Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.52 - Runtuh.


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 52 : Runtuh.


+++


Para tawanan atau bahan percobaan Erra tak bisa melihat Fitz, karena Erra mematikan semua sumber pencahayaan. Mengembalikan keadaan ruangan ini seperti sedia kala yang gelap gulita. Sedangkan Fitz bisa melihat mereka karena memakai Night Vision, sebuah Skill untuk melihat di dalam tempat gelap.


“Siapa?!”


Salah seorang tawanan bertanya, segera Fitz menjawab...


“Ini aku, Fitz.”


“T-tuan Fitz?!”


Seketika para tawanan itu menjadi riuh. Mereka semua mengutarakan rasa lega dan bahagia mereka ketika mendengar siapa yang datang. Fitz menghampiri mereka dan segera melepas ikatan mereka. Setelah itu, Fitz kembali mencari jejak kaki Erra.


Tapi...


“Menghilang?” tanya Fitz pada dirinya sendiri.


“Ada apa Tuan Fitz?”


“Aku sedang mengejar Erra. Di mana dia?”


Ketika Fitz menanyakan keberadaan Erra, seketika mereka baru ingat dengan apa yang sebelumnya telah Erra lakukan di ruangan ini.


“Tuan Fitz, jangan pedulikan dia dulu! Kita harus segera keluar!” ucap salah satu dari mereka dengan begitu paniknya.


“Memangnya kena...”


Belum juga Fitz selesai bertanya...


Tap!


Zyuuuuuuuusssshhhhh!!!


DDDUUUUUUAAAAAARRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


.


.


.


“Baiklah, ini perpisahan untuk kita. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian atas kerja sama yang telah kalian berikan. Aku berhasil mendapatkan banyak sekali informasi baru yang sangat bermanfaat. Tapi aku tak bisa membalas kebaikan kalian, kecuali dengan melepaskan kalian seperti hari ini.


Sekali lagi terima kasih, dan selamat tinggal!”

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, tanpa menunggu reaksi dari mereka yang ia ajak bicara. Kemudian ia pun pergi meninggalkan gua ini, melalui jalur lain. Bukan jalur yang barusan ia pakai.


Jalur lain itu berada di langit-langit ruangan ini. Tepat berada di tengah-tengahnya. Tidak ada tangga atau alat bantu apa pun untuk naik ke tempat itu, Erra memasukinya hanya dengan melompat.


Ia melompat dan meraih seutas tambang, dan memanjatnya. Lubang yang ia panjat ini, hanya punya ukuran yang pas untuk dilewati satu orang saja. Dan lubang ini juga tak terlalu tinggi, hingga Erra bisa mencapai permukaan dengan cepat.


Untuk keluar, Erra harus membuka penutup lubangi ini terlebih dahulu. Ia tak membukanya sekaligus, melainkan secara perlahan. Untuk memastikan kalau keadaan di atas lubang aman. Setelah pasti aman, baru lah ia keluar.


Dan ternyata, Erra berada di sebuah kamar.


Kamar ini adalah sebuah kamar berukuran kecil yang ada di sebuah penginapan. Karena ternyata, ruangan atau gua yang Erra pakai untuk melakukan percobaan berada tepat di bawah sebuah penginapan. Sejak menemukan jalur masuk ini, sebenarnya Erra lebih sering memakai jalur ini karena lebih tersembunyi.


Setelah keluar dari lubang, Erra dengan segera membereskan semua barangnya di kamar ini. Dan kembali memperhatikan lubang di lantai yang terhubung dengan gua itu.


“Cih! Dia sudah sampai!”


Erra menggerutu begitu, saat ia dengan samar mendengar suara Fitz dari dalam gua.


Erra kemudian menuju ke pintu dan membbukanya. Setelahnya dengan segera ia menyiapkan sebuah panah api. Ia mengarahkan panah apinya itu ke lubang yang mengarah ke gua itu. Ia membidik sambil bersiap untuk segera berlari.


Syuut!!!


Erra melepaskan anak panah api yang ditahannya dan segera berlari keluar kamar. Bukan hanya keluar kamar, ia segera berlari ke luar bangunan penginapan ini. Menarik perhatian semua orang yang ada di penginapan ini.


Sebelum Erra berhasil keluar dari penginapan...


DDDUUUUUUAAAAAARRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Terjadi ledakan besar dari dalam gua bawah tanah itu.


