi ke Green Hut untuk meminta perlindungan.
“Sekarang bagaimana? Apa kau mau ke Green Hut?” tanya Arini.
“Tidak, aku akan ke desa lainnya yang di dekat sini. Kalian mau ikut?”
Kedua gadis itu pun setuju untuk ikut, dan ketiganya pun berangkat.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1