Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.26.2 - Topeng.


__ADS_3

“K-kumohon! Jangan laporkan aku! Aku akan melakukan yang kau mau! Selama aku bisa, aku akan melakukannya! Kalau itu sampai dilaporkan, aku akan....”


Karena rasa gugupnya, si gadis tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sementara itu, di sisi lain, Putra yang dari tadi sebenarnya tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, akhirnya bisa melihatnya dengan jelas.


“Kau... bukan kah kau mencalonkan diri menjadi ketua osis?” tanya Putra.


Si gadis menatap Putra, tapi saat mata mereka saling bertatapan ia segera menunduk lagi.


‘A-apa itu? Apa yang kulihat barusan?! APA ITU?! T-tidak ada apa-apa di sana! Itu mata yang kosong!’ si gadis menjerit-jerit dalam hatinya.


“Kau bilang kau mau melakukan apa pun kalau aku tak melaporkanmu, asal itu masih dalam kemampuanmu, kan?” tanya Putra.


Tanpa bisa mengangkat wajahnya, juga tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, si gadis hanya menjawab Putra dengan anggukan kepala yang kuat. Sementara itu, isi pikirannya adalah...


‘Sepertinya rumor itu benar. Meski rumor itu sangat tipis, tapi itu benar! Orang ini, selama ini memakai topeng! Ia yang sebenarnya, sama sekali berbeda!


Eh, tunggu dulu!


Aku bilang mau apa saja asal ia tak melaporkanku! Bagaimana kalau ia meminta yang aneh-aneh?!’


Pikiran gadis itu menjadi liar, seliar-liarnya. Karakter Putra yang selama ini ia kenal hancur berkeping-keping. Sekarang ia hanya bisa memikirkan hal buruk yang akan Putra minta darinya. Seperti meminta ‘tubuhnya’.


“Bagaimana kalau kau mundur dari pencalonan ketua osis?” tanya Putra.


“Eh?” si gadis keheranan.


Perlahan, gadis itu bisa mengangkat wajahnya lagi. Aura menekan yang sedari tadi keluar dari Putra, tiba-tiba menghilang. Suara Putra pun, telah kembali ke suaranya yang hangat dan lembut seperti biasanya. Dan sebelum si gadis bisa mengangkat tinggi wajahnya, Putra berlutut di hadapannya.


Kini, mata mereka saling tatap. Tatapan penuuh kelembutan dan kasih sayang. Tatapan yang memberikan pelukan hangat yang begitu nyaman. Itu yang kini gadis itu lihat di mata Putra. Senyuman tipis Putra yang khas telah kembali. Senyuman tipis yang tak sulit untuk menaklukan para gadis.


“Eh?”


Gadis itu mengulangi lagi suara keheranannya. Putra beberapa detik yang lalu, seakan hanya ada dalam khayalnya saja. Putra yang kini sedang menatapnya, adalah Putra yang biasa ia kenal.


“Kuulangi sekali lagi, apa kau bisa mengundurkan diri dari pencalonan dirimu sebagai ketua osis? Oh, ya... Maaf tadi aku terbawa emosi. Maaf kalau aku menakutimu.”


‘Hangat’ gumam gadis itu dalam hatinya.


Rasa hangat kini membungkus hatinya. Semua rasa takut yang tadi muncul, seketika sirna.

__ADS_1


“I-itu... Aku rasa.. itu sulit...” ucap gadis itu.


“Kenapa?”


Gadis itu hanya terdiam, lalu setelah beberapa saat akhirnya ia kembali berbicara.


“B-baiklah, aku akan mundur. Janji jangan laporkan aku!” kini ia telah berani menatap mata Putra tanpa ragu lagi.


“Ya, aku janji. Sekarang...”


Putra berdiri, lalu mengulurkan tangannya.


“Bisa kau berdiri?”


Si gadis menyambut tangan Putra dan berdiri. Keheningan tercipta selama beberapa saat. Lalu...


“Lebih baik kau pergi sekarang.”


Mendengar ucapan Putra itu, tanpa tanya, si gadis segera pergi.


“Sekarang, urusan kita belum selesai. Bukan kah tadi kau bilang mau menghajarku? Dari tadi kutunggu kau diam saja.”


‘B-bocah ini! Apa-apaan dia?!’ jerit si lelaki dalam hatinya.


