
.
.
.
Erra dan Ezzza melangkah maju, saling mendekat untuk berduel. Erra memasang senyuman licik penuh percaya diri. Sedangkan Ezzza terlihat cukup tegang, namun berhasil sedikit menyembunyikannya.
Mereka berhennti saat jarak yang memisahkan mereka hanya tersisa sekitar sepuluh meter lagi. Mereka saling tatap dalam diam sampai Erra berkata...
“Baik lah, selain yang tadi kukatakan apa mau ada aturan tambahan?”
“Kuserahkan padamu.”
“Yakin?”
“Ya.”
Ezzza tahu kalau ini taruhan yang berbahaya. Tapi ia tetap mengambilnya untuk menjaga wibawanya di depan anak buahnya. Dengan hampir sedikit bergumam Erra berkata...
“Kau tidak sepintar yang kuduga.”
Ezzza mengerti perkataan Erra, meski hanya sedikit terdengar. Ia sedikit menyesal atas pilihannya, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.
“Aku tak akan menambah syarat apa pun. Hanya mempertegas batas ruang gerak, dan indikator menang kalah. Batas ruang geraknya tidak ada, kita bebas bergerak ke mana pun. Dan indikator menang atau kalah adalah kematian salah satu pihak, tak ada kata menyerah. Bagaimana?”
“Ya, aku setuju. Dan kukira bisa kita tambah satu lagi?”
Ezzza berusaha mengurangi kerugiannya.
“Baik lah, apa itu?”
“Ini duel. Jadi, jika ada pihak yang mendapat bantuan. Maka akan dinyatakan kalah. Kau setuju?”
“Ah... itu, ya? Tentu saja aku setuju.”
Keduanya pun saling memasang kuda-kuda bertarung.
.
.
__ADS_1
.
“Kau tidak bisa lari lagi sekarang!”
“Waw! Aku terharu punya penggemar setia seperti kalian. Rela mengejarku ke mana pun!”
“Cukup omong kosongmu!”
Aizu sedang berjalan sendiri di hutan pinus berselimut salju, saat ia dicegat oleh beberapa orang yang mana di antaranya ada Fira, Ro, dan Ranta. Sedangkan yang lainnya adalah mereka yang juga pernah ditipu Aizu.
Fira dan kedua rekannya mencoba menyusuri jejak pergerakan Aizu. Dalam perjalanan, mereka pun bertemu dengan beberapa mantan rekan satu tim Aizu yang mendapatkan nasib sama dengan mereka. Akhirnya, demi membalas dendam. Mereka semua bersatu dan mencari Aizu bersama.
Kini Aizu sudah memasang kuda-kuda untuk melawan para pengepungnya. Di sisi lain para pengepung juga sama sudah bersiap. Mereka sudah menyiapkan rencana penjaringan yang ketat, agar Aizu tak bisa melarikan diri kali ini.
“Kalian tahu? Aku sekarang sudah jauh lebih kuat. Aku tak akan coba lari kali ini. Tapi aku akan coba untuk menghabisi kalian!”
Tap!
Aizu langsung menerjang saat mengakhiri kalimatnya, menyerang salah seorang pengepung. Dengan cepat, para petarung jarak dekat mengeroyok gadis penipu itu. Para penyihir dan pemanah yang ada pun bersiap menyerang dirinya jika ia keluar dari kepungan itu.
Sekilas terlihat jelas kalau Aizu kewalahan. Ia terus menerus menerima serangan, sementara tak bisa mendaratkan satu pun serangan. Tapi matanya memancarkan rasa percaya diri akan kemenangan dan tak tampak sama sekali kalau ia merasa takut atau semacamnya.
Beberapa saat berlalu, Aizu kehilangan sekitar lima puluh persen Hit Point. Di sisi lain, para penyerang Aizu mulai merasakan hal yang janggal. Mereka semua adalah petarung dengan senjata. Senjata mereka lama kelamaan terasa sedikit bertambah bobotnya. Dan para pemakai senjata tajam pun mulai merasakan kalau senjatanya menumpul. Belum lagi, pergelangan tangan mereka terasa makin sulit digerakan.
Serangan mereka mulai menurun, dan Aizu menyadarinya. Maka dari itu ia akhirnya memecah pengepungan ini dengan...
“Ice Dragon Claw!!!”
