
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 40 : Dimulai!
+++
Sang mentari baru saja mulai mengintip dari ufuk timur. Tapi suasana yang sangat ramai telah terjadi di Desa Gezar. Itu karena ratusan orang berkumpul, dan terlihat sedang menunggu sesuatu.
Mereka ini adalah orang-orang yang mengambil misi penyerangan ke Desa Green Hut. Ada lima puluh orang anggota Golden Stars dalam penyamaran di kelompok ini, termasuk Fitz di dalamnya. Selain itu, anggota kelompok Ezzza juga ikut bergabung. Mereka mendaftar dalam kelompok-kelompok kecil agar mereka bisa menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya. Dan jika ditotal, anggota kelompok Ezzza yang bergabung dalam misi ini ada seratus lima belas orang.
Dengan mentotalkan jumlah anggota Golden Stars dan anggota kelompok Ezzza saja. Sudah ada seratus enam puluh lima orang yang bergabung dalam kelompok penyerang ini. Belum lagi orang-orang lain yang jika dijumlah, maka total anggota kelompok penyerang ini adalah lebih dari dua ratus orang.
Saat ini ada beberapa orang yang sedang berkelliling membagikan lembaran kertas. Lembaran kertas itu berisikan rencana atau strategi yang akan dilakukan oleh pasukan ini. Setiap orang hanya mendapatkan kertas dengan isi tindakan yang harus dilakukan orang tersebut. Mereka tak tahu tindakan yang harus dilakukan oleh orang yang lainnya.
Secara keseluruhan ini rencana kali ini sangat lah sederhana. Mereka akan menggempur Desa Green Hut dari satu sisi dengan kekuatan yang besar. Mereka akan mengerahkan sekitar delapan puluh persen jumlah anggota pasukan untuk melakukannya.
Sementara itu, sisa dua puluh persen anggota pasukan yang lainnya akan mengambil jalan memutar. Dan melakukan serangan pada sisi lain yang berlawanan. Tujuan strategi ini adalah membuat Desa Green Hut kewalahan.
Beberapa saat kemudian ada petinggi Desa Gezar yang berpidato. Dan tak lama kemudian, pasukan pun mulai bergerak.
.
.
.
“Maaf, Tuan Erra. Kenapa kita harus membagi kekuatan? Kita bisa melihat kalau mereka akan fokuskan serangan pada gerbang depan kita.”
“Itu pengalihan. Menurutku terlalu bodoh, kalau mereka hanya menyerang dengan brutal begitu. Aku yakin akan ada pasukan mereka yang sedikit memutar untuk menyerang kita dari arah lain.”
Erra sedang ada di dalam rapat bersama para petinggi lainnya. Terjadi sedikit perdebatan tentang strategi yang akan mereka lancarkan untuk bertahan. Perdebatan itu terputus ketika...
“Lapor! Desa Gezar sudah bergerak!”
Mendengar laporan itu, banyak yang langsung memasang wajah tegang. Saat itu, Erra angkat bicara untuk memutus rapat ini dan juga memulai operasi.
__ADS_1
“Kalau kalian ingat, kalian sendiri yang menunjukku untuk menjadi Kepala Pertahanan dan Keamanan di sini. Dengarkan dan ikuti strategiku barusan. Atau aku akan undur diri, bukan hanya dari jabatanku tapi juga dari desa ini.”
Mendengar perkataan itu, tak ada satu pun yang bisa menjawab. Mereka hanya bisa menatap wajah Erra yang tanpa ekspresi sama sekali. Yang mana cukup meyakinkan bagi mereka kalau Erra memang akan melakukan apa yang dikatakannya.
Fakta Erra selalu melakukan apa yang dikatakannya, membuat semua orang yang mendengar perkataan Erra itu yakin kalau Erra akan benar-benar melakukannya. Jika ada perkataan Erra yang tak jadi nyata. Itu bukan karena ia tak coba melakukannya. Melainkan telah mencoba untuk melakukannya namun gagal.