Ia benar-benar tak habis pikir, kalau dalam hidupnya ia akan bertemu dengan orang seperti Putra. Yang di satu saat bisa menjadi sangat dingin dan tajam, di saat berikutnya menjadi lembut dan hangat, kemudian kembali menjadi dingin dan tajam.


“Sebenarnya, kau ini siapa, sih?” tanya Putra.


“Kau sendiri siapa?! Berani-beraninya mengganggu orang lain seenaknya begitu!”


“Setelah kuperhatikan sepertinya kau setidaknya sudah berumur dua puluh tahun, ya? Orang seusia itu, yang mengajak seorang siswi SMA bermesraan di tempat seperti ini. Kuyakin kau orang bodoh. Jadi, aku rasa aku tak perlu menjelaskan alasanku mengganggumu.


Tapi, satu hal yang bisa kukatakan agar orang bodoh sepertimu tak mati penasaran. Tindakanmu itu, meski secara tidak langsung dan butuh proses yang sangat panjang. Akan menggangguku, benar-benar mengganggu. Jujur saja, kalau tindakanmu tak akan ada hubungannya sama sekali denganku. Maka aku tak peduli. Tapi sayangnya, ada hubungannya.”


Sebenarnya, apa yang dipikirkan Putra?


Apa ia melakukan ini demi moral, kebaikan, atau kebenaran?


Sayangnya, bukan. Bukan sama sekali.

__ADS_1


Karena seperti yang ia katakan, ia tak peduli sama sekali pada tindakan itu. Andai tak akan mengganggu dirinya sama sekali. Lalu, bagaimana tindakan mesum pasangan itu bisa mengganggu Putra?


Begini lah isi pikiran Putra.


Pertama, mereka yang berani melakukan tindakan seperti itu di tempat seperti ini. Lalu tak pernah mendapat gangguan sama sekali, nantinya akan ketagihan. Bahkan bisa jadi lama kelamaan mereka menjadi lupa diri, dan semakin berani melakukannya di tempat yang lebih terbuka lagi.


Dan ketika suatu saat kelakuan mereka terbongkar ke muka publik. Mau tidak mau, SMA Bintang Nusa akan mendapatkan citra buruk. Sekolah ini akan dikenal sebagai sekolah yang membiarkan tindakan tidak senonoh terjadi di sekolahnya. Lalu kemudian, Putra yang merupakan siswa dan nantinya akan menjadi alumni dari SMA ini. Akan dikenal sebagai orang yang bersekolah dan lulus dari sekolah yang membiarkan hal buruk itu terjadi.


Kalau hanya sampai di sana, Putra masih bisa mengabaikannya. Tapi, sayangnya ada kemungkinan masalah ini akan menyambar ibu dan adiknya. Bagaimana bisa?


Ibunya akan dikenal sebagai seorang ibu yang menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah yang tidak senonoh. Lalu adiknya akan dikenal ssebagai seorang gadis yang memiliki kakak lelaki yang sekolah di tempat tidak senonoh. Yang mana bisa mengganggu mereka dalam beragam hal, terutama dalam sosial.


Semua ini bisa bertambah buruk saat Putra sadar si siswi ternyata adalah salah satu calon ketua osis. Jika gadis itu bisa menang, yang mana memang sangat mungkin. Ia bisa saja mendiamkan setiap tindakan tidak senonoh di sekolah ini. Yang tentunya akan semakin memperburuk citra sekolah.


Mungkin pikiran Putra terlalu jauh, dan seperti khayalan belaka. Namun, memang begitu lah pola pikir anak ini.


Kembali ke situasi terkini.


“Kau terlalu banyak bicara! Ayo, kita selesaikan secara jantan!” hardik si lelaki.


“Huhu... haha.. HAHAHAHA!!!” Putra tertawa lantang seperti maniak dalam film. Lalu lanjut berkata...


“Aku terlalu banyak bicara? Ya, aku memang banyak bicara tapi yang kubicarakan hal bukan lah omong kosong. Dari tadi kau bilang mau menghajarku tapi malah diam, dan bahkan kau sudah mundur dua kali!


Lalu apa maksudmu selesaikan secara jantan, ha?!


Apa maksudmu menyelesaikannya dengan adu fisik?


Haha!! Benar-benar kau ini. Kau datang dari gua mana, sih?!”


“KAAAUUU!!!!!”


BuAK!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2