Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.55.1 - The Burning Breath.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 55 : Burning Breath.


+++


Yang ada di arah utara?


Gunungan pasir.


Kalau yang ada di arah selatan?


Gunungan pasir.


Sekarang, apa yang ada di timur?


Gunungan pasir.


Lalu, bagaimana di arah barat?


Gunungan pasir.


Ya, ke mana pun Ezzza mengarahkan pandangannya. Yang ia lihat hanya lah gunungan pasir yang seakan tak pernah berujung. Karena mantan bos perampok itu kini tengah berada di tengah lautan pasir. Yang mana tanpa ada satu pun gumpalan awan yang meneduhinya.


Ezzza kini sedang berada di gurun terluas di dunia virtual Ardanium’s Tale Online. Sebuah gurun yang dikenal dengan nama, West Desert.


Pemain yang ingin memperkuat diri ini, kini tengah sedang dalam perjalanan. Ia menumpangi sebuah kereta kuda milik seorang pedagang yang menyewa dirinya sebagai pengawal.


“Paman, tanpa kompas dan badan jalan yang jelas. Bagaimana kau tidak tersesat di sini?” tanya Ezzza pada sang pedagang yang juga menjadi kusir.


“Tentu saja dengan melihat matahari. Dengan melihat matahari kau bisa tahu empat arah mata angin utama, kan? Apa petualang sepertimu tak tahu hal kecil begitu?” jawab si pedagang dengan sinis.


“Aku tahu kalau soal itu. Tapi, bagaimana kalau saat tengah hari. Apa kau bisa membedakan arah dengan benar?”


“Tentu saja bisa! Itu karena pengalamanku sangat banyak. Tapi, ya... memang sewaktu muda dulu aku cukup kesulitan. Karenanya, setiap menjelang tengah hari aku akan beristirahat dan menunggu sampai matahari condong ke barat.”


“Oh, begitu? Jadi, jika seperti itu. Karena sekarang kau sudah bisa membedakan arah meski tengah hari. Kita tak akan istirahat?”

__ADS_1


“Kenapa kau menanyakan istirahat? Kerjaanmu hanya duduk.”


“Bukan aku, tapi kedua kuda ini. Apa mereka bisa terus bergerak di panas terik begini tanpa istirahat sama sekali?”


“Oooh... kau orang yang perhatian, ya? Tentu saja nanti aku akan istirahatkan mereka.”


Perjalanan mereka pun berlanjut selama beberapa saat, sampai si pedagang menghentikan begitu saja keretanya. Karena tak ada tempat berteduh sama sekali, mereka pun membangun tenda sederhana untuk menahan terik sang surya.


Bukan hanya tenda untuk orang, tapi ada juga tenda untuk kuda. Si pedagang kemudian memberi minum kedua kudanya sambil membasuh tubuh mereka dengan air. Kedua kuda ini sudah terbiasa dengan iklim gurun ini, karena ini lah tanah kelahiran mereka. Tapi, biar bagaimana pun mereka tak punya ketahanan sehebat unta di tengah gurun seperti ini.


“Hey! Jangan ikut istirahat! Kau harus waspada di saat begini! Jangan sampai ada perampok dan kau tak siap. Percuma aku menyewamu!” hardik si pedagang pada Ezzza.


Ezzza tak menjawab dan hanya berdiri keluar dari tenda sederhana tempatnya berteduh. Ia melakukan pergerakan untuk meregangkan tubuhnya sambil berkata...


“Paman, kau tahu? Dulu aku ini perampok, bahkan punya kelompok besar. Tapi sayang, aku kurang beruntung dan jadinya kelompokku hancur.”


Si pedagang yang baru saja mau bersantai menyantap anggurnya menatap Ezzza dengan tatapan penuh kewaspadaan. Sementara itu, Ezzza selesai meregangkan badan dan kini menatap si pedagang.


“Setelah kupikir lagi. Sepertinya lebih baik aku merampokmu daripada melindungimu dari perampok.”


Si pedagang langsung berdiri sambil mengeluarkan pisaunya. Dan kemudian berkata...


“Hm... kalau kau mati di sini. Siapa yang akan bersaksi aku membunuhmu?”


