
.
.
.
“Siapa?”
Tempat ini gelap dan sepi, tak terlihat ada siapa pun, tak terdengar ada apa pun. Tapi, Erra menyadari kehadiran seseorang tak jauh di depan dirinya.
Dan benar saja, muncul lah seseorang dari balik bayangan. Orang itu memiliki perawakan yang hampir serupa dengan Erra. Ia memakai pakaian yang sangat rapat, tak ada bagian tubuhnya yang terbuka kecuali kedua matanya. Dan pakaian rapat ini semuanya serba hitam, bahkan topeng yang menutupi wajahnya juga hitam.
“Hebat juga kau bisa menyadari kehadiranku?” ucap orang yang baru muncul itu.
Dari suaranya, terdengar kalau ia santai saja. Tapi, di dalam benaknya ia berkata,
‘Bagaimana ia bisa menyadari keberadaanku? Padahal aku mengaktifkan Concealment!’
Concealment adalah sebuah Skill untuk menghilangkan wujud penggunanya. Atau dengan kata lain, membuat penggunanya menjadi tembus pandang.
“Tentu saja, karena aku ini Scouts yang keren. Jadi, itu wajar.” Balas Erra dengan nada bicara yang meremehkan.
Erra tentu saja menyadari keberadaan orang itu bukan hanya karena dirinya merasa ‘keren’. Tapi, ia juga menyadarinya bukan karena sebuah Skill. Melainkan murni dari nalurinya.
Suatu hal yang hampir mustahil terjadi di dalam dunia virtual yang semuanya berdasarkan perhitungan data komputer. Tapi hampir mustahil, bukan berarti mustahil. Karena tak sedikit pula pemain yang memiliki kemampuan seperti Erra. Namun, tak sedikit bukan berarti banyak. Karena biasanya mereka yang punya kemampuan ini hanya lah para pemain teratas, bukan pendatang baru seperti Erra.
Lalu, kenapa Erra bisa begitu?
Entah lah?
Kembali ke situasi terkini.
Meski Erra berbcara dengan santai dan seperti meremehkan, tentu saja di dalam hati dan pikirannya tidak begitu.
‘Sial! Ini di luar perkiraanku! Orang ini seperti petinggi, dan pasti dia kuat. Sepertinya aku akan kalah kalau bertarung? Tapi, bagaimana caranya kabur?!’
Itu lah yang ada di dalam benak Erra.
Dan Erra memang benar. Orang yang ada di hadapannya adalah seorang petinggi yang kuat. Karena ia lah sang pemimpin dari satuan intelejen Golden Stars, Fitz.
__ADS_1
Keheningan terjadi selama beberapa saat. Erra tetap dengan kuda-kuda melarikan dirinya. Sementara itu, Fitz masih berdiri tegak. Keduanya sama-sama memasang kewaspadaan tertinggi. Karena keduanya merasa lawannya kali ini adalah lawan yang merepotkan.
Namun keheningan ini segera berakhir, ketika Erra dengan berani mengambil risiko membuat gerakan lebih dahulu.
Wuuzh!!
Erra melempar belati di tangan kanannya dengan cepat dan cukup kuat ke arah dada Fitz. Lalu dengan reflek, Fitz pun menghindari serangan itu.
‘Apa-apaan?’ tanya Fitz.
Fitz bisa dibilang siap menerima serangan Erra. Tapi ia tak menyangka kalau serangan Erra adalah dengan melemparkan satu-satunya belati di tangan kanannya.
Meski hanya satu per sekian detik, Fitz yang mneghindari serangan Erra memberikan kesempatan bergerak bagi Erra. dengan gesitnya, Erra mengambil beberapa botol kaca yang berbentuk dan berukuran seperti bola golf.
Sedari tadi, di saat ia melemparkan belatinya. Erra segera melangkah mundur. Dan kini, sambil melemparkan botol-botol kecil di tangannya. Erra terus berlari mundur.
Pyarr! Pyarr! Pyarr! Pyarr! Pyarr! Pyarr! Pyarr!
Erra menjaga jendela menunya terbuka agar ia bisa terus mengakses inventorinya. Dan dari inventori itu lah, Erra terus mengambil botol-botol kaca seperti sebelumnya.