Erra pun berhasil keluar dari penginapan itu, meninggalkan semua orang lain di dalam penginapan itu untuk...


BBAAAAMMMM!!!!


BBAAAAMMMM!!!!


BBAAAAMMMM!!!!


Terdenga beberapa ledakan lagi dari bawah tanah, dan dengan seketika merubuhkan bangunan penginapan kecil tiga lantai itu. Mengubur semua yang masih ada di dalam bangunan tersebut.


Tanpa menoleh ke belakang, Erra segera melesat. Berlari secepat yang ia bisa, untuk menuju ke penginapan lain yang ia sewa. Tujuannya adalah untuk membereskan semua barang-barangnya yang masih tersebar di banyak penginapan.


Kerumunan masa dengan instan tercipta. Ledakan yang menimbulkan suara yang begitu besar, sampai merobohkan sebuah bangunan bukan lah suatu hal yang lumrah di dunia ini. Maka dengan pasti akan menarik perhatian begitu banyak orang.


.


.


.


Ini adalah suatu tempat yang bisa dibilang dengan mudah memberi kesan kedamaian. Lokasinya berada di tengah hutan yang asri, dan di pinggir danau yang jernih.

__ADS_1


Tempat ini adalah sebuah vila yang sepenuhnya terbuat dari kayu. Terlihat jelas kemewahan arsitekturnya, namun masih terlihat begitu natural.


Di teras vila ini, terlihat dua orang pria. Yang mana keduanya terlihat berusia pertengahan tiga puluhan atau awal empat puluhan. Kedua pria ini, tengah mengadu kelihaian mereka dalam bermain catur. Salah satu pria memiliki rambut coklat gelap, sedangkan satunya lagi berambut pirang.


Selain kedua pria ini, masih ada orang lain di sekitar sini. Ada seorang wanita di belakang salah satu pria dan seorang pemuda di belakang pria yang satunya lagi.


“Maaf, tuan-tuan. Mungkin berita ini ingin Anda berdua dengar?” si perempuan tiba-tiba memecah keheningan.


“Memangnya ada berita apa?” tanya pria berambut coklat.


“Baru saja, terjadi keributan di Avalan City. Ada ledakan di sebuah penginapan yang sampai merubuhkan bangunannya.”


Kedua pria itu segera mengalihkan perhatian mereka dari papan catur pada si perempuan yang tengah membaca berita di ponselnya.


“Apa yang terjadi di sana?”


“Tak bisa dijelaskan dengan singkat. Apa Anda bersedia mendengarkan keseluruhan ceritanya?”


“Wah! Sepertinya seru? Aku bersedia saja mendengarkan.” Ucap si pria berambut coklat.


“Ceritakan lah.” Ucap si pria rambut pirang.


“Baik, saya akan berusaha merangkumnya tanpa menghilangkan informasi penting.”


Si perempuan menjeda sebentar kalimatnya sebelum mulai bercerita.


“Pertama, beberapa bulan ke belakang muncul seorang pemain pemula yang membuat kehebohan kecil dalam penjualan ramuan. Ia menjual dengan beragam cara dan segera menyaingi banyak pedagan besar. Dengan cara menggunakan sistem-sistem promosi umum dunia nyata yang belum dipakai di dunia Ardanium’s Tale Online.


Selanjutnya, Golden Stars memasang mata pada pemain baru ini. Sementara itu, pemain baru ini sempat jatuh penjualan ramuannya. Tapi Golden Stars terus mengawasi orang ini.


Pemain ini sempat juga melakukan percobaan ramuan pada seorang pemain. Dan belakangan, ia melakukan percobaan pada beberapa NPC. Lalu, Fitz dari Golden Stars mengejarnya langsung. Dan demi melarikan diri, ia membuat kekacauan di Avalan City. Sampai terjadi ledakan yang saya sebutkan di awal.”


“Golden Stars menaruh mata? Dan Fitz mau turun langsung?” tanya si pria pirang.


“Benar.” Jawab si perempuan.


“Aku tertarik dengan percobaan yang tadi kau katakan. Bisa jelaskan?” tanya si pria rambut coklat.


Si perempuan pun mulai menjelaskan.


Kenapa si perempuan bisa tahu semua itu?


Siapa kah perempuan ini?


Lalu siapa juga kedua pria ini?


Si perempuan adalah asisten dari si pria berambut pirang. Dan sedangkan kedua pria ini adalah dua, dari beberapa pencipta dunia virtual Ardanium’s Tale Online.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2