Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.19 - Kenapa?


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 19 : Kenapa?


+++


“Aaah! Sial! A-aku minta maaf! Kutarik semua perkataanku tadi! Kumohon! Lepaskan aku! Aku akan memberi kalian semua uangku, tapi tolong sisakan barangku! Ku mohon!” ucap Ezzza sambil merengek dengan tampang yang sangat menyedihkan.


“Hahaha! Benar-benar menggelikan! Tadi kau sangat sombong dan sekarang begini?! Hahaha!”


“Jangan pikir kami akan memaafkanmu! Sekarang, terima lah nasib terburuk dalam hidupmu!”


Para perampok ini mendekati Ezzza dengan wajah penuh kemenangan. Mereka sudah sangat yakin kalau mereka akan berhasil menghabisi Ezzza. Bahkan tak ada yang bersiap sama sekali kalau sampai Ezzza melakukan serangan dadakan.


Sambil masih tersungkur ke tanah, Ezzza yang menghadapkan wajahnya ke tanah itu tak bisa menahan senyuman lebarnya.


‘Dasar amatir!’ Ezzza berseru dalam hati.


Tap!


Salah satu perampok itu berdiri tepat di hadapan Ezzza. Ia sudah mengangkat senjatanya yang berupa palu itu tinggi-tinggi. Berniat menghantamkannya sekuat tenaga ke arah kepala Ezzza. Namun...


Grep!


“Apa?!”


Si pemegang palu dibuat terkejut ketika Ezzza dengan mendadak menggenggam kedua pergelangan kakinya, kemudian...


Wuuut!


Ezzza menarik kaki lawannya sampai lawannya itu terjatuh ke belakang. Lalu dengan segera menindih perut lawannya itu dengan mendudukinya. Setelah itu...


Jlejeb!


“Aaaaarrgh!!!”


Ezzza menancapkan kedua ibu jarinya di mata lawannya. Lanjut dengan mencengkram wajah si lawan dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mencengkram rahang bawahnya. Kemudian, dengan cepat Ezzza...


Krakak!!!


...mematahkan rahang lawannya. Dan menihilkan semua Hit Point lawannya yang tersisa dalam sekejap.


Kejadian yang sangat cepat itu sulit ditangkap oleh nalar perampok lainnya. Mereka baru sadar dan bisa bergerak saat Ezzza mematahkan rahang kawannya. Itu tentu saja sangat telat, dan Ezzza pun kembali bertarung.


.

__ADS_1


.


.


Ini adalah pinggiran Great Southern Jungle sisi utara. Masih dekat dengan sisi luar hutan rimba ini.


Pada hari yang menjelang petang ini, terlihat sekelompok petualang sedang menyiapkan kemah mereka. Mereka bersiap untuk berkemah di samping aliran sungai kecil selebar lima meter. Air sungainya sangat jernih sehingga dasarnya terlihat jelas.


Kelompok petualang beranggotakan tujuh orang ini terlihat membagi tugasnya. Sebagian mendirikan tenda. Sebagian mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggu. Dan sebagian lagi terlihat mengambil air dan menyiapkan makan malam.


Di saat semua persiapan mereka selesai, hari telah gelap. Cahaya mentari terakhir untuk hari ini baru saja menghilang di ufuk barat. Ketujuh petualang ini kini tengah mengitari api unggun mereka sambil bersiap menyantap masakan yang berupa rebusan itu.


Ketujuhnya kemudian makan dengan lahapnya. Mereka makan sambil bercanda gurau, senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Sampai...


“T-tunggu dulu! Kenapa kalian berdua jadi ikut kami?!” tanya salah seorang lelaki dalam kelompok tujuh orang itu.


Semua berhenti makan. Lalu para lelaki di kelompok ini semua mulai menatap ke arah dua orang gadis dalam kelompok ini.


“Memangnya kenapa?” tanya salah satu gadis yang berzirah sambil tetap menyantap makanannya dengan santai.


Sementara itu, si gadis satunya lagi, yang merupakan seorang penyihir berpakaian dominan biru. Tampak tak peduli dengan apa yang sedang terjadi dan hanya fokus pada makanannya saja.


Kelima lelaki itu mulai berbicara di antara mereka sendiri, mengesampingkan kedua gadis itu.


“Sejak kapan mereka mengikuti kita?”


“Hah? Sudah selama itu? Kenapa tidak ada yang sadar?”


“Tunggu dulu, apa di antara kita memang tidak sadar mereka mengikuti atau kita tidak peduli?”


“Mana kutahu?!”


Kelima lelaki itu kini menatap kedua gadis itu, lalu satu di antara mereka berkata...


