ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Gelisah Aku Gelisah..


__ADS_3

"Hisk hiks hiks.."


Suara tangis seorang perempuan terdengar cukup menyayat hati. Tangis itu berasal dari dalam kamar sebuah rumah.


Setelah beberapa waktu perempuan itu tidak pernah mendapat kabar apapun dari laki laki pujaannya, kini justru dia mendapat kabar kalau laki laki pujaannya tersebut akan segera menikah dengan perempuan lain.


Sakit dan kecewa, itulah yang sedang dirasakan perempuan bernama Ninis. Janda muda yan terlalu berharap dan berambisi dengan cintanya pada pemuda tampan impian banyak wanita, tiba tiba memberi kabar yang sangat tidak ingin dia dengar.


"Nis, Ninis! buka pintunya nduk." panggil seorang wanita paruh baya dari balik pintu kamar di mana Ninis berada.


Tak perlu menunggu lama, terbukalah pintu tersebut dan keluar wajah sembab seorang perempuan.


"Ibu kan sudah bilang, kalau dia memang serius, pasti dia mau datang kesini.Tapi lihat! Dia malah seperti tidak punya tanggung jawab." Ucap ibu Ninis sedikit kesal karena merasa anaknya dipermainkan.


"Aku pikir juga begitu bu, tapi nyatanya dia hiks hiks hiks." Jawab Ninis sesengukan. Ninis masih saja tak berani jujur kalau dialah yang mengejarnya.


"Sudahlah, lupakan pria itu. Wajar jika dia memilih wanita lain. Apa lagi ingat status kamu. Bisa jadi orangtuanya juga nggak mau mempunyai menantu janda." Ucap ibu mencoba menenangkan putrinya.


"Tapi bu.."


"Sudah, jangan pakai tapi tapi segala. Mau kamu berharap seperti apapun hati pria itu tidak untuk kamu ya percuma. Jangan menyakiti diri sendiri hanya karena harapan Nis. Kamu sendiri yang akan rugi. Sudah lebih baik sekarang kamu mandi." Nasehat ibu.


Ninis hanya mengangguk dan dia berjalan gontai kembali memasuki kamarnya. Sedangkan si ibu hanya menghela nafas dalam dalam.


Kesedihan juga dirasakan wanita lain disuatu tempat. Perasaaan sakit dan kecewa oleh seorang pria sedang dia alami akibat harapan yang terlalu melambung tinggi. Perempuan beranak satu itu sesekali menyeka air matanya dan mengusap lembut putra semata wayangnya dengan perasaan berkecamuk.


"Mamah pikir om Jaka akan jadi bapakmu nak, ternyata mamah salah, hiks hiks hiks.."


dia lah Rima. Janda beranak satu itu juga mengalami patah hati setelah mendengar pengakuan pria pujaannya. Dia sudah terlanjur menanggap pria itu kekasihnya meski pada kenyataannya jangankan mengangpa kekasih, pria itu bahkan sama sekali tidak pernah menyatakan cinta padanya. Dan karena harapan yang terlalu tinggi hingga rasa kecewa yang dia rasakan pun terasa begitu menyakitkan.


Di saat dua wanita sedang patah hati oleh orang yang sama, justru pria yang menyebabkan patah hati itu sedang merasakan panik yang sangat luar biasa. Detik detik waktu terus bergerak. Jaka yang akan mengunjungi orang tua sang kekasih beberpa jam lagi, nampak begitu gugup. Bahkan rasa panik itu semakin menyerang ketika dia sedang bersiap siap untuk menjemput sang kekasih.


"Baju mana yang cocok yah?" gumamnya begitu membuka lemari pakaian. Terlihat dia sudah segar dengan rambut basah dan handuk terlilit di pingganganya.

__ADS_1


Saking gugupnya, dia benar benar bingung menentukan baju yang akan dia pakai. Setelah memilih beberapa menit akhirnya Jaka memutuskan memalai kemeja polos berwarna hitam.


Benar benar tubuh yang sempurna. Bahkan ketika kemeja itu dia pakai, sungguh membuat pesona Jaka meningkat hingga seribu derajat.


Kemeja hitam, celana panjang chinos coklat susu, sepatu sport putih sungguh membuat penampilan Jaka benar benar di atas rata rata.


Setelah merasa cukup yakin dengan penampilannya, Jaka pun bergegas keluar kamar.