“Tidak mempan, ya?” gumam Erra saat menyadari lawannya masih bergerak, bahkan sedang mengejarnya di dalam kepulan asap kehijauan itu.
‘Ia tanpa ragu membuat tipuan dengan memegang belati itu, seakan ia akan menyerang langsung. Padahal ia berencana melemparnya dan mundur. Gerakannya juga sangat gesit, ia bisa terus melontarkan botol-botol ramuan gas beracun ini terus menerus. Ia pasti sambil membuka inentorinya, karena aku tak melihatnya mengambil apa pun dari saku mau pun tasnya.’
Setiap pemain akan mendapatkan notifikasi..
[Anda terkena racun!]
Saat mereka terkena racun. Karena itu lah para pemain akan selalu tahu saat dirinya terkena racun. Hanya saja mereka tak selalu tahu racun apa yang mengenai dirinya karena tak ada keterangannya.
Sedangkan dalam kasus Fitz saat ini, ia tak mendapatkan notifikasi terkena racun sama sekali. Itu karena ia memakai topeng yang bisa menangkal racun dalam bentuk gas sampai pada Kelas Special. Sedangkan gas beracun yang Erra pakai hanya lah Kelas Common.
Lalu bagaimana Fitz tahu kalau yang dilemparkan padanya adalah gas beracun?
Itu hanya karena pengalaman.
Fitz mengejar Erra sambil berkata,
“Kau pikir bisa meracuni dengan ini?!”
__ADS_1
Tanpa disangka, Erra menjawab...
“Tentu saja mustahil meracunimu dengan ini!”
Jawaban Erra tidak disadari membuat sentakan pada psikis Fitz. Tentu saja si kepala intelejen Golden Stars itu secara spontan mempertanyakan kenapa Erra memakai racun yang ia tahu tak akan berguna. Dan Fitz pun langsung bersiaga kalau Erra membuat rencana lain.
Dan ternyata, benar saja...
Kali ini Erra bukan mengambil botol kaca berbentuk bola kecil. Melainkan sebuah bola logam hitam seukuran buah anggur. Erra pun kali ini bukan melemparkannya, melainkan membantingnya ke tanah. Lalu.
Blar!!!
WUUUOOOOZZZZZHHHH!!!!
Bola logam yang baru saja Erra banting itu adalah Mini Bomb. Dari namanya sudah jelas kalau itu adalah sebuah bom. Tapi, daya ledaknya kecil. Karena itu adalah bom peringkat paling rendah.
Meski ledakan bomnya kecil, tapi ledakan itu menyambar ke semua gas yang memenuhi jalan setapak ini. Seketika membuat Fitz terkepung oleh kobaran api.
Ternyata, tidak semua gas yang Erra pakai adalah gas beracun. Tapi ada juga gas biasa yang mudah terbakar. Sehingga, ledakan kecil dari Mini Bomb bisa menyambar.
“Apa itu?!”
“Apa yang terjadi?!”
Ledakan sebesar itu di area kota yang damai ini tentu saja dengan segera menyita perhatian semua orang di sekitar. Mereka pun segera berkumpul di mulut jalan setapak itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa dengan sangat mendadak terjadi ledakan.
Erra yang langsung membalikan badannya setelah membanting Mini Bomb, segera berlari menuju ke luar jalan setapak ini. Ia mengeluarkan busurnya, dan menyiapkan anak panahnya. Setelah itu...
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Erra secara bertubi-tubi menembak ke arah atas. Membuat anak panah yang ia lepaskan melambung ke udara sebelum mendarat. Dan, panah-panah itu mendarat di kerumunan warga yang ada di mulut jalan setapak itu. Dengan seketika, keributan pun terjadi.
Erra kemudian melompat keluar dari jalan setapak itu, ke tengah kerumunan yang ramai. Hanya untuk menambah kekacauan dengna menyerang orang sekitar dengan membabi buta untuk membuka jalan. Lalu, setelah jalan terbuka, ia pun melesat sebisanya.
Sementara itu, Fitz yang selamat dari ledakan terus mengejar Erra. Hanya untuk terhambat oleh kerumunan warga. Tapi tentu saja Fitz tak menyerah hanya karena itu, dan terus mengejar Erra.
.
.
__ADS_1
.