“Kau mengambil misi pengawalanku dari Gilda Petualang. Datamu tercatat mengawalku, dan asosiasiku tahu akan hal itu. Saat kau tiba di kota berikutnya tanpa diriku, tapi membawa semua barangku. Tentu saja kau bisa disalahkan!”


“Ooh... begitu rupanya? Terima kasih atas informasinya. Sekarang aku tidak perlu khawatir untuk membunuhmu.”


“Apa?!”


Tap!


Ezzza melesat dan segera melayangkan serangan.


Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!


Tanpa ada perlawanan sama sekali, si pedagang yang merupakan NPC itu pun kehilangan nyawanya. Ezzza menjarah semua harta di tubuh si pedagang, lalu membiarkan jasadnya di atas pasir panas. Sedangkan ia kembali ke dalam tenda sederhana untuk beristirahat.


.

__ADS_1


.


.


“Kenapa bisa begini? Apa kita perlu bertanya lagi pada administrator permainan ini?”


“Sepertinya begitu. Biar aku saja yang tanya.”


Arini pun membuka panel menu dan mengirim pesan pertanyaan pada pihak administrator atau pengurus dunia virtual permainan Ardanium’s Tale Online ini. Sebuah pertanyaan mengenai keberadaan Erra.


Kedua gadis ini masih berada di pelabuhan untuk menuju ke West Desert. Meski sudah tiga hari berada di pelabuhan ini, mereka tak juga berangkat karena mereka berusaha memastikan keberadaan Erra.


Ketika seseorang berada di dalam daftar teman, seharusnya akan ada tanda jika mereka sedang berada di dunia virtual ini atau tidak. Tapi saat ini, nama Erra berstatus ‘tidak diketahui’ pada daftar teman yang dimiliki Arini mau pun Lunariaa.


Mereka sudah beberapa kali menghubungi pihak Megasolus dari beragam jalur. Tapi mereka tetap saja tak mendapatkan jawaban yang pasti. Mereka mendapatkan keterangan bahwa akun Erra masih ada dan statusnya Erra masih berada di dunia virtual. Hanya saja, lokasinya tak diketahui.


.


.


.


Matahari di West Desert akhirnya sedikit condong ke arah barat. Ezzza bersiap memulai kembali perjalanannya sendirian. Dengan memakai kereta kuda si pedagang yang baru direbutnya. Jasad si pedagang sendiri baru saja disambar burung pemakan bangkai beberapa saat yang lalu dan dibawa pergi.


Ezzza melanjutkan perjalanan, tapi mengubah arah tujuannya. Itu karena jika ia datang ke tempat tujuan awalnya, hal yang dikatakan si pedagang akan benar terjadi. Asosiasi pedagang di daerah ini bisa mengejarnya dan itu akan merepotkan.


Sebenarnya, kalau pun Ezzza mengubah arah tujuannya hal ini bisa tetap terjadi. Tapi, setidaknya ia bisa mengulur sedikit waktu sampai itu terjadi.


“Pikir-pikir... dari tadi tidak ada monster. Hanya ada makhuk gurun yang biasa.”


Bukannya Ezzza mengharapkan pertemuan dengan monster di kondisinya saat ini. Tapi, ia merasa sedikit curiga dengan keadaan ini. Ia khawatir, kalau ada bahaya besar yang menantinya.


Ia pun meneruskan perjalanannya dengan penuh kewaspadaan. Dan akhirnya, ia melihat sosok monster di kejauhan. Sosok dari monster kalajengking raksasa. Yang ukuran tubuhnya setara dengan mobil sedan.


Ezzza mengamati, berharap monster itu tak bergerak ke arahnya. Tapi sayang, harapannya itu tak terkabul. Karena monster itu memang mengarah pada dirinya. Bahkan ternyata, monster itu tak sendirian. Totalnya ada tiga ekor yang mengarah pada dirinya saat ini.


“Sial! Aku harus bergegas!!!”


Ezzza memasukan semua barang di atas kereta kuda ke dalam inventorinya sampai penuh untuk mengurangi beban. Dan membuang yang tidak bisa ia masukan dan tak begitu penting. Ia bahkan memotong atap kereta ini untuk mengurangi beban. Lalu kemudian, ia pun memacu kedua kuda penarik itu agar berlari secepat mungkin.

__ADS_1


__ADS_2