
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 28 : Borong!
+++
“Hm... Ternyata aku salah. Tapi ini menakjubkan!” ucap Putra saat menatap layar ponselnya.
“Kalau begini... sepertinya paling enak kalau dia kuhabisi juga. Tapi tempatnya cukup ramai pengunjung. Waktu yang tepat kapan, ya?”
Siapa yang ingin Putra habisi?
Jawabannya adalah Sincro.
Putra baru saja membaca liputan tentang perang yang terjadi di tiga titik sekaligus di dunia Ardanium’s Tale Online. Di utara ada Blue Angels yang berperang dengan Kerajaan Neria. Di daerah Kepuluan Azuma ada Infinity Dragon yang mulai berperang dengan Kekaisaran Yi. Sementara itu, di barat ada The Beast yang mulai menyerang kota-kota di West Desert.
Dampak dari peperangan ini, melonjakan beragam harga barang. Bukan hanya di daerah yang dekat dengan perang itu, tapi seluruh dunia Ardanium’s Tale Online. Lagipula, total luas wilayah seluruh dunia virtual itu kurang lebih hanya seluas Benua Australia di dunia nyata.
Putra juga sudah mendengar kabar ini dari Sincro. Dan ia pun mengikuti saran Sincro untuk mulai lebih banyak mengumpulkan bahan untuk membuat ramuan. Yang mana harganya sedang naik dan bisa lebih menguntungkan.
Sincro memang membeli barang dari Putra dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi, ternyata harganya di bawah harga pasaran. Selain itu, Sincro tak menaikkan harga kulit Boink yang ia beli. Padahal ternyata ada kenaikan harga di pasar. Karena kulit Boink cukup berguna untuk membuat beberapa hal.
Bukan hanya harga untuk tanaman dan kulit Boink. Semua benda yang Putra jual pada Sincro dihargai lebih rendah dari harga pasar. Jika hanya sedikit lebih rendah, Putra masih bisa terima. Ia paling hanya akan protes seperti sebelumnya. Tapi, nyatanya ini jauh lebih murah. Sekitar tiga puluh persen lebih murah.
Ini cukup untuk membuat Putra geram. Dan muncul niatan untuk menghabisi si pemilik toko itu.
“Ah... aku ada ide! Baiklah, begitu saja!”
.
.
.
Kleneng!
Bunyi khas lonceng pintu toko milik Sincro.
“Kau belum tutup, kan?”
“Ah! Erra! Baru saja aku mau tutup. Kukira kau tak akan ke sini hari ini.”
“Hm... maaf soal itu. Seperti biasa, ada beberapa barang yang mau kujual.”
“Ahaha! Begitu? Silakan!”
Jleb!
__ADS_1
“Eh?”
Bruk!
Erra baru saja menikam Sincro dari belakang, dan Sincro pun terjatuh ke lantai.
“A-apa ini? Apa maksudmu Erra?!”
“Pertama-tama, silakan tutup mulut dulu. Kalau tidak, kau akan langsung mati. Kalau pun ada yang menangkapku, kau tahu itu tak akan menjadi masalah bagiku, kan?”
Erra memungut kunci toko Sincro dan mengunci pintunya. Ia kemudian mengangkat Sincro, dan mendudukannya di sebuah bangku. Dan kemudian mengikat tangan Sincro di belakang, sedangkan kedua kakinya diikatkan ke kaki bangkunya.
Sincro pun tak bisa memberi perlawanan sama sekali atas setiap tindakan Erra. Itu karena belati yang ia gunakan untuk menikam Sincro telah dilumuri racun pelumpuh. Alias racun yang bisa memberikan efek Paralyze pada seluruh tubuh, kecuali mulut untuk bicara.
Erra mengambil bangku lain, dan duduk tepat di depan Sincro.
“Apa maumu?” tanya Sincro dengan nada geram yang ditahan.
“Kau perlu bertanya? Seharusnya kau tahu, kan?” balas Erra bertanya.
Sincro terdiam tak membalas lagi perkataan Erra. Karena ia telah tahu apa alasan Erra melakukan ini. Dan itu karena ia telah sedikit melakukan penipuan pada Erra.
“Baiklah, aku minta maaf. Sekarang, apa yang kau inginkan? Ambil, dan kita selesaikan ini dengan baik-baik.” Ucap Sincro.
“Oh, kebetulan aku sedang tidak ingin menyelesaikan ini dengan baik-baik.” Balas Erra.
“Sebelumnya aku berencana membunuhmu, dan mengambil semua barang yang ada di tokomu ini. Tapi beberapa menit yang lalu aku terpikirkan ide lain. Ide yang jaauuuuh lebih baik!”
