
.
.
.
“Sungainya sudah terlihat! Kita harus segera ke sana!” seru Erra
“Sungai itu jalan buntu!” balas Arini.
“Kita masuk ke sungainya, para kera ini tak bisa berenang!” jelas Erra
“Apa kau yakin? Kalau pun begitu, sungainya juga berbahaya, kan?” tanya Arini.
“Yang penting kita terlepas dulu dari mereka.” jawab Erra.
“Kau mungkin tak masalah. Aku tak bisa berenang dengan zirahku!” Lunariaa angkat bicara.
“Aku akan menahanmu agar tidak tenggelam!”
Lunariaa terlihat akan membalas perkataan Erra itu, dan Arini pun kelihatannya belum bisa percaya pada rencana orang yang baru ditemuinya itu. Tapi, sebelum keduanya berhasil mengatakan apa pun. Erra sudah buka mulut lebih dulu.
“Kalau kalian punya rencana yang lebih baik, katakan lah! Katakan sekarang! Aku juga berharap ada rencana yang lebih baik!”
Kedua gadis itu menelan kembali perkataan apa pun itu yang sempat mereka niatkan untuk diucapkan. Mereka tak bisa menjawab permaintaan Erra akan rencana yang lebih baik. Mereka bahkan tak bisa memikirkan apa pun saat ini selain memikirkan cara bertahan dari sebagian para monyet yang masih mengejar mereka.
Ya, jumlah pengejar ketiga orang ini berkurang karena kedua kelompok kera yang mengejar mereka bentrok dan bertarung. Saat itu, ketiganya pun berhasil membuat jarak yang cukup jauh dengan gerombolan pengejar itu.
Akan tetapi, dalam bentrokan itu. Para Sting Monkey bisa cepat keluar sebagai pemenang dengan mengamdalkan bisa atau racun pada ekor mereka untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Syut!
Jleb!
“Itu panah terkahirku!” seru Erra.
Scouts itu pun menyimpan busurnya dan mencabut belatinya. Kini, ia terpaksa bertarung jarak dekat.
“Mana-ku juga akan habis!” ucap Arini.
“Hey, kau bilang ada teman-temanmu. Di mana mereka tepatnya?” tanya Lunariaa
“Yang jelas mereka ada di seberang sungai, tapi...” Jawab Erra dengan menggantung.
“Tapi apa?”
“Sepertinya mereka tak ada di dekat sini. Kita masih harus bergerak sedikit ke timur, untuk setidaknya bisa memanggil mereka.”
Arini dan Lunariaa terlihat kecewa, dan bingung. Tapi, mereka tak ada waktu untuk merasakan perasaan itu lebih lama lagi mereka pun meneruskan pertarungan mereka.
“Aku kehabisan Mana!” seru Arini.
Si gadis penyihir yang kehabisan Mana itu tak bisa memulihkannya lagi dalam waktu singkat. Karena ia telah kehabisan semua ramuan yang bisa membantunya memulihkan Mana dengan lebih cepat. Ia pun kini terlihat bersiap untuk bertarung dengan tongkat sihirnya yang dijadikan pemukul.
__ADS_1
‘Ah, unik juga. Penyihir berani bertarung jarak dekat.’ Gumam Erra dalam benaknya saat melihat aksi Arini.
Meski semakin terdesak, tapi ketiga orang petualang ini berhasil terus mendekati sungai. Dan saat ini, ketiganya hanya berjarak sekitar sepuluh meter saja dari sungai.
“Lupakan pertahanan! Kita terobos dan lompat ke sungai!” ucap Erra.
Kedua gadis yang bersamanya pun menjawab, “Siap!”
Ketiganya mulai berlari, hanya fokus berlari menuju ke sungai dan segera melompat.
Byur! Byur! Byur!
Ketiganya mulai bergerak di air, berusaha kembali ke permukaan. Arini melakukannya dengan sedikit kesulitan, tapi berhasil dengan cepat. Sedangkan Erra, jadi yang paling dulu mencapai permukaan. Sementara itu, Lunariaa yang memakai zirah berat kesulitan untuk berenang. Erra pun kembali menyelam, dan membantu Lunriaa seperti yang ia janjikan sebelumnya.
“Berusaha lah mengambang! Biarkan arus yang membawa kita.” Ucap Erra.