Singkatnya, kini semua setuju dengan apa pun arahan yang Erra berikan. Mereka tak cukup berani mengambil risiko di mana Erra pergi meninggalkan mereka. Yang mana sudah menjadi kepastian akan kehancuran mereka.
Semua pasukan desa bersiap, lalu dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok yang lebih besar bersiap menerima serangan lawan di gerbang utama desa. Sedangkan satu kelompok yang lebih kecil bersiap untuk segera meninggalkan desa. Kelompok yang lebih kecil itu dipimpin langsung oleh Erra. Dan setiap anggotanya bisa dikatakan adalah para elit di Desa Green Hut.
Warga biasa di desa pun tak tinggal diam. Mereka semua ikut serta sebagai tenaga pendukung.
.
.
.
‘Ah, hanya menlihat situasi ini saja aku sudah bisa membaca strategi mereka, ini benar-benar sederhana. Kalau semua yang dikatakan tentang Erra itu benar adanya. Aku yakin kalau ia sudah menyadari semua ini. Ya... meski belum tentu ia bisa menghadapinya.’
Perkataan itu muncul di benak Ezzza yang sedang ikut dalam kelompok kecil dari Desa Gezar yang memutar.
Kelompok ini dipimpin oleh seorang pengawal pribadi salah satu petinggi Desa Gezar. Yang mana sekarang sedang bergerak di dekat Ezzza. Pemain yang selalu mempermasalahkan pengucapan namanya itu, kini mendekati si pemimpin. Ia kemudian bertanya...
“Yo... komandan. Apa aku boleh bertanya?”
Dengan tatapan sinis dan terlihat enggan menjawab Ezzza, ia berkata....
“Apa?”
“Apa kalian sadar kalau strategi ini terlalu sederhana? Si Erra itu pasti sadar.”
“Kami tahu.”
“Kalau begitu, kalian tahu kita pasti akan dicegat di tengah jalan, kan?”
“Belum tentu dan mendekati mustahil.”
__ADS_1
“Kenapa begitu?”
“Bisa kau diam dan ikuti saja perintah?”
Ezzza tersenyum mendengarnya. Ia bisa melihat kalau si komandannya ini enggan berbicara dengannya atau pun yang lain. Sebelum menjauh, Ezzza berkata...
“Aku orang baru di hutan ini. Tapi jika semua kabar tentang Erra itu nyata, yang mana kau lebih tahu dariku, maka ia akan menghadang kita di sini. Dan dengan keadaan pasukan ini sekarang. Tak menutup kemungkinan kalau mereka yang akan berhasil dalam misinya.”
Si komandan berhenti berjalan, dan menatap Ezzza.
“Apa maksudmu?!” tanya si komandan dengan geramnya.
“Oh, kau tak mengerti? Baik lah, biar kujelaskan. Kalau kau bersikap sombong terus sebagai komandan kelompok ini. Kelompok ini mungkin bisa dihancurkan. Karena aku sendiri, lebih memilih mundur daripada kalah. Karena kerugianku hanya lah gagal melaksanakan misi.”
Si komandan terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun...
“Akan tetapi!”
Komandan itu tak jadi mengeluarkan ucapannya karena terpotong perkataan Ezzza, yang melanjut...
“Jika kau yang sebagai komandan pasukan, warga asli Desa Gezar, dan pengawal petinggi mengalami kegagalan. Semua akan menjadi buruk bagimu. Jadi, bagaimana kalau kau sedikit merendahkan hatimu demi kebaikan bersama. Demi kebaikanmu juga. Tapi kalau kau tak mau yang tak masalah.”
Si komandan terlihat memejamkan mata memproses semua perkataan Ezzza. Dan ia terlihat menerima saran dari Ezzza. Namun saat ia baru saja membuka mulutnya...
Jleb!
Bluk!
Sebuah anak panah tertanam di pelipis kirinya. Dan dengan seketika membuatnya mati.
Ezzza membelalakan matanya, melihat ke arah asal datangnya anak panah itu. Kemudian ia berteriak...
“Serangan!!!”
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...