
Hal berbeda hari ini terjadi pada penghujung hari, di saat pelatihan sudah ditutup dan para peserta pelatihan akan pulang. Terjadi lah suatu hal yang di luar dugaan siap pun.
Dan yang terjadi adalah...
“Kenapa wajahmu kelihatan bingung begitu, Jo?” tanya Erra
“Mohon maaf, tuan. Sepertinya saya menjatuhkan belati milik saya.”
“Hah? Kau tahu ada hukuman untuk itu, kan?”
“I-iya, saya tahu. T-tapi, tuan... mohon maaf jika saya lancang untuk meminta izin sebelum saya menerima hukuman.”
“Izin untuk apa?”
Jo melirik ke satu arah tepi sungai, lalu berkata...
“Itu... belati saya ada di sana. Saya ingin mengambilnya dulu.”
“Baiklah, izin diberikan. Tapi hukumanmu jadi dua kali lipat. Bagaimana? Kau tidak keberatan?”
Jo terlihat tegang, tapi akhirnya ia menyatakan sanggup untuk menerima hukuman dua kali lipat. Itu karena jika ia tak mengambil belatinya sekarang, mungkin saja belati itu benar-benar akan hilang selamanya. Lalu, salah satu hukuman bagi seseorang yang menghilangkan belatinya adalah membelinya sendiri. Sementara itu, kondisi uang saku Jo saat ini sedang sangat kritis, tapi ia juga tak mungkin melanjutkan pelatihan kalau tak punya belati.
Setelah mendapat izin meninggalkan barisan, Jo menghampiri belatinya. Dan saat ia akan memungut belatinya...
Byar!!!
Grep!
Seekor buaya muncul dari sungai dan menerjang Jo. Buaya ini ini bukan lah buaya dengan ukuran yang normal. Melainkan seekor buaya yang panjang tubuhnya saja mencapai lima belas meter. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan buaya biasa. Buaya yang satu ini terlihat lebih ‘langsing’.
Setelah menggigit tubuh Jo, buaya bersisik putih sedikit hijau itu menarik tubuh Jo yang malang itu ke sungai. Segera, air sungai menjadi merah karena darah Jo. Semua peserta pelatihan lain bisa melihat saat tubuh Jo dikunyah dan tercabik-cabik oleh buaya yang tergolong monster itu.
Semua merasa kaget akan hal tersebut, tak terkecuali Erra. Mereka mebelalakan mata mereka dengan sangat lebar disertai dengan mulut mereka yang menganga lebar. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang jatuh terduduk.
Byar!!!
Grep!
__ADS_1
“Heh...?!”
“A-apa?!”
“Tiidaaaakk!!!”
Kumpulan peserta pelatihan ini masih berbaris di pinggiran sungai. Lalu tiba-tiba saja, seekor monster buaya lainnya muncul dan melahap salah satu dari mereka. Kepanikan segera melanda kelompok ini, dan mereka pun menjadi sangat kacau.
Ada yang langsung berlari menjauhi sungai, ada juga yang terjatuh masih di dekat sungai. Monster buaya yang tadi memakan Jo, kelihatannya telah selesai menelan seluruh tubuh Jo. dan kelihatannya ia masih belum merasa kenyang setelah memakan Jo. Monster itu pun berenang mendekati para peserta pelatihan yang terjatuh di dekat sungai. Dan mulai menerjang ke arah salah satunya.
“LARIII!!! Semuanya berdiri dan lari! Selamatkan diri kalian! Kuatkan hati kalian! Kita pasti bisa kabur! Mereka adalah Naga Sungai! Mereka tak akan terlalu jauh dari sungai! Berlari lah! Dan panjat lah pohon! CEEPPAAAATT!!!”
Tanpa bergerak dari tempatnya semula, dengan perasaan kaget yang berhasil dikendalikannya. Erra memberi perintah tersebut, bukan hanya sekali. Ia mengulanginya berkali-kali, namun tetap saja tak semua mendengarnya. Sementara itu, satu per satu anggota pelatihan dimakan oleh dua monster buaya yang disebut sebagai Naga Sungai atau River Dragon.
