
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 35 : Ramuan.
+++
“Eh? Siapa kau?! Ah! Kau yang membuat kelinci itu kabur, ya?!” ucap si gadis penyihir pada Erra.
“Bukan.” Jawab Erra dengan tenang dan tegas.
“Lalu apa maumu di situ?”
“Aku hanya sedang lewat.”
“Mana ada orang sedang lewat saja sambil menggenggam belati dalam keadaan siaga?”
Sambil mengucapkan kalimat itu, si penyihir mengangkat tongkat sihirnya. Terlihat kalau ia memasang sikap siap bertarung dengan Erra.
“Apa kau benar-benar perlu jawabannya? Lagipula aku tak akan mengganggumu. Sekarang aku mau pergi.”
Erra menyarungkan belatinya dan segera berbalik. Erra terlihat seperti menurunkan kewaspadaannya. Namun nyatanya, ia masih fokus pada si penyihir walau pun ia sudah membalikan badannya. Ia memfokuskan pendengarannya, untuk mengetahui pergerakan si penyihir.
Erra memang bukan pemilik dari kemampuan pendengaran super. Akan tetapi, ia bisa memaksimalkan kemampuan mendengarnya sebatas kemampuan manusia. Dan, sebenarnya kemampuan mendengar manusia itu tidak rendah. Hanya saja kebanyakan orang tak bisa memaksimalkan kemampuan pendengaran mereka.
Penyihir yang memiliki rambut panjang berwarna biru langit itu, tak menurunkan tongkatnya. Ia masih mengarahkannya pada Erra. Dalam hatinya ia tak percaya pada perkataan Erra sebelumnya. Ia merasa kalau ia menurunkan kewapadaannya, bisa saja Erra berbalik dan menyerangnya.
Gadis penyihir ini bisa melihat dari penampilan Erra. Kalau avatar berambut putih itu adalah tipe petarung langsung atau jarak dekat yang mengandalkan kecepatan. Jadi, ia berpikir kalau Erra bisa saja bergerak dengan sangat cepat menghampiri dirinya.
Sementara itu, sebagai seorang penyihir. Gadis bermata biru safir ini tentu saja tak memiliki kemampuan bertarung jarak dekat yang baik. Bahkan memang ia tak bisa melakukannya sama sekali.
Kini Erra masih terus berjalan menjauhi si penyihir. Erra tahu si penyihir masih waspada pada dirinya. Dalam hatinya, Erra ingin coba melawan penyihir ini, karena ia belum pernah bertarung dengan seorang penyihir. Akan tetapi, Erra saat ini ingin beristirahat terlebih dahulu. Jadi, ia memang serius akan meninggalkan si penyihir.
Saat Erra sudah benar-benar menjauh dan mulai tak terlihat. Si penyihir mulai menyisir keadaan sekitarnya dan memutuskan untuk menjauh dari tempat itu juga.
“Meski hanya sekilas, aku bisa melihat matanya itu... menyeramkan.” Gumam si penyihir.
“Tapi entah kenapa, rasanya aku mengenal orang itu.”
.
__ADS_1
.
.
Erra telah keluar dari Kork Forest dan sudah mencapai penginapannya lagi. Kini, ia juga telah mengeluarkan semua peralatannya untuk meracik sebuah ramuan.
“Rumput Mondträne... Tomat Blut... dan air murni. Ya, sudah semua.”
Erra pun mulai meracik ramuannya. Kali ini ia ingin membuat ramuan pemulih Hit Point tingkat rendah yang dikenal dengan nama Low Healing Potion 1.
Pertama, Erra memanaskan air murni pada panci kecil seperti cangkir di atas kompor kecil seukuran genggaman tangan pria dewasa. Sementara itu, ia menimbang berat Rumput Mondträne dan Tomat Blut yang akan ia pakai. Setelahnya, ia mulai menghaluskan keduanya bersamaan. Dan ketika air mendidih, ia memasukannya.
Erra menyiapkan saringan di atas sebuah wadah. Dan setelah beberapa menit merebus ramuan tadi, Erra menuangkannya ke saringan itu. Erra bersiap mengulangi semua proses itu sambil menunggu ramuan pertama ini dingin.
Setelah ramuannya dingin, ia memasukannya ke sebuah botol kaca kecil. terlihat carian merah semi tranparan dalam botol kecil yang ditutup dengan penyumbat itu. Ini lah Low Healing Potion 1, ramuan yang bisa mengembalikan lima puluh Hit Point yang hilang dalam waktu singkat.