“H-hey! Letakan makanannya! Itu makanan kami. Kenapa kalian ikut makan?!”


“Huh?! Tidak sopan sekali! Tadi, kalian yang mengajak kami makan. sekarang menyuruh kami berhenti makan? Aneh!”


Itu jawaban yang di lontarkan si gadis penyihir yang tidak lain dan tidak bukan adalah Arini. Dan si gadis yang satunya, si gadis berzirah itu, tentunya adalah Lunariaa. Sedangkan kelima lelaki yang bersama mereka adalah kelompok petualang yang sebelumnya mereka berdua serang karena bosan.


Setelah pertarungan yang tidak jelas dalam segala aspeknya itu berakhir. Kelima petualang lelaki itu mengemasi barang mereka dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Great Southern Jungle. Tanpa sepatah kata pun, Lunariaa dan Arini berjalan mengikuti kelompok itu.


Kelima lelaki itu sadar kalau diikuti dua gadis aneh yang menyerang mereka sebelumnya. Tapi, mereka juga bingung harus bersikap seperti apa pada keduanya. Awalnya mereka terus waspada karena takut diserang mendadak, tapi lama kelamaan mereka seperti tak peduli lagi bahkan sedikit lupa dengan keberadaan Arini dan Lunariaa.


Dan situasi pun berakhir seperti ini.


.

__ADS_1


.


.


Melihat sedikit ke beberapa waktu ke belakang di Desa Green Hut.


Desa yang awalnya hanya fokus pada pembuatan Healing Potion ini, sekarang memiliki pasukan Scouts yang lumayan handal. Bukan hanya dalam mengumpulkan informasi, tapi juga dalam hal bertarung. Bagaimana semua itu bisa terjadi, di saat pada waktu yang bersamaan mereka juga meningkatkan kemampuan membuat ramuan mereka?


Semua jawabannya terpusat pada Erra seorang. Karena Erra berhasi menunjukkan kemampuannya meningkatkan kesejahteraan desa ini dalam waktu singkat. Warga desa yang lugu pun sepenuhnya mempercayai setiap arahan Erra.


Langkah pertama yang Erra buat setelah mengambil kendali desa ini adalah membuat jadwal kegiatan untuk seisi desa. Ia tak membuatnya sendiri tapi melibatkan para tetua desa juga untuk melakukannya. Selain meringankan beban pikirannya jika dibandingkan memikirkannya sendirian. Erra juga mendapat dampak positif karena para tetua desa merasa tetap dihargai.


Setelah perundingan yang berjalan tak sebentar, akhirnya ditentukan kalau warga desa ini akan memiliki tiga kegiatan utama.


Kegiatan utama yang pertama adalah melakukan pengembangan desa. Mulai dari membuat rumah-rumah sederhana menggantikan tenda. Lalu juga menggali parit yang mengelilingi desa sebagai perlindungan.


Lalu untuk kegiatan utama yang kedua adalah membuat ramuan seperti biasanya. Akan tetapi, bisa dikatakan tingkat keseriusan dalam pengerjaannya ditingkatkan. Sebelumnya warga desa ini saat membuat ramuan hanya punya target sedikit. Dan target mereka hanya pada kuantitas, yang penting bisa mencapai seberapa banyak. Mereka bisa membuat ramuan kualitas tinggi hanya karena waktu yang lama saja. Tapi kini, mereka juga fokus untuk belajar meningkatkan kualitas dari ramuannya. Salah satu caranya adalah dengan mencari cara membuat yang lebih efektif.


Dan kegiatan utama yang ketiga alias terakhirnya adalah berlatih sebagai Scouts. Erra sendiri yang membimbing dalam hal ini. Ia mengajari warga desa berbagai macam hal tentang Scouts. Dimulai dari melakukan pelacakan di hutan. Lalu mulai berlatih memakai busur dan belati untuk bertarung dan masih banyak lagi.


.


.


.


Bersambung...


.


.


.


Yo!


Author di sini...!


Halo teman-teman pembaca setia Ardanium’s Tale Online (Revised) : The Soul Eater...!


Mohon maaf atas hiatus sekitar dua pekan tanpa pemberitahuan sama sekali. Saya kena serangan penyakit mendadak, dan tidak sanggup untuk menulis selama hampir dua pekan ini...


Jangankan untuk menulis cerita, duduk saja sulit...!


Terima kasih bagi yang mau menunggu dan kembali membaca karya amatiran ini...


Mudah-mudahan saya lebih bisa menyiapkan antisipasi yang lebih baik jika sampai terjadi kendala semacam ini lagi...

__ADS_1


Salam sehat untuk semua...!


__ADS_2