Dan itu lah yang kini ketiganya berusaha untuk lakukan. Tapi, Lunariaa adalah yang paling kesulitan untuk melakukannya. Sekali lagi, karena zirah beratnya. Erra yang membantunya pun sedikit kesulitan, karena arus kuat sungai mengganggu pergerakannya. Arini pun sedikit ikut membantu Lunariaa.
“Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!! Kiiieek!!!”
Para Sting Monkey terlihat sangat kesal karena target mereka masuk ke sungai. Tak ada seekor pun dari mereka yang ikut masuk ke sungai. Yang membuktikan perkiraan Erra sebelumnya. Akan tetapi, meski tak ada yang masuk ke sungai. Para monyet itu masih mengejar dari tepian sungai yang mengalir ke arah timur itu.
Untungnya, setelah beberapa lama. Gerombolan monster primata itu menyerah mengejar targetnya.
.
.
.
“Belum! Mereka masih mungkin muncul lagi. Bertahan lah sebentar lagi.” Balas Erra.
Lunariaa tak menjawabnya, namun telrihat jelas wajahnya menunjukkan ia tak suka.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka akhirnya menepi. Lunariaa langsung menggeletakan dirinya di tepi sungai. Arini dan Erra langsung bersandar di pohon terdekat. Beberapa saat kemudian, mereka pun duduk bersama bertiga.
“Apa aman untuk kita diam di sini dalam waktu lama?” tanya Arini.
“Tidak, tidak ada tempat seperti itu di hutan ini. Terutama di sisi selatan sungai ini.” jawab Erra sambil menunjuk sungai yang baru mereka arungi.
“Apa kau petualang yang sudah lama di hutan ini?” Lunariaa yang bertanya pada Erra.
“Ya, lebih dari satu tahun kalau tidak salah.”
“Wow, itu waktu yang lama. Kalau ssudah selama itu, kenapa kau sempat kehilangan arah?”
“Alasan pertamanya karena aku tadi benar-benar terkepung dan asal berlari, tanpa memperhatikan tempatku berada. Kedua, selama setahun ini aku bukan hanya menjelajahi hutan.”
Erra menjeda kalimatnya sebentar, lalu melanjutkannya dengan pertanyaan.
“Setelah ini, kalian mau ke mana?”
“Kami akan kembali.” Arini yang menjawab.
__ADS_1
“Kembali ke?”
“Desa Gezar.”
“Ooh, kalian datang dari Desa Gezar?”
“Ya, memangnya kau bukan dari sana?”
“Bukan, aku datang dari Green Hut. Bagaimana kalau kalian ikut ke Green Hut? Jaraknya lebih dekat dari sini. Dan kalau kalian mau mengisi kembali suplai kalian. Desa Green Hut tak kalah lengkap dari Desa Gezar.”
“Green Hut? Aku baru dengar.” Ucap Lunariaa.
“Green Hut, ya? Bukan kah itu desa yang menyaingi Gezar?” tanya Arini.
“Yaa, kurang lebih begitu lah.”
“Bukan kah di sana tak ada Gilda Petualang?”
Saat Erra akan menjawab pertanyaan itu, mereka mendengar suara semak yang bergoyang kuat.
Srek! Srek!
Dan terlihat seseorang mendekat.
“Yo! Apa kita terikat oleh takdir untuk bertemu lagi, ya? Wahai nona-nona menyebalkan.” Ucap orang itu.
“Kau! Eza!” ucap Lunariaa sambil berdiri dan mengangkat kapaknya.
“Wowow! Kau masih galak saja, nona. Dan berapa kali kubilang. Namaku Ezzza, bukan Eza!”
“Kenalan kalian?” tanya Erra pada Arini yang masih duduk.
“Hm... sulit dibilang begitu. Tapi kami memang pernah bertemu.” Jawab Arini sambil berdiri, lalu ia lanjut berkata...
“Apa kami bisa minta bantuanmu lagi?”
“Sepertinya ini masalah pribadi. Aku mau bantu kalau ada bayarannya.”
“Hm... ya. Kami akan bayar, tapi kita diskusikan itu nanti, bisa?”
“Oke!” Erra ikut berdiri.
“Hey, kawan. Aku punya masalah dengan kedua gadis ini. Kalau kau tak mau terlibat masalah juga, jangan ikut campur!” ucap Ezzza pada Erra.
“Benar, kah? Kalau begitu, bagaimana kalau kau menunjukkan masalah apa itu?”
Mereka pun bersiap bertarung.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...