Erra terus mengulangi semua proses itu sampai ia kehabisan botol kaca sebagai wadah ramuannya. Meski bahan-bahannya masih ada, ia jelas tak bisa membuat lebih banyak lagi Low Healing Potion 1 itu tanpa wadahnya.
“Ya... sekarang tingal coba kita jual. Tapi, lebih baik jual di mana dulu, ya? Langsung di sini atau di forum?”
Erra sedang memikirkan di mana ia harus menjual ramuannya. Ia bisa menjualnya di toko-toko yang ada di Avalan City ini. Atau bisa juga menjualnya langsung pada orang yang membutuhkan. Tapi sebagai seorang pemain, Erra juga bisa menjualnya di Ardanium’s Forum.
“Hm... coba saja lah.”
.
.
.
.
Kehidupan sekolah Putra masih berjalan seperti biasanya. Yang berubah itu adalah jumlah penggemarnya yang semakin bertambah hampir setiap harinya. Baik penggemar yang terbuka atau pun yang tertutup.
Tapi kini, Putra bukan hanya memiliki sekelompok orang yang menjadi penggemarnya. Tapi ia juga memiliki beberapa yang menjadi pembencinya. Bisa dikatakan orang-orang ini adalah mereka yang merasakan iri di hati mereka karena ketenaran Putra.
Putra memang punya banyak penggemar, tapi tak ada ‘kesatuan’ sama sekali yang menghubungkan mereka. Selain perasaan mereka yang sama-sama mengagumi Putra. Beda dengan mereka yang membenci atau hanya tidak menyukai Putra. Mereka bergerak dengan sedikit teroganisir, meski tidak juga sampai membentuk sebuah kelompok tertentu.
Kelompok ini bisa bergerak dengan teroganisir karena memang ada orang yang berusaha menggerakannya. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan, tentu saja adalah Esa.
Rasa iri pada hati Esa bisa dikatakan semakin bertambah setiap harinya. Bahkan menjadi ketua osis tidak cukup untuk menambal rasa iri itu. Karena ia merasa mengalahkan Putra di aspek yang salah.
__ADS_1
.
.
.
“Hm... lumayan juga.”
Erra telah menjual setengah dari Low Healing Potion 1 yang ia buat di beberapa toko. Awalnya ia berniat menjual semuanya di satu toko saja. Tapi ia berubah pikiran di beberapa saat terakhir. Dan akhirnya hanya menjual sedikit di satu toko. Alasan Erra adalah untuk melakukan survei harga. Mana toko yang akan membeli ramuannya dengan harga terbaik.
‘Harga’ yang Erra maksud bukan hanya nominalnya yang besar saja. Tapi juga mencakup masalah lainnya. Seperti kemungkinan dari kelanjutan kerja sama, atau kelanjutan kerja sama jangka panjang. Selain itu juga, Erra akan bersedia menjual ramuannya dengan harga murah.
Jika toko yang didatanginya memiliki perlakuan yang tegas dan tidak bertele-tele, maka Erra akan menjualnya di situ. Contohnya adalah ketika mereka menawar harga. Ada toko yang hanya sedikit menawar, lalu mereka tak akan membeli kalau memang merasa tak cocok dengan harganya. Tapi ada juga toko yang terus menawar sampai bertele-tele, mereka tak membiarkan Erra langsung pergi karena mereka ingin harga barang yang lebih murah. Tapi, kalau Erra tak mau memberi harga murah, meski sudah menghabiskan banyak waktu Erra, mereka tetap tak membelinya.
Erra akan memilih untuk membuat kerja sama dengan toko yang tipe pertama. Dan ia bahkan tak ragu untuk memberi diskon yang besar. Karena menurutnya, lebih baik bekerja sama dengan rekan yang tegas.
.
.
.
Bersambung...
Yo!
Author di sini, lho!
Boleh kah saya minta komentar jujur dari teman-teman sekalian?
Komentar yang saya minta adalah pendapat teman-teman dengan kecepatan alur cerita ini...
Apakah lambat?
Atau sangat lambat?
Apa mau sedikit dipercepat?
Sebelumnya terima kasih sudah membaca bab kali ini, dan mudah-mudahan teman-teman sekalian tak keberatan menjawab pertanyaan saya di atas...
Semoga semua sehat selalu...
__ADS_1
Sampai jumpa di bab berikutnya...