Pada tiap ujung jari gadis ini muncul cakar es yang besar dan panjang. Ia mulai mengubah serangan tinjunya menjadi serangan cakaran.
Sraat! Sraang! Sraat! Sraang! Sraat! Sraang!
Setiap bagian tubuh lawannya yang terkena cakaran itu muncul es. Yang tentu saja membekukannya, dan semakin meningkatkan efek Slow pada tubuh mereka.
Syut! Syut! Syut!
Para pemanah mulai menyerang Aizu. Gadis ini terkena beberapa serangan tapi berhasil menghindari yang lainnya. Ia pun melompat cukup tinggi ke atas lalu melepaskan...
“Ice Dragon Claw Strike!!!”
Ia mencakar udara, dan terbentuk lah masing-masing lima sabit es dari masing-masing tangannya. Sabit es yang kemudian meluncur ke arah para pemanah.
__ADS_1
“Aah!”
Serangannya tepat sasaran, dan ia mendarat kembali. Pertarungan terjeda, lalu ia berkata...
“Haha! Ini seru!”
.
.
.
Di saat Erra mencabut panah dari tempatnya dan memasangnya di busur. Ezzza menerjang ke arah si rambut putih.
Di luar dugaan semua orang, Erra tak menghindar apalagi mundur. Ia malah ikut maju, sambil mengarahkan busurnya pada Ezzza. Lalu melepaskan dua anak panah sekaligus.
Ezzza berhasil menangkis kedua anak panah dari Erra, namun ia tak berhasil menangkis rasa kagetnya. Sampai ia berhenti menerjang, sementara Erra terus mendekat.
Tindakan Erra di luar nalar setiap orang yang melihat pertarungan ini. Ia adalah seorang pemanah yang pastinya sangat diuntungkan dengan jarak yang jauh dengan lawannya. Di sisi lain, Ezzza adalah petarung tangan kosong yang mana kuntungan berpihak padanya dalam pertarungan jarak dekat. Keduanya sangat lah kontras.
Tapi kini Erra malah mendekati Ezzza. Seakan dengan begitu konyolnya memberi keuntungan pada Ezzza. Tapi Ezzza dan semua penonton di sini adalah orang yang tahu. Bahwa Erra tak pernah melakukan hal sebodoh itu. Dan itu pula lah yang membbuat Ezzza memilih berhenti menerjang.
Erra sampai di tempat Ezzza, dan Ezzza segera melayangkan tinju yang dengan mudahnya Erra hindari. Pertarungan jarak dekat pun terjadi.
Ezzza seperti biasanya dan sewajarnya, memakai tinjuan dan tendangannya untuk menyerang Erra. Ia juga sesekali menahan atau menghalau serangan Erra dengan tangannya, dan sesekali menghidari serangan. Sedangkan Erra bertarung dengan tidak sewajarnya pemanah bertarung.
Ia menghindari setiap serangan Ezzza, tanpa sekali pun coba menahan. Kalau gagal menghindar, ya maka ia terkena serangan itu. Lalu Erra menyerang dengan menembak dari jarak itu. Terkadang ia memakai busurnya untuk memukul. Ia juga kadang memakai tendangan.
Semakin lama pertarungan berlalu, gerakan Erra semakin semakin rumit. Ia sesekali menusukan anak panahnya langsung tanpa busur. Dan beberapa berhasil Erra tanamkan di tubuhnya. Yang mana dengan hampir pasti Ezzza akan mendapatkan notifikasi terkena racun.
Karena memakai beberapa penangkal racun, Ezzza bisa cukup bertahan. Namun, setelah beberapa saat ia pun mulai kewalahan disebabkan oleh racun yang menumpuk. Dan akhirnya, kini Ezzza coba membuat jarak dengan Erra.
“Kenapa menjauh, hah?” tanya Erra dengan nada mengejek.
Ezzza tak membalasnya, dan berusaha melawan sebisanya untuk mundur sementara. Dan ia berhasil.
Meski berhasil membuat jarak, Ezzza tampak makin kesal. Karena Erra memberinya celah dengan sengaja, dan itu artinya Erra mengejek Ezzza. Bahkan Erra tak mengejarnya dan malah berkata...
“Silakan, minum penawar racun. Aku akan tunggu...”
.
__ADS_1
.
.