Naga Sungai seperti namanya, adalah salah satu jenis naga, dan naga adalah monster yang tergolong dalam kategori atau kelas atau tingkatan Epic. Sebuah tingkatan yang sudah menjelaskan betapa mengerikannya naga. Karena saat ini tingkatan Epic adalah tingkatan kedua paling berbahaya yang diketahui.
Akan tetapi, meski tergolong dalam jenis naga. Naga Sungai dikatakan sebagai naga yang paling lemah. Mereka memang tetap tergolong dalam tingkatan Epic layaknya jenis naga lainnya. Akan tetapi, mereka berada pada posisi paling rendah di tingkatan tersebut.
“Mereka tampaknya masih muda. Tapi tetap saja mustahl melawan mereka sekarang!” ucap Erra pada dirinya sendiri.
Meski begitu memang benar juga pendapat Erra, bahwa mustahil alias tidak ada kemungkinan menang jika ia melawan kedua monster itu saat ini. Dirinya sendiri belum lama baru mencapai kenaikan level dari level delapan ke level sembilan. Sedangkan semua peserta pelatihan yang ikut bersamanya, paling tinggi punya level lima saja.
“Hey! Tinggalkan yang tidak bisa bergerak! Kecuali mau mati juga!”
Erra masih terus meneriaki semua peserta pelatihannya. Ia terus saja menyuruh semua untuk lari dan kabur, sementara dirinya sendiri tak bergesera sama sekali dari tempat berdirinya semula. Ia malah menyiapkan busurnya dan mulai membidik salah satu Naga Sungai itu.
Kreeeketketket!!!
Erra menyiapkan sebuah tembakan Power Shot, dan ia sertai juga dengan Curve Shot. Yang ia bidik adalah mata salah satu monster reptil besar itu.
Dengan Power Shot, Erra bisa mendapatkan efek serangan yang besar. Sedangkan Curve Shot seperti namanya, berfungsi untuk melengkungkan jalur meluncur anak panah yang akan Erra lesatkan.
JTANG!!!
ZWOOSH!!!
Begitu Erra melepaskan jari-jarinya yang menahan tali busurnya itu, sebuah anak panah melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tembakannya melengkung, dan mengarah tepat ke arah target yang diinginkannya.
__ADS_1
ZLAB!!!
“Roooooaaaaa!!!”
Naga Sungai itu menjerit kesakitan saat mata kirinya ditanami sebuah anak panah. Anak panah yang tertanam langsung dalam ke dalam bola matanya. Membuatnya melepaskan salah satu peserta pelatihan perempuan yang tadi sedang ia kunyah.
Pluk!
Sayang sekali, peserta perempuan itu tak bisa bertahan hidup karena ia telah kehilangan bagian tubuh dari kepala sampai dadanya. Kedua tangannya pun terpencar ke dua arah yang berbeda.
Monster bersisik itu segera mencari arah sumber kedatangan anak panah itu. Dan ia pun menemukan Erra yang tengah menyiapkan Power Shot lainnya.
JTANG!!!
ZWOOSH!!!
ZLAB!!!
“RROORRRROOO....!!!!”
Erra menggunakan tembakan lurus untuk menyerang Naga Sungai yang satunya lagi. Dan kini, kedua monster itu menatapnya seakan mereka lebih ingin mencabik tubuh Erra sampai kepingan kecil daripada memakan avatar bermata merah itu.
“Wah... wah... ternyata aku bisa bertindak bodoh juga, ya? Haha.”
Erra mengucapkannya dengan nada dan ekspresi wajah yang datar, sambil menatap balik kedua monster di hadapannya.
Ia menyiapkan anak panahnya lagi dan menyerang kedua monster itu bergantian. Kali ini ia tak berdiam di tempat dan tidak memakai serangan berdaya rusak tinggi. Ia berlari ke suatu arah yang menjauhi semua peserta pelatihan yang masih hidup.
Kedua Naga Sungai itu pun mengikuti si pemain bermata merah itu. Meninggalkan semua peserta pelatihan lainnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1