“Berhenti bertele-tele!”
Sincro yang biasa selalu terlihat ceria dan ramah, kini terlihat sangat berbeda. Ia terlihat memasang wajah marah, tapi terlihat juga kalau ia sebenarnya ketakutan.
Erra bukannya memberi jawaban, malah menatap Sincro lebih dekat. Lalu senyuman lebar pun mengembang di wajahnya.
“Haha! Gila! Keren! Kau benar-benar terlihat seperti manusia asli! Bahaha!”
Sincro sebenarnya kurang mengerti arti perkataan Erra. Apa yang dimaksud si avatar bermata merah itu dengan ‘seperti manusia asli’?
Itu karena tentu saja bagi Sincro ia adalah ‘manusia asli’. Tapi Sincro mengabaikan dulu hal itu, untuk fokus pada masalahnya saat ini.
‘Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan pada orang ini? Aku merasa ia akan tetap membunuhku apa pun yang terjadi.’
“Kau mau dengar ide yang jauh lebih baik daripada membunuhmu itu?”
“Apa? Kau mau memperbudakku, hah?”
“Itu ide yang bagus juga, tapi sayangnya bukan. Megasolus tak membuatkan sistem perbudakan untuk dunia ini, jadi itu akan merepotkan kalau harus memperbudakmu dengan metode ‘tradisional’.”
Sincro dibuat semakin bingung dengan perkataan Erra. Sebagai Lander, tentu saja ia merasa kalau dunia ini adalah dunia aslinya. Bukan lah sebuah dunia yang dibuat hanya untuk rekreasi para avatar. Ia memang tahu kalau avatar datang ke dunianya ini untuk berekreasi. Tapi tentunya ia tak berpikir kalau tujuan dunia ini hanya ada untuk itu saja.
__ADS_1
“Dengar, ya... Pertama, aku tetap akan mengambil semua barangmu. Lalu setelah itu aku tak akan membunuhmu. Tapi, aku akan memotong lidahmu. Lalu jari tanganmu juga akan kupotong, tapi tenang saja karena aku akan menyisakan jari telunjuk dan jempol. Aku juga akan membutakan kedua matamu.
Bagaimana? Itu lebih baik daripada mati, kan?”
“Jangan bercanda! Sekarang cepat lepaskan aku! Atau...”
Jleb!
“Argh!!!”
“Atau kau mau berteriak-teriak minta tolong? Kuyakin kau bukan orang bodoh. Jadi kau tahu aku bisa menghentikanmu melakukannya, kan?”
Erra bangun dari duduknya.
“Sekarang, aku mau beres-beres barang dulu.”
Ia menyumpal mulut Sincro dan meninggalkannya. Kemudian Erra pun mulai mengambil barang-barang dagangan yang ada di toko Sincro dengan memasukannya ke dalam inventorinya. Sementara itu, Sincro hanya bisa menonton dalam kesal tindakan Erra.
“Kau tahu, Sincro? Aku menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli racun itu. Racun untuk melumpuhkanmu itu. Aku juga menghabiskan cukup banyak uang untuk membesar kapasitas inventortiku.”
Erra berbicara begitu sambil mengosongkan toko Sincro dengan cepat.
“Ah... aku mau lihat ke belakang.” Ucap Erra sambil menuju ke pintu belakang toko.
“Hmph! Hmph! Hmph!” Sincro mencoba mengatakan sesuatu untuk melarang Erra ke sana, tapi tentu saja itu tak berguna.
Kalau dalam hitungan dunia nyata, Erra batu merancang rencana ini beberapa jam yang lalu. Setelah ia menyadari penipuan yang dilakukan Sincro padanya. Tapi, dalam hitungan dunia Ardanium’s Tale Online sudah beberapa hari berlalu.
Selama beberapa hari ini, Erra berburu seperti biasanya. Tapi, ia tak datang ke toko Sincro untuk menjual hasil buruannya. Ia mencoba mencari toko lain untuk menjualnya. Lalu ia juga mengumpulkan uang untuk membeli racun mahal dan memperbesar kapasitas inventorinya.
Erra menunggu Sincro untuk tutup toko. Karena selama toko dibuka, Sincro akan terus berada di balik meja konter tokonya. Dan meja konternya itu cukup lebar ukurannya. Sehingga Erra akan sulit untuk menikam Sincro dengan cepat dan senyap.
Erra kembali ke tempat Sincro.
“Baiklah, kita mulai.”
“Hmph! Hmph! Hmph! Hmph! Hmph! Hmph! Hmph!”
Krak! Krak! Krak!
Erra mulai memotong jari jemari Sincro.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1