"Mau kemana Jak? Rapi amat?" Tanya emak begitu melihat anaknya keluar kamar.


"Mau ke rumah calon mertua mak." Jawab Jaka santai padahal hatinya gugup tak terkira.


"Emang pacarmu nyuruh kamu menemui orang tuanya juga?" Tanya emak lagi. Dia sebenarnya lagi fokus nonton sinetron ikan terbang.


"Iya mak. Ntar setelah ini gantian. Jaka yang membawa pacar Jaka kesini."


"Emang dia anak mana sih?"


"Satu kampung sama mba Yanti, Mak." Emak mengernyitkan dahinya dan emak akan bertanya lagi namun Jaka keburu keluar.


"Ya." Ucap emak singkat.


Sebagai seorang ibu, emak pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Bagi emak, diantara dua anak laki lakinya. Jaka lah yang paling kontrofesial.


Sejak Jaka SMP, dia sudah menjadi rebutan para perempuan. Tak sedikit perempuan yang selalu cari muka kepada dirinya demi memenangkan hati Jaka.


Meski sama sama kalem dan tampan, Jati tidak pernah sampai jadi rebutan perempuan. Tapi Jaka, sudah banyak wanita yang meminta ijin darinya ingin meminang Jaka. Sampai emak bahkan bapak kewalahan dibuatnya.


Tak butuh waktu lama, kini Jaka telah sampai di dekat kios sang kekasih. Bukannya semakin enak, justru degup jantungnya semakin berdetak tak karuan.


Gejala panik benar benar telah menyerangnya meski dia sudah berkali kali menghela dan menghembuskan nafas. Namun tetap saja kepanikan masih bertahta dihatinya. Bahkan semakin menambah seiring berjalannya waktu. Karena bagaimanapun juga ini adalah pertama kalianya dia berjuma orang yang akan menjadi penentu hubungan cintanya akan berlanjut atau terhenti.


Jaka lebih memilih duduk di atas motor di depan kios yang tertutup dekat dengan kios Metali berada. Terlihat di sana Melati sesekali tersenyum ke arahnya dan nampak dia juga sedang bersiap siap menutup tokonya di bantu oleh sepupunya.

__ADS_1


Setelah toko tutup, Jaka pun masih harus menunggu Melati mandi. Biar nanti pas di rumah, Melati tidak mandi dan bisa menamaninya. Itulah alasan yang melati katakan lewat pesan chatnya. dan jaka pun setuju saja.


Hingga tiba saatnya kini terlihat Melati berjalan ke arahnya dengan pakaian yang berbeda.


"Lama yah yang?" Tanya Melati begitu dia sampai dihadapan kekasihnya.


"Lumayan." Jawab Jaka singkat. Melati mengernyitkan dahinya. dia menangkap kekasihnya tidak baik baik sja.


"Kenapa? Panik?" Tanya Melati dan Jaka pun tersenyum serta menganggukkan kepalanya.


"Astaga sayang, sudah cakep begini masih panik saja. Bapak ku nggak galak kok." Ucap Melati berusaha menenangkan kepanikan kekasihnya.


"Mau sebaik apapun yang namanya panik tetap panik Yang. Apalagi ini pertama kali loh Yang ketemu calon mertua." Ucap Jaka dan tentu saja membuat Melati tersenyum.


"Gimana penampilanku, Yang? udah terlihat sopan kan?" Tanya Jaka sembari menarik ujung bajunya biar tak berkerut.


"Terlalu tampan, Yang."


"Jawab yang bener sih, Yang. Orang lagi panik juga." Gerutu Jaka dan Melati malah tertawa mengusap pipi Jaka sejenak.


"Udah pas, sayang, cocok. Ya udah kita berangkat sekarang." Ucap Melati.


"Nggak bawa oleh oleh Yang? masa datang dengan tangan kosong? Nggak enak."


"Lah trus bawa apaan?"


"Bawa martabak aja yah, gimana?"


"boleh deh. Udah ayok berngkat."


"Motor kamu mana yang?":


"Di bawa pulang Dodit."

__ADS_1


Dan Jaka hanya membulatkan mulutnya. Kini Dia menaiki motornya dan tentunya dengan Melati. Beberapa saat kemudian motorpun melaju meninggalkan pasar menuju restu masa depan.


...@@@@@...


__ADS_2